MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
176. MELODY YANG INDAH



Melody menatap pada Lion yang baru saja berbalik setelah Niko melangkah pergi menaiki tangga pesawat. Gadis itu menjadi bingung saat ini. Dengan segera Melody menghapus sisa air mata yang masih ada diwajahnya dan berbalik untuk menghindari tatapan Lion.


Gadis itu melangkah meninggalkan tempat itu dengan perasaan lega saat ini. Walau dirinya masih sedikit merasakan kesedihan pada Niko yang malang namun tidak bisa dipungkiri kepergian Niko membuat semuanya menjadi lebih baik sekarang. Semuanya akan kembali seperti semula. Hubungan dirinya dengan Lion, tidak, Melody ingin lebih dari sekedar itu.


"Melon, kau harus mentraktirku ramen sekarang, aku belum sarapan apapun dan sekarang sudah jam segini." Seru Lion sambil berjalan melewati Melody yang jadi berhenti menatap punggung pemuda itu.


Lion menghentikan langkahnya karena tahu gadis dibelakangnya hanya menatapnya. Dia pun berbalik melihat pada Melody.


"Ayo, aku sudah sangat lapar." Ujar Lion yang berdiri di jarak sekitar lima meter dari Melody.


"Aku tidak akan pernah mendengar kata-katamu lagi." Ucap Melody.


"Ya, aku juga tidak pernah memintamu untuk mendengar dan melakukan semua kata-kataku." Jawab Lion. "Sudah, ayolah, aku sangat lapar sekali." Lion langsung berjalan menuju motornya berada.


Pemuda itu melihat pada Melody melalui sudut matanya ketika gadis itu berjalan ke arahnya dengan wajah tertunduk. Sebuah senyum simpul terlukis di wajah Melody saat ini, hal itu membuat Lion juga menyunggingkan senyumnya.


"Melon, kau harus mentraktirku tiga mangkuk ramen dan membelikan aku donat." Seru Lion ketika dirinya berada di motor bersama Melody.


Melody tidak menjawabnya, gadis itu hanya memeluk pinggang Lion dengan erat dan menyandarkan dirinya pada pemuda yang sangat dicintainya itu.


Mereka berdua sampai di restoran ramen yang letaknya masih berada di dalam komplek perumahan mereka tinggal. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang.


"Astaga, aku lapar sekali." Ucap Lion di sela dirinya memakan ramen.


Melody hanya diam saja melihat Lion yang sejak awal hanya fokus memakan ramennya dan ini sudah ramen ketiga yang pemuda itu lahap. Namun yang ada di benak gadis itu bukanlah mengenai ramen-ramen tersebut melainkan tentang pemuda yang duduk dihadapannya.


Lion menyadari kalau sejak awal Melody hanya menatapnya tanpa kata namun dirinya tidak ingin mengatakan apapun dan berpura-pura tidak menyadarinya.


"Lion..." Akhirnya Melody mengeluarkan suaranya.


"Hhmm..." Lion melihat pada gadis yang tampak serius menatapnya. "Ada apa? Kenapa kau tidak makan ramennya, Melon?"


Melody tidak menjawabnya. Dirinya ingin mengatakan sesuatu yang untuknya lebih penting saat ini, namun begitu gadis itu pun tidak tahu apakah akan mengatakannya atau tidak. Karena untuknya sangat malu jika mengatakan lebih dulu.


"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Lion setelahnya meminum jus melon yang dipesannya. "Kenapa diam? Kau belum lapar?"


"Sebenarnya aku—"


"Ya ampun, aku lupa." Potong Lion dengan wajah terkejut. "Aku lupa bilang pada Kevin kalau aku tidak jadi pergi. Sudah jam segini, dia pasti sudah berada di dalam pesawat."


Lion segera mengambil handphone-nya dan menghubungi seseorang. Pemuda itu benar-benar lupa memberi kabar Kevin yang berencana pergi bersama dengan dirinya untuk berjalan-jalan keliling dunia selama setahun ini. Dan pesawat Kevin berangkat jam sepuluh tadi.


Melody hanya diam saja karena dirinya tidak jadi mengatakan mengenai perasaannya yang menyukai Lion.


...***...


Ketiga Musketeers berada di meja makan, mereka baru saja melihat pengumuman kelulusan yang sudah diedarkan. Mereka bertiga lulus walau dengan nilai dan peringkat berbeda-beda.


"Sialan, peringkatku tidak jauh berbeda dari si bodoh ini." Gumam Prothos yang mendapatkan peringkat 49 di sekolahnya sedangkan Aramis di peringkat 50.


"Ini pencapaian terbaikku karena masuk ke 50 besar." Aramis tersenyum senang karena baginya kerja kerasnya yang belajar saat ujian tidak sia-sia.


"Kau mati-matian belajar masih berada di peringkat itu, di saat aku tidak belajar aku masih lebih baik darimu." Ejek Prothos.


Athos hanya tertawa karena kedua saudara kembarnya itu mendapatkan peringkat yang berurutan. Prothos yang tidak belajar dan cenderung mengabaikan ujiannya turun drastis hingga berada di peringkat 49 sedangkan Aramis berhasil meningkat pesat ke urutan 50. Ya, tentunya untuk si pintar Athos, belajar atau tidak belajar dirinya tetap berada di urutan pertama di sekolahnya, bahkan untuknya yang mengikuti ujian susulan sangat mengherankan karena dia berhasil juga menjadi peringkat pertama nasional.


"Kau memang mengagumkan, Ato." Ujar Mona sambil meletakan menu makan siang yang dia siapkan ke meja makan.


Athos hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Tapi aku tidak mengira peringkat kedua nasional hanya terpaut selisih 0.1 nilainya darimu, Ato. Ditambah dia seorang wanita." Ucap Prothos. "Kira-kira seperti apa ya orangnya? Pasti dia wanita yang menyeramkan."


"Siapa namanya?" Tanya Aramis.


Athos merasa tidak asing dengan nama tersebut hingga dirinya teringat sesuatu mengenai seseorang yang meneleponnya tempo hari.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncul Melody dari luar dan Lion berada di belakangnya. Melody melihat pada ketiga kakaknya yang berada di meja makan bersama Mona namun gadis itu langsung menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.


Melody merasa lelah dan tubuhnya masih belum sehat karena dirinya baru saja keluar rumah sakit tadi pagi. Gadis itu langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.


"Apa kalian sudah makan?" Tanya Mona pada Lion yang membawa sekotak donat di tangannya.


"Sudah, kami makan ramen. Aku tidak mau menawarkan kalian donatku jadi jangan memintanya ya." Ujar Lion yang berdiri di dekat ketiga Musketeers yang duduk di meja makan. "Bagaimana, apa ada diantara kalian yang tidak lulus? Apa kalian semua tidak lulus? Ya itu mungkin saja, ketika ujian kemarin kalian bertiga sedang dalam kondisi yang mustahil bisa mengerjakan soal ujian, kan?"


Mereka semua tertawa mendengar ocehan Lion yang sudah kembali seperti dulu.


"Aku masih akan membuat perhitungan pada kalian bertiga ya!!" Kesal Lion.


"Diamlah, Lion. Duduklah dan ikut makan siang." Seru Mona melihat pada Lion.


"Tidak! Aku tidak akan mau berada dibelakang kalian bertiga lagi." Jawab Lion. "Sekarang aku yang akan membuat kalian bertiga menyesal karena sudah mempermainkan aku!!"


"Kau bicara apa Lion?" Ujar Aramis dengan tawa. "Ingat, aku akan membunuhmu kalau kau macam-macam pada adik kami!!"


"Ya, itu benar Lion. Kau tetap tidak boleh menyentuhnya jika tidak ingin berhadapan dengan kami." Ancam Athos dengan tatapan tajam pada Lion.


"Aku tahu kau selama ini menahannya. Tapi jangan pernah berpikiran untuk tidak menahan dirimu lagi, Lion, jika kau masih ingin hidup!!" Tambah Prothos.


Mendengar semua perkataan ketiga Musketeers membuat Lion mendengus kesal dengan tatapan tajam.


"Katakan itu pada adik kalian!! Jangan pernah lagi mencium seorang pria yang sedang tidak sadarkan diri!!" Jawab Lion setelah itu melangkah menuju pintu.


"Apa maksudmu, Lion?" Tanya Aramis dengan nada suara lumayan keras.


"Melo mencium Lion?" Tanya Mona bingung menjawab maksud dari perkataan Lion barusan.


Lion tertawa kecil mendengar kemarahan ketiga Musketeers dengan perkataannya sambil melangkah keluar dari rumah itu.


...***...


Kevin berjalan keluar banda Narita di Jepang. Pemuda itu memutar matanya ke sekeliling bandara untuk mencari Lion yang akan menjemputnya namun dirinya tidak menemukan sosok yang dicarinya.


"Kemana dia? Dia tidak lupa kan menjemputku?"


"Kimi wa Kevin-san desu ka?" Tiba-tiba tiga orang pria bertubuh besar dengan tangan dipenuhi tato menghampiri Kevin.


Kevin menatapnya bingung karena dirinya tidak mengerti bahasa Jepang.


Namun muncul seseorang pria Jepang dengan wajah tampan dengan tato juga memenuhi salah satu lengannya.


"Kenalkan aku adalah Yamaguchi Kazeharu, teman Lion-kun." Pria Jepang itu menyodorkan tangannya pada Kevin. "Lion-kun tidak jadi ke Jepang, dan dia memintaku menjemputmu serta menjamumu."


Kevin terkejut mendengar perkataan orang bernama Kazeharu tersebut. Bagaimana bisa Lion membatalkan kepergiannya dan tidak memberitahu dirinya? Pemuda itu tampak kesal, namun dia merasa heran pada keempat orang yang ada dihadapannya. Jika diperhatikan mereka seperti para Yakuza di Jepang.


"Sebenarnya siapa bocah itu?" Gumam Kevin heran pada diri Lion.


...–NATZSIMO–...


Mau tahu siapa itu Kazeharu Yamaguchi?


Kuy baca karya author Obsesi Cinta CEO Gay.


Disana akan muncul beberapa karakter dari novel ini, dan diantaranya akan jadi karakter penting seperti Yamaguchi Kazeharu salah satunya.


...----------------...