
Aramis berada di ruang tamu rumah Anna sedang belajar untuk ujian kelulusan hari senin besok. Sejak kemarin dia terus belajar untuk mengikuti perkataan Anna yang selalu memaksanya untuk belajar.
Handphone Aramis berdering, sebuah panggilan video dari Anna masuk. Dengan segera Aramis menerimanya dengan sebuah senyum. Namun senyumnya berubah ketika yang dilihatnya seorang pria asing yang memakai seragam dokter. Walau dia tahu saat ini Anna berusaha mengerjainya dengan menunjukan seorang pria asing tetap saja pemuda itu tidak bisa menahan rasa kesalnya.
"Bagaimana Ars? Dia dokter jaga pagi ini. Dia baru saja lulus dan bekerja, dia sangat tampan kan?" Terdengar suara Anna di balik video seorang pria Jerman berambut pirang yang tersenyum. "You are very gorgeous, really handsome doctor. Ich liebe dich."
Aramis menahan amarahnya mendengar pujian Anna pada dokter muda di sana, bahkan gadis itu dengan entengnya mengucapkan kalimat aku mencintaimu dalam bahasa Jerman, sedangkan sekalipun dirinya tidak pernah mendengar Anna mengatakan kalimat itu padanya.
Setelah itu Anna memindah kameranya ke dirinya sendiri, dan memperlihatkan senyum lebarnya pada Aramis yang menahan rasa cemburunya.
"Kau tahu Ars, semua dokter jaga di sini sangat tampan dan berusia muda. Kau dan kedua kembaranmu tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Sepertinya mereka semua juga menyukaiku. Mungkin aku akan memilih salah satu dari mereka."
"Aku akan ke sana dan membunuh mereka semua." Geram Aramis.
Anna tertawa mendengar ancaman Aramis dengan wajah yang sangat kesal.
"Sepertinya aku akan menceraikanmu." Anna semakin memanas-manasi Aramis. "Benarkan paman, apa aku harus menceraikan keponakanmu?"
Kamera berganti pada Ronald yang berada di samping tempat tidur Anna. Ronald hanya menyunggingkan bibirnya tanpa berkata apapun.
"Baiklah Ars, disini masih jam lima pagi, aku ingin kembali tidur. Aku menghubungimu hanya formalitas untuk memenuhi janji yang harus meneleponmu pada jadwal yang sudah kau buat di handphone-ku."
Aramis sangat kesal karena Anna langsung mematikan panggilan videonya sebelum sempat dia berkata apapun.
"Apa hebatnya menjadi dokter? Akan aku tunjukan pada gadis itu kalau menjadi pelukis jauh lebih keren dan hebat." Gumam Aramis sangat kesal.
Handphone Aramis kembali berdering, kali ini Ronald meneleponnya.
"Kenapa paman?"
"Anna akan dioperasi sabtu depan." Ujar Ronald.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan kesana setelah ujian. Keadaan Ato juga sudah semakin membaik."
"Anna tidak ingin kau datang. Dia ingin operasi tanpa siapapun disini. Dia juga memintaku untuk pulang besok."
"Kenapa? Apa dia berencana mendekati dokter tadi? Apa dia benar-benar serius mau meninggalkan aku?"
"Ars!!"
Aramis terdiam.
"Keadaan Anna tidak terlalu bagus, dia semakin melupakan banyak hal. Kemoterapi yang kemarin dilakukannya tidak membuat efek yang banyak untuk penyakitnya." Ucap Ronald. "Dia ingin kau tidak menghubunginya kalau dia tidak menghubungimu."
...***...
Berada di meja makan bersama Lion dan Niko membuat Melody merasa tidak terlalu nyaman. Melody merasa ada yang aneh dengan sikap Lion hari ini. Lion yang duduk di hadapannya hanya menikmati makanannya dengan terus mengarahkan pandangannya ke piringnya, sedangkan Niko yang duduk di kursi tunggal yang biasa dia duduki menatap gadis yang akan dinikahinya menatap pada pemuda lain.
"Kenapa makanannya terasa tidak enak." Ucap Niko memecah kesunyian setelah pemuda itu memperhatikan Melody yang terus menatap pada Lion.
"Apa yang tidak enak? Ini semua sangat enak." Jawab Lion menoleh pada Niko.
Melody masih saja menatap pada Lion dan tak memedulikan perkataan Niko, dan Niko tahu itu. Membuatnya semakin kesal, namun pemuda itu tidak bisa berbuat apapun.
"CEPAT GANTI MAKANANNYA!!" Niko berteriak sangat keras.
Melody sontak terkejut dan melihat pada Niko. Seketika seorang pria asing yang merupakan juru masak dan beberapa asisten rumah tangga di rumah Niko datang dengan ketakutan.
"POCHEMU TY DAYESH' MNE TAKOY MUSOR? PROKLYAT'YE!! VY VSE USTALI ZHIT'? (Mengapa memberiku sampah seperti itu? Berengsek!! Apa kalian semua bosan hidup?)" Tatap Niko pada salah seorang juru masak di rumahnya yang berasal dari Rusia.
"Izvinite, my zamenim yego na novyy (Maaf, kami akan menggantinya dengan yang baru)." Ucap juru masak tersebut.
Semua makanan di atas meja makan akhirnya diambil oleh para asisten rumah tangga. Niko masih terlihat kesal namun Melody tidak menyadari kenapa pemuda itu kesal, namun tidak begitu dengan Lion yang langsung tahu kenapa Niko seperti itu.
"Ada apa denganmu? Kau tidak terlihat seperti biasanya?" Tanya Melody. "Tidak ada yang salah dengan makanannya."
"Makanan tadi itu sampah, tidak mungkin aku memakannya."
"Sepertinya aku harus pergi sekarang." Ucap Lion. "Aku ada janji dengan Key jam satu siang ini. Aku pergi ya."
Lion beranjak dari tempatnya dengan membuang napas, lalu berjalan ke arah pintu keluar. Melody memperhatikan kepergian Lion begitu pun dengan Niko.
"Lion, kau meninggalkan handphone-mu lagi." Panggil Melody membuat Lion menoleh.
"Ah, aku tidak sadar." Jawab Lion.
Melody menyodorkan handphone Lion pada pemuda itu.
"Terimakasih ya, Melon." Lion mengambil handphone-nya dari tangan Melody dengan sengaja memegang tangan gadis itu dengan sebuah senyuman hangat, dan tidak langsung melepas tangannya. "Sayonara." Setelah berkata demikian Lion menarik handphone-nya dari Melody dan berbalik serta berjalan keluar pintu.
Dari tempat duduknya, Niko dapat melihat mereka berdua. Niko memberikan senyumnya ketika Melody berjalan kembali ke meja makan. Melody merasa ada yang aneh pada Lion. Sikap Niko juga tidak seperti biasanya.
Tidak berapa lama makanan kembali disediakan di meja makan. Wajah Niko kembali terlihat seperti biasanya saat mengunyah makanannya.
"Eto kak raz ta yeda, kotoruyu ya khotel (Ini baru makanan yang kuinginkan)." Senyum Niko pada juru masaknya.
Juru masak itupun terlihat senang bersama asisten rumah tangga lainnya dan langsung kembali ke tempat mereka masing-masing meninggalkan Melody bersama Niko.
"Makanlah sayang. Ini sangat enak." Ujar Niko tersenyum.
Melody sedikit terkejut karena untuk pertama kalinya Niko memanggilnya dengan sebutan sayang seperti itu.
"Ayahmu selalu memanggilmu dengan panggilan itu, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan panggilan itu juga." Terang Niko. "Aku tidak ingin kau keberatan."
Melody tidak menjawab karena sebenarnya gadis itu keberatan namun Niko secara terang-terangan bilang tidak ingin dirinya keberatan. Jadi dia tidak bisa berkata apapun untuk menolaknya.
"Hari ini aku akan menyanderamu di rumahku hingga malam. Aku tidak akan membiarkanmu pulang hingga malam nanti." Seru Niko. "Kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin bersamamu hari ini."
"Ya, baiklah." Jawab Melody setelah itu memakan makanannya.
"Tidak sampai sebulan lagi kita bertunangan. Kedua orang tuaku juga akan datang. Kita akan melakukan pertemuan keluarga seminggu sebelum acara pertunangan." Niko tersenyum pada Melody menatap gadis yang juga menatapnya. "Aku sudah mengatur semuanya. Apa ada yang kau inginkan untuk acara pertunangan nanti? Apa kau ingin sesuatu yang harus aku persiapkan? Besok aku akan memulai semuanya."
"Besok bisakah temani aku ke makam ibuku?" Tanya Melody.
"Dengan senang hati." Jawab Niko dengan tersenyum lebar.
...***...
Setelah menempuh waktu lebih dari tiga jam, Prothos akhirnya sampai di depan Grand Havvit Hotel di kota itu, tempat penthouse yang dia tempati berada. Waktu menunjukan hampir jam setengah tiga saat dia hendak memasukan mobilnya ke dalam kawasan hotel.
Tiba-tiba dia melihat Mona berdiri di depan hotel sambil menelepon seseorang. Pakaian yang dikenakan Mona terlihat sangat modis dengan riasan wajah yang tidak biasanya. Baju terusan di atas lutut berwarna krem dengan dilengkapi scraft merah dengan merek yang terkenal menutupi lehernya dan sepatu ankle boots juga berwarna merah. Gadis itu juga menata rambutnya dengan sangat indah. Setelah menutup teleponnya Mona langsung menaiki taksi.
Prothos jadi teringat dengan perkataan Lion yang bilang kalau Mona memiliki pekerjaan sampingan yang banyak. Lion juga bilang ketika seseorang meneleponnya, dia akan datang menemui orang itu. Entah kenapa melihat penampilan Mona membuat Prothos berpikiran yang tidak-tidak mengenai gadis itu.
"Apa dia wanita panggilan?" Tanya Prothos berpikir. "Pantas saja dia terlihat biasa saja saat melihatku telanjang. Aku tidak heran pada gadis itu."
Prothos langsung kembali melajukan mobilnya, mengikuti taksi yang dinaiki Mona.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.
Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.
Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.
Baca juga karya author lainnya.
Terimakasih...