
Melody masuk ke kamar Prothos ketika malam hari. Dia ingin melihat kakaknya itu dan ingin mengatakan apa yang dirasakan dirinya saat ini. Rasa sedih yang dirasakan dirinya ketika mendengar Niko ingin memajukan hari pernikahan tidak bisa dia tahan lagi.
"Kak Oto, bagaimana ini?" Tanya Melody setelah membuka pintu kamar kakaknya itu dan berjalan mendekati Prothos yang berbaring di tempat tidur.
"Ada apa, Melo?" Prothos beranjak bangun dan segera duduk melihat adiknya yang terlihat bersedih dengan pelupuk mata yang menggenang air mata. "Kau baik-baik saja?"
"Semakin lama semuanya semakin dekat dan aku menjadi semakin takut. Bahkan Niko berencana mengadakan pernikahan kami di hari ulang tahunku." Jawab Melody yang berdiri di samping tempat tidur menghadap Prothos. "Sekarang aku semakin merasa bersedih."
"Kenapa kau bersedih? Bukannya semua sudah kau putuskan, Melo? Seharusnya kau tidak merasa seperti sekarang ini kalau kau mendengarkan perkataan kami." Ujar Prothos. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bilang pada Niko untuk membatalkannya? Apa kau ingin menarik semua perkataanmu?"
"Aku tidak tahu, kak. Aku tidak ingin Niko bersedih. Tapi aku juga tidak bisa menahan rasa sedihku sekarang. Aku ingin semua ini berakhir tanpa ada yang bersedih. Aku sudah mencoba untuk mencintai Niko, tapi ternyata itu sangat sulit karena aku mencintai Lion." Akhirnya Melody mengakui perasaannya pada Lion ke Prothos walaupun sebelumnya kakaknya itu pernah mendengarnya tapi yang dia tahu tidak ada siapapun yang mengetahui hal tersebut. "Lion juga akan pergi, aku ingin menghentikannya tapi aku tidak bisa berbuat apapun karena aku sendiri juga akan pergi."
Prothos menarik adik perempuannya itu ke dalam pelukannya. Walau saat ini dirinya juga sedang merasakan kesedihan namun dia lebih mengkhawatirkan Melody.
"Kenapa Niko harus datang? Kenapa dia mencintaiku? Kenapa juga aku mencintai Lion?" Ucap Melody yang terisak dalam pelukan Prothos. "Bantu aku mengatasi rasa sedih dan takutku ini kak."
...***...
Prothos menuruni tangga ketika pukul tujuh pagi. Kedua kembarannya masih berada di meja makan sedang sarapan. Sedangkan Mona sedang tidak ada di rumah karena pergi berbelanja saat ini. Melody yang menangis dalam pelukannya semalam terus mengganggu pikirannya.
"Akhirnya kau keluar kamar juga, Oto." Seru Aramis saat Prothos duduk di kursi di samping kirinya.
"Kau sudah merasa lebih baik?" Tatap Athos yang duduk di kursi di hadapan Aramis.
"Aku merasa semakin buruk setelah semalam Melo menangis padaku." Perkataan Prothos membuat kedua kembarannya menatapnya. "Akhirnya dia merasa tidak kuat dengan semua yang dia rasakan."
"Apa maksudnya?" Tanya Aramis.
"Dia tidak ingin menikah dengan Niko tapi dia tidak bisa menghentikannya. Dia tidak ingin Niko bersedih. Dan akhirnya dia mengakui kalau dia mencintai Lion." Ujar Prothos.
Athos menghela napasnya. "Aku tahu akhirnya akan seperti ini. Aku harus bicara pada Lion."
"Tidak ada yang bisa kau katakan padanya. Dia tetap tidak akan berbuat apapun. Lion tidak mau berbuat sesuatu mengenai hubungan Melo dan Niko karena dia tidak ingin Niko sampai membencinya." Seru Aramis. "Tidak ada yang bisa kita lakukan."
"Mereka berdua seperti itu hanya karena memikirkan Niko. Itu membuatku sangat kesal sekarang. Kalau begitu hanya Niko yang harus menghentikan semua rencananya itu." Ucap Athos.
"Kau benar, Ato." Seru Prothos. "Hanya Niko yang bisa menghentikannya."
...***...
Mona masuk ke dalam rumah setelah kembali dari supermarket. Hanya ada Prothos yang duduk di kursi meja makan. Pemuda itu langsung melihat padanya.
"Kau sudah sadar?" Sindir Mona sambil membawa dua kantong belanjaan ke dapur. "Aku pikir kau akan mencoba mengakhiri hidupmu lagi."
Mona menatap Prothos yang terlihat sangat yakin saat mengatakannya. Dia merasa itu hal yang bagus, bagaimanapun dia juga tidak ingin melihat pemuda itu terus menerus menghukum dirinya sendiri.
Prothos mendengarkan perkataan Mona untuk menemui Wilda. Saat ini Prothos berada di sebuah coffee shop menunggu kehadiran Wilda.
"Aku sangat senang saat kau menghubungi aku, kak." Ucap Wilda sembari duduk di kursi di hadapan Prothos.
"Dengarkan aku, sebaiknya kau jangan menghubungi aku lagi. Aku juga tidak mau melihatmu lagi." Ucap Prothos tanpa basa-basi.
"Jangan begitu, kak. Aku tahu kau hanya malu karena kita berada di tempat umum—"
"Jangan berlagak bodoh dengan mengatakan kalimat itu. Aku tahu kau pun mengerti kalau aku tidak pernah mau berhubungan denganmu. Semua yang aku lakukan padamu hanya karena kasihan pada gadis sepertimu, tapi kau memanfaatkan rasa kasihanku itu dengan mengancamku."
"Aku tidak pernah mengancammu, kau salah paham padaku."
Prothos mendengus kesal mendengar perkataan Wilda yang diucapkannya dengan suara bergetar yang merupakan ciri khasnya.
"Kenapa kau tega padaku kak? Aku sangat senang saat bertemu kembali denganmu. Aku juga bisa melihat rasa senang itu di matamu. Bahkan aku yakin saat ini kau juga merasa senang karena aku menemuimu—"
"Aku tidak akan menemuimu lagi setelah ini, sebaiknya kau juga tidak usah berusaha mendekatiku karena aku akan berpura-pura tidak mengenalmu. Jujur saja aku muak melihat wajahmu." Ucap Prothos dengan dingin.
Prothos langsung berjalan keluar dari tempat itu meninggalkan Wilda yang tampak menangis, lalu menuju tempat parkir dimana Mona menunggunya di dalam mobil.
Mona langsung menjalankan mobilnya ketika Prothos masuk ke kursi belakang. Dari spion Mona melihat Prothos memejamkan matanya. Dia tidak ingin mengatakan apapun pada pemuda itu karena tidak tega melihatnya.
"Sejak awal semuanya memang salahku." Tiba-tiba Prothos bersuara. "Aku menemuinya karena gadis itu tahu rahasia kami, aku memintanya agar merahasiakan hal tersebut namun ternyata apa yang aku lakukan menyulut semuanya. Karena kata-kataku yang menghibur saat menolongnya, dia yang awalnya tidak ingin ikut campur menjadi berubah mengancam kami. Dengan mudah gadis itu merusak hubungan kami hingga suatu malam dia memintaku datang menemuinya di apartemen-nya, saat aku mabuk karena hancurnya hubunganku dengan Widia. Tanpa sadar kami bercinta malam itu, itu adalah pengkhianatan yang aku lakukan."
"Tapi tanpa aku tahu aku yang terus menghindarinya, membuatnya mengancam Widia. Karena Widia tidak ingin aku sampai dikeluarkan dari sekolah, makanya Widia pergi meninggalkan aku saat aku mengira kalau hubungan kami sudah baik-baik saja. Itu membuat aku sangat bersedih tapi ternyata ada hal lain yang membuat aku merasa harus menghukum diriku." Ujar Prothos dengan menahan rasa sedihnya dan berhenti sejenak. "Karena kesal padaku yang masih menghindarinya, gadis itu ingin mengeluarkan aku dari sekolah tapi itu sudah bisa diduga Widia karena itu sebelum gadis itu melaporkannya pada pihak sekolah, Widia meminta Anna untuk menceritakannya terlebih dahulu dengan berkata kalau selama ini kami berhubungan karena Widia mengancamku."
Mona melihat ke arah spion dan melihat Prothos mengusap air matanya. Mendengar ceritanya membuat Mona bisa merasakan rasa sedih pemuda itu.
"Aku membuatnya tidak bisa mengajar lagi sebagai guru. Bahkan sebagai seorang wanita dia jadi terlihat tidak baik dimata semua orang. Semua dilakukannya karena ingin aku lulus sekolah. Dia meninggalkan aku dengan melakukan sebuah pengorbanan padaku. Itu membuat aku merasa bodoh dan membenci diriku karena tidak bisa berbuat apa-apa untuknya." Suara Prothos terdengar sangat bergetar karena lehernya terasa tercekat. "Sekarang apa yang harus aku lakukan agar aku merasa lebih baik?"
Mona menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menoleh pada Prothos yang melihat padanya.
"Kau harus menemuinya. Katakan pada Widia apa yang ingin kau katakan padanya. Jika kau merasa bersalah maka kau harus menebus kesalahan itu." Jawab Mona.
...–NATZSIMO–...