
Athos langsung dilarikan ke rumah sakit dan segera dilakukan operasi. Seketika kejadian mengenai penusukan tersebut menjadi pemberitaan utama di media. Saat itu juga polisi sedang mencari keberadaan Dion yang langsung bergegas keluar untuk melarikan diri setelah menusuk Athos.
"Benar paman, aku juga ada disana. Kemungkinan dia bersembunyi di mansion milik keluarganya." Ujar Lion pada kepala Polisi yang meneleponnya. Polisi tersebut adalah teman baik keluarganya.
Lion segera kembali menuju tempat yang lainnya sedang menunggu operasi Athos yang sedang berlangsung. Melody, Prothos, Aramis, Niko, Leo, Ronald, bahkan kakek, Frans yang membantu Athos tadi juga berada di sana.
"Frans, aku berterimakasih atas bantuanmu." Ucap Lion menghampiri Frans. "Sebaiknya kau pulang, aku tidak ingin merepotkanmu lagi."
"Lion, ikut aku." Seru Aramis mendekati Lion.
Aramis langsung mendaratkan pukulannya pada Lion ketika mereka berdua menjauh dari yang lainnya. Lion sudah tahu kalau Aramis pasti akan memukulnya.
"Kenapa kau tidak menghentikannya?" Tatap Aramis.
"Dia meminta bantuanku, aku hanya ingin membantunya. Dia bilang dia tidak masalah dengan semua resikonya. Aku hanya mengatakan langkah apa yang harus dia ambil tapi dia merencanakan ide gila itu." Jawab Lion. "Aku sudah sering berusaha menghentikannya tapi kau tahu sendiri dia tidak akan mendengarkan siapapun."
"Kenapa kau tidak bilang pada kami lebih dulu kalau selama ini Ato memprovokasi Dion agar dia melakukan tindakan itu?" Tiba-tiba Prothos datang. "Kenapa kau juga menyembunyikannya?"
"Aku bisa apa saat dia memintaku untuk bersumpah?" Ujar Lion. "Aku hanya bisa mencegah kemungkinan terburuk yang akan terjadi, karena itu aku mengajak temanku Frans ke pernikahan itu."
"Oto, ini juga salahmu, kemana saja kau selama ini? Aku mencarimu, aku tahu kalau Ato pasti merencanakan sesuatu yang berbahaya pada dirinya. Dia hanya mendengarkan kata-katamu selama ini, tapi kau malah menghilang. Kemana kau sialan?"
Prothos terdiam mendengar amarah kembarannya. Dia merasa bersalah juga. Seharusnya dia segera menemui Athos ketika dia mendapatkan mimpi tersebut. Mimpi dimana Athos bersimbah darah dengan sebilah pisau tertancap di dada kirinya, dan akhirnya Athos menutup matanya. Semua mimpinya itu menjadi nyata saat ini.
"Aku minta maaf pada kalian semua." Seru Lion. "Seharusnya aku tidak menyarankan langkah yang harus dia ambil, aku seharusnya juga menghentikannya sebelum dia melakukannya."
"Aku juga salah. Selama ini aku tidak bertindak apapun untuk Ato, karena berpikir orang sepertinya tidak akan melakukan hal gila seperti ini. Tapi seharusnya aku tahu malah orang seperti Ato yang akan melakukan segala cara agar tujuannya tercapai." Aramis terlihat kesal pada dirinya sendiri. "Seharusnya aku datang kesana dan menyeretnya keluar sebelum kejadian ini terjadi. Aku takut Ato tidak bisa bertahan."
Anna datang ke depan ruang operasi menghampiri Melody dengan menyeret cairan infusan. Melody langsung berlari memeluk Anna yang datang.
"Kak Anna sudah bangun?" Melody menangis memeluk Anna. "Sekarang kak Ato yang seperti itu kak, bagaimana kalau kak Ato tidak selamat?"
"Tidak Melo, jangan bicara seperti itu." Anna mengusap kepala Melody yang memeluknya. "Ato pasti selamat, dia itu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk segalanya. Dia bilang padaku kalau dia tidak akan menyerah pada takdir hingga takdir yang menyerah padanya."
Melody menangis sesungukan di pelukan Anna.
"Anna, kenapa kau kesini?" Tanya Aramis yang khawatir melihat kehadiran Anna. "Kembalilah ke ruanganmu, kau pun masih lemah."
Prothos melihat kondisi Anna yang terlihat tidak baik lalu menoleh pada Lion untuk mendapatkan jawaban. Di tempat yang agak jauh Lion menceritakan apa yang terjadi pada Anna.
"Kau pergi disaat kedua kembaranmu membutuhkan dirimu. Aku tidak menyalahkanmu Oto, kau pun juga menderita dengan masalahmu sendiri. Aku hanya ingin tidak ada yang menderita lagi tapi sekarang siapapun menderita, begitu juga dengan aku." Ucap Lion setelah itu berjalan meninggalkan Prothos.
Prothos termenung duduk di salah satu kursi tunggu yang berjarak agak jauh dari yang lainnya. Dia benar-benar merasa bersalah saat ini. Dia pergi ketika kedua kembarannya sedang merasa terpuruk, tapi selama ini merasa kalau dirinya lah yang paling terpuruk. Dia menyesalinya, seharusnya dia berada bersama mereka melalui semuanya bersama bertiga, karena mereka selalu bersama-sama semenjak di rahim ibu mereka.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Prothos melihat seseorang menelepon handphone milik Mona yang dibawanya. Dia segera menjawabnya karena yang muncul adalah nama yang dia tahu nama petugas housekeeping pengganti Mona tadi pagi, dia yakin mereka berteman dan yang menelepon sekarang pasti adalah Mona.
"Bagaimana kondisi kembaranmu saat ini?" Terdengar suara Mona di ujung telepon. "Semua media membahas kejadian penusukan itu."
"Boleh aku pinjam handphone-mu untuk mengakses akun sosial mediaku?" Tanya Prothos.
"Apa? Ah, iya pakai saja, tapi jangan disalahgunakan ya." Seru Mona. "Dan tolong segera kembalikan saat urusanmu sudah selesai karena hanya itu harta bendaku yang paling berharga."
Kehadiran Tasya yang datang masih memakai gaun pengantinnya menarik perhatian semua orang. Mereka yang berada di sana langsung menatap kehadiran Tasya yang seorang diri dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.
"Kak Tasya." Panggil Melody.
Tasya langsung memeluk Melody, dan mereka berdua menangis bersama.
"Maafkan aku, karena aku kakakmu jadi harus mengalami hal seperti ini." Ujar Tasya menangis memeluk Melody.
"Tidak Tasya, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Jawab Anna.
"Anna..." Kali ini Tasya menangis memeluk Anna. Dia juga merasa senang melihat Anna sudah terbangun. "Bagaimana kalau Ato tidak selamat? Aku akan menghukum diriku kalau itu sampai terjadi."
"Jangan berkata seperti itu, Tasya. Ato akan sedih mendengarnya." seru Leo yang duduk di salah satu kursi tunggu.
Tasya menoleh pada Leo, ayah pemuda yang sangat dicintainya dan segera menghampiri lalu duduk di sampingnya dan memeluk Leo.
"Ayah, Ato pasti selamat kan? Dia harus selamat ayah, dia harus selamat." Tangis Tasya.
"Dia pasti selamat." Hanya itu yang bisa diucapkan Leo saat ini untuk menghibur semua yang bersedih, walau dirinya sendiripun tidak tahu apa yang akan terjadi pada anaknya itu.
Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam, operasi selesai. Dokter yang mengoperasi langsung keluar untuk mengatakan tentang kondisi Athos saat ini.
Mereka semua langsung berkumpul menghampiri depan pintu dimana dokter muncul. Dokter senior berusia di pertengahan lima puluh tahun itu merupakan rekan kerja Ronald di rumah sakit tersebut.
"Bagaimana dengan kondisinya?" Tanya Ronald. "Apa terjadi tamponade jantung?"
"Ya, jantungnya terkena dan aneurisma aorta-nya pecah. Operasinya sudah selesai tetapi karena penyebab semua itu dia masih di masa kritisnya dan belum sadarkan diri. Kemungkinan terburuknya dia tidak akan selamat. Sebaiknya kalian semua bisa menerimanya kalau itu terjadi."
"Tidak!!" Seru Melody sangat terkejut mendengarnya. "Kakakku pasti akan selamat!! Dia tidak akan mati!! Dia akan selamat!!"
Tiba-tiba Melody kehilangan kesadarannya karena syok mendengar kabar yang barusan dia dengar. Lion hendak memegangi Melody namun Niko yang berada di belakang Melody lebih dulu menopang gadis itu.
Semua orang menjadi panik melihat kondisi Melody. Leo langsung mengambil alih tubuh putrinya itu dari Niko dan membawanya ke sebuah ruangan atas petunjuk Ronald.
Niko melihat bagaimana Lion yang berdiri di sampingnya tadi dan di belakang Melody juga hendak memegangi gadis itu sebelum tersadar dan menurunkan tangannya. Hal itu juga dilihat oleh semua orang, termasuk ayah Melody yang langsung bergegas mengambil Melody dari Niko.
"Kak Ato harus selamat, ayah." Ucap Melody saat terbangun di ranjang rumah sakit. Hanya ada dirinya dan Leo di ruangan itu. "Ayah, aku takut kak Ato..."
Leo langsung memeluk putrinya yang sangat bersedih, sama sedihnya dengan dirinya sendiri.
...–NATZSIMO–...