MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
035. CAHAYA MATAHARI



Prothos sangat bahagia saat Widia memintanya untuk pergi bersama dengannya ke kebun yang dulu mereka datangi saat awal menjalin hubungan. Dengan perasaan yang sangat senang Prothos turun dari mobil saat sampai di depan gedung apartemen Widia tinggal. Prothos tersenyum pada Widia yang sudah menunggunya. Pemuda itu memakai topi pemberian kekasihnya itu. Dengan penuh cinta dan wajah berseri-seri Prothos membukakan pintu mobil untuk wanita yang dicintainya.


"Kau tahu bu guru, aku sangat bahagia hari ini." Ucap Prothos yang berada di kursi setir menoleh pada Widia.


Widia mengembangkan senyumnya menanggapi ucapan Prothos. Dia bisa melihat bagaimana kebahagiaan terpancar di wajah Prothos, hingga pipinya terlihat memerah saat ini dan membuat pemuda itu semakin tampan.


"Aku senang kalau kau merasa begitu." Jawab Widia.


Prothos menengadahkan tangan kirinya dan tanpa diminta Widia meletakan tangan kanannya dan menggenggam tangan Prothos. Pemuda itu mengecup telapak tangan Widia dengan lembut.


"Aku sangat mencintaimu, Widia." Senyum Prothos menatap lembut kekasihnya.


...***...


Melody bersama Anna berada di meja makan. Anna sibuk dengan laptopnya sedang membuat laporan hasil rapat OSIS sedangkan Melody hanya duduk di hadapannya memainkan handphone-nya.


"Kenapa kau tidak pergi saja dengan Niko, Melo?" Tanya Anna, pandangannya masih terfokus di layar laptopnya dan tangannya masih mengetik.


"Senin sampai jumat dia duduk di sampingku, aku bosan melihatnya. Dia selalu berbicara hal-hal aneh dalam bahasa Rusia yang tidak aku mengerti."


"Kau bosan dengannya? Lalu bagaimana saat nanti kalian menikah? Kau akan tinggal bersama dengannya." Jawab Anna langsung menghentikan kegiatannya. "Sebaiknya kau pikirkan lagi untuk menikah dengannya setelah lulus nanti. Kau masih terlalu muda untuk menikah, jangan sampai kau menyesalinya."


"Bukankah sama saja? Kak Anna juga akan menikah dengan kak Ars setelah kau lulus. Kau juga masih terlalu muda." Jawab Melody.


"Ini berbeda. Kau tidak menyukai Niko, bahkan kau bilang kau bosan bersama dengannya."


"Apa kalian akan benar menikah, kak?" Melody malah bertanya pada Anna. "Sejak awal aku sudah yakin kalau kau akan menikah dengan kak Ars."


"Aku sedang membicarakanmu, kau jangan mengalihkan pembicaraan." Ujar Anna. "Melo, sebaiknya kau pikirkan lagi, aku tahu kalau kau sebenarnya tidak ingin menikah dengan Niko, tapi karena tindakan bodoh kakakmu, kau jadi menyetujuinya."


"Tidak kak, aku sudah memutuskannya, jangan bilang apapun sekarang."


"Kau menyukai Lion, benar kan?" Tatap Anna.


Melody diam tak menjawab, dia kembali fokus pada handphone miliknya.


"Arrrggghhh!!" Geram Anna kesal. "Kalian berdua sama saja. Aku tidak sanggup lagi berbicara pada kalian berdua. Ini membuatku kesal jadinya. Astaga, kepalaku jadi semakin sakit."


Melody melihat pada Anna yang menahan emosinya karena kesal. Namun dia tidak ingin berkata apapun untuk menanggapi calon kakak iparnya itu.


"Kalau begitu pergilah hari ini dengannya. Kau harus lebih sering bersama dengannya." Seru Anna.


"Kenapa aku harus lebih sering dengannya?"


"Biar kau mati kebosanan atau menjadi mulai menyukainya." Jawab Anna masih kesal.


Melody tetap menggeleng.


...***...


Athos duduk di sofa yang berada di salon kecantikan langganan Prothos. Menunggu Tasya yang sedang melakukan perawatan dengan rambutnya.


Dia mengambil gambar kekasihnya tersebut dan mengunggahnya ke akun sosial medianya tanpa caption apapun. Tak butuh waktu lama foto tersebut mendapatkan komentar yang sangat banyak dari para pengikutnya.


Kau benar-benar pacar idaman. Siapa yang mau menemani pacarnya ke salon jaman sekarang ini? Hanya kau!


Aku sangat iri pada pacarmu. Apa yang dilakukannya sampai membuatmu sangat mencintainya?


Kau sangat sibuk tapi masih menemani pacarmu, padahal dia sudah bertunangan. Semoga kalian selalu bersama sampai menikah.


Semoga saja hubungan kalian cepat direstui.


Jangan menyerah dan terus berjuang mendapatkan restu orang tuanya. Kami mendukungmu.


Tersungging sebuah senyuman di bibir Athos. Lalu dia melihat semua unggahannya selama ini. Semuanya adalah foto-foto bersama dengan Tasya ataupun foto Tasya seorang diri. Semua foto itu mendapatkan komentar yang sebagian besar komentar positif. Semua berjalan seperti yang diinginkan Athos.


"Ada apa, Ato?" Tasya menoleh dari tempatnya duduk melihat kekasihnya itu tersenyum.


Athos hanya memberikan simbol hati dengan jarinya pada Tasya.


...***...


Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam karena macet. Akhirnya Prothos bersama Widia sampai ke tempat tujuan mereka.


"Apa aku harus memakai masker untuk menutupi wajahku lagi?"


"Tidak perlu." Jawab Widia tersenyum. "Biarkan semua orang melihat ketampanan pacarku hari ini saja."


Mereka berdua langsung keluar dari mobil dan berjalan-jalan di dalam kebun yang dipenuhi oleh banyak sekali pepohonan yang menjulang tinggi. Pohon-pohon tersebut banyak yang sudah berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun.


"Bu guru, kenapa kau menjadi guru Biologi?" Tanya Prothos sambil menggenggam tangan kekasihnya berjalan melihat-lihat pepohonan.


"Aku juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku penasaran dengan makhluk hidup. Sifat makhluk hidup dan keadaannya seperti sesuatu yang sulit dimengerti. Dari ketiga makhluk hidup semuanya tidak memiliki persamaan, manusia, hewan dan tumbuhan. Mereka mempunyai sifat dan caranya masing-masing dalam bertahan hidup."


Prothos menyimak apa yang diucapkan kekasihnya itu. Sesekali tanpa rasa malu pada orang di sekelilingnya dia mengecup tangan kekasih yang digandengnya.


"Tapi dari ketiga makhluk hidup tumbuhan yang membuatku kagum."


"Ada apa? Kenapa tumbuhan?" Tanya Prothos heran.


"Manusia dan hewan bertahan hidup dengan makanan dan minuman, mengirup oksigen, dan bersosialisasi dengan sesamanya dengan cara yang dapat dilihat oleh makhluk hidup lainnya. Tapi berbeda dengan tumbuhan." Terang Widia. "Apa kau pernah melihat mereka bersosialisasi atau berkomunikasi dengan sesamanya?"


Prothos menggeleng karena memang benar yang diucapkan kekasihnya. Tumbuhan tak pernah memperlihatkan ketika mereka sedang mengobrol atau menyapa sesamanya pada makhluk hidup lainnya.


"Sebenarnya mereka saling membantu satu sama lain. Mereka berkomunikasi melalui akar. Mereka akan berbagi informasi bahkan informasi itu tidak hanya disampaikan ke tetangga sebelahnya, tetapi informasi dapat disampaikan berantai, seperti efek domino, ke semakin banyak tetangga, dan manusia tidak akan bisa melihat ketika mereka melakukannya. Mereka juga saling berbagi nutrien pada sesama kerabatnya. Dan apa kau tahu kalau sebenarnya tumbuhan itu memiliki lebih banyak indera dibandingkan manusia?"


Prothos menggeleng, dia sangat antusias mendengar penjelasan kekasihnya yang terlihat sangat senang saat membicarakan tentang tumbuhan.


"Memang tumbuhan tidak memiliki otak, tetapi tanpa otakpun bahkan tanpa neuron, mereka dapat melakukan banyak hal yang manusia hanya bisa kerjakan dengan menggunakan otak dan organ indera lainnya. Contohnya, tanpa mata, tanaman dapat mengetahui banyak informasi tentang cahaya. Tanpa hidung, mereka dapat mengetahui informasi kimiawi seperti bau. Tanpa telinga mereka dapat memahami getaran suara, dan  tumbuhan dapat memahami isyarat listrik, suhu, kekuatan elektromagnetik, logam kuat, patogen, gravitasi dan lainnya."


"Kau benar-benar guru Biologi, bu guru." Ucap Prothos.


Widia tersenyum.


"Tumbuhan juga berbeda saat membuat makanannya dengan makhluk hidup lainnya. Apa saja yang dibutuhkan tumbuhan dalam proses fotosintesis?" Tatap Widia berhenti berjalan dan menatap Prothos.


"Pertama air, lalu karbondioksida, klorofil, dan terakhir cahaya matahari." Jawab Prothos.


"Yang dibutuhkan hanya air, karbondioksida dan klorofil." Ucap Widia.


Prothos terdiam, dia tahu kalau jawabannya benar. Cahaya matahari dibutuhkan untuk proses fotosintesis, namun dia tidak ingin menyela perkataan kekasihnya itu. Dan memang di beberapa penelitian baru-baru ini meski tanpa cahaya mataharipun fotosintesis masih bisa dilakukan. Tetapi tetap saja masih diperlukan cahaya yang bisa dari manapun asalnya.


"Kau tahu, cahaya matahari adalah segalanya untuk tumbuhan. Cahaya matahari yang paling sangat dibutuhkan dan merupakan pelengkap poses fotosintesis."


"Apa seperti aku yang melengkapimu?"


Widia hanya tersenyum.


...–NATZSIMO–...