
Lion bersama Karen berada di toko skateboard di mall yang sama dengan Melody dan Niko berada. Mereka ke tempat itu untuk membeli skateboard Lion yang sempat tertunda karena banyak hal. Dengan bingung pemuda itu masih memilih-milih beberapa skateboard untuknya.
"Yang ini saja, Lion. Kau suka warna putih kan?" Karen memberikan sebuah skateboard berwarna putih pada Lion.
Lion berpikir sejenak karena putih bukan warna favoritnya walaupun semua barang yang dia punya berwarna putih. Dia melihat sebuah skateboard berwarna hitam dan langsung mengambilnya.
"Aku akan membeli yang ini saja. Ukurannya sesuai dan dari merek yang aku suka." Ujar Lion. "Apa warna kesukaanmu Key?"
"Lilac or purple." Jawab Karen.
Lion langsung keliling toko dan mengambil sebuah skateboard dengan warna kesukaan Karen.
"Aku akan membeli ini untukmu, kau ingin belajar main skateboard 'kan?" Lion menatap Karen yang tampak senang. "Saat kelas dua belas ujian kita akan libur, aku akan mengajarimu."
"Benarkah?" Karen tampak sangat senang.
...***...
"Dia itu teman kursusku, Niko." Ucap Melody setelah Kevin memilih untuk pergi. "Kenapa kau jadi marah hanya karena dia mengobrol denganku?"
"Jangan mengobrol dengan pria manapun!" Seru Niko masih dengan wajah kesal.
"Baiklah." Jawab Melody.
"Aku akan bayar dan setelah itu kita makan dulu, aku lapar jadi gampang marah." Ujar Niko setelah itu berjalan ke kasir diikuti oleh pramuniaga yang sejak tadi membawa pakaian yang sudah Melody pilih.
Niko dan Melody memasuki restoran steak yang ada di mall tersebut. Melody terkejut ketika melihat Lion dan Karen berada di salah satu meja di sana. Karen yang melihat mereka juga sama terkejutnya.
"Itu bukannya Melody dan Niko?" Ucap Karen membuat Lion yang sedang melihat buku menu menoleh ke pintu masuk. "Melody... Niko..." panggil Karen dengan gerakan tangannya.
Niko melihat ke mereka dan langsung berjalan menuju meja Lion dan Karen, Melody hanya mengikutinya saja.
"Kalian ada di sini juga?" Tanya Lion yang terkejut.
"Kami baru akan memesan, bergabung saja dengan kami." Seru Karen dengan senyum.
"Oke." Jawab Niko langsung duduk dan meletakan belanjaan yang dibawanya ke sisi sebelah kanan.
Mereka berempat memilih menu sejenak. Meja yang mereka duduki terdapat empat kursi yang berada di setiap sisinya. Melody duduk berhadapan dengan Karen, di sisi kanannya ada Niko sedangkan Lion di sisi kirinya.
"Kalian habis berbelanja?" tanya Karen. "Wah, banyak sekali belanjaannya." Karen melihat tas belanja yang Niko taruh di bawah, dari posisi Karen duduk dia bisa melihat ada lima tas belanja. "Ini kebetulan sekali ya kita bertemu di sini."
"Kalian membeli skateboard?" Tanya Niko.
Melody melihat dua skateboard terkumpul di bawah di antara Lion dan Karen. Melody sedikit terkejut karena skateboard yang berwarna hitam pasti milik Lion. Biasanya dia akan membeli apapun dengan warna putih tapi kali ini tidak.
"Skateboard-ku hancur lebur, dan baru sempat aku membelinya lagi." Jawab Lion yang duduk saling berhadapan dengan Niko. "Kenapa lama sekali makanannya sampai? Cacing di perutku sudah konser." Gumam Lion.
"Melody, boleh aku lihat pakaian yang kau beli?" Sebelum dijawab Melody, Karen lebih dulu membuka tas belanja yang dekat dengannya. "Ini pakaian hangat semua? Warnanya putih semua. Kau suka warna putih ya?"
Melody mengangguk.
"Semua itu akan aku bawa saat ke Rusia." Jawab Melody. "Di sana sangat dingin jadi aku harus selalu memakai pakaian tebal."
Lion merasa bingung harus berbuat apa karena Melody benar-benar mengikuti semua perkataannya.
"Warna kesukaanmu sama dengan Lion ya? Kalian memang teman sejak kecil ternyata." Ujar Karen.
Melody langsung menoleh pada Lion, karena dia tahu kalau yang suka warna putih adalah dirinya sedangkan Lion warna hitam.
"Aku akan menanyakan kenapa lama sekali makanannya datang." Lion bangkit berdiri dan berjalan hendak menanyakan perihal pesanannya yang lama datang, walau sesungguhnya itu hanya alasannya yang mencoba menghindari tatapan Melody.
"Bagaimana kondisi kakakmu?" Tanya Karen lagi.
"Masih belum melewati masa kritisnya." Jawab Niko karena Melody tidak menjawabnya.
"Tenang saja, dia pasti akan sembuh. Mantan ketua OSIS itu sangat keren, dia pasti segera melewati masa kritisnya dan sembuh."
Akhirnya pesanan mereka diantar. Lion segera duduk dan langsung menyantap steak pesanannya.
"Saat libur kelas dua belas ujian, apa kalian mau ikut bersama kami?" Tanya Niko sambil memotong-motong daging steak. "Kami berencana berlibur ke pulau B. Lion, ikutlah bersama kami."
"Bagaimana ya..." Jawab Lion setelah menelan makanannya. "Sudah lama aku tidak surfing dan diving. Key, kau mau ikut?"
"Aku tidak tahu apa dapat ijin dari ayahku atau tidak." Jawab Karen.
"Aku akan bantu minta ijin ke ayahmu." Ujar Lion.
"Ayahku membencimu karena ulahmu selama ini di sekolah. Dia pasti akan langsung melarangnya." Karen memasang wajah kesalnya pada Lion. "Bahkan kau mengatai ayahku botak."
"Bagaimana kalau aku yang minta ijin?" Tanya Melody menatap Karen yang ada dihadapannya. "Aku butuh teman saat di sana."
"Baiklah." Senyum Karen. "Kau pasti takut Niko macam-macam kan? Padahal kalian akan segera menikah."
Niko tertawa mendengarnya, sedangkan Lion melirik pada Melody yang terlihat lega karena jawaban Karen yang setuju.
"Makanlah." Niko menukar steak miliknya yang sudah dipotong-potong dengan steak milik Melody.
"Jadi karena itu kau tidak menyentuh makananmu dari tadi, Melody? Ah, kalian bikin iri." Seru Karen.
"Mereka hanya ingin pamer kemesraan mereka di depan kita." Bisik Lion pada Karena walau semuanya bisa mendengar. "Makan satu steak tidak kenyang, aku akan pesan lagi. Kau ingin juga Key?"
"Aku minta sedikit punyamu saja, Lion." Jawab Karen setelah itu Lion memanggil pramusaji.
Melody memperhatikan keakraban yang sudah terjalin di antara Lion dan Karen. Mereka berdua dengan cepat sudah sangat akrab. Itu tidak heran, karena mereka memiliki sifat yang sama, mereka berdua mudah bergaul dengan siapapun. Melody merasakan sakit di hatinya melihat Lion bisa dekat dengan gadis lain selain dirinya.
...***...
"Sedang tidak ada siapapun di rumah. Aku tidak akan memintamu masuk." Ujar Melody ketika Niko menghentikan mobilnya di depan rumah Melody.
"Ya, aku sudah tahu. Ayahmu juga memperingatkan aku tadi. Dia mengirimi aku pesan." Jawab Niko tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku segera masuk."
"Tunggu dulu!" Seru Niko. "Ayahmu juga sudah mengijinkan kita pergi berlibur."
"Kau sudah bilang tadi."
"Maksudku, jangan turun dulu. Aku masih ingin bersamamu." Ucap Niko.
Melody mengerti, dia segera memposisikan duduknya untuk kembali duduk dengan nyaman dan tidak jadi turun.
"Ayahmu bilang kalau kita bisa menikah setelah usiamu enam belas tahun. Aku sudah tidak sabar menunggunya." Senyum Niko. "Dan sepertinya ada yang harus aku berikan padamu."
Melody menoleh saat Niko merogoh saku mantel kirinya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Melody dapat memperkirakan apa isinya, karena itu dia kembali melihat ke depan, jantungnya berdegup kencang.
"Melody, ini untukmu." Ucap Niko membuka kotak tersebut.
Melody menoleh dan melihat sebuah cincin di dalamnya. Cincin dengan sebuah permata yang berkilau.
"Karena kita sudah disetujui untuk menikah jadi walau sebelumnya aku tidak melamar, aku pikir setidaknya aku memberikanmu cincin." Ujar Niko dengan tatapan tajam. "Apa kau mau menerimanya?"
"Pasti aku terima." Jawab Melody dengan kaku.
Niko langsung mengambil cincin tersebut dan memegang tangan kiri Melody, lalu memakaikannya.
"Setelah aku memakaikanmu cincin, aku akan menciummu." Ujar Niko.
Melody terkejut menatap Niko yang mendekatinya.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......