MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
063. AIR MATA RAJA RIMBA



Sepulang sekolah Melody bersama kedua kakak kembarnya Athos dan Aramis serta Anna pulang bersama. Hari ini Prothos juga tidak masuk sekolah karena sejak kemarin minggu dia pergi ke kota sebelah tanpa diketahui siapapun.


"Lion tidak tahu keberadaannya. Kemana dia pergi?" Ujar Aramis pada Athos sambil menyetir. "Sebentar lagi ujian kelulusan tapi dia tidak memikirkannya."


"Wali kelasnya juga memanggil ayah untuk datang ke sekolah. Aku akan minta paman saja yang datang ke sekolah besok." Ucap Athos.


"Apa dia pergi ke kota lain? Apa saat ini dia mencari bu guru?" Tanya Anna.


"Tidak, dia tidak mencarinya. Kalau dia mencarinya dia pasti sudah menemukannya." Jawab Athos. "Sepertinya dia tidak berniat mencarinya karena dia merasa bersalah pada bu guru."


"Tapi kak Oto baik-baik saja kan, kak? Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya, kan?" Tanya Melody dengan cemas. "Aku takut kak Oto mengalami hal buruk."


"Dia baik-baik saja Melo. Kalau dia kenapa-kenapa pasti sudah ada kabar." Athos menoleh pada Melody yang duduk di belakangnya. "Bagaimana, kau baik-baik saja kan bertemu dengan Niko di kelas?"


Melody mengangguk dengan ragu. Aramis memperhatikan Melody melalui spion yang ada di tengah jendela pengemudi.


"Kak, aku dapat kabar tentang pernikahan kak Tasya yang akan diadakan sabtu ini. Apa karena itu kak Tasya tidak pernah datang lagi ke rumah? Apa kalian sudah berpisah? Apa kak Ato baik-baik saja?" Tanya Melody menatap Athos yang langsung membalikan tubuhnya menghindari tatapan adiknya.


"Lion memberikan bunga pada seorang gadis. Apa kalian sudah lihat videonya?" Seru Anna membantu Athos mengalihkan perhatian Melody karena Athos terlihat tidak ingin menjawab pertanyaan adik perempuannya itu.


"Bocah itu hanya mengalihkan perhatian biar bisa kabur dari gadis itu." Kata Aramis memperhatikan Melody dari spion. "Dia itu alergi pada gadis manapun, tidak mungkin serius memberi bunga itu. Ah, tidak, bocah itu gay."


Anna tertawa mendengar ucapan Aramis yang dia yakini pasti agar Melody tidak berpikiran kalau Lion menyukai Karen.


"Ato, aku baru ingat sesuatu. Aku harus pergi." Ucap Aramis menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


...***...


Lion masuk ke coffee shop tempat Mona bekerja. Dia membawa sekotak donat dan langsung duduk di tempat biasanya. Mona melihat kehadiran Lion dengan gelengan kepalanya karena dia tidak mengira kalau Lion akan datang lagi mengganggunya, padahal sudah beberapa hari dia tidak datang.


Wajah Lion tampak menunjukkan raut kesedihan ketika duduk. Mona memperhatikannya terus dan semakin yakin kalau saat ini Lion sedang sangat bersedih. Walau Lion terus menatap layar handphone-nya, tetapi sesekali pemuda itu menyentuh sudut matanya seperti sedang mengusap air mata yang hendak keluar dari mata sendunya.


"Pada akhirnya dia tidak bisa menahannya." Gumam Mona yang berdiri di balik meja kasir yang berada di arah jam dua belas dari tempat Lion duduk.


Tak ada yang diucapkan Lion. Dia membuang napasnya dalam-dalam dan mengambil tiga donat yang dibawanya lalu menumpuknya di jari telunjuk tangan kirinya. Dia mencoba fokus memakan donatnya sambil membaca pesan-pesan yang didapatkan dari teman-temannya, mencoba untuk tidak memikirkan hal yang sebelumnya dia pikirkan.


"Kemana kau Oto?" Gumam Lion saat membaca jawaban dari para teman-temannya yang tidak melihat keberadaan Prothos.


"Minumlah." Mona menghampiri Lion dan meletakan segelas susu dihadapannya.


"Aku tidak memesannya." Jawab Lion.


"Tenang saja ini gratis." Ucap Mona sembari duduk di hadapan Lion. "Ini hari terakhir aku bekerja disini."


"Benarkah, kau mau kemana?" Tanya Lion terkejut. "Apa kau akan menikah?"


"Usiaku baru 19 tahun akhir tahun ini, aku tidak akan menikah secepat itu." Jawab Mona. "Aku mendapat pekerjaan baru, Niko yang membantuku mendapatkannya."


"Itu nepotisme namanya." Ujar Lion dengan memicingkan matanya. "Kapan kau mulai bekerja di tempat barumu itu? Aku akan datang menemuimu juga disana."


"Lalu bagaimana denganku?"


Mona tertawa mendengarnya. Lion memperlihatkan seolah-olah dirinya bersedih untuk kepergiannya. Mona berpikir untuk menasehati Lion karena tidak tega melihat kesedihan pemuda itu tadi.


"Seharusnya kau bilang pada Niko kalau kau tidak bisa membantunya." Ujar Mona menatap lekat Lion. "Terakhir kali aku bertemu Niko, dia mengatakan kalau kalian sudah seperti saudara. Dia pasti akan mengerti dan tidak melanjutkan rencananya lagi untuk menikah dengan Melody."


"Mona, setelah adikmu Mario, aku tidak ingin kehilangan temanku lagi. Kehilangan adikmu yang sangat menyebalkan itu saja membuatku merasa sangat bersalah, apalagi jika aku kehilangan Niko. Dia sangat baik padaku, dan selalu menganggapku saudaranya. Kami memang sudah seperti saudara sehingga aku tidak akan ingin kehilangannya. Niko itu orang yang sangat baik yang aku kenal. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi."


"Tapi kau kehilangan orang yang kau suka." Seru Mona dengan nada sedikit kesal. "Kau selalu bersikap seolah-olah tidak menyukainya tapi semua orang tahu kalau kau sangat menyukai Melody. Aku juga yakin kalau Niko pun tahu akan hal itu. Apa tidak masalah kalau kau kehilangannya? Padahal kau memutuskan pertemanan dengan Mario karena dia melukai gadis itu, tapi kenapa sekarang kau bersikap seperti ini? Kau bukan saja melukai dirimu, kau juga melukai gadis itu. Jadi mana yang paling membuatmu menyesal, memutus pertemananmu dengan Mario atau kau akan kehilangan Melody selamanya? Niko pasti bisa menerimanya jika kau bilang padanya."


"Kau tidak mengerti Mona. Ini terlalu rumit untuk dimengerti oleh siapapun yang tidak terkait dengan masalah ini. Gadis itu sendiri yang memutuskan kalau dia bersedia menikah dengan Niko, aku pun tidak bisa berbuat apapun."


"Kau bisa mengatakannya pada Niko kalau kau menyukai Melody."


"Tidak! Aku tidak menyukainya." Jawab Lion menatap tajam Mona namun setelahnya menarik tatapannya itu. "Sekarang aku hanya harus meyakinkan diriku seperti itu."


...***...


Aramis berdiri di pinggir danau memperhatikan danau di sore hari yang teduh ini. Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, awan menutupi matahari sehingga langit tampak mendung. Dia menunggu seseorang disana. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada orang tersebut.


"Apa kau memanggilku untuk menghajarku seperti dulu? Aku pikir kau akan langsung menyergapku seperti waktu itu. Tempat ini sangat sepi dan jarang dilalui orang. Kalau kau membunuhku disini pun tidak akan ada yang tahu."


Aramis membalikan badannya menyambut kehadiran pemuda berdarah campuran yang sudah ditunggunya. Niko berjalan mendekat ke arah Aramis setelah keluar dari mobil mewahnya yang diparkirkan lumayan jauh. Seperti biasanya Niko tersenyum mengejek pada Aramis, menyeringai.


"Kau tahu kan, setelah tanganku kau buat cacat aku jadi lemah. Mana bisa aku mengalahkanmu yang terkenal dengan sebutan monster tak terkalahkan." Seru Niko berdiri di jarak lima meter dari Aramis.


"Tenang saja, aku tidak berencana menghajarmu. Setidaknya bukan sekarang." Jawab Aramis, tatapannya sangat tajam.


Niko tertawa menanggapi ucapan Aramis. Lalu mendekati dan menarik Aramis dalam cengkramannya. Menatap wajah Aramis sangat dekat, mata mereka bertemu dan saling tatap, memancarkan rasa benci mereka berdua.


"Kenapa kau memanggilku?!" Tanya Niko, mata Aramis hanya beberapa senti dari tatapannya.


Sebelumnya Aramis sudah memikirkan semuanya sebelum dia meminta bertemu dengan Niko hari ini. Dia memikirkan perkataan Melody sewaktu berteriak padanya mengenai penderitaan Niko. Semua itu dipikirkannya setelah mengetahui tentang penyakit Anna. Melody benar, Niko yang paling menderita atas semua tindakan bodohnya di masa lalu. Hidupnya hancur setelah mimpinya yang ingin menjadi atlet renang kandas karena ulah kekanak-kanakan dirinya.


Setidaknya sekarang dia ingin memberikan sedikit kebahagiaan untuk pemuda itu.


"Aku meminta pengampunan darimu." Jawab Aramis dingin.


...–NATZSIMO–...


Jangan lupa untuk selalu like di setiap bab yang selesai dibaca. Dukung terus cerita mereka dengan memberikan jejak setelah membaca ya biar author semangat menyelesaikan kisah mereka dan jadi sering update.


Jangan lupa juga ikutan giveaway dengan masuk ke grup chat author.


Terimakasih karena sudah membaca karya author sejauh ini.


......❤❤❤❤❤......