MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
170. PERPISAHAN YANG SEMPURNA



Sekitar pukul delapan pagi, Tasya sedang berada di dalam kamarnya. Gadis itu berada di atas tempat tidur sambil memperhatikan handphone-nya yang membuka sosial media Athos.


Pemuda itu sudah tidak pernah mengunggah apapun di akun tersebut. Yang ada hanya unggahan-unggahan sebelum dirinya ditusuk pisau oleh Dion.


Tasya terus melihat foto-foto yang diunggah Athos semuanya adalah dirinya atau pun foto mereka berdua. Gadis itu jadi terkenang saat foto itu diambil, semuanya muncul lagi dalam benaknya dan membuat dirinya menjadi semakin merindukan Athos.


"Nona, ada yang datang ingin bertemu denganmu." Suara Keke terdengar dari luar pintu diiringi ketukan pintu.


Tasya bergegas membuka pintu dan melihat Keke.


"Siapa yang datang? Aku tidak ingin menemui siapapun." Jawab Tasya dengan malas.


"Nona harus menemuinya, nona pasti akan senang saat melihatnya."


Jawaban Keke membuat Tasya langsung bergegas meninggalkan kamarnya dan menuju tangga. Dari lantai atas, gadis itu melihat ke arah seseorang yang berdiri melihatnya di lantai bawah.


Hati gadis itu langsung merasa senang ketika melihat seorang pemuda yang dirindukan dirinya berdiri dengan tersenyum padanya. Secepatnya Tasya menuruni tangga dengan sedikit berlari dan langsung menyambar tubuh Athos—memeluknya.


"Ato, apa benar ini kau?" Tanya Tasya yang berada didekapan Athos dengan air mata kebahagiaan melihat pemuda yang dicintainya menemuinya lagi setelah sekian lama. "Kenapa diam saja?"


"Aku menahan sakit di dadaku jadi aku tidak bisa mengatakan apapun." Jawab Athos.


Tasya langsung melepas dekapan eratnya setelah sadar kalau luka tusukan di dada Athos belum sembuh benar. Gadis itu langsung menatap wajah pemuda itu dengan sebuah senyum walau wajahnya basah dengan air mata.


"Kenapa kau sudah berjalan? Apa sudah tidak masalah?" Tanya Tasya dengan sedikit khawatir.


"Aku sudah baik-baik saja." Jawab Athos dengan sebuah senyum. "Aku merindukanmu."


"Tidak! Kau tidak merindukanku. Kalau benar seperti itu kau sudah akan menemuiku sejak kemarin dan akan selalu menemuiku. Kau tidak akan menghindar dan melarangku menemuimu. Hanya aku yang merindukanmu." Seru Tasya dengan menangis.


Athos tertawa menanggapi perkataan Tasya sehingga gadis yang dicintainya itu tampak kesal dan tanpa sadar memukul dirinya. Pemuda itu pun meringis kesakitan.


"Maafkan aku, sayang. Maaf, Ato." Ujar Tasya merasa bersalah sambil mengelus-elus dada Athos yang sakit.


Athos memeluk Tasya dan dengan tangannya ia merengkuh gadis itu.


"Bersiaplah, kita akan ke laut sekarang." Ucap Athos.


Tasya terkejut mendengar perkataan Athos, namun gadis itu tersenyum sangat senang.


Athos duduk di sofa menunggu Tasya yang sedang bersiap-siap. Hampir setengah jam dia menunggu, akhirnya gadis itu muncul dengan gaun buatan dirinya. Gaun yang diberikan saat pernikahan Tasya yang digagalkannya. Gaun merah muda yang terlihat sederhana namun terkesan elegan karena Tasya yang memakainya.


"Bagaimana Ato? Apa aku cantik?" Tanya Tasya.


Athos hanya memulas senyum menjawab pertanyaan itu. Untuknya apapun yang dipakai gadis itu selalu tampak bagus, bukan gadis itu yang menjadi cantik karena apa yang dipakainya.


Tidak berapa lama mereka sampai di sebuah pantai yang tampak sangat indah karena hari ini matahari bersinar dengan terang membuat langit tampak biru dan laut berkilau.


"Apa kita akan memancing?" Tanya Tasya menoleh pada Athos yang berdiri disampingnya saat mereka keluar dari mobil.


"Aku kira kita akan memancing lagi seperti waktu itu. Saat kau bilang akan ke laut, aku langsung berpikiran akan menemanimu memancing." Ujar Tasya.


"Aku tidak perlu menunggu lagi karena sepertinya aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Aku hanya perlu menahan diriku saja." Ucap Athos.


"Apa maksudmu?"


Athos menggeleng dengan tersenyum pada Tasya. Lalu diraihnya tangan kanan Tasya dengan menggenggamnya.


"Kau ingin berlayar ke tengah laut?" Tatap Athos sambil mengecup telapak tangan Tasya yang ada digenggamannya.


Akhirnya mereka berdua menaiki sebuah Yacht Boat untuk pergi mengelilingi lautan. Tasya dan Athos duduk di bagian atas kapal menikmati pemandangan di tengah-tengah laut.


"Aku tidak tahu kalau kau bisa mengendarai kapal." Ucap Tasya dengan memulas senyum bahagia menoleh pada Athos yang sedang mengendarai kapal.


"Ini sangat mudah, seperti menyetir mobil." Jawab Athos yang langsung dipeluk Tasya. "Beberapa kali aku dan ayah menaiki speed boat, dia yang mengajariku mengendarai ini."


"Jika tahu kita tidak memancing, aku akan memakai bikini, Ato." Peluk Tasya dan menatap pemuda yang sangat dicintainya dan mendapat sebuah senyum dari Athos. "Aku sangat senang hari ini, Ato. Aku tahu ini mungkin kesempatan terakhir aku bisa bersama denganmu sebelum pergi." Tasya mulai mengubah ekspresi wajahnya.


Athos merangkul Tasya yang memeluknya. Dia tidak ingin gadis itu bersedih.


"Tasya, aku belum pernah mengatakannya padamu sebelumnya. Sebenarnya sejak awal semua yang terjadi sesuai dengan keinginanku. Aku masih mengingat tanggal itu, bahkan aku melingkari kalender di mejaku karena untukku itu adalah hari yang paling spesial di dalam hidupku. Tepat satu tahun yang lalu aku melihat seorang gadis masuk ke supermarket dengan wajah tertutup masker, aku terus memperhatikannya hingga akhirnya gadis itu membutuhkan bantuanku, aku mengambilkan sesuatu yang terus ditatapnya dengan tatapan kesedihan, aku mengembalikan handphone-nya yang terjatuh dan aku senang akhirnya mendapatkan pelukan dari gadis itu."


Tasya menengadahkan kepalanya menatap Athos karena dia tidak mengira mendengar cerita pertemuan mereka pertama kali dari sudut pandang kekasihnya itu.


"Selama beberapa hari aku mencari tahu tentang gadis itu, aku juga tahu selama hampir seminggu gadis itu mengikutiku terus hingga akhirnya dia datang ke café. Aku pun sengaja meminta Ars untuk melayaninya agar dia yang suka mengerjaiku memberikan nomer handphone-ku padanya. Sampai akhirnya dengan sengaja aku terdengar tidak sengaja menerima pernyataan cintanya. Bahkan aku sengaja mengubah password handphone-ku karena tahu Ars akan mengerjaiku lagi dengan mengirimi gadis itu pesan untuk datang ke rumah kami. Di hari itu akupun membuat cheesecake kesukaan Melo, yang aku juga tahu kalau gadis itu menyukainya."


Athos berhenti sejenak dan menatap pada Tasya yang juga menatapnya.


"Semuanya berjalan sesuai dengan keinginanku hingga sekarang aku masih bersama gadis itu setelah aku melawan maut." Lanjut Athos. "Hingga nanti pun aku percaya semua akan tetap berjalan seperti keinginanku. Kau juga percaya kan?"


Tasya mengangguk tipis dengan sebuah senyum simpul tersirat sebuah kebahagiaan.


"Dengarlah Tasya, kita tidak akan bertemu selama tiga tahun setelah ini, ayahmu juga tidak ingin kita berkomunikasi dan aku ingin memperlihatkan padanya kalau semua larangannya itu tidak masalah untukku dengan membuktikannya. Kau tidak perlu takut aku akan berpaling darimu karena selama aku hidup kaulah satu-satunya wanita yang membuatku melakukan semuanya sejauh ini. Aku hanya selalu melihatmu."


"Kau tahu, Ato? Kau terlalu sempurna untuk wanita seperti diriku. Aku selalu merasa beruntung menjadi wanita yang dicintai pria sepertimu." Jawab Tasya dengan air mata yang terurai karena memikirkan perpisahan mereka setelah ini. "Karena itu kadang aku takut kau akan mencari wanita yang sepadan denganmu, wanita yang sama sempurna seperti dirimu."


"Aku tidak perlu mencari seseorang yang sempurna di dalam hidupku jika aku sudah memiliki seseorang yang bisa membuatku selalu bahagia." Ucap Athos memegang wajah Tasya dan menatapnya lekat seraya menghapus air mata gadis cantik itu. "Kau tidak perlu khawatir karena semua tetap akan berjalan seperti yang aku inginkan. Kau mengerti?"


"Ya, Ato, aku akan mengikuti semua perkataanmu. Tidak mungkin aku tidak mengikuti perkataan pria sepertimu."


Athos tersenyum pada jawaban Tasya dengan tatapan lekat pada gadis itu.


"Kau tahu? Setiap hari akan selalu menjadi hari biasa saat tidak ada kau disampingku. Mungkin saja nanti aku akan merasa lelah pada semuanya karena tidak ada dirimu bersamaku. Karena sejak bersamamu kau adalah istirahatku, Tasyaku sayang." Ucap Athos langsung mencium bibir Tasya.


Di tengah laut, dengan angin menderu, sepasang kekasih berciuman di atas kapal. Mereka akan berpisah, dan semua itu membuat perpisahan mereka menjadi sempurna karena rasa cinta keduanya tetap akan saling terpaut satu dengan yang lainnya.


...–NATZSIMO–...