
Lion berkumpul bersama Ivan dan delapan orang temannya yang lain di basecame mereka, yaitu rumah Ivan. Lion masih belum bisa menemukan keberadaan Prothos saat ini. Walaupun dirinya sudah berusaha untuk mencari keberadaan pemuda itu namun tetap Lion belum menemukannya.
"Ini sangat sulit, Niko tidak mempekerjakan siapapun teman-teman kita, bahkan orang yang termasuk dalam rumus pertemanan juga tidak ada." Ucap Ivan duduk bersandar di kursinya melihat Lion yang sedang bermain Dart.
"Aku juga sudah ke beberapa hotelnya, tapi mereka menjaga identitas penyewa." Ujar Lion melempar panah Dart dan tepat ke tengah.
"Pasti seperti itu bodoh." Seru Ivan. "Bahkan keamanan database-nya saja sangat rumit."
"Benar, kami belum bisa meretasnya." Tambah yang lainnya. "Lion, kenapa kau mencari kembaran Ars?"
"Ars meminta padaku." Jawab Lion berhenti bermain dan menoleh pada teman-temannya. "Kabari aku lagi kalau kalian sudah berhasil meretasnya."
Lion berjalan meninggalkan teman-temannya dan pergi dari sana.
"Dia sudah terlihat sangat kesal." Kata Ivan melihat Lion yang berjalan pergi. "Sebaiknya cepat kita retas database-nya sebelum dia mencari bantuan pada yang lainnya."
...***...
Pagi-pagi sekali Mona diminta segera membersihkan penthouse tempat tinggal Prothos. Prothos menelepon ke resepsionis untuk segera mengganti sepreinya, karena itu Mona langsung bergegas menuju tempat itu. Padahal baru jam enam kurang sedangkan jam kerja Mona seharusnya di mulai jam enam tepat.
Karena kesal Mona langsung membuka pintu penthouse dengan kartu akses yang dibawanya, karena sebelumnya pun percuma dia memencet bel. Prothos tetap tidak membuka pintu untuknya.
Dengan segera Mona masuk ke area kamar yang pintunya tidak tertutup. Gadis itu terbelalak ketika melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Prothos sedang bercinta bersama seorang gadis di sofa. Gadis itu ada di pangkuan Prothos dan mereka melakukannya sambil berciuman.
Secara reflek Mona berteriak membuat pasangan yang sedang menikmati waktu mereka melihat ke arahnya. Dengan cepat Mona berlari keluar dari sana.
"Sial sekali aku, pagi-pagi begini melihat pemandangan tak senonoh itu." Keluh Mona membawa semua perlengkapan kebersihannya berjalan pergi. "Aku akan minta pindah lantai saja."
...***...
"Jam enam sore nanti ayahku sampai bandara, apa bisa kau menemaniku menjemputnya, Niko?" Tanya Melody pada Niko yang duduk di sebelahnya saat waktu istirahat. "Kedua kakakku sedang sibuk dan yang satunya sejak hari minggu entah pergi kemana, hanya kau yang bisa menemaniku."
"Melody, kau tidak perlu menjelaskannya. Aku pasti akan menemanimu." Jawab Niko tersenyum. "Aku juga sudah tidak sabar menemui ayahmu, maksudku ayah kita."
"Apa kau akan langsung mengatakannya?"
"Mengatakan tentang rencana pertunangan dan pernikahan kita di Rusia?" Tatap Niko walau sejak awal Melody menoleh ke luar jendela. "Ya, pasti aku akan langsung mengatakannya karena aku sudah tidak sabar lagi. Aku sudah lama menantikan kepulangan ayah kita."
...***...
Mona kembali menekan bel pintu penthouse Prothos setelah dia membersihkan empat penthouse lainnya yang berada di lantai teratas di hotel tersebut. Kali ini Prothos membukakan pintunya.
"Kenapa kau tidak menekan bel tadi?" Tanya Prothos sambil berjalan masuk. "Cepat ganti sepreinya aku ingin tidur, semuanya sudah penuh dengan cairan. Kenapa lama sekali kau datang lagi? Sudah jam berapa ini?"
Mona tidak menghiraukannya dan langsung mengerjakan tugasnya. Dia masih membayangkan pemandangan tadi pagi yang di lihatnya, walau tidak terlalu jelas karena posisi gadis yang tidak berpakaian apapun itu memunggungi arah pintu dan Prothos yang terhalang oleh tubuh gadis itu, tetap saja itu pemandangan yang tidak enak dilihat. Tapi Prothos bersikap seperti tidak terjadi apapun.
"Nanti tolong belikan aku yang seperti kemarin lagi ya. Sekalian dengan boxer untukku, kau pasti tahu kan ukuranku?."
Mona membanting seprei kotor ke lantai dengan kesal.
"Aku bukan pesuruhmu!! Beli sendiri!!" Seru Mona sangat kesal. "Ini benar-benar sangat memuakan." Gumam Mona sembari mengambil kembali seprei kotor yang dia banting di lantai dan setelah itu membawanya ke luar.
"Astaga, heh, kakaknya Mario, kau harus bersikap ramah pada tamu." Seru Prothos dari dalam.
"Kau bukan tamu, kau hanya menumpang gratis disini. Jangan berlagak seperti tamu disini." Jawab Mona berjalan masuk kembali untuk mengganti seprei.
"Aku ini tamunya Niko, jadi aku lebih spesial dibanding semua penyewa disini. Kau dengar?"
"Sebaiknya kau pulang ke rumahmu, satu minggu lagi kau akan ujian kelulusan kan?!" Ujar Mona agak ketus sambil memasang seprei. "Aku menyesal menghentikanmu bunuh diri kemarin."
"Arrgghhh, aku ingin hari ini cepat berakhir. Untung saja besok aku libur, aku tidak harus menemuinya. Menyebalkan!!" Keluh Mona.
...***...
Aramis yang masih setia menunggu Anna di sisi gadis yang masih berbaring belum sadarkan diri itu masih membuka handphone Anna. Sejak pagi dia menonton semua video curahan hati Anna tersebut dan sudah semuanya dia tonton.
Lalu pemuda itu membuka sebuah aplikasi yang ternyata Anna memilikinya. Padahal sebelumnya Anna bilang kalau dirinya tidak punya akun sosial media tersebut. Pemuda itu membuka akun sosial media Anna dan melihat semua unggahan Anna hanyalah foto yang sama dengan caption yang sama pula. Foto saat wajahnya dicoret-coret Anna dan caption tersebut hanya kata 'bodoh'. Semua ada ratusan foto. Setiap hari Anna mengunggahnya di waktu malam sebelum gadis itu tidur.
Aramis melihat Anna dengan sebuah senyum.
"Kau suka sekali membuatku kesal, kau juga selalu menyebutku bodoh, suatu hari aku harus membalasmu. Kau dengar aku? Karena itu bangunlah!! Untuk saat ini aku mengaku kalah, kau yang menang, Anna."
Aramis mengecup dahi Anna dimana ada bekas luka jahitan disana, luka karena jatuh dari tangga dulu.
"Ars..." Panggil Ronald yang masuk ke ruangan. "Sebaiknya kau pulang untuk beristirahat."
"Tidak, paman. Aku tidak akan kemanapun." Jawab Aramis. "Aku harus bersama Anna saat dia bangun agar dia tidak sedih karena sendirian."
"Aku akan menjaganya untukmu." Ucap Ronald.
Aramis menggeleng tidak mau.
"Anna berniat menjual rumahnya untuk biaya operasi, apa paman tahu?" tanya Aramis tanpa menoleh pada pamannya. "Kenapa dia harus melakukannya?"
"Dia tidak mau kalau aku yang membiayainya. Dia menganggap dirinya menjadi beban, dan Anna tidak suka itu." jawab Ronald.
"Kau tidak harus mendengarkan semua kata-katanya, paman." Ujar Aramis kesal pada pamannya. "Kau menyembunyikan penyakitnya dariku karena permintaannya, dan kau juga membiarkan dia untuk menjual rumahnya. Seharusnya kau tidak mendengarkan semua perkataannya!!"
Ronald bingung menjawab apa. Ucapan Aramis benar, seharusnya dia tidak mendengarkan semua perkataan Anna. Seharusnya dirinya menasehati gadis itu.
"Kau dan ayah memang sama saja, kalian selalu membiarkan kami mengambil keputusan sendiri seolah-olah tidak peduli pada apa yang akan terjadi pada kami semua. Padahal kami masih terlalu muda untuk mengambil keputusan apapun di hidup kami. Kami juga membutuhkan nasehat dan bimbingan dari kalian. Tapi kalian tidak berkata apapun dan hanya mendengarkan kami saja."
"Tenanglah Ars, kau sudah lelah, karena itu beristirahatlah dulu." ucap Ronald.
"Aku tidak lelah paman, aku sama sekali tidak merasakan kelelahan."
"Aku akan disini. Pulanglah dulu, dan istirahat. Nanti malam kau boleh datang lagi menjaganya. Anna pasti juga ingin kau beristirahat."
Akhirnya Aramis menuruti perkataan pamannya. Pemuda itu langsung pulang namun bukannya ke rumahnya melainkan ke rumah Anna.
Matanya tertuju pada lukisan yang dibuat oleh dirinya sendiri yang terpasang di tembok belakang sofa di ruang tamu. Dia jadi mengerti kenapa Anna saat itu menangis setelah dia memperlihatkan lukisan itu padanya. Gambaran yang diberikan Anna juga sangat menyedihkan mengenai lukisan tersebut. Aramis menjadi sangat menyesal sekarang.
Seharusnya dia tidak mengatakan apapun mengenai Anna yang harus memanjangkan rambutnya sebelum menikah dengannya. Anna pasti sangat bersedih setiap kali mendengarnya berkata seperti itu.
Aramis masuk ke kamar Anna dan melihat pakaian yang diberikannya untuk gadis itu berada di atas tempat tidur setelah sebelumnya Athos yang mengambil handphone Anna mengambilnya dari lantai. Aramis mengambilnya dan hatinya menjadi sedih kembali.
"Anna pasti sangat ingin memakainya." Ucap Aramis.
...–NATZSIMO–...
Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak komentar setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.
Kalau berkenan kasih vote dan gift yang banyak ya...
Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.
...❤❤❤❤❤...