MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
164. PERSIAPAN PERTEMUAN KELUARGA



Lion masuk ke dalam kamarnya dengan membawa teman barunya yang bernama Susu ketika waktu menunjukan pukul delapan pagi.


Pemuda itu mendengus kesal ketika melihat seseorang tertidur di tempat tidurnya tanpa pakaian dan hanya menutupi bagian bawahnya dengan selimut, kamarnya juga tercium bau alkohol yang berasal dari orang tersebut.


"Astaga... kenapa kau tidur di tempat tidurku, Liam?!" Seru Lion sangat kesal. "Bangunlah!! Dan pergi ke kamarmu, berengsek!!" Lion menarik lengan Liam yang sedang tertidur agar segera menyingkir dari tempat tidurnya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih membawa Susu.


Namun bukannya bangun, Liam malah balik menarik tangan Lion hingga pemuda itu terjatuh ke tempat tidur. Liam yang tidak memakai pakaian memeluk adik sepupunya tanpa memedulikan kemarahan Lion.


"Sialan!! Lepaskan aku!!" Lion berusaha beranjak bangun namun Liam terus memeluknya. "Menjijikkan!!"


Susu yang terlepas dari tangan Lion dan berada dekat di wajah Liam langsung menjilati wajah pemuda yang masih terlelap itu.


Liam merasa sesuatu menjilati wajahnya langsung terbangun dan terkejut melihat seekor anak anjing menjilatnya. Dirinya yang tidak menyukai binatang sontak terkejut hingga melompat dari tempat tidur dan terjatuh ke lantai tanpa pakaian.


"Sialan kau, Lion!!" Geram Liam dengan wajah kesal.


Lion tertawa melihatnya. Dia segera mengambil peliharaannya itu dan mengelusnya kembali lalu dengan jahil menyodorkannya pada Liam.


Dengan takut Liam bangkit berdiri dan berlari keluar dari kamar Lion menuju kamar tamu yang di tempatinya dengan telanjang bulat.


"Pakai bajumu dulu, bodoh!!" Seru Lion dengan tawa. "Arrghhhh sialan, aku jadi jijik mau tidur di tempat tidurku sendiri." Gumam Lion melihat tempat tidurnya yang ditiduri Liam dengan tanpa memakai pakaian.


...***...


Athos yang sudah kembali mengurus café sibuk di depan laptopnya untuk membuat laporan mingguan. Setelah sarapan dirinya langsung fokus mengerjakan semuanya. Sekarang urusan café sudah tidak dipegang Mona lagi karena Mona akan sibuk mengurusi kembarannya yang sudah mulai terjun ke dunia hiburan.


Handphone-nya berdering, tanpa melihat karena masih sangat sibuk, dirinya langsung menerima panggilan telepon itu.


"Halo." Ucap Athos masih memfokuskan pandangannya ke layar laptop-nya.


"Selamat pagi, aku Emma dari Fourth Harrison Hotel. Apa kau Athos Sanzio yang mengirimkan proposal ke hotel kami untuk mengadakan pesta kelulusan sekolahmu?" Tanya seorang wanita di ujung telepon.


"Selamat pagi. Ya, itu benar. Mengenai proposal tersebut, kami mengajukan permintaan agar mendapatkan harga yang sesuai dengan budgeting yang bisa kami keluarkan. Apakah Fourth Harrison Hotel berkenan untuk memberikan harga yang rendah? Sebagai gantinya, sekolah kami akan mempromosikan Fourth Harrison Hotel nantinya, dan kemungkinan akan selalu memakai hotel anda setiap kali ada kegiatan sekolah." Ucap Athos.


"Setelah kami lihat, sepertinya kami bisa memberikan setengah harga dari biasanya. Silakan datang menemui staff kami di hotel untuk acara yang akan berlangsung dua minggu lagi."


"Baiklah, aku akan meminta seseorang datang menemui staff hotel. Sejujurnya aku hanya membantu untuk mencarikan tempat dan setelah ini aku akan memberikan kontak anda ke panitia acara." Ujar Athos.


"Ternyata seperti itu, baiklah, tidak masalah." Jawab wanita tersebut.


"Terimakasih untuk bantuan anda." Athos mengakhiri teleponnya dan langsung menutup telepon tersebut.


Saat ini dirinya merasa senang karena akhirnya dia menemukan tempat untuk acara perpisahan sekolahnya dengan budget yang rendah. Dengan segera Athos menghubungi Donny si ketua OSIS untuk melanjutkan semua persiapan pesta perpisahan ke Fourth Harrison Hotel, tempat acara akan dilaksanakan.


...***...


Mona masuk ke dalam kamar Melody tanpa mengetuk pintu dengan membawakan segelas susu putih hangat untuk gadis itu. Melody sedang duduk di meja belajarnya sedang fokus belajar saat ini, karena besok sudah ujian kelulusan dan nanti malam dirinya tidak memiliki waktu untuk belajar karena dirinya dan keluarganya harus menemui keluarga Niko sebelum seminggu lagi mereka bertunangan.


"Semalam aku juga sudah belajar, seharusnya tidak akan ada masalah dengan nilaiku. Semoga saja aku bisa masuk sepuluh besar." Jawab Melody sambil mengambil segelas susu yang dibawa Mona.


"Yang aku tanyakan mengenai persiapan dirimu menemui kedua orang tua Niko." Ujar Mona.


Melody meletakan gelas yang selesai dia teguk dan mengubah duduknya hingga berhadapan dengan Mona. Namun tidak berkata apapun karena gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Sejak bangun tidur dirinya tidak ingin memikirkan mengenai pertemuan nanti malam dan ingin lebih fokus pada belajarnya saja.


"Kau masih bisa mengubah keputusanmu sebelum pertemuan itu, Mel." Ucap Mona.


"Apa nanti malam kau akan ikut bersama kami?" Tanya Melody.


"Tentu saja tidak, Melo. Aku bukan keluargamu untuk apa aku ikut?" Mona sedikit tertawa mendengar pertanyaan Melody.


"Biar ada yang menemaniku." Jawab Melody.


"Ayah, paman, kakek, dan ketiga kakak laki-lakimu akan menemanimu, kau tidak perlu ditemani siapapun lagi kan?"


Melody hanya menghela napas menjawab perkataan Mona. Sebenarnya dia ingin agar Mona menemaninya dalam pertemuan itu karena gadis itu ingin ada seorang wanita bersama dengannya dalam pertemuan itu untuk mendampinginya.


"Baiklah, aku akan pulang ke rumahku dulu sekarang..." Mona bangkit berdiri.


"Kau ingin pulang?"


"Tenang saja, aku akan kembali sore ini. Aku akan mendandanimu untuk ke acara pertemuan itu. Kau harus tampil cantik di depan calon kedua mertuamu yang sangat kaya itu." Seru Mona dengan sedikit menyindir Melody sambil berjalan keluar kamar gadis itu.


Melody tidak menggubrisnya dan hanya memanyunkan bibirnya dengan menghela napas sekali lagi.


Mona yang hendak turun dari lantai dua berpapasan dengan Prothos di tangga yang hendak kembali ke kamarnya.


"Kau akan pulang?" Tanya Prothos menghentikan langkahnya ketika melihat Mona.


"Ya, aku harus mempersiapkan perpindahan sekolah adikku dan mengecek asramanya sekalian." Jawab Mona. "Oh iya, besok ikut aku untuk menemui produser film, kau harus ikut casting agar diterima sebagai pemeran utama film yang aku rasa naskahnya sangat cocok untukmu itu."


"Film? Kau tenang saja, aku pasti akan lulus dengan mudah." Jawab Prothos dengan penuh percaya diri dengan menyunggingkan senyumnya.


"Kau jangan terlalu percaya diri. Sebenarnya produser tersebut sudah memilih pemeran utamanya namun karena aku memintanya untuk mempertimbangkan dirimu dia memberikan kesempatanmu untuk ikut casting film tersebut." Ucap Mona terlihat malas mendengar perkataan percaya diri Prothos.


"Benarkah? Memang siapa aktor yang sudah dipilih produser itu?"


"Juan." Jawab Mona. "Film ini akan menjadi box office dan pasti akan ditunggu-tunggu, dan sepertinya sudah dipastikan bagaimana hasilnya jika Juan yang memerankan pemeran utamanya. Karena itu kau jangan terlalu percaya diri sekarang. Sebaiknya kau berlatih akting sendiri atau ikut pelatihan khusus. Aku sarankan ikutlah pelatihan khusus."


Setelah berkata demikian Mona berjalan menuruni tangga, meninggalkan Prothos yang tampak kesal setelah mendengar nama Juan.


"Sialan, aku pasti mendapatkan peran utama itu." Ucap Prothos dengan kesal setelah itu mengusap wajahnya.


...–NATZSIMO–...