
Melody keluar dari mobilnya saat sampai di rumah Niko. Hujan turun rintik-rintik saat dia berjalan hendak masuk. Dia memperhatikan banyak sekali kendaraan terparkir di rumah Niko saat ini.
"Di dalam banyak teman-temannya tuan muda, nona." Seru seorang pria yang adalah asisten rumah tangga yang menghampiri Melody saat Melody keluar mobil untuk memayunginya.
Melody mendengar suara tawa bercampur suara alunan piano yang terdengar samar ketika sampai di depan pintu masuk. Yang membuatnya penasaran adalah alunan piano tersebut merupakan lagu yang diciptakan oleh dirinya.
"Tidak apa-apa, aku akan menemui Niko sebentar." Ucap Melody pada asisten rumah tangga tersebut.
Asisten rumah tangga tersebut segera membuka kan pintu untuk Melody dan mempersilakan gadis itu masuk. Dengan langkah perlahan, Melody masuk ke dalam rumah Niko dan menuju ruang tengah. Dia mendengar suara Niko yang mengobrol dengan seseorang. Suara Lion terdengar ketika gadis itu sampai di ruang tengah.
Semua mata menatap pada Melody. Sedangkan Niko tersenyum melihat kehadiran gadis yang dicintainya. Lion masih tidak menyadari kehadiran Melody hingga Ivan berjalan menghampirinya dan memberikan isyarat dengan tatapannya agar melihat ke arah Melody.
Lion menoleh pada Melody dan seketika dia menghentikan tangannya yang menekan-nekan tuts piano. Lion tidak mengira kalau Melody akan datang semalam ini ke rumah Niko. Saat ini sudah hampir jam sepuluh malam dan besok mereka juga masih harus ke sekolah.
"Apa kau sangat mengkhawatirkan aku hingga datang semalam ini?" Tanya Niko masih pada posisinya.
Melody tidak menjawab, dia masih berdiri saja dan hanya menatap Niko. Keberadaan teman-temannya yang sangat banyak membuatnya tidak nyaman, ditambah sebenarnya dirinya masih agak takut pada Niko.
"Kami pulang dulu Niko. Cepatlah sembuh." Ujar Ivan, dan satu per satu para temannya berjalan keluar. "Lion, ayo aku akan mengantarmu pulang."
Lion bangkit berdiri dan berjalan mengarah ke Niko. Sebenarnya dia tidak ingin pergi karena takut meninggalkan Melody berdua saja dengan Niko. Namun dia tidak bisa berbuat apapun, tidak mungkin jika dia berada di sana.
"Niko, aku pulang dulu." Pamit Lion berdiri di hadapan Niko yang menatapnya santai. "Besok kalian sekolah. Jangan mengobrol terlalu malam—"
"Lion, ayo!!" Seru Ivan menyambar ucapan Lion sambil langsung berjalan menuju pintu keluar.
Dengan langkah berat Lion mengikuti Ivan untuk meninggalkan Melody bersama Niko. Ketika Lion melewati Melody, pemuda itu menatap pada Melody untuk memastikan kalau gadis itu baik-baik saja dan tidak ketakutan lagi.
Sepertinya dia sudah tidak takut lagi. batin Lion.
Di luar hujan yang semula hanya rintik-rintik intensitasnya bertambah ketika Lion keluar dari rumah Niko menuju parkiran menyusul Ivan. Fokusnya teralih pada mobil yang dia tahu milik Athos, yang digunakan Melody. Dia jadi sadar kalau gadis itu datang dengan menyetir seorang diri. Lion terdiam di tengah guyuran hujan, dia melihat hujan semakin deras.
"Lion, cepat masuk!!" Seru Ivan yang melongok dari jendela mobilnya.
"Kau pergilah dulu, handphone-ku tertinggal. Aku akan pulang sendiri nanti." Ujar Lion langsung berjalan agak berlari ke pintu masuk rumah Niko.
Ivan yang mendengarnya langsung masuk ke dalam mobil dengan heran pada Lion. Dia tahu sejak awal kalau Lion enggan meninggalkan Melody bersama Niko.
"Semua hubungan kacau kalau ada seorang wanita di antaranya." Gumam Ivan dengan kesal saat masuk ke mobil. Seorang temannya menatapnya dengan sebuah anggukan menyetujuinya.
...***...
"Kenapa berdiri saja?" Tatap Niko. "Mendekatlah kau datang sendirian?"
Melody mengangguk perlahan.
"Apa kau masih tidak berani padaku?" Tanya Niko dengan senyum. "Kalau begitu kenapa kesini?"
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Melody berusaha menatap Niko. Jaraknya berdiri lumayan jauh dari sofa yang diduduki Niko. Sekitar sepuluh meter. "Aku minta maaf atas perbuatan kakakku. Dia sudah sangat keterlaluan padamu."
"Maksudmu apa?"
"Kakakku Ars menusuk tangan kirimu lagi kan? Sebenarnya aku juga sudah tahu mengenai perbuatan kakakku yang membakar tangan kirimu dulu." Ujar Melody dengan perasaan sedikit bersalah karena tidak mengatakannya pada Niko sebelumnya. "Apa kau akan marah karena aku tidak memberitahumu sebelumnya?"
"Duduklah dulu biar kita bisa berbicara dengan baik." Ucap Niko menegakkan posisi duduknya dan meletakan rokok elektrik yang dipegangnya ke meja. "Kau tidak mendengarku? Apa aku harus menarikmu duduk?"
Melody mulai berjalan dan duduk di salah satu sofa. Dia masih agak takut pada Niko ditambah saat ini tak ada siapapun di sana dan waktu sudah larut malam.
"Benarkah?" Melody terkejut.
Niko mengangguk dengan tawa. Dia jadi merasa sedikit senang karena pasti Melody tidak mendengar keseluruhan cerita Aramis dan langsung berasumsi salah karena khawatir pada dirinya.
"Aku juga tidak masalah mengenai kau yang sudah tahu tentang ulah kakakmu yang membakar tanganku dulu." Lanjut Niko. "Sekarang aku tidak ingin memikirkan hal-hal tidak penting lainnya. Aku hanya ingin menikahimu saja, dan ketiga kakakmu sudah menyetujuinya."
"A—apa? Mereka semua setuju?" Melody terkejut.
"Ars mengatakannya hari ini padaku." Jawab Niko tersenyum. "Jadi Melody, apa kita harus kembali ke rencana awal?"
"Rencana awal?"
"Sepertinya kau juga sudah bisa mengatasi rasa takutmu padaku. Dan aku berjanji tidak akan menyentuhmu saat kau tidak mau walau kita sudah menikah nanti, aku akan menunggunya." Ujar Niko menatap Melody dengan dalam. "Apa kau setuju?"
"Niko, aku tidak tahu, aku masih merasa sedikit takut padamu. Jangan berkata apapun mengenai hal yang bisa mengingatkan aku pada kejadian itu." Ucap Melody dengan arah mata yang tidak fokus karena dirinya mulai ketakutan lagi.
"Melody, dengarkan aku." Tiba-tiba Niko menghampiri dan memegang tangan Melody.
Melody terkejut hingga bangkit berdiri untuk menarik tangannya dari pegangan Niko.
"Sebelumnya kau bilang akan mengikuti semua rencanaku. Aku memutuskan kita akan bertunangan dalam bulan depan setelah ujian, habis itu kita ke Rusia untuk menikah. Kau setuju kan? Percayalah padaku kau baik-baik saja." Niko memegang pundak kiri Melody dengan tangan kanannya, Melody hanya menundukan kepalanya menghindar dari tatapan Niko.
"Niko, tolong menjauh—"
Tiba-tiba Niko menarik tubuh Melody dan memeluk gadis yang saat ini tubuhnya gemetar karena merasa ketakutan. Niko tak tahan lagi untuk melakukan hal itu, memeluk gadis yang sangat ingin dinikahinya.
"Melody, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Aku ingin kau secepatnya menjadi milikku, agar aku merasa tenang. Kau harus setuju dengan rencanaku sebelumnya."
"Tolong lepaskan aku." Pinta Melody.
Niko melepas pelukannya namun tangan kanannya memegang telapak tangan Melody dan terus menatapnya dari dekat. Dia sangat ingin agar gadis itu tidak takut lagi padanya sehingga akan menyetujui rencana sebelumnya.
"Melody, aku sangat mencintaimu, kau mengertilah. Aku tidak bisa menunggu lama untuk menikah denganmu. Aku ingin secepatnya kau menjadi milikku, apa permintaanku terlalu sulit?"
Melody terus menundukkan kepala karena rasa takutnya menyelimuti dirinya saat ini. Di tambah desakan Niko yang berbicara sangat dekat di hadapannya membuatnya bingung.
"Melody lihat aku, tatap mataku!!" Seru Niko mengangkat wajah Melody agar menatapnya.
"Maaf, aku meninggalkan handphone-ku." Tiba-tiba Lion muncul.
Niko menoleh melihat kehadiran Lion dan begitu pula dengan Melody yang sudah sangat ketakutan akan sikap Niko barusan.
"Handphone-ku tertinggal, sepertinya ada disini." Lion berjalan menuju kursi piano dan benar handphone-nya ada disana. "Ternyata benar ada disini." Ujar Lion saat menemukan handphone miliknya.
Niko tak berkata apapun dan hanya memperhatikan Lion yang tiba-tiba muncul mengganggunya.
"Baiklah, aku pulang ya." Ujar Lion.
Namun tiba-tiba Melody berlari ke arah Lion dan langsung terjatuh lemas ke arah Lion, untungnya Lion cepat menggapai tubuh gadis itu dengan memeluknya sebelum jatuh ke bawah.
Melody menatap Lion dengan mata memerah karena ketakutan. Tubuhnya sangat lemas saat ini.
...–NATZSIMO–...