
Niko dengan sengaja membiarkan pisau tersebut menancap ke telapak tangan kirinya. Dan yang lebih membuat tercengang para preman, Niko tertawa ketika mencabut pisau tersebut. Hal itu membuat para preman semakin takut padanya.
Pemimpin preman itu berjalan mundur karena merasa orang yang ada dihadapannya sangat mengerikan. Niko langsung mendekatinya dan tanpa ragu Niko menusuk preman tersebut di bagian perutnya. Dengan sebuah senyuman pada Aramis dia mencabut pisaunya dari preman itu. Niko menjilat darah yang ada di pisau dengan sebuah seringai pada preman-preman yang lain.
"Kau bukan manusia." Ucap preman yang terjatuh karena tertusuk pisau oleh Niko.
"Aku adalah vampir." Jawab Niko dengan tatapan dan menyeringai.
Preman-preman yang lainnya segera membantu pimpinannya bangun dan mereka semua pergi tunggang langgang ketakutan pada Niko.
Niko langsung membuka sarung tangannya dan menyobek mantelnya untuk membalut luka tusuk di tangan kirinya yang mengeluarkan banyak darah.
"Ternyata ini sangat menyakitkan." Ringis Niko yang mulai merasa kesakitan karena ulahnya sendiri.
Aramis yang sudah dari dulu tahu sifat asli Niko tidak heran dengan apa yang dilakukannya tadi. Bahkan hal itu bukan yang pertama kalinya untuknya bertindak senekat itu hanya untuk menunjukan keberaniannya. Dia sama sekali tidak takut masuk penjara karena membunuh seseorang, semua itu karena keluarganya yang sangat kaya akan mengeluarkannya dengan mudah.
"Kau pasti tahu kan seberapa menakutkannya orang Rusia." Ujar Niko masih berusaha menghentikan darah di tangan kirinya. "Kau tidak akan bisa mengalahkan aku Ars, dan sekali lagi kau berhutang sesuatu padaku." Tawa Niko.
Aramis menghampiri Niko dengan tidak percaya. Dia melakukannya untuk membuat Aramis berhutang padanya karena sudah menyelamatkannya tadi.
"Tapi kau tenang saja, aku anggap semuanya lunas, karena kau sekarang adalah calon kakak iparku." Ujar Niko merogoh saku mantel kanannya. "Sekarang tolong bawa aku ke rumah sakit sebelum darahku habis." Niko menyodorkan kunci mobilnya pada Aramis.
Aramis sedikit mendengus dan tertawa mendengar Niko karena melihat Niko menahan rasa sakit di telapak tangan kirinya. Namun dengan segera mengambil kunci mobil dari tangan Niko dan berjalan ke arah mobil Niko yang terparkir.
"Kau masih saja membuatku merasa membencimu dengan ketiga alasan itu." Gumam Aramis.
Ada tiga alasan seseorang membenci orang lain. Yang pertama adalah karena dia iri pada orang itu. Kedua, karena dia merasa terancam dengan kehadiran orang itu, dan ketiga karena dia membenci dirinya sendiri karena sebuah penyesalan pada orang itu. Dan itu semua yang aku rasakan terhadap Niko.
...***...
Melody keluar dari kamarnya mencari kakak tertuanya yang sejak pulang sekolah langsung berada di gudang belakang rumahnya. Sudah jam tujuh malam dan Athos lupa memasak sehingga Melody memesan makanan pesan antar untuknya berdua makan malam.
"Kak Ato, ayo makan dulu." Seru Melody membuka pintu gudang.
Melody melihat kakaknya sedang sibuk menjahit sebuah pakaian wanita di mesin jahit yang ada di gudang. Dia terlihat sangat fokus sekali.
"Sudah jam berapa sekarang?" Tanya Athos tanpa menghentikan kesibukannya.
"Aku sudah sangat lama tidak melihat kakak menjahit." Ujar Melody menghampiri Athos. "Sekarang sudah jam tujuh malam."
"Apa ini bagus? Apa ukurannya sudah sesuai?" Tanya Athos memperlihatkan pakaian yang sudah selesai dijahitnya pada Melody. Sebuah gaun berwarna merah muda, yang terlihat sangat bagus karena modelnya yang sederhana namun berkesan elegan.
"Ini sangat bagus kak, apa ini untukku? Tapi kau kan tahu aku tidak suka warna merah muda." Ujar Melody.
Athos tidak langsung menjawab dan hanya menurunkan gaun yang direntangkannya ke arah Melody. Melody jadi tahu untuk siapa gaun tersebut. Setelah Tasya tidak datang ke rumahnya, Athos sering sibuk di gudang. Jadi karena itu, kakaknya menjahit gaun tersebut untuk Tasya.
"Ukuranku dengan kak Tasya sama, dia pasti akan suka, kak." Jawab Melody tersenyum.
"Hah?" Athos terlihat bingung dan kaku karena ucapan Melody.
"Sudah kak, ayo kita makan dulu. Nanti takut dingin makanannya." Ucap Melody.
...***...
Melody keluar kamar lagi untuk mengambil minuman. Setelah habis makan malam dia kembali masuk ke kamarnya untuk belajar. Terdengar suara samar-samar Aramis yang baru saja datang dan menyebut nama Niko.
Melody berdiri di lantai dua mendengarkan kedua kakaknya sedang mengobrol di meja makan.
"Lalu bagaimana keadaan Niko sekarang?" Tanya Athos.
"Hanya tangan kirinya yang tertusuk pisau, dia juga sudah pulang ke rumahnya." Jawab Aramis.
Mendengarnya Melody menjadi terkejut, dia segera menuruni tangga dengan marah. Apa lagi melihat Aramis yang penuh luka membuatnya mengira kalau kakaknya itu baru saja berkelahi dengan Niko.
"Disaat aku tidak bisa berbuat apapun. Niko datang dan entah apa yang dipikirkan olehnya pisau—"
"Apa yang kau perbuat lagi pada Niko, kak?" Potong Melody yang salah tangkap dari cerita Aramis. "Kau menusuk tangan Niko lagi?"
"Apa? Siapa? Melo dengar—"
"Diam kak, kau sangat keterlaluan! Aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu!! Apa masih kurang perbuatanmu dulu pada tangan kirinya itu?" Seru Melody sangat marah.
"Dengar dulu Melo, kau..."
Melody tak menggubris ucapan Aramis. Dia langsung mengambil kunci mobil dari tempatnya dan berlari keluar rumah.
"Kau mau kemana, Melo?" Athos berlari mengejar adiknya namun Melody sudah dulu masuk ke mobil dan keluar begitu saja dari rumahnya.
"Dia salah sangka padaku. Dia sama sekali tidak mau mendengar ucapanku." Keluh Aramis yang menghampiri Athos yang berada di luar setelah mencoba menghentikan Melody pergi.
"Seharusnya tidak kita biarkan dia belajar menyetir mobil." Kesal Athos.
...***...
"Apa dia akan mati, Niko? Si preman yang kau tusuk itu?" Tanya seorang temannya.
"Aku menusuknya tidak terlalu dalam, dia juga masih bisa bangkit berdiri, jadi dia pasti baik-baik saja." Jawab Niko.
"Lalu bagaimana dengan Ars? Kau dengannya apa jadi berbaikan?" Tanya Ivan yang duduk di salah satu sofa. "Kau tidak akan bisa berteman dengannya, kalian berdua terlalu mirip karena itu pasti akan selalu terjadi gesekan pada kalian."
"Ya, siapapun tidak akan bisa berteman baik dengannya." Timpal yang lainnya yang merupakan musuh Aramis.
"Hanya Lion yang kuat menghadapi sifat urakannya yang tidak bersahabat itu." Tambah yang lainnya dan membuat mereka semua menatap pada Lion.
"Aku akan pura-pura tidak mendengarnya." Ucap Lion berjalan mundur dan berbalik. Dia berjalan ke arah piano yang kemarin Melody mainkan. Lion pun segera memainkannya juga.
"Kalian bicara seperti itu padanya seakan-akan kalian semua berada disini bukan karena si bodoh itu." Seru Ivan membuat semuanya tertawa. "Kalau bukan karena Lion kalian semua bermusuhan. Jangan membuatnya kesal. Akan sangat merepotkan jika dia kesal. Terakhir kali dia kesal dan kalian semua jadi kelimpungan mencari keberadaannya yang kesana kemari. Tak akan ada yang bisa kalian lakukan tanpa bantuan si bodoh itu."
"Aku tidak dengar!!" Ucap Lion sambil memainkan piano. Dia memainkan sebuah lagu yang merupakan milik Melody, yang sudah menjadi lagu favoritnya.
Semuanya tertawa kembali mendengar ucapan Lion yang berpura-pura tidak dengar dengan perkataan Ivan.
"Lion." Panggil Niko. Lion masih memainkan piano dan tak menjawab. "Ars, sudah setuju. Dia sudah menyerahkan adiknya padaku."
Seketika keadaan menjadi hening. Semua teman-temannya tahu kalau pembahasan itu sangat sensitif. Hanya suara alunan piano yang dimainkan Lion yang sejenak terdengar.
"Kau dengarkan, Lion?"
"Iya aku dengar." Lion menjawab Niko. "Sebelum mengatakannya padamu, Ars bilang padaku. Niko, sebaiknya jangan mengatakan apapun di depan mereka semua atau mereka akan mengejekmu nanti."
Niko tertawa mendengar ucapan Lion yang masih bermain piano. Lion mengatakan hal itu agar Niko tidak membahasnya di depan banyak orang.
"Lagi pula kau berkata seakan-akan dia itu barang yang bisa diserahkan begitu saja." Ujar Lion semakin cepat memainkan alunan pianonya.
"Lalu kenapa Ars harus memberitahumu dulu sebelum mengatakannya padaku?"
"Sebaiknya kami keluar." Ucap Ivan, namun Niko memberinya isyarat agar tetap disini.
Di saat yang bersamaan Melody muncul dan membuat semua terkejut akan kehadiran Melody disana. Namun Lion tidak mengetahuinya karena arah Melody muncul tidak terlihat olehnya.
"Selama ini Ars menganggapku anjing penjaga adiknya. Karena itu dia bilang padaku terlebih dahulu sebelum mengatakannya padamu." Jawab Lion.
Ivan berjalan mendekati Lion yang masih bermain piano hendak memberi tahu Lion tentang kedatangan Melody.
"Dengan kata lain, dia memintaku untuk berhenti jadi anjing penjaganya."
Melody terkejut mendengar ucapan dan keberadaan Lion disana. Ditambah Lion memainkan piano dengan lagu yang diciptakannya.
...–NATZSIMO–...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...PENGUMUMAN...
Giveaway Awal Tahun 2023 Author Natzsimo
Saldo Shopee Rp. 100.000 untuk 2 orang pembaca setia.
Berikan ulasan mengenai salah satu novel favorit kalian karya author (semakin panjang semakin menarik).
Ulasan tersebut boleh berupa apapun seperti kritik dan saran, kesan dan pesan atau hal yang menarik yang terdapat di novel favorit kalian..
Ulasan dikirimkan melalui email natzsimo@gmail.com dan berikan rate juga di novel dengan bintang 5 (maksa) dengan ulasan tersebut.
Paling lambat tanggal 6 januari 2023.
Wajib masuk grup chat author M911TTM karena pengumuman pemenang akan diumumkan di grup chat tersebut ya.
Wajib follow author juga ya.
2 orang dengan ulasan menarik akan mendapatkan masing-masing 100K saldo Shopee.
Untuk sesama author akan ada tambahan hadiah berupa gift kopi ke salah satu karyanya.
Cantumkan juga username di Noveltoon dan nomer handphone di email ya.
ditunggu ulasannya ya para pembaca setia.
...❤❤❤❤❤...