MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
145. AKU BAIK-BAIK SAJA



Di sekolah, kelas Melody hari ini berlangsung jam pelajaran olahraga untuk penilaian ujian yang sudah hampir dekat. Ketika penilaian usai, para murid laki-laki sedang mengadakan pertandingan futsal di lapangan indoor.


Lion yang sangat menyukai olahraga tersebut bergabung bersama teman-temannya bermain. Berbeda dengan Niko yang hanya duduk di pinggiran memperhatikan Melody yang sedang bermain Voli bersama murid perempuan lainnya. Melody bermain Voli di lapangan yang ada di samping lapangan futsal.


"Lion, jangan biarkan mereka merebut bolanya!!" Seru salah seorang temannya ketika Lion sedang menggiring bolanya.


Lion menendang ke gawang lawan dan gol. Namun tidak seperti biasanya Lion tidak merayakan golnya seperti biasa dan hanya berjalan mundur untuk bersiap-siap kembali merebut bola.


Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada para murid perempuan yang berada di lapangan Voli, ketika Niko mendekati Melody setelah gadis itu terjatuh saat melompat untuk memukul bola.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Niko pada Melody.


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Melody dengan sedikit malu karena Niko yang langsung berlari menghampirinya ketika dia terjatuh dan saat ini murid lain jadi memperhatikan mereka.


"Berhentilah bermain dan istirahat." Ucap Niko.


Karena tidak ingin menjadi bahan tatapan semuanya, Melody langsung hendak berjalan ke pinggir lapangan bersama Niko dengan jalan yang agak terseok-seok karena kakinya terkilir.


"Mau aku gendong?" Tanya Niko.


Melody tidak menjawab dan tetap berjalan sehingga Niko merangkulnya untuk membantu gadis itu ke pinggir lapangan.


Lion masih memperhatikan mereka. Saat ini rasanya dirinya ingin berlari pada Melody dan langsung membawanya ke UKS untuk mengobati kakinya yang terlihat sangat kesakitan. Dia sedikit kesal karena Niko tidak melakukannya.


"LIOOOONNN." Terdengar teriakan beberapa temannya dan saat yang bersamaan wajah Lion terhantam bola.


Tendangannya sangat keras hingga Lion meringis kesakitan, seketika darah keluar dari hidungnya. Semua orang langsung berkumpul melihat keadaan Lion yang masih terlihat kesakitan.


"Kau tidak apa-apa, Lion?" Tanya salah seorang temannya.


Melody yang berada di kejauhan bersama Niko hanya memperhatikan Lion yang mengeluarkan darah dari hidungnya sebelum seorang temannya memberikan tisu pada pemuda itu.


"Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" Gumam Niko heran pada Lion.


Sedangkan Melody diam saja. Gadis itu berusaha untuk tidak mengkhawatirkan Lion dengan memijat kakinya yang terkilir. Lion sempat melirik kearah Melody yang terlihat sama sekali tidak tertarik pada apa yang menimpanya, hal itu membuat perasaan Lion buruk.


Saat istirahat, Lion duduk di pinggir pembatas di atap sekolah dengan tisu yang masih menyumbat salah satu lubang hidungnya yang tadi mengeluarkan darah. Pemuda itu masih memikirkan Melody yang mengacuhkan dirinya sedangkan saat ini dia sendiri masih mengkhawatirkan gadis itu karena kakinya yang terkilir.


Lion membuang napasnya dengan kasar untuk menghilangkan rasa yang tidak nyaman di hatinya. Dalam benaknya saat ini dia mengulangi kalimat, aku baik-baik saja untuk meyakinkan dirinya kalau semua itu tidak akan mengganggu pikirannya lagi.


"Lion kau baik-baik saja?" Tiba-tiba Karen datang dan langsung berjalan menghampiri Lion.


Lion tidak menjawab ataupun menoleh pada kehadiran Karen sehingga gadis itu menarik wajah Lion untuk melihat keadaan Lion.


"Kenapa kau sampai tidak melihat bolanya?" Tanya Karen dengan nada heran sambil mengambil tisu yang ada di hidung Lion.


Lion tetap diam dan kembali mengalihkan wajahnya dari Karen, melihat ke langit dengan pikiran kosong. Dia tidak ingin menjawabnya karena akan membuat perasaannya kembali tidak enak karena pasti dia akan memikirkan Melody lagi.


"Kau ini kenapa jadi berubah seperti ini?" Keluh Karen yang melihat perubahan pada diri Lion. "Kau mau kemana, Lion? Aku tahu saat kenaikan kelas nanti kau akan pergi. Kau sudah mendiskusikannya pada ayahku, maksudku pada kepala sekolah kan kemarin?"


Perkataan Karen tetap diacuhkan Lion. Pemuda itu benar-benar sudah berubah dengan menjadi sangat pendiam. Bahkan Lion ingin segera ujian kenaikan kelas agar dirinya bisa segera pergi.


"Kau bertanya apa kau bisa tidak melanjutkan sekolah dalam setahun kan?" Tanya Karen lagi. "Kau berniat tidak melanjutkan sekolahmu lagi atau bagaimana, Lion? Kau ingin pergi kemana? Aku kira kau akan pindah untuk tinggal bersama orang tuamu."


"Sudah aku bilang, aku akan ke kutub utara dan tinggal dengan beruang kutub. Aku akan menghilang, aku akan tidur selamanya." Jawab Lion yang akhirnya membuka mulutnya. Tatapannya masih kosong dan suaranya terdengar tidak bersemangat.


"Tidak, yang aku butuhkan sekarang hanya diriku sendiri."


"Jangan seperti itu, Lion. Katakan kau mau kemana? Setidaknya bilang padaku. Kau selalu tidak pernah mengatakan semuanya dengan jujur."


"Key, padahal kita baru kenal tapi entah kenapa kau lebih tahu bagaimana diriku dari pada dia." Lion menoleh pada Karen. "Apa ada yang salah denganku?"


"Itu karena kau tidak pernah berbicara serius padanya." Jawab Karen. "Kalau kau mengatakan semuanya dengan jelas padanya, diapun akan mengenal dirimu. Apa yang kau rasakan, bagaimana perasaanmu dan siapa yang kau cintai. Dia pasti akan tahu dan mengenalmu."


"Aku berharap kau seorang pria. Aku pasti akan mengajakmu berpetualang, Key." Ujar Lion dengan sedikit tersenyum. "Sayangnya kau wanita. Tidak mungkin aku mengajakmu."


"Jadi kau mau berpetualang kemana? Apa akan menyenangkan?"


"Sudah lama aku merencanakan ini. Aku akan mengunjungi teman-temanku di beberapa negara dalam satu tahun besok. Aku akan tinggal paling lama sebulan untuk melakukan sesuatu di negara tersebut dan berpindah-pindah lagi hingga aku puas."


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Hanya bersenang-senang." Jawab Lion tersenyum.


"Kau pergi sendiri?"


Lion mengangguk menjawabnya.


"Tadinya aku berencana melakukannya setelah lulus kuliah, dan mengajaknya. Tapi ternyata itu terlalu lama dan sudah tidak mungkin aku mengajaknya." Ucap Lion sambil turun dari tembok pembatas. "Aku akan bersenang-senang sendiri kalau begitu."


"Ya, kau bisa bersenang-senang sendiri." Seru Karen pada Lion yang sudah berjalan menuju pintu.


...***...


"Hari ini kau tidak kemanapun kan?" Tanya Mona saat makan siang bersama Prothos di meja makan. Mereka hanya makan berdua karena tidak ada siapapun di rumah kecuali Athos yang berada di kamarnya.


"Tidak. Apa kau ingin mengajakku keluar?" Tanya Prothos sedikit menggoda.


"Iya."


Jawaban Mona membuat Prothos terkejut. Tidak biasanya gadis itu ingin mengajaknya keluar. Padahal biasanya saat dirinya ingin menemani Mona berbelanja atau mengantar pakaian ke laundry, gadis itu akan menolaknya.


"Mau kemana? Apa kau mengajakku berkencan—"


"Aku akan merubahmu sedikit." Mona langsung menimpali perkataan Prothos.


"Merubahku? Untuk apa? Kenapa kau ingin merubahku?" Tatap Prothos bingung.


"Ato memintaku untuk membantumu terjun ke dunia hiburan. Aku akan menjadi asisten sekaligus manager-mu. Aku sudah menghubungi beberapa kenalanku dan meminta saran mereka mengenai apa yang harus kau lakukan terlebih dulu."


"A—apa?" Prothos semakin bingung.


"Akhir minggu ini kau akan melakukan pemotretan karena itu aku akan merubahmu sedikit." Jawab Mona dengan menatap Prothos yang Kebingungan.


...^^^–NATZSIMO–^^^...