MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
075. MERINDUKANMU SETIAP WAKTU



Mona membuka pintu kamar penthouse Prothos setelah menekan bel lama namun tak ada jawaban. Karena itu dia langsung membuka pintu dengan kartu kunci akses yang dibawanya. Saat dia membuka pintu, Prothos sedang duduk di sofa sedang menonton televisi di living room.


"Jaman sekarang acara televisi sangat membosankan." Keluh Prothos.


Mona tak menghiraukannya, gadis itu segera menuju tempat tidur untuk mengganti seprei dan membersihkan area kamar.


"Berapa usiamu Monarch?" Tanya Prothos namun Mona tak menjawabnya. "Aku tebak kau baru lulus sekolah tahun lalu kan?" Prothos berdiri di ambang pintu memperhatikan Mona yang sedang mengganti seprei. "Kau tidak kuliah?"


Mona tak ada niatan untuk menjawab semua pertanyaan Prothos. Dia merasa tidak ingin menceritakan apapun lagi mengenainya setelah kemarin tanpa sadar menceritakan masalah pribadinya karena kesal pada perkataan Prothos.


"Aku hanya ingin berteman denganmu. Aku ingin seseorang mendengarkan apa yang aku rasakan." Prothos bersandar di pintu kamar. "Kenapa sepertinya kau sangat membenciku? Semua gadis yang melihatku akan langsung tertarik padaku, tapi tidak denganmu. Apa kau tidak hanya tahu siapa aku? Tapi kau juga mengenalku?"


"Jujur saja, kau tipe pria yang paling aku hindari di muka bumi ini." Jawab Mona ketus.


"Benarkah? Sebagai pasangan atau teman juga termasuk?"


"Khusus kau, semuanya."


"Sepertinya kau memang mengenalku." Ujar Prothos.


Mona menghentikan kegiatannya karena selesai mengganti seprei tempat tidur. Lalu hendak mengambil tempat sampah, namun kali ini tempat sampah di kamar itu kosong padahal setiap hari selalu terisi penuh dengan tisu dan bungkus pengaman beserta isinya. Itu karena semalam Prothos tidak bermalam dengan seorang gadis.


Mona berjalan hendak keluar kamar untuk mengambil vacuum cleaner, namun Prothos yang berada di depan pintu menghadangnya. Mona menatap kesal padanya.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, jangan mengajakku bermain permainan anak kecil." Ujar Mona. "Menyingkirlah."


"Kau sudah melihatnya kan? Apa ingin mencicipinya?" Goda Prothos. "Tidak ada wanita yang kecewa setelah merasakannya."


Mona mendesis jijik mendengarnya. Dia sama sekali tidak takut pada godaan Prothos saat ini.


"Kau tahu? Aku tahu siapa kau, jadi jangan main-main denganku."


"Bingo! Ternyata benar, kau mengenalku." Seru Prothos. "Apa aku juga mengenalmu? Kau tampak tidak takut padaku dan terkesan membenciku padahal aku yakin kau tahu kalau aku adalah teman dari keponakan pemilik hotel ini."


"Maksudmu Niko?" Tanya Mona dengan sedikit tertawa.


"Kau mengenal Niko?" Tatap Prothos terkejut.


Prothos sama sekali tidak mengira kalau gadis yang hanya bekerja sebagai petugas kebersihan mengenal Niko yang adalah pemilik hotelnya bekerja. Itu diluar dugaannya.


"Sepertinya Niko sengaja memberikan pekerjaan padaku dan menempatkan aku disini secara mendadak." Gumam Mona.


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu? Aku adalah kakak dari orang yang menyerangmu beberapa bulan lalu." Tatap Mona tajam. "Aku juga sangat mengenal Lion, karena itu aku yakin kau tidak akan berani macam-macam padaku."


"Apa maksudmu? Kau kakak dari siapa? Si pengkhianat atau si muka landak? Ah, tidak, pasti si pengkhianat Mario kan?" Tebak Prothos dengan terkejut. "Ya, kau agak mirip dengannya, cara bicaramu."


"Baguslah kalau kau sudah tahu. Jadi jangan ganggu pekerjaanku." Seru Mona.


"Kau tahu ini sangat lucu, pasti Niko ingin mengerjaiku." Ujar Prothos naik ke tempat tidur dan duduk di sana sambil memperhatikan Mona. "Dia berniat membuat aku menjadi canggung tapi Niko tidak benar-benar mengenalku. Aku malah senang karena ada yang mengenalku disini."


Suara Prothos terdengar samar untuk Mona karena saat ini yang memenuhi telinganya suara vacuum cleaner.


"Sepertinya kita bisa berteman Monarch." Ujar Prothos.


...***...


Anna sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Aramis selalu menemaninya, tak sedetikpun pergi meninggalkan gadis itu. Hari ini dia membolos sekolah demi menemani Anna, dan pemuda itu berniat akan tetap bolos hingga Anna tersadar.


Aramis membuka handphone milik Anna yang kemarin dibawakan Athos. Dia melihat-lihat galeri foto milik Anna yang dimana dibuatnya folder khusus dengan nama Sepasang Harimau. Dia membukanya dan melihat semua foto-foto dirinya saat bersama Anna. Itu membuatnya sedikit tersenyum. Bahkan dia melihat beberapa video saat Anna mengerjainya. Salah satunya saat wajahnya dicoret-coret dengan spidol, dan ada juga video ketika Aramis sedang tertidur di sofa dan Anna mengikat rambutnya yang sudah memanjang, diikatnya kecil-kecil dengan karet. Ada juga saat Aramis tertidur, Anna mengikat kakinya ke kaki sofa lalu Anna berteriak dari lantai atas untuk membangunkannya sehingga ketika dirinya bangun Aramis tersandung dan terjatuh, Anna tertawa terpingkal-pingkal saat mematikan rekamannya.


Menontonnya Aramis tertawa kecil. Dia berpikir selama ini Anna sangat sering mengerjainya. Namun sekalipun dia tidak pernah marah. Dulu ketika mereka masih kecil pun Anna selalu mengerjainya, tapi saat itu dirinya selalu menangis, akan tetapi tetap saja dia terus-terusan bermain dengan anak perempuan jahil itu.


Aramis membuka kembali sebuah folder berisikan video. Semuanya adalah video Anna yang baru dibuatnya beberapa hari belakangan ini. Aramis memutar salah satu video itu.


Tampak Anna duduk di meja belajarnya dan melihat ke kamera. Video tersebut diambil ketika Anna belum mencukur habis rambutnya.


Hari ini aku dan si bodoh itu makan di restoran yang sebelumnya kami pernah kesana. Karena habis dari rumah ibu dan menemui si berengsek yang adalah ayahku sendiri, aku sangat merasa sedih. Karena itu aku ingin menemuinya, karena saat melihat tingkah bodohnya semua rasa sedihku akan hilang. Tapi ternyata aku malah semakin sedih. Dia membahas tentang rencananya untuk menikah denganku setahun lagi setelah rambutku panjang. Seperti biasa aku tidak menjawab apapun. Aku mengalihkan pembicaraannya, dan dengan mudah dia selalu gampang dialihkan. Ars, kau memang bodoh!!


Tapi itu membuatku sangat sedih. Aku melakukannya bukan karena aku tidak ingin, tapi karena ulat yang ada di kepala ini membuatku tidak bisa melakukannya. Aku sangat ingin menikah denganmu, Ars. Percuma saja aku bilang di sini, kau pun tidak akan pernah tahu. Besok aku akan mencukur rambutku dengan meminta bantuan Lion. Ini keputusan yang sangat sulit, kau pasti akan membenciku setelahnya. Tapi kondisi rambutku sudah tidak memungkinkan untuk mempertahankannya.


Setelah kau membenciku, aku akan bisa pergi dengan mudah untuk menjalani operasi mengeluarkan ulat di kepalaku. Ars, aku pasti akan sangat merindukanmu dan aku harap setelah operasi pun aku masih merindukanmu, dengan begitu aku tidak akan menghilangkan dirimu dari ingatanku. Dan yang terakhir, semoga saja rumah ini cepat terjual, biar aku bisa segera operasi. Kalau semua berjalan dengan lancar, aku pasti akan datang untuk mengerjai si bodoh itu lagi.


Anna sempat terdiam di video, dia menahan air matanya, namun akhirnya gadis itu menangis.


Aku sangat mencintaimu, Ars. Hingga rasanya aku tidak mampu melewati ini semua sendirian. Aku takut benar-benar melupakanmu, aku takut benar-benar akan kalah dari penyakit ini hingga aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku merindukanmu setiap waktu bahkan ketika kau ada di hadapanku.


Aramis tak mampu menahan air matanya. Dia kembali menangis menatap Anna yang masih belum terbangun juga.


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka. Aramis menghapus air matanya ketika Tasya muncul.


Tasya masuk menghampiri Aramis dan meletakan buah-buahan yang dibawanya. Gadis itu memegang pundak Aramis dan mengusapnya untuk memberikan semangat padanya.


"Anna itu sangat kuat, dia pasti akan melawan rasa sakitnya. Dia akan bangun dan melindungimu lagi. Kalian tidak akan pernah terpisahkan." Ucap Tasya.


Tasya mendekati Anna dengan berdiri agak mencondongkan tubuhnya ke wajah Anna.


"Anna, ini aku Tasya. Maaf ya aku baru bisa datang menemuimu di saat kau seperti ini. Cepatlah bangun, si bodoh Ars sudah sangat menderita dengan ulahmu. Berhentilah mengerjainya."


...–NATZSIMO–...


Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.


Kalau berkenan kasih vote dan gift yang banyak ya...


Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.