
"Niko, kau sudah mau pergi?" Tanya Tasya pada Niko yang berjalan keluar dari rumah.
Ketika Niko keluar, saat bersamaan dengan rombongan dari rumah sakit pulang. Athos, Prothos, Tasya dan Mona. Mereka heran saat melihat Niko berjalan keluar dari rumah dengan wajah yang sangat kesal.
Niko tidak menghiraukan pertanyaan Tasya mau pun tatapan yang lainnya. Dia langsung meninggalkan rumah itu masuk ke dalam mobil dan berjalan pergi dengan kemarahan.
Keempat orang itu masuk ke dalam rumah dan melihat Melody masih duduk di meja makan. Melody yang melihat kehadiran mereka semua langsung beranjak merapikan buku-buku di atas meja makan.
"Ada apa Melody? Niko pergi dengan wajah marah." Ujar Tasya sambil mendorong kursi roda Athos.
Melody tidak menjawab dan langsung berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
"Sepertinya mereka berdua bertengkar." Tambah Tasya bingung. "Oto, tolong bantu Ato tersayangku naik tangga dan masuk ke kamarnya." Senyum Tasya menatap Prothos.
"Tanpa kau minta pun akan aku lakukan." Jawab Prothos.
Prothos memapah Athos menaiki tangga bersama dengan Tasya. Sedangkan Mona ketika masuk langsung membawa tas berisi keperluan Athos ke kamar pemuda itu. Setelahnya Mona masuk ke kamar Melody.
"Kau ingin dibuatkan sesuatu? Sebentar lagi jam makan siang." Ujar Mona pada Melody yang duduk di kursi meja belajar.
"Aku tidak ingin apapun." Jawab Melody menoleh pada Mona. "Mona, aku sudah bertanya padanya, dan kau benar, dia menjadi sangat marah padaku."
Mona berjalan masuk dan duduk di sisi tempat tidur menghadap Melody yang memutar duduknya.
"Dia bilang mereka berdua tidak pernah benar-benar saling mencintai." Ujar Melody. "Dia sangat marah karena aku bilang dia hanya membalas perbuatan kakakku dengan melampiaskannya padaku. Tapi dia benar, jika dia ingin membalas sejak dulu dia sudah melakukan hal-hal buruk padaku, tapi itu tidak terjadi. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Pada Niko atau pada hubungan kalian?" Tatap Mona.
"Setelah mendengar kemarahannya aku tetap akan melanjutkan semuanya. Dan sekarang aku menjadi semakin bersalah karena menanyakan hal itu padanya hingga dia semarah itu. Bahkan dia tidak semarah itu ketika aku melakukan kesalahan yang menurutku jauh lebih menyakiti hatinya."
Yang diucapkan Melody benar, bahkan Niko tidak semarah itu ketika melihat dirinya mencium Lion, padahal itu adalah sesuatu hal yang pasti lebih menyakitkan untuknya.
"Apa yang harus aku katakan padanya untuk meminta maaf? Ini sangat membingungkan aku. Aku ingin minta maaf padanya tapi aku takut dia berpikir kalau aku semakin mengasihani dirinya."
"Tapi itu memang benar kan?" Seru Mona. "Kau hanya kasihan pada Niko karena kau tidak mencintainya. Kalau kau mencintainya kau tidak akan sebingung sekarang dan langsung meminta maaf padanya ketika dia marah padamu tadi."
"Kau benar, Mona. Tapi aku tidak ingin dia menganggap seperti itu. Karena itu beritahu aku apa yang sebaiknya aku katakan untuk minta maaf padanya?"
"Kalau begitu jangan minta maaf, katakan saja kalau kau senang melihat reaksinya saat mendengar pertanyaanmu tadi. Dia tidak akan marah lagi padamu." Jawab Mona.
"Yang kau ucapkan benar."
"Mel, tapi itu akan lebih menyakitkan untuknya saat kalian tidak benar-benar bersama."
"Apa maksudmu? Aku sudah bilang aku akan tetap menikah dengannya."
Mona keluar kamar Melody dengan menghela napas. Dia merasa salah berada di rumah itu. Rumah yang dipenuhi oleh orang-orang yang menikmati rasa sakit yang dibuat mereka sendiri, itu yang dipikirkan Mona.
"Berada di sini membuatku merasakan juga apa yang mereka semua rasakan." Gumam Mona.
...***...
"Tasya, tolong ambilkan handphone-ku." Ucap Athos berada di atas tempat tidurnya.
"Kau mau apa, Ato?" Tanya Tasya sambil memberikan handphone-nya pada Athos.
"Menelepon seseorang." Jawab Athos sambil menekan tombol di handphone-nya.
...***...
Prothos duduk di kursi meja makan sedang meminum kopi saat Mona menyiapkan makan siang di dapur.
"Apa yang dikatakan Melo tadi?" Tanya Prothos pada Mona. "Aku tahu tadi kalian berbicara berdua. Mereka sedang bertengkar? Maksudku, Melo dan Niko."
"Kau tanya kan sendiri saja pada adikmu." Jawab Mona masih sibuk memasak.
"Aku yakin pada akhirnya mereka berdua tidak akan menikah." Ujar Prothos.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kau lihat kan kalau tadi Niko terlihat sangat marah?" Ucap Prothos. "Aku yakin semakin lama dia tidak akan bisa menahan semuanya. Siapapun memang tidak akan ada yang bisa menghentikannya, tapi dia sendiri yang akan menghentikannya. Aku sangat yakin itu."
"Tapi mereka bertunangan sebentar lagi. Rasanya mustahil dia akan menghentikannya. Melo juga tetap tidak berubah pada keputusannya yang ingin menikah dengan Niko."
"Kau mau taruhan denganku?" Prothos menoleh pada Mona yang juga menatapnya. "Kalau Niko menghentikan semuanya sebelum pertunangannya, kau harus mengabulkan tiga permintaanku."
"Aku bukan jin yang memberikanmu tiga permintaan untuk aku kabulkan." Jawab Mona.
Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan muncul Lion yang berjalan masuk ke dalam.
"Aku pun juga tidak mau datang ke rumah ini lagi." Jawab Lion dengan nada dingin tanpa menghentikan langkahnya.
"Apa dia mendengarnya?" Tanya Prothos pada Mona dengan sedikit berbisik saat Lion sudah menaiki tangga.
Mona hanya menggeleng kecil karena tidak tahu apakah Lion mendengar percakapan mereka berdua mengenai Niko dan Melody tadi atau tidak.
Melody keluar dari kamarnya bersamaan ketika Lion baru menaiki tangga. Gadis itu terkejut melihat Lion ada di rumahnya saat ini, namun Lion tanpa ekspresi mengalihkan tatapannya dan berjalan begitu saja melewati Melody.
"Ada apa kau ke sini?" Tanya Melody pada Lion.
Lion tidak berkata apapun untuk menjawabnya dan langsung masuk ke kamar Athos. Melody melihat Lion benar-benar sudah bersikap dingin padanya. Itu membuat dirinya semakin merasakan kehilangan Lion.
"Tasya, aku ingin bicara dengan Lion. Tolong tinggalkan kami berdua." Pinta Athos saat Lion masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan berdiri di depan pintu.
"Baiklah." Jawab Tasya. "Lion, sekarang kau tampak berbeda."
Lion diam saja tak menjawab.
"Tasya..." Ucap Athos.
Tasya tersenyum dan setelah itu berjalan keluar kamar meninggalkan kekasihnya bersama Lion.
"Aku sudah dengar dari Sandy—"
"Kau tidak perlu berterimakasih padaku karena aku akan meminta keuntungan dua kali lipat dari yang sudah aku berikan." Sambar Lion. "Aku ingin semua dikembalikan dalam jangka waktu dua tahun kalau tidak aku akan mengambil alih semuanya."
Lion mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya dan meletakannya di hadapan Athos. Sebuah surat perjanjian mengenai uang yang dipinjamkannya pada project yang dibuat Athos.
Athos tertawa melihatnya.
"Kau tahu Lion, alasan aku meminta bantuanmu dalam project ini karena apa?" Tanya Athos. "Aku yakin kau akan berbuat apapun dan menunjukan sisi asli darimu. Kau tenang saja, aku akan membuatmu duduk manis. Aku akan menghasilkan uang untukmu mulai sekarang."
"Ya itu harus kau lakukan, karena tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk melakukan banyak hal yang tidak gratis, karena itu aku tidak akan memberikan semua yang aku dapatkan dengan cuma-cuma." Ujar Lion. "Aku ingin hidupku terjamin dengan uang yang kau hasilkan. Sedangkan aku hanya akan bersenang-senang dari uangmu."
Athos tertawa mendengar ucapan Lion.
"Aku memang tidak pernah salah menilaimu." Ucap Athos dengan tersenyum.
...–NATZSIMO–...
Baca cerita author yang lain juga ya.
Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.
❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤
Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih...
...