
"Tidak ada." Jawab Karen. "Aku hanya asal bicara." Karen tersenyum lebar.
Setelah itu Karen bangkit berdiri lagi, dan berlari mendekati laut membawa es krim yang ada di kantong plastik yang dibawanya.
"KALIAN SUDAH LAH!! SUDAH WAKTUNYA MAKAN SIANG!!" Karen melambaikan tangan pada Lion dan Niko. "KALIAN JUGA PASTI SUDAH LELAH!!"
Kedua pemuda yang sedang dalam pertarungan sengit akhirnya berhenti. Mereka berdua terengah-engah mengambil napas dengan tertawa.
"Sialan kau Lion, telapak tanganku jadi sakit lagi." Ujar Niko melepas sarung tangan di tangan kirinya dan memperlihatkan tangan kirinya yang masih di perban.
"Kau yang mulai, bodoh!!" Seru Lion masih mengatur napasnya. "Ayolah, aku sudah sangat haus dan lapar."
...***...
Sehabis makan siang, Niko meminta salah seorang pekerjanya untuk membeli perban dan plester anti air untuk luka di tangan kirinya. Perban sebelumnya rusak karena pertarungannya dengan Lion di laut tadi.
"Ini tuan muda." Ujar seorang pekerja memberikan perban tersebut pada Niko.
Niko mengambilnya dan hendak masuk ke kamarnya lagi, Melody yang baru saja keluar kamar yang ada di samping kamar Niko, melihatnya.
"Niko." Panggil Melody membuat Niko berhenti sebelum masuk ke kamarnya. "Kau ingin mengganti perbannya?"
"Ya, karena sudah rusak aku harus menggantinya." Jawab Niko.
"Biar aku bantu." Ujar Melody yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Baiklah, masuklah."
"Tunggu, Niko! Kita ke meja makan saja." Ujar Melody.
"Kalau begitu tidak perlu." Jawab Niko ketus dan langsung masuk ke kamarnya.
Melody terdiam setelah jawaban ketus Niko padanya. Dia menjadi bingung harus berbuat apa. Namun gadis itu segera masuk kembali ke dalam kamarnya.
Niko menjadi kesal kembali pada Melody. Dia merasa entah kenapa gadis itu menjadi sangat tidak percaya padanya. Dia sudah memegang janjinya selama ini, selain gigitan itu, dia sama sekali tidak pernah menyentuhnya.
Dengan kasar Niko membuka perban di tangan kirinya dengan menahan rasa sakit. Luka tusuknya masih terasa menyakitkan, tapi rasa kesalnya lebih menguasai dirinya.
"Dia memang gadis yang merepotkan. Sangat sulit membuatnya jatuh cinta!!" Gumam Niko.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Muncul Melody dari luar. Niko meliriknya sesaat namun rasa kesalnya membuatnya malas melihat kehadiran Melody.
"Kau tidak perlu masuk jika dengan terpaksa." Seru Niko mencoba membuka gulungan perban di tangan kirinya dan itu semakin membuatnya merasa kesakitan.
Melody berjalan masuk dengan tetap membiarkan pintunya terbuka. Gadis itu mendekati Niko yang duduk di sisi tempat tidur.
"Kau mau aku bantu?" Tanya Melody.
Niko tertawa mendengar pertanyaan Melody. Dia berpikir seharusnya gadis itu tidak perlu bertanya dan langsung saja membantunya.
"Tidak usah, kau menonton saja." Jawab Niko.
Melody langsung menggeser kursi ke hadapan Niko dan duduk. Gadis itu langsung mengambil alih membuka perban di tangan Niko.
"Aku pikir kau akan benar menonton saja." Ucap Niko.
"Kau terlihat kesakitan. Apa masih terasa sakit?" Tanya Melody melepas kasa yang menjadi lapisan terakhir dari jahitan di luka Niko. "Ini sudah tertutup semua." Ujar Melody menyentuh jahitan di telapak tangan kiri Niko dengan perlahan.
"Tapi ini masih terasa sakit." Jawab Niko. "Aku belum bisa menggenggam apapun dengan kuat. Jadi jika kau ingin pergi, pergilah selagi aku belum menggenggammu dengan sangat kuat."
Melody tak menggubris ocehan Niko karena dia merasa Niko hanya asal bicara. Gadis itu mengambil kasa baru untuk mulai menutup lukanya.
"Yang bagian sini sudah tertutup sempurna." ucap Melody memegang punggung telapak tangan kiri Niko. Dimana punggung telapak tangan itu juga ada bekas luka bakar. "Kau jangan menggunakan tangan kirimu terlalu banyak biar ini sembuh total dulu. Apa yang tadi kau dan Lion lakukan? Itu membuat tanganmu jadi sakit lagi."
"Kami hanya sedang bercinta." Jawab Niko membuat Melody diam dengan wajah memerah. "Itu kata lain dari menunjukan kedekatan kami."
Melody melanjutkan kesibukannya menutup tangan Niko dengan perban dan terakhir dengan plester anti air. Tiba-tiba Niko memegang scraft yang ada di leher Melody.
"Kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam." Seru Niko saat Melody terkejut ketika dia menyentuh scraft milik Mona yang dipakai Melody. "Aku akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Akan sangat memalukan jika semua orang di sekolah melihat tanda yang aku buat, karena kita sebentar lagi akan masuk sekolah."
Melody merasa lega mendengar ucapan Niko. Akhirnya dia merasa Niko memikirkan hal yang terus mengganggu Melody itu.
"Tapi aku tidak janji. Semua itu tergantung padamu." Ujar Niko. "Jangan buat aku merasa cemburu atau marah lagi. Aku sudah sangat menderita dengan kenyataan bahwa kau masih belum mencintaiku."
"Apa kau melihat apa yang aku lakukan pada Lion di rumah sakit?" Tanya Melody menatap Niko setelah selesai mengganti perban tangan kiri Niko.
Niko tak menjawab dan hanya menggigit bibir bawahnya saja dengan keras.
"Maafkan aku, tapi kau tidak perlu khawatir. Itu bukan ciuman, aku hanya terbawa suasana karena kasihan padanya ketika melihatnya terbaring di rumah sakit." Ujar Melody. "Kau tidak perlu menganggapnya itu sebuah ciuman yang penting, anggap saja itu seperti ciumanmu dulu dengan kakakku."
"Kalau begitu apa aku boleh menciummu dan kau menganggapnya seperti itu juga?" Tatap Niko membalikkan perkataan Melody yang menurutnya lebih menyakitkan untuknya.
Melody menjadi tak bisa berkata apapun lagi sekarang. Niko mendekatkan wajahnya pada Melody sedangkan gadis itu tak mungkin menghindar karena ucapannya.
Tanpa di duga, Lion mendengar semua percakapan mereka dengan bersandar di samping pintu kamar yang terbuka. Lion segera berjalan untuk pergi dan tidak ingin mendengar lagi ataupun tak ingin mengetahui hal lebih lanjut. Dia mulai melangkah tepat ketika Karen keluar kamarnya.
Lion melihat Karen yang memergokinya menguping, namun Lion berjalan pergi tanpa berkata apapun pada gadis yang adalah kekasihnya itu. Karen memandang punggung Lion yang pergi dengan wajah sedih setelah mendengar percakapan Melody dan Niko di kamar yang pintunya terbuka.
"Lion." Panggil Karen yang menyusul Lion ke lantai satu.
Lion menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Karen yang sudah ada di belakangnya, di jarak tiga meter dari dia berdiri.
"Kau harus bangun, Lion! Jangan tidur terus, itu tidak baik untuk dirimu." Ucap Karen pada Lion. "Kau memintaku menjadi pendongengmu kan? Tapi aku rasa sebaiknya kau bangun. Kau tidak boleh hidup di mimpimu terus. Hanya kau yang bisa membangunkan dirimu sendiri."
"Tidak, Key. Aku tidak akan bangun lagi." Jawab Lion.
"Kau salah Lion, kau hidup di mimpi yang menyakitimu. Kalau kau bangun dan hadapi kenyataan, kau tidak akan kehilangan apapun karena kenyataan yang kau jalani adalah hal yang kau inginkan. Sedangkan mimpi dimana kau tinggal saat ini sebenarnya rasa bersalah yang kau rasakan."
...***...
Niko yang mendekatkan wajahnya untuk mencium gadis yang dicintainya, menghentikan tindakannya setelah dia merasa tidak seharusnya dia melakukannya, karena dia tahu Melody tidak menginginkannya.
"Pergilah, aku sudah tidak mempermasalahkan hal sepele itu lagi. Aku juga berjanji tidak akan memangsamu lagi hingga kita menikah." Ucap Niko.
Melody merasa lega Niko tidak jadi menciumnya, dan ditambah dengan janji Niko padanya. Gadis itu segera bangkit berdiri namun Niko memegang lengannya dengan tangan kiri yang sudah memakai sarung tangan.
"Dengarkan aku Melody, di acara nanti mungkin saja ada seseorang yang tidak ingin aku temui, kau harus tahu dulu siapa dia. Dia adalah—"
Lion muncul di depan pintu membuat Niko belum sempat mengatakan apa yang ingin diberitahunya pada Melody.
"Ya ampun, kalian berdua ternyata disini." Seru Karen yang juga muncul di belakang Lion. "Aku dan Lion mencari kalian berdua. Sebaiknya sekarang kita pergi untuk membeli oleh-oleh. Nanti malam kita pergi ke acara ulang tahun itu kan? Besok kita juga pulang pagi. Sebaiknya sekarang kita berjalan-jalan dan membeli oleh-oleh sekarang."
Lion masih mematung melihat tangan Niko memegang lengan Melody. Dia berpikir kalau dirinya terlambat.
...–NATZSIMO–...
Baca cerita author yang lain ya.
Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.
Follow IG author untuk visual character lengkapnya @natzsimo.author
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......