
"Ato!!"
Prothos terbangun dengan sangat terkejut. Napasnya terengah-engah dan keringat dingin saat ini. Baru saja dia bermimpi buruk mengenai salah satu kembarannya lagi. Ini sudah beberapa kalinya pemuda itu memimpikan hal yang sama.
Dengan menahan napas, Prothos mencoba menenangkan pikirannya. Diusap-usapnya wajahnya dengan telapak tangan agar rasa takutnya menghilang.
Dia mengambil jam tangan yang ada di meja sebelah tempat tidur dan melihat saat ini sudah jam sebelas siang.
"Pasti karena tidur di jam segini aku jadi memimpikan hal yang sama." Gumam Prothos. "Apa aku harus menghubunginya?" Prothos sempat berpikir sesaat untuk menghubungi Athos namun dirinya tidak ingin diganggu untuk saat ini. "Sebaiknya aku makan siang saja. Dia pasti akan menyuruhku pulang kalau aku menghubunginya." Lanjutnya seraya turun dari tempat tidur.
...***...
Athos berada di café bersama ayahnya. Pakaiannya sudah rapi karena sehabis melihat segala sesuatu di cabang café yang akan buka hari ini, dia hendak langsung ke pesta pernikahan wanita yang sangat dicintainya.
"Aku akan pergi sekarang, ayah." Ujar Athos menghampiri ayahnya yang berada di dapur.
Leo berjalan menghampirinya yang berdiri di depan pintu.
Sandy yang berada di sana melihat pada Athos juga. Dia merasa heran pada temannya itu yang masih bersikap biasa saja padahal saat ini, sekitar dua jam lagi kekasihnya akan menikah dengan pria lain.
"Sandy, tetap lanjutkan semuanya, aku sudah bilang pada Lion. Biar dia yang ambil alih sementara ini." Ujar Athos.
"Ambil alih? Kenapa diambil alih Lion? Kau mau kemana?" Tanya Sandy tidak mengerti ucapan Athos.
Athos hanya tersenyum setelah itu berjalan keluar dapur. Sandy dan ayah saling tatap, mereka berdua sama-sama tidak mengerti dengan perkataan Athos.
"Ato, apa yang akan kau lakukan?" Tanya seorang gadis yang merupakan pengunjung café. "Kalian benar-benar sudah berpisah? Hari ini dia menikah."
"Pakaianmu rapi sekali, apa kau mau ke pernikahan mantan pacarmu itu?" Tanya gadis lainnya.
"Ya, aku akan mengucapkan selamat tinggal padanya." Jawab Athos dengan memasang wajah sedihnya.
...***...
Mona terbangun ketika seseorang membuka pintu kamarnya. Dia yang tertidur di tempat tidur tingkat dua melihat kehadiran teman sekamarnya yang baru saja membuka pintu dengan tatapan masih mengantuk. Rambut panjangnya terlihat sangat kusut padahal saat ini dirinya dalam posisi tidur telungkup. Salah satu tangannya juga menjuntai keluar dari tempat tidur.
"Ya ampun Mona, kau masih saja tidur?" Seru teman sekamar Mona sekaligus gadis yang menggantikan Mona membersihkan penthouse Prothos.
"Jam berapa sekarang? Astaga, aku benar-benar menikmati hari liburku." Ujar Mona setelah menghidupkan kembali handphone-nya yang dimatikan saat dia tidur. "Sudah tengah hari, pantas saja aku lapar."
"Ternyata benar, pria itu sangat tampan, dia lebih tampan saat melihatnya lebih dekat." Ucap teman Mona membicarakan tentang Prothos. "Sayang sekali dia selalu tidur dengan wanita yang berbeda setiap hari. Kira-kira apa dia juga mau denganku ya?"
"Diamlah!! Jangan menjadi gadis murahan seperti itu!!" Seru Mona beranjak duduk di tempat tidurnya yang berada di atas. "Kepribadian lebih penting dari pada wajah. Kau tidak akan bahagia jika hidup dengan seorang pria berwajah tampan tapi berperilaku minus seperti dia."
Fokus Mona teralihkan saat sebuah pesan masuk ke handphone-nya sampai-sampai dia tidak mendengarkan perkataan temannya yang berbicara mengenai Prothos yang menanyakan kenapa bukan dirinya yang datang untuk bersih-bersih.
Belum sempat Mona membaca pesan dari Lion, Lion lebih dulu meneleponnya.
"Lion, jangan ganggu aku!" Seru Mona kesal.
"Dengar dulu Mona! Ada masalah yang penting yang ingin aku tanyakan padamu." Ujar Lion di ujung telepon. "Kau bekerja di hotel Niko kan? Apa kau pernah melihat Oto? Maksudku Prothos, salah satu Musketeers."
"Memangnya ada apa? Kenapa kau bilang masalah yang penting?" Selidik Mona. "Dia tinggal di penthouse Niko, dan aku yang bertugas membersihkan tempat itu."
"Apakah bisa kau menemuinya sekarang?"
"Aku sedang libur Lion, kau kan bisa meneleponnya?!"
"Dia tidak punya handphone. Aku mohon padamu Mona, beritahu dia mengenai sesuatu." Seru Lion.
"Mengenai apa?"
"Dia harus menghentikan kembarannya yang akan bertindak gila dan nekat. Hanya perkataannya yang selalu didengarkan oleh kembarannya itu."
...***...
Athos berada tidak jauh dari gedung pernikahan tempat Tasya akan melangsungkan pernikahan. Dia berada di dalam mobil karena acara pernikahan Tasya akan berlangsung kurang dari satu jam lagi.
Athos menggigit ibu jarinya seraya berkutat dengan pikirannya saat ini. Dia akan melakukan hal yang berbahaya untuk dirinya sendiri, dia tidak takut melakukannya namun firasatnya tidak baik saat ini. Bukan karena persiapan yang dibuatnya kurang, dia yakin sekali kalau Dion akan melakukan tindakan bodoh saat melihatnya nanti, namun dia takut pada takdir yang tidak mendukung usahanya nanti.
Drrrtt drrrtt drrrtt
"Ya Lion..." Athos menjawab teleponnya.
"Ato, pikirkan sekali lagi. Aku punya rencana yang lebih baik dari ini. Saat ini aku sudah berada di dalam. Kalau kau mau aku bisa membawa Tasya padamu—"
"Lion, sudah aku katakan, aku bukan ingin menghentikan pernikahan itu tapi aku ingin membuat pernikahan itu tidak akan pernah terjadi lagi." Jawab Athos setelah itu mematikan handphone-nya.
...***...
Mona bergegas keluar asrama karyawan hotel sambil menghubungi resepsionis agar disambungkan ke penthouse utama dimana Prothos berada. Namun Prothos tidak menjawab teleponnya.
Prothos berada di restoran hotel untuk makan siang. Setelah menghabiskan makan siangnya, dia termenung sejenak di tempatnya duduk. Dia memikirkan tentang mimpinya mengenai Athos kembarannya.
"Mimpi itu sangat nyata." Ucapnya.
Tidak berapa lama dia berjalan meninggalkan restoran dan hendak kembali ke penthouse. Dia berniat menelepon Athos saat berada di kamarnya.
"PROTHOS!!"
Prothos menoleh dan melihat Mona yang memanggilnya berlari menghampirinya dengan napas tersengal-sengal. Melihatnya pemuda itu menatap bingung.
"Bukan kah kau libur?" Tanya Prothos.
"Lion baru saja menyuruhku untuk mengatakan sesuatu mengenai salah satu kembaranmu." Jawab Mona masih mengatur napasnya.
"Ada apa?" Prothos sudah mulai merasa takut mengenai mimpinya yang terasa nyata.
"Lion bilang Athos berencana menghentikan pernikahan kekasihnya dengan membahayakan dirinya sendiri." Jawab Mona. "Dia tidak mendengarkan perkataan siapapun. Kau harus menghentikannya karena hanya kau yang akan didengar olehnya."
"Aku pinjam handphone-mu."
Mona memberikan handphone-nya pada Prothos dan dengan cepat Prothos ambil sambil melangkah sangat kilat ke tempat parkir. Dia menekan nomer handphone Athos yang diingatnya untuk berbicara padanya. Namun Athos mematikan handphone-nya.
"Sialan, jangan sampai mimpi itu menjadi nyata!!" Seru Prothos setelah itu berlari.
...***...
Di waktu yang bersamaan Aramis sedang menunggu Anna yang masih belum sadarkan diri. Sudah tiga hari Anna belum juga bangun dari komanya. Pemuda itu menidurkan kepalanya di sisi tempat tidur dimana gadis yang sangat dirindukannya berbaring. Dia tidak tidur, hanya menutup matanya untuk menghilangkan semua pikiran buruk pada dirinya.
Matanya terbuka ketika dia merasakan seseorang menyentuh salah satu matanya yang tertutup.
"Matamu benar-benar seperti mata udang."
Kalimat itu membuat Aramis menjatuhkan air matanya. Anna berbicara di dalam masker oksigen yang menutup hidung dan mulutnya.
"Aku sangat merindukanmu." Ucap Anna, sebutir air mata mengalir keluar dari ujung matanya.
Aramis merasa sangat senang melihat Anna tersadar. Dia mencium kening gadis itu dengan sebuah tawa kebahagiaan.
"Kau memang gadis yang sangat kuat."
Dokter langsung datang setelah Aramis menekan bel untuk memeriksa kondisi Anna. Anna dinyatakan dalam kondisi yang baik saat ini.
"Jangan mengerjaiku seperti ini lagi, Anna. Aku tidak sekuat dirimu." Keluh Aramis saat dokter meninggalkan ruangan.
Anna tersenyum mendengar ucapan Aramis.
"Ars, jam berapa sekarang?"
"Jam satu siang. Ada apa?" tanya Aramis bingung.
"Kau harus menghentikan Ato. Tadi malam dia datang menemuiku dan menceritakan semua rencananya. Aku bisa mendengar semuanya walau aku tidak sadar."
"Apa maksudmu?"
"Selama ini dia memprovokasi Dion agar pria itu bertindak bodoh. Lion membantu Ato merencanakan dan mempersiapkan semuanya. Ato berniat menyakiti dirinya sendiri dengan membuat Dion yang melakukannya." Ujar Anna dengan perlahan. "Kau harus menghentikannya, dia bisa benar-benar mati."
Aramis langsung berlari meninggalkan Anna untuk menghentikan Athos yang berada di pesta pernikahan Tasya saat ini.
"Ars." Ucap Prothos di ujung telepon saat Aramis berlari keluar rumah sakit. "Kau harus hentikan Ato! Seret dia keluar dari sana!! Beberapa hari ini aku bermimpi dia mati."
"Sialan kau, kenapa kau baru menghubungiku?!" Geram Aramis kesal. "Aku tidak akan mengampunimu kalau dia benar-benar mati!!"
...***...
Brak!
Suara pintu terbuka ketika upacara pernikahan sedang berlangsung. Semua mata langsung tertuju pada seorang pemuda yang berada di ambang pintu. Pemuda itu membawa sebuket bunga krisan yang besar dan sebuah kotak hadiah ditangan lainnya.
Dengan santai dia berjalan mendekat altar padahal saat ini semua orang menatapnya bingung. Pengantin pria terlihat sangat kesal pada kehadiran pemuda tersebut.
Tanpa pikir panjang pengantin pria itu berjalan mendekati pemuda tersebut dan mengambil sesuatu yang disembunyikannya di balik jas pengantinnya. Tanpa siapapun duga, pengantin pria itu menghantamkan sebuah pisau tersebut ke dada kiri pemuda tadi dengan penuh kebencian.
Seketika pemuda itu terbaring tak berdaya sedangkan para tamu yang hadir tampak sangat ketakutan. Si pengantin wanita tampak histeris melihat pemuda itu terbaring dengan mengeluarkan banyak darah di dada kirinya..
Dengan tatapan sendu pemuda yang hampir tak sadarkan diri itu menatap penuh cinta pada si pengantin wanita yang menangisinya.
Sekarang biarkan takdir yang berkehendak.
...–NATZSIMO–...