MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
096. TANTANGAN UNTUK SI MONSTER



Kedua Musketeers yaitu Prothos dan Aramis sudah masuk sekolah hari ini. Dua hari lagi mereka harus mengikuti kegiatan belajar di sekolah sebelum hari senin—minggu depan mereka akan mengikuti ujian kelulusan tanpa salah satu saudara kembar mereka, Athos.


Prothos yang tidak masuk sekolah lebih dari dua minggu langsung dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk menerima konsekuensi.


"Sebelumnya pamanmu sudah datang menghadap, dan karena apa yang terjadi pada mantan ketua OSIS, maka kami tidak akan menghukummu." Ucap kepala sekolah. "Kami sangat menyayangkan dengan yang terjadi pada kembaranmu. Apalagi hari senin sudah ujian kelulusan."


"Kami juga sangat menyayangkan hal ini terjadi padanya." Jawab Prothos. "Jika saja dia ikut ujian besok, aku yakin nilainya akan yang tertinggi di negara ini."


"Kau tidak perlu khawatir, kami sudah menerima beberapa beasiswa untuk Athos. Bahkan dia bisa mengikuti ujian susulan ketika sembuh nanti. Apa yang terjadi padanya menjadi perhatian serius saat ini. Banyak pihak mendukungnya karena dia tidak salah sedikitpun." Terang pak kepala sekolah. "Prestasinya sangat banyak untuk sekolah ini, kami semua akan mendukungnya."


...***...


Aramis yang berada di belakang gedung sekolah saat jam istirahat sedang menelepon Anna. Gadis itu baru saja tiba dan karena perbedaan waktu dirinya sedang tidur sehingga telepon Aramis mengganggu tidur Anna.


"Ars, aku baru tidur. Nanti aku akan menghubungimu kalau aku sudah tidak mengantuk lagi." Seru Anna.


"Jangan lupa hubungi aku, ikuti jadwal di alarm yang sudah aku pasang setiap hari untukmu."


"Kau keterlaluan, dalam satu hari aku harus menghubungimu sebanyak lima kali, itu melebihi jumlah makan setiap harinya."


"Kau harus menurut pada suamimu!!" Seru Aramis menutup teleponnya langsung. "Dia masih saja seperti itu padahal sudah pergi jauh dariku." Gumam Aramis.


"Kalian baru menikah satu hari tapi sudah bertengkar. Ckckckkk... jangan sampai kalian bercerai ya." Ejek Lion yang tiba-tiba meluncur ke arah Aramis dengan skateboard hitam miliknya. Lion mengunyah permen karet dan menggelembungkannya membuat balon dengan permen karetnya itu saat ada di hadapan Aramis. "Ingat, aku ini saksi pernikahan kalian, aku tidak akan setuju kalau kalian bercerai."


"Diamlah, sialan!!" Seru Aramis kesal pada Lion. "Kenapa kau ke sini?"


Lion meloncat turun dari skateboard dan menginjak skateboard-nya agar terpental untuk ditangkapnya.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Ars." Ujar Lion sekali lagi dirinya membuat balon dengan permen karet yang dikunyahnya.


"Katakan saja, jangan buang-buang waktu, aku lapar dan ingin ke kantin."


"Aku menantangmu." Seru Lion. "Sabtu ini aku menantangmu dalam pertarungan hidup dan mati."


"Apa kau bilang?" Tanya Aramis heran. "Kau menantangku? Kau menantangku apa?"


"Aku menantangmu dalam pertarungan hidup dan mati." Jawab Lion menatap tajam Aramis. "Siapapun boleh menantangmu, Ars."


Seketika Aramis tertawa mendengarnya. Suara tawa Aramis sangat besar sehingga beberapa murid melihat ke belakang gedung sekolah pada mereka kedua sahabat yang berdiri berhadapan itu.


"Ini serius, bodoh!" Kesal Lion. "Hentikan tawamu!!"


Karena kesal, Lion mencoba meninju Aramis namun dengan cepat Aramis menepis dan melayangkan pukulan ke perut Lion. Aramis lalu mencengkram leher Lion dengan ibu jarinya menekan jakun pemuda itu dengan gerakan yang sangat cepat.


"Jangan bertindak bodoh, Lion." Ucap Aramis. "Aku bisa saja langsung menghancurkan kerongkonganmu saat ini."


Aramis semakin menekan ibu jarinya, membuat Lion sulit bernapas sehingga wajahnya memerah.


"Berhentilah bertingkah konyol!" Seru Aramis melepaskan Lion. "Aku menganggap kau tidak serius mengatakannya." Setelah itu Aramis pergi meninggalkan Lion.


Lion yang sempat mengalami sesak napas menjadi batuk-batuk setelah Aramis melepaskan cengkramannya dari leher pemuda itu. Dengan kesal Lion membuang permen karet yang ada di mulutnya.


"Ternyata yang dikatakan Niko benar. Pasti akan sangat sulit mengalahkannya. Dia sangat cepat dan tenaganya sangat kuat, padahal dia menggunakan tangan kanannya." Gumam Lion masih mengatur napasnya.


Lion mengambil handphone-nya untuk menghubungi temannya.


"Ivan, beritahu semuanya kalau aku sudah menantang Ars." Ujar Lion.


"Kau serius Lion? Aku kira kau hanya bercanda saat mengatakannya kemarin." Jawab Ivan.


"Ya, aku menantangnya dalam pertarungan hidup dan mati." Ucap Lion dengan senyum. "Beritahu yang lain agar dia tidak menghindar, sepertinya dia tidak menganggap serius tantangan dariku."


"Kau memang sangat konyol, Lion. Pertarungan hidup dan mati? Kau tidak serius mengatakannya kan? Kau tahu dampak apa yang akan terjadi saat kalian berdua bertarung?"


"Turuti saja kata-kataku!!" Seru Lion agak kesal. "Pertarungannya sabtu ini dan di tepi danau tempat biasanya. Semua pasti akan sangat senang mendengar kabar ini." Tambah Lion diiringi tawa.


Lion berjalan keluar dari belakang gedung sekolah. Namun David yang mendengar semuanya menghadang langkahnya.


"Kau tahu kenapa aku memilih pertandingan karate saat melawannya?" Tanya David yang bersandar di tembok menoleh pada Lion yang baru muncul dari belakang gedung sekolah. "Karena aku tahu, aku tidak akan bisa mengalahkannya di pertarungan sesungguhnya."


"Sebaiknya jangan bertindak gila Lion. Aku tahu kau bukan orang yang suka pamer dengan kemampuanmu, tapi kau bukan lawannya, dengan mudah dia akan mengalahkanmu, apa lagi kau bilang pertarungan hidup dan mati. Itu sama saja kau bunuh diri."


Wajah Lion tampak berseri-seri mendengar perkataan David. Baginya itu bukan hal yang menakutkan. Dengan santai Lion mengambil permen lolipop dari kantongnya dan memakannya.


"Semua akan menjadi tidak sama lagi ketika kalian berdua saling berhadapan. Mereka semua yang membenci sahabatmu itu akan bertaruh untuk kematiannya, dan mereka akan marah jika dia sampai menghilangkan nyawamu. Itu sama saja caramu memutus pertemanan dengannya."


Lion tertawa mendengar ocehan David. Bahkan pemuda itu sampai harus menahan tawanya karena terlalu menggelikan untuknya. David hanya bisa melihat tingkah bodoh Lion yang tertawa.


"Itu memang niatku." Jawab Lion yang terduduk di tanah setelah menahan gelak tawanya. "Tapi itu terjadi jika aku mengalahkannya, dengan kata lain jika Ars mati. Berbeda jika dia yang mengalahkan aku."


Lion bangkit berdiri dan membersihkan seragamnya yang terdapat tanah yang mengotorinya.


"Tunggulah kabar selanjutnya. Aku pasti akan memberitahu kalian semua tujuan aku menantang monster itu." Seru Lion sambil berjalan pergi meluncur dengan skateboard.


...***...


Sepulang sekolah, Prothos berjalan dengan langkah lebar menuju kelas Aramis. Dia langsung masuk setelah guru keluar dari ruangan itu. Kehadirannya membuat perhatian semua murid yang masih berada di kelas itu. Dengan tergesa-gesa dia mendekati kembarannya yang terlihat hendak menghubungi Anna dengan handphone-nya.


"Ars, kau sudah lihat kabar yang beredar?" Tanya Prothos membuat Aramis mematikan teleponnya sebelum ada jawaban dari Anna.


"Mengenai apa?" Tatap Aramis merasa aneh dengan ekspresi wajah Prothos.


"Lion menantangmu, apa kau tidak tahu? Kabar itu sudah beredar luas dan menjadi perbincangan semua orang di kota ini. Bahkan mereka sudah memulai membuka taruhan untuk kalian."


Aramis merampas handphone yang dibawa Prothos, dan membaca forum yang membahas hal tersebut. Dia tidak mengira kalau Lion benar-benar menantangnya.


"Dia benar-benar bocah konyol!!" Seru Aramis.


Dengan segera Aramis berlari ke kelas Lion diikuti Prothos, tepat saat mereka hendak sampai Lion keluar kelas dan melihat sosok Aramis. Namun Lion melambaikan tangan pada Aramis dengan sebuah senyum lebar, setelah itu berlari melarikan diri untuk menghindari sahabatnya yang memancarkan rasa kesal padanya.


Niko beserta Melody yang baru keluar kelas melihatnya. Beberapa murid di sekolah itu yang mengetahui mengenai kabar itu pun memperhatikan mereka. Melody tak tahu apa yang terjadi sedangkan Niko mendengus sedikit tersenyum pada Aramis.


"Ivan, kenapa kau menuruti perkataannya?" Geram Aramis yang langsung menghubungi Ivan. "Dia bocah gila yang konyol. Seharusnya kau tidak menurutinya, sialan!!"


"Kau tahu sendirikan walaupun aku tidak menurutinya, dia tetap akan melakukannya. Dia sangat serius ingin menantangmu, sepertinya itu alasan kenapa akhir-akhir ini dia sering berlatih capoeira."


"Berengsek kalian semua!!" Ucap Aramis setelah itu menutup teleponnya dengan menggeram.


"Ada apa kak?" Tanya Melody pada Prothos.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Prothos merangkul Melody.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


Sebelumnya minta maaf karena ceritanya kepanjangan, maklum yang diceritakan para ababil jadinya tarik ulur terus kaya main layangan, khususnya si melon dan si konyolion 🤭🤭🤭


Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.


Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.


Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.


Terimakasih...