
Akhirnya setelah sekian lama ketiga Musketeers berkumpul kembali. Mereka berada di kamar Athos saat ini.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau pulang secepat ini, Ars? Dan bagaimana keadaan Anna? Kau sudah menemuinya?" Tanya Athos.
"Aku hanya melihatnya melalui jendela. Dia benar-benar melupakan aku." Jawab Aramis.
"Lalu kenapa kau kembali? Seharusnya kau tetap berada di sana bersamanya, bodoh." Seru Prothos.
"Dia memintaku pulang dan menyuruhku untuk mengikuti lomba agar mendapatkan beasiswa." Ujar Aramis. "Dia memberiku surat yang dia tulis sebelum operasi."
"Kau baik-baik saja? Apa kau ingin menangis?"
"Sialan kau, Ato!!" Seru Aramis pada Athos. "Aku sudah berjanji akan mendengarkan semua kata-kata Anna. Karena itu aku tidak akan bersedih untuk hal ini."
"Ya, itu bagus. Tapi kalau kau ingin menangis, menangis saja, tak ada larangan menangis untuk siapapun." Tambah Prothos. "Kemarilah, akan aku pinjamkan pundakku untukmu."
"Sialan kalian berdua!!" Kesal Aramis yang selalu menjadi bahan ejekan kedua kembarannya.
Athos dan Prothos menjadi tertawa melihat kemarahan Aramis.
"Kalian berdua mengejekku seperti semua berjalan dengan baik pada kalian, padahal yang terjadi sama saja kan?" Ujar Aramis.
"Ya kau benar, Ars." Jawab Athos. "Aku akan berpisah dengan Tasya. Aku harus memenuhi janjiku pada ayahnya."
"Apa maksudmu, Ato?" Tanya Aramis.
"Apa isi perjanjian itu?" Tambah Prothos.
"Aku menantang ayah Tasya." Jawab Athos. "Aku mengatakan rencanaku sebelumya mengenai penusukan itu, dengan berkata jika aku bisa terhindar dari maut, maka dia harus menghentikan perjodohan Tasya dan tidak menikahkan Tasya dengan Dion atau dengan siapapun."
"Jadi sekarang kau dan Tasya sudah—"
"Tidak semudah itu." Athos memotong perkataan Prothos. "Dia menyetujui untuk tidak menikahkan Tasya dengan siapapun dengan sebuah syarat. Syarat itu yang harus aku buktikan selama tiga tahun ke depan ini."
"Apa syaratnya?" Tanya Aramis. "Kenapa lama sekali harus sampai tiga tahun?"
"Dia ingin aku membuktikan kemampuanku dengan membangun bisnisku sendiri hingga dia menganggap aku layak menikah dengan Tasya."
"Apa? Membangun bisnis selama tiga tahun? Itu waktu yang sangat singkat, bodoh! Itu mustahil."
"Kau memang bodoh, Ato. Presdir memberimu waktu lima tahun tapi dengan sombongnya kau bilang mampu melakukannya hanya dalam waktu tiga tahun. Kau benar-benar gila, berani sekali kau menantangnya dengan waktu sesingkat itu." Tambah Prothos menimpali perkataan Aramis.
"Bahkan aku berani menantang maut." Senyum Athos percaya diri. "Aku yakin pada kemampuanku. Diluar dari kemampuanku aku rasa aku akan dipermudah karena aku memiliki orang-orang di sekitarku."
"Lalu bisnis apa yang akan kau buat?" Tanya Aramis.
"Bukan akan, aku sudah membuatnya. Bahkan semuanya sudah diproduksi dengan jumlah yang lumayan banyak." Jawab Athos. "Aku bersyukur karena ada bocah itu. Dia yang membantuku selama ini, bahkan dia menjadi investor pertamaku."
"Bocah? Maksudmu Lion?" Tatap Prothos penasaran.
"Dia meminjamkan aku uang yang jumlahnya bahkan terlalu banyak untuk pelajar sepertinya. Lebih dari satu milyar, Lion meminjamkannya padaku untuk memproduksi bisnis yang sudah aku buat."
"Benarkah?" Prothos sangat terkejut. "Bocah aneh itu punya uang sebanyak itu?"
Athos dan Prothos menoleh pada Aramis yang berdiri bersandar di pintu.
"Apa kau tahu dia memilki uang sebanyak itu, Ars?" Tanya Prothos karena kembarannya itu adalah sahabat Lion.
"Ya, aku tahu. Dia memang menyembunyikannya. Tapi aku tahu dia meletakan dimana barang-barangnya berada. Jadi tidak mungkin aku yang sering keluar masuk kamarnya tidak tahu tentang hal itu." Jawab Aramis. "Tapi tidak aku kira dia memakainya untuk membantumu, Ato. Aku kira dia akan menggunakannya untuk berkeliling dunia untuk menemui teman-temannya yang tersebar di banyak negara."
"Dia meminjamkannya padaku dengan sebuah perjanjian. Aku harus mengembalikannya padanya dua kali lipat selama dua tahun jika tidak maka dia akan mengambil alih semuanya. Dia juga ingin keuntungan diberikan setiap bulan untuknya."
"Kau setuju?" Tanya Prothos.
"Tentu saja." Jawab Athos. "Aku yakin dia pun tidak akan tinggal diam dan terus membantuku karena bagaiamana pun juga sejak awal dia turut campur dalam bisnis ini. Itu keuntungan untukku karena Lion memiliki banyak teman di mana-mana bahkan di luar negeri sekalipun. Karena itu aku tadi bilang aku dipermudah karena aku memiliki orang-orang di sekitarku. Lion salah satunya."
"Kau sudah dengar, dia akan pindah saat kenaikan kelas? Dia berencana tinggal bersama orang tuanya." Ujar Aramis. " Walaupun aku tahu yang sebenarnya dia akan pergi dan bukan tinggal dengan orang tuanya."
"Ya, dia sudah mengatakannya padaku. Itu bukan hal yang mengkhawatirkan." Jawab Athos tersenyum.
"Tapi dari mana anak itu punya uang sebanyak itu?" Tanya Prothos. "Dia sangat membuat aku tidak menyangka pada dirinya."
"Ya, aku juga sudah mengira hal tersebut." Tambah Athos.
"Dia pernah bilang padaku, saat dia dewasa dia ingin pensiun. Aku tidak tahu maksudnya apa." Ucap Aramis.
"Sepertinya sejak lama dia sudah mempersiapkan dirinya di masa depan. Dia membuat jaringan dengan berteman dengan banyak orang itu sangat dibutuhkan di dunia bisnis. Lion ingin bersenang-senang dan menikmati semuanya saat dia rasa sudah waktunya. Dan sepertinya dia sudah akan melakukannya. Dia ingin aku yang bekerja sedangkan dia bersenang-senang. Dua tahun dari sekarang itu berarti saat dia sudah lulus sekolah. Sepertinya dia hanya ingin menikmati hidupnya setelah lulus karena saat ini dan sebelumnya dia sudah melakukan banyak hal. Dia benar-benar sudah memikirkan seribu langkah ke depan dalam hidupnya. Seperti sebuah permainan catur." Athos berbicara panjang lebar. "Padahal aku berharap kalau hubunganku dengan anak itu diperkuat dengan hubungan keluarga. Lion sangat mengagumkan."
"Kau tenang saja, Ato. Itu akan terjadi." Ucap Prothos tersenyum. "Lalu bisnis apa yang sudah kau buat? Dan bagaimana caramu untuk memajukan bisnismu?"
"Kau!" Jawab Athos.
"Aku? Apa maksudmu?" Tanya Prothos heran.
"Aku tahu kau sudah tidak berniat melanjutkan sekolahmu lagi. Saat ayah tahu, dia akan marah padamu. Hanya aku yang bisa menghentikannya. Karena itu kau harus mendengarkan permintaanku Oto." Ucap Athos menatap Prothos. "Jadilah seorang bintang, terjunlah ke dunia hiburan, buatlah dirimu menjadi sangat terkenal. Kau harus menjadi seorang selebritis papan atas dalam waktu dua tahun."
"Kenapa aku harus jadi selebritis?" Tanya Prothos heran sedangkan Aramis menahan tawanya. "Jangan tertawa kau, bodoh!!"
"Memang apa bisnismu, Ato? Produk kecantikan?" Tebak Aramis.
"Ya, kau benar, Ars." Jawab Athos.
Prothos dan Aramis terkejut mendengar jawaban Athos. Aramis menjadi tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Maksudmu kau ingin Oto menjadi model produkmu?" Tanya Aramis. "Ya, dia memang cocok, dia juga rutin perawatan."
"Sialan kau Ars." Gumam Prothos. "Kenapa kau membuat bisnis itu?"
"Itu adalah bisnis yang sama dengan bisnis yang dibangun Ayah Tasya. Jika aku ingin membuatnya mengakui diriku maka dengan bisnis yang sama dengannya adalah cara yang tepat untuk membuktikannya. Apple to apple. Kau juga dengarkan kalau dia membangun bisnisnya itu hampir sepuluh tahun? Walau aku membutuhkan waktu lima tahun pun aku rasa dia masih akan mengakui diriku."
"Pemikiranmu benar juga." Jawab Prothos. "Tapi kenapa kau membuatnya malah semakin singkat? Tiga tahun itu waktu yang singkat."
"Tidak, Oto. Aku hanya membutuhkan waktu dua tahun. Itu waktu yang diberikan Lion padaku juga dan aku yakin Lion juga menargetkan jangka waktu tersebut karena dia yakin aku pasti bisa, dan dia ada dibelakangku membantuku."
"Dua tahun?" Ujar Aramis dengan sebuah senyum. "Itu masih terlalu lama. Bukan begitu, Oto?"
"Kau benar, Ars." Jawab Prothos menunjukan senyum menawannya. "Lion memberimu waktu dua tahun padamu? Dengar Ato, aku akan membuatnya semakin cepat. Aku akan menaiki tangga dengan sangat mudah dan membuatmu diakui ayah Tasya kurang dari dua tahun. Aku akan menjadi sangat terkenal dalam jangka waktu satu tahun, ah tidak, maksudku enam bulan."
Ketiga Musketeers tersenyum.
...–NATZSIMO–...
❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤
Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih...