MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
173. KAU AKAN TERBANG KEMBALI



Felix bersama dengan Bara dan beberapa orang berada di sebuah gudang yang sudah tidak terpakai. Mereka membawa Melody ke tempat itu dengan mengikat tangan gadis tersebut.


"Melody, kau masih mengingatku kan?" Tanya Felix mendekati Melody yang terikat di kursi kayu.


Melody tidak berani mengangkat kepalanya karena rasa ketakutannya pada pemuda itu membuat dirinya menjadi menggigil kedinginan. Semua itu disebabkan rasa traumanya muncul lagi hingga keringat dingin membasahi sekujur tubuh gadis itu. Bahkan Melody tampak gemetar dengan mata yang memerah.


"Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu." Seru Felix mengangkat wajah Melody. "Walau sebenarnya aku sangat ingin melakukan banyak hal padamu."


"Felix!! Sebaiknya kita pergi sekarang." Seru Bara. "WizardLine baru saja mengirim pesan dan menyuruh kita meninggalkannya di sini."


Felix menghela napas karena sepertinya pemuda itu masih ingin berada di sana, namun rasa takutnya pada orang yang dijuluki WizardLine membuatnya harus mengikuti yang lainnya pergi meninggalkan tempat itu.


"Melody, mungkin sebaiknya kau berterimakasih padaku sekarang." Ucap Felix.


...***...


Niko bersama beberapa temannya mencari keberadaan Felix yang membawa Melody dengan mengikuti titik yang diberikan Lion padanya.


Ketika dirinya mencapai titik yang dimaksudkan, tidak jauh dari sana terlihat dua mobil yang baru saja keluar dari dalam sebuah bangunan tua yang di dalamnya terdapat bangunan yang ukurannya tidak terlalu besar dengan lampu yang menyala.


Secepatnya Niko menuju bangunan tersebut karena yakin kalau Melody berada di sana. Dengan langkah lebar pemuda itu turun dari mobil dan masuk ke dalam bangun itu. Tanpa pemuda itu tahu Lion juga sampai di sana.


Niko membuka pintu bangunan yang lampunya menyala dan dia merasa lega ketika melihat gadis yang dicarinya berada di sana.


"Melody, kau baik-baik saja?" Tanya Niko mengangkat Wajah Melody yang tertunduk.


Gadis itu menatap Niko masih dengan ketakutan. Matanya sangat memerah meski gadis itu tidak menangis.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menuruti perkataanmu yang memintaku untuk tidak bertemu." Ucap Niko sambil melepaskan tali yang mengikat Melody. "Kau tidak apa-apa kan?"


Pertanyaan Niko tidak dijawab Melody, bahkan pemuda itu terkejut ketika calon tunangannya langsung bangkit berdiri setelah dirinya melepas ikatannya.


Melody berlari menuju pintu dan langsung memeluk tubuh seseorang yang baru saja masuk.


Niko menoleh ke arah pintu dan melihat Lion yang dipeluk Melody. Seketika Niko merasa dirinya tampak menyedihkan saat ini. Gadis yang akan bertunangan dengannya besok malah berlari dan memeluk orang lain, bukan memeluk dirinya. Dia juga tidak mengira kalau Lion akan datang ke tempat ini dan melupakan tentang kesepakatan di antara mereka. Semua itu membuat pemuda itu menjadi mematung melihat kedua orang yang berpelukan di depan matanya.


"Kau baik-baik saja, Melon? Apa kau terluka?" Tanya Lion memperhatikan Melody, takut jika ada luka di tubuh gadis itu.


Melody tidak menjawab, gadis itu hanya mendekap Lion dengan sebuah tangisan yang pecah dan masih dengan tubuh yang gemetar.


Lion melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Melody.


"Maafkan aku, seharusnya—"


Perkataan Lion terhenti ketika tubuh Melody goyah karena rasa takut membuat kakinya lemas dan sekujur tubuhnya juga tidak bertenaga saat ini. Beruntung Lion langsung memeganginya.


...***...


Melody dibawa ke rumah sakit dan masuk ke ruang IGD karena kondisinya yang sangat lemah. Keringat dingin di sekujur tubuh gadis itu membuat dirinya menjadi tidak sehat, dan tubuhnya juga masih gemetar hebat saat ini.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, Melon? Apa sudah lebih baik? Apa ada yang sakit?" Tanya Lion masih khawatir pada Melody. "Apa yang kau inginkan saat ini? Aku akan memberikannya padamu yang penting kau baik-baik saja, Melon."


Melody menggeleng, gadis itu hanya menatap Lion dengan perasaan lega melihat pemuda tersebut. Hanya dengan melihat Lion, seketika perasaannya menjadi tenang.


"Kau pasti sangat ketakutan, kan? Maafkan aku seharusnya aku yang terus menjagamu agar semua ini tidak terjadi padamu lagi. Padahal waktu itu aku juga sudah bilang kalau aku akan selalu menjagamu tapi aku selalu tidak pernah ingat semua yang pernah aku katakan." Ucap Lion dengan suara yang terdengar gemetar karena rasa penyesalannya. "Melon, maafkan aku, aku bersumpah ini yang terakhir kalinya kau mengalami hal seperti ini."


"Ya, ini semua memang salahmu. Kalau kau selalu bersamaku aku tidak akan mengalami hal seperti ini lagi. Tapi kau meninggalkan aku makanya semua ini terjadi lagi." Jawab Melody dengan air mata mengalir.


Seorang pemuda yang berada di balik tirai mendengar percakapan mereka berdua. Pemuda itu memilih untuk melangkah pergi dari sana karena saat ini hatinya menjadi sangat sakit mengetahui kedua orang itu sebenarnya saling mencintai dan sangat mengerti satu dengan yang lainnya.


"Apa sekarang kau mengerti?" Tanya Liam menghentikan langkah Niko.


Niko tidak menjawab apapun, dirinya kembali melangkah pergi untuk meninggalkan tempat itu.


...***...


Melody dipindah ke ruang rawat inap setelah Ronald memeriksa keadaannya.


Tidak sedetikpun Lion meninggalkan Melody dan selalu berada bersama gadis itu. Saat ini yang ada di pikirannya hanya ingin menemani gadis yang tidak ingin ditinggalkan olehnya itu.


Melody yang masih merasa ketakutan tidak ingin Lion pergi meninggalkannya. Bahkan gadis itu sampai-sampai terus memegangi tangan Lion agar pemuda itu tidak beranjak pergi lagi kemanapun.


Ketiga Musketeers tidak ada yang berani menampakan batang hidungnya untuk datang ke rumah sakit ke hadapan Lion. Mereka tahu kalau Lion pasti akan meluapkan rasa marahnya jika saat ini mereka menemuinya.


"Melo, kau baik-baik saja?" Mona datang dengan sangat cemas.


Melody tidak menjawab, bahkan dia tetap tidak melepaskan tangan Lion meski pemuda itu langsung bangkit berdiri karena kehadiran Mona.


"Di mana mereka bertiga?" Tanya Lion dengan wajah kesal. "Jangan bilang mereka tidak berani datang ke sini?"


"Ya, mereka bilang mereka takut dan saat ini mereka bertiga sedang bersembunyi." Jawab Mona dengan tawa kecil. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Mel? Ayahmu sedang dalam perjalanan. Apa paman Ron sudah melihatmu?"


Melody hanya mengangguk menjawabnya. Gadis itu tahu dengan tujuan Mona di sana, namun ia tidak ingin siapapun menjaganya kecuali Lion.


"Aku akan menjagamu malam ini." Ucap Mona yang masih berdiri di dekat pintu masuk. "Kau bisa pulang, Lion. Besok pagi kau akan pergi kan?"


Mendengar perkataan Mona, Melody semakin menggenggam tangan Lion yang dia pegang, seolah-olah tidak ingin pemuda itu pergi.


"Mel, biarkan Lion pergi." Seru Mona berjalan mendekat.


Melody menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir, bahkan gadis itu tidak bisa menahan isakan tangisnya karena tidak ingin sampai Lion pergi. Dia hanya ingin bersama dengan pemuda itu sekarang.


"Aku tidak akan pergi kalau itu yang kau mau. Jangan menangis lagi, Melon." Ujar Lion sambil menepuk-nepuk perlahan tangan Melody yang memeganginya terus. "Aku akan pergi kalau kau yang minta."


Mona keluar ruangan setelah akhirnya Lion yang akan menemani Melody malam ini. Gadis itu berjalan keluar dan bibirnya menyunggingkan senyum kepada ketiga kakak Melody yang menunggu dirinya di luar ruangan.


"Mission completed." Ucap Mona.


Membuat ketiga Musketeers tersenyum senang.


...***...


Di sisi lain, seorang pemuda yang sedang bersedih duduk di pinggir kolam renang di tempat favoritnya. Sesekali bibirnya mengisap sebatang rokok dengan mata yang terlihat sangat memerah. Di belakangnya tersengar sayup-sayup suara musik dari negaranya berasal.


Pemuda itu sudah berada di tempat itu sejak beberapa jam lalu. Seketika rasa bahagianya berubah menjadi kesedihan hanya dalam hitungan jam. Sejak tadi dia terus meredam perasaan sedihnya namun sebuah kenyataan di dalam hidupnya selalu membuat dirinya menjadi seorang manusia yang malang.


"Tol'ko vot privychka, Ty k nemu, kak ptichka, pozovot I ty opyat' sirvosh'sya po lyubomu (Seperti burung kau datang padanya, ketika dia memanggilmu, kau akan terbang kembali)." Ucap Niko ikut bernyanyi lirik terakhir dari lagu yang sedang dirinya dengar. Matanya hanya menatap kosong ke satu titik dan sebatang rokok terselip dibibirnya.


...–NATZSIMO–...


Credit Song:


Hammali & Navai berjudul Ptichka.