
Lion berada di dalam kamarnya setelah bangun tidur. Waktu menunjukan pukul sebelas siang. Saat ini dia merasa sakit kepala, dengan segera dia membuka kaos yang dipakainya dan menghidupkan musik sangat keras lalu mulai bergerak mengikuti iramanya. Kesana kemari karena hobinya adalah dance.
Dia membiarkan dirinya tenggelam dalam hentakan musik yang sangat keras dan membuat kepalanya yang sakit semakin sakit. Lion terus masuk ke dalam dunianya sendiri tidak mempedulikan orang-orang di sekitar rumahnya yang terganggu dengan suara musik yang dihidupkannya. (Jangan ditiru ya bisa didenda 10 juta).
"Haaahhh, kepalaku akan pecah sekarang." Keluh Lion akhirnya berhenti karena tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Dia membanting dirinya ke lantai setelah keringat membasahi tubuhnya.
"Lion, makanlah dulu!!" Seru Neneknya dari luar kamar.
Lion langsung bangkit berdiri dan mengambil handphone yang dia letakan di atas tempat tidur. Sambil keluar dia membuka aplikasi maps dan mencari tahu keberadaan Melody.
"Dia tidak kemana-mana?" Tanya Lion menoleh ke tirai kamarnya mengarah ke jendela kamar Melody sebelum dirinya membuka pintu hendak keluar.
Sedangkan Melody yang berada di kamarnya sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Dia mendengar suara musik yang dihidupkan Lion sangat keras. Membuatnya tidak fokus mengerjakan tugas sekolah.
"Melo, ayo kita makan. Makanan yang dipesan sudah datang." Ujar Anna membuka pintu kamar Melody. "Astaga, suara musiknya lebih terdengar sangat keras dari kamar ini. Kau ingin aku memarahinya?"
"Tidak perlu, aku sudah terbiasa sejak dulu." Jawab Melody sambil berjalan keluar kamarnya.
...***...
"Ini baru jam tiga sore, Ars. Aku berencana menemuimu jam lima nanti." Ucap Anna yang berbaring di sofa panjang di ruang TV. "Aku baru saja memejamkan mata sebentar."
"Kesinilah sekarang, nanti keburu gelap. Lukisannya jadi tidak terlihat." Jawab Aramis di ujung telepon. "Aku tidak mau tahu kau harus sampai satu jam lagi." Aramis langsung menutup teleponnya.
"Arrrggghhh, dasar kau ini!! Setidaknya biarkan aku tidur satu jam dulu!!" Seru Anna kesal dengan berbicara pada handphone-nya.
Melody yang duduk di meja makan hanya memperhatikan Anna yang baru saja menerima telepon dari kakaknya, Aramis.
"Melo, aku harus pergi sekarang." Ujar Anna bangkit berdiri dan berjalan mendekati Melody. "Padahal aku sangat mengantuk. Bagaimana kalau kau ikut denganku saja? Kau juga mau lihat hasil lukisan kakakmu 'kan?"
"Tidak, aku sedang ingin bermalas-malasan di rumah." Jawab Melody. "Pergilah kak, aku sudah terlalu besar untuk dikhawatirkan."
"Terakhir kali kau sendirian di rumah, si berengsek Felix datang, mana bisa tidak khawatir." Ujar Anna.
"Dia sudah tidak ada. Aku juga sudah belajar dari kesalahanku karena membuka pintu untuknya."
...***...
Lion berada di depan PC komputernya sedang fokus bermain game, headset menutupi telinganya untuk berkomunikasi dengan teman mainnya di game tersebut.
"Watch out, watch out!!" Teriak Lion pada teman bermainnya. "Oh s*hit, I f* told you to be careful. Look around, man!!"
"Sorry, dude." Jawab teman bermain Lion yang merupakan orang luar negeri.
"It’s piece of cake, you know? (Ini mudah sekali, kau tahu?). And you make me f* upset. It has really pissed me f* out!! " Kesal Lion langsung membuka headset-nya dengan kasar.
Fokusnya langsung teralih ketika mendengar suara Melody yang sedang bernyanyi di kamarnya dengan gitar miliknya. Lion mulai mendengarkan gadis itu bernyanyi. Sebuah lagu yang diciptakan sendiri olehnya.
"Pasti saat ini dia sedang bersedih karena harus berhenti menggapai mimpinya." Ucap Lion. Lion mulai ikut bernyanyi dengan suara pelan karena dia sudah hapal dengan lagu yang dinyanyikan Melody, dia sangat sering mendengar gadis itu menyanyikannya.
Drrrrttt drrrrttt
Lion membuka sebuah pesan dari Anna di handphone-nya.
Aku titip Melo ya, dia di rumah sendiri.
"Kau ini, Anna!!" Geram Lion kesal karena dia tidak mengerti kenapa Anna mengiriminya pesan itu. "Pantas saja dia seperti itu, ternyata dia sedang sendirian."
Lion membuka daftar nama di handphone-nya dan langsung menghubungi Niko.
"YA mogu vam chem-nibud' pomoch', mister Lion? (Ada yang bisa aku bantu, tuan Lion?)" Tanya Niko menjawab telepon.
"Chto delayesh'? (Kau sedang apa?)"
...***...
Aramis meregangkan badannya dan berteriak melepaskan rasa lelah di badannya. Baru saja dia menyelesaikan lukisannya yang akan diikutkan ke kompetisi melukis tahun ini.
Dengan reflek Aramis berbalik dan hendak memukul seseorang yang mengejutkannya. Untungnya dia langsung menahannya saat melihat Anna yang melakukannya.
"Kenapa kau mengejutkan aku?" Seru Aramis kesal karena hampir saja dia memukul wanita yang dicintainya itu. "Jangan lakukan lagi!! Reflekku selalu memukul orang yang mengejutkan aku."
"Kau ini benar-benar suka berkelahi." Gumam Anna. "Maafkan aku."
Aramis membuang napasnya dan langsung mengambil botol minumnya dan menghabiskan semua sisa air di botol tersebut.
Anna mendekati kanvas yang berdiri. Dia tersenyum melihat lukisan yang baru diselesaikan Aramis. Saat melihatnya dia tampak tidak asing dengan pemandangan itu.
Sebuah jembatan di atas sungai dimana seekor harimau duduk di tembok pembatas jembatan memunggungi harimau yang ada di belakangnya yang juga duduk menatap punggung harimau tersebut. Di lukisan tersebut di ambil saat waktu senja. Namun Anna sedikit merasakan kesedihan ketika melihat pantulan dari harimau yang ada di atas tembok pembatas jembatan. Pantulan harimau tersebut di sungai menggambarkan siluet seorang wanita dengan rambut terurai panjang.
"Bagaimana?" Tanya Aramis.
"Apa judul lukisannya?" Anna berbalik menatap Aramis.
"Belum aku pikirkan." Jawab Aramis mendekati Anna. "Kira-kira apa yang cocok menurutmu?"
"Pikirkan sendiri, kau yang melukisnya." Ujar Anna.
"Kau tidak menyukainya? Apa ini tidak bagus?"
"Kau pasti akan menang, Ars. Ini sangat bagus."
"Tapi kenapa ekspresimu seperti itu?" Tatap Aramis.
Anna berjalan menjauh dan berpura-pura meregangkan badannya melihat ke luar gedung yang sore hari ini sangat terik.
"Bagaimana kalau kita bertarung lagi seperti waktu itu?" Anna menoleh pada Aramis dan tersenyum. "Kalau kau menang aku akan mendengarkan kata-katamu."
"Kalau kau yang menang?"
"Lihat saja nanti." Ucap Anna mengikuti kata-kata Aramis dulu.
Mereka berdua saling berhadapan. Aramis hanya tersenyum melihat Anna yang tiba-tiba menendang pipi kirinya dengan tendangan berputar. Dia juga membiarkan Anna memukulnya berkali-kali.
"Kau mengurangi kekuatanmu." Ucap Aramis.
"Karena aku tahu kau tidak akan menyerang aku." Jawab Anna. Aramis tertawa karena ucapannya benar. "Kau akan menyesal kalau kau kalah, Ars."
Aramis tersenyum namun dengan cepat Anna menendang dadanya hingga dia terpojok ke tembok. Aramis diam saja dan membiarkan Anna memojokannya. Gadis itu meninju wajah pemuda yang dicintainya dengan tangan kiri.
"Baiklah, kau yang menang." Ucap Aramis menatap Anna dengan senang. "Kau menang, beritahu aku apa yang kau ingin kan?"
Anna menatap Aramis dengan tatapan sedih, namun setelah itu dia mendekatkan wajahnya untuk mencium pemuda itu. Tetapi setelahnya gadis itu langsung berbalik hendak menghindari tatapan Aramis. Dia tidak bisa menatapnya karena saat ini gadis itu menahan air matanya.
Namun tiba-tiba Aramis merengkuhnya dari belakang.
"Kau tahu, aku rasa waktu itu pun adalah ciuman pertamaku." Bisik Aramis mendekap Anna.
Anna mendengarnya dan itu membuatnya semakin bersedih. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Anna langsung menyikut Aramis agar melepaskan pelukannya dan dengan cepat Anna membanting Aramis ke bawah. Tetapi dia menjatuhkan dirinya ke atas tubuh pemuda itu, dan membenamkan wajahnya ke dada pemuda yang dicintainya tersebut, tidak ingin Aramis tahu kalau saat ini dia menangis.
"Kenapa kau sangat suka membantingku?" Tanya Aramis membiarkan Anna berada di atas tubuhnya. "Kau baik-baik saja?" Aramis memegang kepala Anna namun Anna menarik tangannya menyingkir dari kepalanya. "Apa sesuatu terjadi? Kau menangis?"
Anna tak menjawab dia masih membenamkan wajahnya ke dada Aramis. Dan pemuda itu diam saja setelahnya karena tahu Anna tidak ingin memberitahunya sekarang dengan apa yang membuatnya menangis.
...–NATZSIMO–...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih untuk semua yang masih membaca karyaku ini. Semoga cerita ini bisa diselesaikan hingga akhir. Terus dukung terus ya biar semangat nyelesainnya karena author semakin sibuk di real life, jadi tidak bisa sering update, dan ditambah ada 4 karya lainnya yang masih on going.
Yuk kasih like, komen penyemangatnya, dan jangan lupa subscribe. Vote buat membuat karya ini makin populer dan gift juga ya. Jangan lupa rate bintang 5 nya.