MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
108. GIGITAN CINTA SANG VAMPIR



Mona berjalan membawa nampan dengan di atasnya terdapat makanan yang baru dia pesan dari restoran cepat saji masakan Jepang. Dia melihat Prothos yang duduk dengan wajah yang pernah dia lihat sebelumnya, sebuah kesedihan terpancar dari wajahnya saat ini.


"Cepat kita selesaikan ini. Aku ingin kembali ke asrama sebelum malam." Seru Mona sedikit membanting nampan yang dibawanya ke atas meja membuat pengunjung lainnya yang semula membicarakan tentang ketampanan Prothos terkejut. "Kau sudah transfer bayaranku?"


Prothos langsung mengambil handphone dan membuka rekening mobile milik Athos untuk mentransfer sejumlah uang pada Mona.


"Sudah ku transfer." Jawab Prothos setelah itu mengambil sumpit dan memakan makanannya.


"Kau memberiku tiga kali lipat dari kesepakatan diawal. Ternyata kau baik juga ya, aku pikir kau hanya akan memberiku dua kali lipat untuk membuat sarapan dan menyetir hari ini." Ujar Mona saat melihat jumlah uang yang di transfer Prothos di rekeningnya.


"Satu kali lipat itu untuk membeli pakaian yang bagus buat adikmu. Kau sangat keterlaluan, pakaian adikmu sangat lusuh sedangkan kau memiliki pakaian bermerek." Seru Prothos.


"Pakaian itu untuk menunjang profesiku biar mereka semua tidak memandangku sebelah mata." Jawab Mona setelah itu membuang napas. "Aku jadi kesal karena artis sombong itu mengambil pakaian termahalku, padahal aku membelinya dengan satu bulan gajiku."


"Dari mana kau belajar merias dan fashion style?" Tanya Prothos.


"Aku belajar sendiri karena suka dengan semua itu." Jawab Mona. "Bisa dibilang itu hobiku."


"Dari pada menjadi guru kau lebih cocok jadi fashion stylist. Kau punya bakat itu."


"Jangan ikut campur masalah pribadiku." Gumam Mona.


Mona mengeluarkan handphone miliknya dan handphone yang dibelikan Prothos padanya. Dia mengeluarkan SIMcard dari kedua handphone tersebut dan menukarnya.


"Ini handphone-mu." Mona menyodorkan handphone yang dibelikan Prothos.


"Aku tidak mungkin mengambil kembali barang yang sudah aku berikan pada orang." Jawab Prothos. "Pakai saja, handphone itu juga bisa menunjang penampilanmu."


"Baiklah." Jawab Mona tanpa ragu lalu memasukannya kembali ke tasnya, setelah itu memakan makanannya.


"Berikan saja handphone-mu padaku." Seru Prothos. "Aku tidak punya handphone untuk menghubungimu."


"Kau tidak perlu menghubungiku, masalah kerjaan yang kau berikan aku hanya akan mengirimkan melalui email saja." Ucap Mona. "Kalau tidak, beritahu aku nomer handphone kembaranmu itu, kau memakainya sementara kan?"


Prothos tertawa tidak menyangka mendengar jawaban Mona.


"Tadi kau memuji kembaranku dan sekarang kau ingin nomer handphone-nya. Jangan-jangan kau menyukai kembaranku ya?" Tanya Prothos.


"Aku rasa tidak ada wanita yang tidak menyukai pria sempurna seperti kembaranmu itu."


"Pantas saja kau tidak tertarik sama sekali padaku." Ujar Prothos tersenyum heran.


"Pria pintar lebih mudah membuat aku kagum. Bagiku dibandingkan dengan kedua kembaranmu, kau ada diurutan terakhir. Pria pintar dan pria yang kuat lebih mempesona dibanding dengan visual wajah saja, karena ketampanan itu relatif bagi setiap orang. Pintar dan kuat adalah sesuatu yang ada didalam diri mereka yang tidak bisa dibuat-buat. Sedangkan wajah yang tampan siapapun bisa memilikinya, dengan riasan ataupun operasi plastik."


"Kau benar-benar beracun." Ucap Prothos mendengus kesal. "Aku akan memperlihatkanmu agar kau berhenti menyukai Ato kembaranku."


Mona terdiam karena sesungguhnya dia tidak menyukai Athos, dia hanya mengagumi sosoknya saja yang sangat sempurna di mata seorang wanita.


...***...


Semua teman-teman Lion kembali keluar dari ruangan dimana Lion dirawat saat Melody dan Niko datang. Sebelum keluar Ivan memberitahu kondisi Lion pada mereka berdua. Lion menatap kehadiran Melody bersama Niko dengan tatapan menerawang.


"Lion, kau baik-baik saja?" Tanya Melody karena Lion menatapnya dingin. "Kau kenal aku kan?"


Melody hendak memegang pundak Lion, namun ditepis langsung oleh Lion. Hal itu membuat Melody terkejut. Di saat yang bersamaan Karen datang.


"Ya ampun Lion, kau benar-benar kacau." Seru Karen dengan sedikit tawa. "Jadi ini yang kau bilang akan ke kutub utara? Matamu benar-benar jadi seperti beruang kutub." Karen memegang pelipis kiri Lion yang membengkak dan dibalut plester.


Lion ikut tertawa mendengar perkataan Karen. Melody memperhatikannya dengan rasa cemburu. Baru saja Lion menepis tangannya saat akan memegang pundaknya, tapi dia membiarkan Karen menyentuh lukanya.


"Eh, Mel, kenapa lehermu?" Tanya Karen yang ada di seberang Melody. Melody berada di sebelah kanan Lion sedangkan Karen ada di sebelah kiri Lion. "Apa kau terluka?" Karen memperhatikan sebuah plaster yang terpasang di leher Melody.


"Ah, tidak. Ma-maksudku iya." Jawab Melody tergagap setelah itu menoleh pada Niko yang sedikit tertawa di belakangnya.


"Luka kenapa? Itu akan sangat berbahaya jika leher terluka karena ada pembuluh darah di leher." Ujar Karen.


Melody terdiam karena bingung jawab apa.


"Aku menggi—"


"Sepertinya rencana berlibur besok harus diundur. Bagaimana Lion?" Tanya Karen.


"Tidak perlu diundur, aku sudah tidak sabar berlibur bersamamu." Jawab Lion akhirnya membuka mulutnya.


Melody terkejut mendengar perkataan Lion barusan. Lion membuka mulutnya setelah Karen datang. Dan yang lebih mengejutkan lagi karena apa yang dikatakan Lion pada Karen tidak seperti perkataan Lion biasanya.


"Bagaimana kalau diundur sampai hari rabu? Biar lukamu sedikit membaik. Kau juga tampak tidak seperti biasanya." Seru Niko. "Tidak akan menyenangkan jika kau masih seperti ini."


"Benar kata Niko, Lion. Kita undur saja sampai hari rabu. Aku juga belum mempersiapkan apapun. Aku harus membeli pakaian baru untuk berlibur ke pantai."


"Ya baiklah, kalau kau yang minta." Senyum Lion pada Karen. "Aku juga ingin membeli pakaian baru."


Melody hanya terdiam menyimak pembicaraan Lion dan Karen yang terlihat semakin akrab dari sebelumnya. Bahkan Lion jauh bersikap lebih manis pada Karen dibanding sewaktu di restoran steak kemarin. Melody sangat merasa cemburu pada keakraban mereka berdua.


"Sayang, ayo kita menjenguk kakakmu." Perkataan Niko memecahkan lamunan Melody. "Lion, kami pergi dulu. Aku akan menghubungimu nanti."


"Ya ampun, kau dengar Lion? Niko memanggil Melody dengan sebutan sayang." Ujar Karen saat Melody dan Niko sudah keluar ruangan. "Mereka berdua semakin mesra. Eh, apa jangan-jangan leher Melody tadi itu..."


Lion menoleh pada Karen yang menghentikan perkataannya.


"Benar, tadi Niko juga mau bilang begitu. Ya ampun, mereka membuatku iri."


"Apa? Apa yang membuatmu iri?"


"Gigitan cinta yang dibuat Niko di leher Melody." Jawab Karen.


Niko dan Melody berjalan keluar dari ruangan Lion dan menuju tempat dimana Athos dirawat. Sepanjang jalan Melody terus memikirkan perlakuan Lion yang menepis tangannya dan perlakuan manis Lion pada Karen. Itu pertama kalinya Lion sekasar itu padanya dan mengatakan hal-hal manis pada seorang gadis.


"Kau menyebutku serangga..." Keluh Niko tidak di dengar Melody. Niko menoleh pada Melody yang berjalan di sampingnya. "Aku akan menggigit lehermu yang sisi satunya kalau kau terus melamun."


Melody langsung menoleh pada Niko yang ada di sebelah kanannya.


"Jangan pernah melakukannya lagi." Seru Melody.


"Aku akan melakukannya lagi saat bekasnya menghilang." Jawab Niko. "Aku akan menandaimu terus agar siapapun tahu kau milikku."


"Kau tidak perlu melakukannya hanya untuk hal seperti itu. Tinggal beberapa minggu lagi kita akan bertunangan, orang lain tidak akan peduli dengan tanda yang kau buat ini."


"Sebenarnya itu untukmu." Jawab Niko berhenti berjalan. "Aku ingin setiap kali kau melihat bekas gigitanku kau akan sadar kalau kau milikku."


Niko memancarkan tatapan yang membuat Melody takut. Pemuda itu menatap dengan tatapan rasa marahnya karena mengingat gadis yang cintainya diam-diam mencium pemuda lain tadi malam.


"Jangan melarangku untuk hal yang satu ini!!" Tegas Niko.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen. Vote dan gift ditunggu ya....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......