MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
058. MELAWAN RASA TAKUT



Melody yang masih merasa takut pada Niko berdiri di belakang Prothos. Niko bangkit berdiri untuk agak menjauh dari Melody agar gadis itu tidak merasa terancam dengan keberadaannya.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Prothos dengan agak kesal.


"Melody, kau masih takut melihatku, kalau begitu lebih baik aku pergi." Ucap Niko.


"Ti—tidak!! Jangan Niko!!" Seru Melody menahan rasa takutnya dan berjalan maju walau masih mencengkram baju Prothos. "Aku yang memintanya datang. Irene juga bilang agar aku menghadapi rasa takutku."


"Kau serius menyuruhnya sendiri datang ke sini? Tidak masalah dia ada disini?" Tatap Prothos pada adiknya.


"Kak Oto, harus tetap menemaniku." Pinta Melody.


Prothos berbicara dengan Niko di ruang tamu, sedangkan Melody sedang memainkan pianonya yang tidak jauh dari tangga. Ronald langsung masuk ke kamarnya. Ada yang ingin Prothos bicarakan pada Niko saat ini.


"Aku tahu apa yang ingin kau bicarakan. Kau tidak perlu khawatir, aku juga sudah bilang pada paman kalau aku tidak akan memaksa Melody untuk hal apapun. Aku tidak akan menyentuhnya sama sekali, kau tidak perlu khawatir, Oto." Ucap Niko.


"Apa ucapanmu bisa kami percaya? Aku tahu semua tentang dirimu. Bahkan sebelum kau mengalami tragedi itu sudah banyak wanita yang kau tiduri." Ujar Prothos. "Aku tidak bisa percaya kau tidak akan menyentuhnya."


"Kau bisa tanya padanya apakah aku pernah menyentuhnya dengan paksaan? Aku sudah berubah, aku bukan lagi diriku yang dulu setelah ulah kembaranmu." Jawab Niko. "Lagi pula sepertinya kau khawatir pada adikmu karena perbuatanmu sendiri kan? Kau takut kalau Melody akan mengalami hal yang sama dengan gadis yang bermalam denganmu malam tadi, kan?"


Ucapan Niko Ada benarnya, Prothos menjadi takut jika saja Melody mengalami hal buruk karena balasan atas perbuatannya pada para gadis yang sudah ditidurinya. Dia tidak ingin adik perempuannya itu menjadi korban pria seperti dirinya. Selama ini hanya Lion yang mereka percaya karena mereka yakin Lion adalah pria yang tidak mungkin melakukan hal-hal buruk pada adik mereka dan itu sudah terbukti, Lion tidak pernah macam-macam pada Melody, berpikiran sedikitpun tidak. Tapi Niko berbeda, dia sudah biasa dengan para wanita dan sebelumnya Niko juga terkenal sering bersenang-senang dengan wanita, walau itu terjadi saat drinya di Rusia dan sebelum tangan kirinya terbakar.


Prothos membuang napas dengan kasar mendengar perkataan Niko, lalu tersenyum skeptis karena Niko tahu mengenai dirinya semalam.


"Kau pergi terlalu jauh hanya untuk mencari gadis dan bercinta dengannya, tapi kau memilih tempat yang salah. Hotel itu milik pamanku. Semalampun aku bermalam disana dan tadi pagi tidak sengaja aku melihatmu. Bahkan aku tahu siapa gadis itu."


"Lalu sekarang kau ingin mengancamku?" Tatap Prothos.


"Mengancammu dengan apa? Itu urusanmu. Aku hanya ingin bilang, kau bisa pakai tempatku dan tidak perlu menyewa kamar lagi. Aku sudah tidak tinggal di hotel itu. Aku akan bilang pada pamanku kalau kau setuju. Kau bisa gunakan penthouse tempatku tinggal dulu." Ujar Niko meletakan ke atas meja akses kartu kamar hotel yang selama ini dia tempati sebelum pindah ke kota ini dan ke rumahnya. "Biaya sewa satu kamar di hotel itu sangat mahal, aku tidak ingin calon kakak iparku menghabiskan banyak uang. Aku rasa mulai sekarang kita bisa berteman."


Prothos tertawa mendengarnya namun dia mengambil kartu akses kamar hotel tersebut.


"Aku sangat beruntung memiliki calon adik ipar yang sangat kaya." Ucap Prothos. "Tapi kau harus tetap memegang ucapanmu pada adikku."


"Kau tenang saja, aku tidak akan menyentuhnya selain dia yang memintanya."


Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Athos yang baru kembali dari café. Prothos secepatnya memasukan kartu akses kamar hotel yang diberikan Niko ke saku celananya.


"Apa tidak masalah dia disini?" Tanya Athos pada Prothos.


"Tidak apa-apa, Melo juga diminta untuk menghadapi rasa takutnya." Jawab Prothos berjalan menghampiri Melody yang masih bermain piano dan duduk di samping Melody di kursi piano. "Kau ingin bermain dengan kakak?"


Melody senang mendengarnya dengan tersenyum menyetujuinya. Sudah terlalu lama dia tidak melihat kakaknya itu bermain piano.


"Melo, kakak mulai menyukainya, tapi kau harus berjanji jangan biarkan dia menyentuhmu dengan paksa." Ucap Prothos. "Kau harus memberitahu kakak kalau dia memaksamu."


Melody tak menjawab hanya menatap Prothos.


"Baiklah, ayo kita mainkan Für Elise Bagatelle in A Minor." Senyum Prothos.


Prothos mulai memainkan pianonya bersama Melody, namun Melody menghentikan permainannya dan memperhatikan Prothos saja yang tampak sangat menikmati permainannya. Padahal Prothos sangat jarang bermain piano namun kemampuannya sangat baik.


Athos dan Niko sampai menghampiri untuk melihat permainannya. Bukan hanya Für Elise yang dimainkan Prothos namun lagu klasik lainnya. Melody sampai bangkit dari duduknya untuk memperhatikan kakaknya yang menurutnya sangat memukau dengan permainan pianonya.


Mereka bertepuk tangan ketika Prothos menyelesaikan permainan pianonyaa. Sama sekali tidak ada yang mengira Prothos yang jarang bermain piano tapi masih bisa menyelesaikan permainannya dengan baik.


"Ternyata benar yang dibilang Melody, Oto yang paling mahir." Ucap Niko.


Melody menoleh pada Niko yang disambut senyum oleh Niko.


"Ya, di saat aku dan Ars sibuk kursus ilmu bela diri, dia lebih memilih kursus piano, sama seperti Melo." Jawab Athos.


"Bagaimana Melo? Apa ada kesalahan? Sudah lama kakak tidak bermain piano." Ujar Prothos melihat Melody.


"Seperti biasa kak, tidak ada, kak Oto bermain dengan sangat baik."


Tiba-tiba Aramis masuk ke dalam setelah dari rumah Lion. Dia melihat Niko dengan kebenciannya.


"Kenapa dia disini? Kalian berdua kenapa membiarkan Melo bertemu dengannya?" Seru Aramis kesal melihat keberadaan Niko yang ada di rumahnya. "Melo, kau takut padanya kan? Kau ingin aku mengusirnya?"


Niko tersenyum mendengar perkataan Melody dan itu membuat Aramis kesal. Dengan cepat Aramis langsung menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya.


Melody dan Niko duduk berhadapan di meja makan, sedangkan Athos dan Prothos memantau mereka dari ruang tamu.


"Kau sudah baik-baik saja?" Tanya Niko pada Melody. Niko duduk memunggungi arah ruang tamu. "Kau sudah tidak takut lagi?"


"Aku rasa aku bisa mengatasinya." Jawab Melody.


"Tapi matamu terlihat memerah." Ujar Niko. "Kalau kau mau aku pergi saja, aku takut kau seperti kemarin lagi."


"Tidak, Niko. Aku sudah baik-baik saja." Jawab Melody meyakinkan walau sebenarnya dirinya memaksanya untuk tidak takut pada Niko saat ini. "Tetaplah disini, aku ingin segera menghilangkan ketakutanku bahkan trauma ini. Kalau tidak begitu maka kita tidak akan bisa bertunangan apa lagi menikah."


"Ato, kapan ayahmu pulang?" Paman Ronald turun dan segera bergabung dengan Athos dan Prothos di ruang tamu.


"Dia bilang akan diusahakan dalam minggu depan." Jawab Athos.


"Dua minggu lagi kalian ujian kan?" Tanya paman Ronald.


Tiba-tiba Anna membuka pintu rumah membuat perhatian semuanya menatap pada kehadirannya. Anna mengenakan topi yang dilapisinya dengan penutup kepala jaket baseball yang dipakainya. Walau begitu siapapun melihat ada perubahan di dirinya. Namun tak ada yang berani berkata apapun.


"Oto, tolong panggilkan Ars." Ucap Anna.


Prothos segera bangkit berdiri dan menaiki tangga, diikuti oleh Ronald yang masuk ke dalam kamarnya di lantai dua juga. Athos memperhatikan ekspresi Ronald dan dia tahu ada sesuatu hal yang diketahui pamannya itu tentang Anna.


Tidak berapa lama Aramis muncul dari atas dengan bergumam karena Anna lama sekali datang. Prothos hanya memperhatikan mereka dari lantai dua.


"Kemana saja kau? Aku sudah lama menunggumu, bodoh." Aramis masih menuruni tangga. "Sudah jam tiga, kita punya waktu belajar sedikit karena jam lima kita sudah harus berangkat."


"Ars..." Panggil Anna membuat Aramis mengangkat kepalanya dan melihat padanya.


Aramis yang sudah di bawah tangga melihat Anna dengan heran karena penampilan Anna ada yang berbeda. Dengan cepat dia menghampiri dan membuka topi Anna.


Aramis terperangah melihat Anna mencukur habis rambutnya.


...–NATZSIMO–...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...PENGUMUMAN...


GIVEAWAY AWAL TAHUN 2023 AUTHOR NATZSIMO


SALDO SHOPEE RP. 100.000 UNTUK 2 ORANG PEMBACA SETIA.


BERIKAN ULASAN MENGENAI SALAH SATU NOVEL FAVORIT KALIAN KARYA AUTHOR (SEMAKIN PANJANG SEMAKIN MENARIK).


ULASAN TERSEBUT BOLEH BERUPA APAPUN SEPERTI KRITIK DAN SARAN, KESAN DAN PESAN ATAU HAL YANG MENARIK YANG TERDAPAT DI NOVEL FAVORIT KALIAN..


ULASAN DIKIRIMKAN MELALUI EMAIL natzsimo@gmail.com DAN BERIKAN RATE JUGA DI NOVEL DENGAN BINTANG 5 (MAKSA) DENGAN ULASAN TERSEBUT.


PALING LAMBAT TANGGAL 6 JANUARI 2023.


WAJIB MASUK GRUP CHAT AUTHOR M911TTM KARENA PENGUMUMAN PEMENANG AKAN DIUMUMKAN DI GRUP CHAT TERSEBUT YA.


WAJIB FOLLOW AUTHOR JUGA YA.


2 ORANG DENGAN ULASAN MENARIK AKAN MENDAPATKAN MASING-MASING 100K SALDO SHOPEE.


UNTUK SESAMA AUTHOR AKAN ADA TAMBAHAN HADIAH BERUPA GIFT KOPI.


CANTUMKAN JUGA USERNAME DI NOVELTOON DAN NOMER HANDPHONE DI EMAIL YA.


DITUNGGU ULASANNYA YA PARA PEMBACA SETIA.


❤❤❤❤❤