
Kau harus minta maaf padanya, Ars. Selama ini gadis yang kau cintai menyembunyikan dan menanggung semuanya seorang diri. Dia tidak ingin kau khawatir pada dirinya, karena itu Anna menyembunyikan semua rasa sakitnya darimu. Dia sangat ingin sembuh dan membuatmu senang, tapi efek pengobatan yang dilakukannya memaksanya harus mencukur habis rambutnya.
Anna mengidap penyakit parah, dan penyakitnya itu harus segera dioperasi. Dia berniat pergi untuk melakukan operasi itu tapi dia memikirkanmu. Dia sengaja membuatmu membencinya agar dia bisa pergi tanpa memikirkanmu. Apa kau tahu karena apa?
Untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jika operasi itu berhasil maka dia akan sembuh namun, dia akan mengalami kehilangan ingatannya. Dia akan melupakan dirimu, Ars. Dan kau tahu apa yang paling terburuk dari semua itu? Jika operasi itu gagal maka... dia akan kehilangan nyawanya.
Kemarin dia menangis padaku mengatakan semua kerisauannya. Dia tidak ingin kau tahu karena takut kau akan mengkhawatirkan dirinya. Tapi apa yang kau katakan padanya tadi? Ini semua sangat tidak adil untuknya, Ars. Dia sangat ingin mengikuti semua rencanamu. Dia sangat ingin memanjangkan rambutnya dan menikah denganmu. Tapi dengan semua yang terjadi gadis malang itu bisa berbuat apa? Anna hanya bisa pergi meratapi nasibnya seorang diri entah dimana saat ini.
Semua perkataan Lion terus terngiang dalam benak Aramis yang berlari mencari keberadaan Anna. Setelah mendengarnya Aramis berlari keluar rumah tanpa membawa apapun untuk menemukan gadis yang dicintainya itu. Dia pergi ke gedung tua tempatnya sering bertemu dengan Anna namun tidak ada disana, lalu ke danau dimana waktu itu mereka berdua menghabiskan waktu bersama, Anna juga tidak ada di sana.
"Dimana kau, Anna?" Tanya Aramis tampak putus asa. Dia semakin merasa bodoh karena tadi langsung berlari keluar tanpa membawa handphone-nya.
Aramis menatap ke ujung danau untuk berpikir dimana lagi seharusnya dia mencari Anna. Tiba-tiba dia terpikirkan satu tempat. Dia segera berlari kembali menuju tempat itu. Sebuah tempat yang menjadi latar belakang lukisannya.
Dengan sangat cepat Aramis berlari hendak ke sungai dimana dulu dia membawa Anna kesana untuk mencari ide lukisannya. Langkahnya terhenti ketika memasuki ujung jembatan sungai tersebut.
Jembatan besar dan panjang yang dimana bisa dilewati mobil tersebut, di ujung jembatan satunya terlihat sosok yang dicari Aramis berjalan di pinggir trotoar. Gadis itu menghentikan langkahnya saat menatap kehadiran dirinya. Handphone-nya berada di salah satu telinganya, dia sedang menerima sebuah telepon.
Sebuah kelegaan di diri Aramis terasa ketika melihat Anna di ujung jembatan. Dengan segera Aramis berlari menghampiri gadis itu dan menariknya dalam pelukannya.
"Air matamu adalah milikku semua, apa kau mengerti Anna? Seharusnya kau menceritakan semuanya padaku, sudah aku bilang saat kau bersedih kau harus mengatakannya padaku, kau bisa memanggilku, aku akan segera menghampirimu bahkan aku akan terbang kalau perlu. Aku akan berada bersamamu, disampingmu, berjuang bersamamu menghadapi semuanya hingga semua kegelapan itu pudar. Aku berjanji padamu semua akan baik-baik saja." Ucap Aramis mendekap Anna dengan erat.
Anna tercekat mendengarnya, dia tidak mampu berkata apapun menjawab ucapan Aramis yang terdengar sangat membuatnya terharu bahagia.
Aramis menatap Anna dengan lekat. Dengan kedua tangannya dia memegang wajah gadis yang dicintainya itu.
"Aku belum pernah mengatakannya padamu, kau gadis yang cantik Anna, kau sangat cantik bahkan ketika kau merasa hancur seperti ini kau masih tetap cantik. Jadi ku mohon, katakan semuanya padaku, jangan ada lagi yang disembunyikan. Aku berjanji padamu aku akan berada disisimu melewati ini semua. Kau mengerti?"
Anna mengangguk dengan wajah penuh air mata. Aramis mengusap air mata yang membasahi pipi Anna dan kembali memeluk gadis itu.
"Maafkan kata-kataku tadi. Maafkan aku tanpa sadar mendorongmu tadi. Maafkan aku yang tidak menyadari apapun yang terjadi padamu. Maafkan aku karena aku orang yang bodoh." Ujar Aramis dengan suara gemetar karena menahan kesedihannya.
Anna memeluk Aramis dan mendekap pemuda itu dengan kedua tangannya sangat erat. Semuanya berubah, beban berat yang dia rasakan karena menyembunyikan tentang penyakitnya pada Aramis seketika hilang. Dia merasa dadanya yang semula berat, menjadi lega setelah mendengar semua ucapan pemuda yang mendekapnya itu. Pemuda yang sangat dicintainya.
...***...
Aramis terdiam di kamarnya memikirkan Anna dengan penyakitnya. Dia duduk di lantai dengan melamun. Aramis sudah memutuskan untuk bersama dengan gadis yang dicintainya itu. Dia ingin menemani Anna saat menjalani operasi di Jerman nanti. Sebuah penyesalan muncul dalam dirinya. Seharusnya dia menyadari kalau Anna mengalami banyak perubahan beberapa bulan ini. Tapi bahkan dia sama sekali tidak memperhatikannya.
Tiba-tiba Ronald membuka pintu dan masuk. Aramis tidak menoleh padanya karena dia merasa tak ada hal yang harus dia bahas dengan pamannya itu.
"Anna memintaku menyembunyikan hal itu darimu. Maafkan aku, Ars." Ucap Ronald. "Aku akan bilang ayahmu, aku akan memintanya mengijinkanmu untuk menemani Anna nanti saat dia operasi." Setelah berkata demikian Ronald keluar kamar Aramis.
Aramis mulai mengeluarkan air matanya setelah menahan agar tidak menangis di hadapan Anna tadi. Dia merasakan kesedihan Anna saat ini. Bagaimana gadis itu harus menanggung semuanya seorang diri karena menyembunyikan penyakitnya itu darinya. Itu terlalu menyakitkan jika memikirkannya, karena selama ini Anna selalu bersikap semua baik-baik saja di depan dirinya.
"Kak Ars." Melody membuka pintu kamar Aramis dan berjalan mendekati kakaknya itu lalu bersimpuh di hadapan kakaknya yang duduk di lantai. "Maafkan kata-kataku waktu itu kak, seharusnya aku tidak mengatakannya, seharusnya aku tidak membandingkan hidup siapapun dan seolah-olah aku tidak suka jika hidupmu berjalan dengan baik. Aku sangat menyesal mengatakannya." Ucap Melody menatap Aramis. "Kau tenang saja, kak, kak Anna pasti akan sembuh. Kak Anna gadis yang sangat kuat. Dia akan sembuh dengan cepat apalagi ada kau bersamanya."
Melody langsung memeluk Aramis dengan butiran-butiran air mata membasahi wajah pemuda itu.
...***...
"Kode kuncinya sudah aku kembalikan ke yang lama." Ucap Anna saat membuka pintu untuk Aramis. Anna memakai hoodie yang menutupi kepalanya.
"Kau belum makan kan?" Tanya Aramis mengikuti Anna masuk dan duduk di sofa samping Anna. Dia meletakan makanan-makanan yang dibawanya ke meja. "Ayo kita makan bersama. Untuk sekarang aku tidak akan membelikanmu pizza karena kau harus memakan makanan yang bergizi." Ujar Aramis memberikan sendok pada Anna.
"Kau tidak pergi ke makan malam itu?" Tanya Anna.
"Sejak awal aku tidak berniat pergi jika tanpamu." Jawab Aramis. "Lagi pula sepertinya makanannya tidak seenak tahun lalu." Perkataan Aramis tidak terlalu jelas karena makanan memenuhi mulutnya saat ini.
Aramis menoleh pada Anna yang duduk di sebelah kanannya yang menatapnya. Aramis memang tidak memperlihatkan air matanya tadi, tapi Anna tahu kalau Aramis habis menangis karena matanya terlihat sembab saat ini.
"Ayo makan, mumpung masih hangat." Seru Aramis. "Kalau tidak nanti aku habiskan semuanya."
Anna tertawa dan mulai ikut makan. Untuk beberapa saat mereka sibuk makan tanpa berkata apapun.
"Aku akan ikut ke Jerman bersamamu." Akhirnya Aramis bicara. "Paman juga sudah bilang kalau akan membantuku mendapatkan ijin dari ayah."
"Kau tidak perlu melakukannya, Ars." Ujar Anna meletakan sendoknya berhenti makan habis itu meminum air putih di gelasnya.
"Sudah aku bilang aku akan selalu bersamamu." Ucap Aramis berhenti makan juga. "Aku tidak mau berpisah darimu. Aku akan berada di sisimu sampai kau sembuh."
Anna bersandar ke sofa dan membuang napasnya.
"Akhirnya aku menjadi beban untukmu." Anna terlihat sedih dengan menundukan kepala.
"Tidak, bukan karena beban. Kau sama sekali bukan beban untukku." Seru Aramis. "Aku sama sekali tidak merasa dibebani olehmu, itu semua karena aku sangat mencintaimu, Anna."
Anna menoleh pada Aramis setelah mendengar pengakuannya, namun tiba-tiba Aramis mendekati gadis itu dan langsung mencium bibirnya.
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.
Jangan lupa juga ikutan giveaway dengan masuk ke grup chat author.
Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.
~Cerita ini author persembahan untuk seseorang yang karakternya author masukan ke dalam cerita ini. Terimakasih sudah menginspirasi kisah ini.~
...R.I.P...
...❤❤❤❤❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...