MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
097. SERINGAI SEORANG VAMPIR



"Sandy, nanti sore akan ada orang yang datang ke café, dia akan memberikan sesuatu padamu." Ujar Lion di telepon, dia sedang duduk di pinggiran atap gedung sekolahnya. "Jalankan rencana yang kemarin aku bilang padamu."


"Kau serius, Lion?" Tanya Sandy.


"Lakukan saja seperti yang aku katakan." Jawab Lion.


...***...


Saat jam istirahat, Prothos hanya berdiam diri di kelas sambil membuka-buka galeri foto di handphone Mona. Gadis itu sudah sering berganti-ganti tempat kerja, terlihat dari foto-foto seragamnya.


"Bukankah dia kuliah? Kenapa dia bekerja juga? Apa dia sudah tidak kuliah lagi?" Prothos heran saat melihat foto-foto tersebut.


Tiba-tiba handphone tersebut bergetar dan muncul nomer baru yang dipakai Mona, dengan segera Prothos menjawabnya.


"Hari ini aku akan pulang ke rumah, katakan kau dimana? Ayo kita bertukar handphone." Ucap Mona. "Aku membutuhkan handphone-ku, semua data-data dan nomer handphone yang aku simpan ada di handphone itu."


"Kau kan bisa log in dengan email-mu untuk menarik semua nomer handphone yang tersimpan? Bahkan dengan itu kau juga bisa mengambil semua data di handphone-mu ini." Jawab Prothos.


"Tidak, akan sangat merepotkan karena nanti kita juga akan bertukar handphone lagi. Kau masih di rumah sakit atau sudah pulang ke rumah? Aku akan menemuimu untuk menukar handphone-nya."


"Handphone-mu sudah rusak, aku sudah menggantinya dengan yang baru."


"Tapi kenapa kau pakai nomer handphone-ku?" Tanya Mona. "Benarkah handphone-ku rusak? Kau masih menyimpannya, kan? Aku tetap akan mengambilnya. Sudah aku bilang itu satu-satunya hartaku yang paling berharga. Aku akan membawanya ke tempat servis."


"Sudah aku buang." Jawab Prothos singkat.


"Kenapa kau buang? Itu handphone-ku, kau tidak berhak membuangnya." Mona sangat kesal.


"Pakai saja handphone yang aku berikan, itu sebagai ucapan terimakasihku padamu karena sudah memberitahuku mengenai kabar kembaranku kemarin dan karena sudah meminjamkan handphone-mu juga."


"Sebenarnya aku sangat marah saat kau bilang kau membuang handphone-ku, tapi karena saat ini kau masih berduka aku tidak bisa memarahimu. Aku sangat tahu bagaimana kehilangan semua orang yang berharga di hidup kita. Tapi setidaknya kembaranmu tidak meninggalkanmu, dia masih hidup." Ujar Mona di ujung telepon. "Kalau begitu berikan aku SIMcard-nya saja. Aku membutuhkannya."


"Besok aku berencana kembali ke penthouse untuk mengambil semua barang-barangku. Kau tidak perlu menemuiku sekarang." Jawab Prothos.


...***...


"Sandy, ada seorang pria berpakaian rapi mencarimu." Ujar Chino yang masuk ke dapur dimana Sandy berada.


Sandy segera keluar menuju meja dimana seorang pria berpakaian formal menunggunya.


"Aku kesini hanya untuk memberikan ini padamu." Pria itu menyodorkan sebuah amplop pada Sandy.


Sandy mengambilnya lalu membukanya. Dia sangat terkejut ketika melihat sebuah cek bertuliskan satu koma lima milyar atas nama Lionel Fleecysmith.


"Dia memang anak yang gila." Gumam Sandy.


...***...


Saat matahari mulai terbenam Lion berada di pabrik tua yang ukurannya sangat besar dan terdapat beberapa lantai yang dari semua lantai dapat melihat ke bagian tengah di lantai dasar. Tempat itu merupakan di mana terakhir kali dirinya bertemu dengan Mario saat Niko membawanya padanya.


Lion berdiri di tengah-tengah lantai dasar dan di sekelilingnya saat ini terdapat ratusan pelajar sekolah yang datang untuk mendengarkan ocehan pemuda itu. Mereka semua adalah teman-teman Lion yang berada di kota ini, jumlahnya mencapai hampir tiga ratus orang. Namun mereka semua hanya perwakilan saja dan bukan jumlah sesungguhnya dari banyaknya temannya Lion di kota ini. Niko, Ivan dan David juga berdiri di sana di lantai dasar, berada di kumpulan pelajar yang mengelilingi Lion.


Lion hendak menyampaikan sesuatu mengenai rencana tantangannya pada orang paling terkuat di kota ini yaitu Aramis, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.


"Kalian sudah mendengar kabar mengenai aku yang menantang si monster besok." Ujar Lion. "Tampaknya dia tidak mau menanggapi tantanganku. Apa aku bisa minta bantuan kalian semua?"


"Ya, katakan saja apa yang harus kami lakukan untukmu, Lion. Dengan senang hati kami akan membantumu." Jawab salah satu dari banyaknya pemuda di sana.


"Bawa dia padaku." Jawab Lion dengan senyum bodohnya.


"Lion, kenapa kau menantang Ars? Dia itu sahabatmu kan?" Tanya yang lain.


"Tapi dia adalah musuh kalian semua. Ya aku rasa dari kalian yang datang disini aku bisa menghitung dengan jari siapa saja temannya." Ucap Lion.


"Lalu apa tujuanmu menantangnya? Apa kau ingin memutus pertemanan dengannya? Apa dia bukan sahabatmu lagi?'


"Kau benar, aku berencana memutus pertemananku dengannya." Jawab Lion dengan tatapan serius.


Semua yang mendengar bersorak senang karena dengan begitu mereka semua bisa dengan bebas melakukan apapun pada Aramis, orang yang paling dibenci di kota ini.


"Tapi itu terjadi kalau aku yang menang." Perkataan Lion membuat suara sorak sorai berhenti. "Aku akan membuat surat perjanjian dengannya, besok kami akan bertarung hidup dan mati. Jika aku menang otomatis kalian tidak akan melihatnya lagi. Itu pasti membuat kalian senang kan?"


Tak ada suara yang terdengar, karena mereka tahu untuk mengalahkan Aramis seorang diri sangatlah sulit. Apa lagi ini dalam pertarungan hidup dan mati, kalau Lion menang otomatis Aramis mati dan begitu sebaliknya sehingga otomatis pula pertemanan mereka berakhir.


"Kau meremehkan aku ya." Lion memicingkan matanya. "Bagaimana pun, Ars juga pernah kalah. Bukan begitu Niko?"


Semua mata langsung menuju menatap pada Niko yang berdiri di pinggiran.


"Sekarang di sini aku hanya tamu saja, walaupun aku sudah pindah sekolah ke kota ini tapi di sini bukan tempatku. Aku tidak ingin ikut campur. Aku bahkan tak berniat menonton pertarungan besok itu." Jawab Niko menghindar.


Lion tertawa mendengarnya. Pemuda aneh itu terus saja tertawa walau berada di tengah banyak orang yang sedikitpun tak ada yang mengeluarkan suaranya. Sehingga tawanya menggema di pabrik tua tersebut.


"Lion, berhentilah tertawa!!" Seru Ivan dengan suara datar dan dengan tatapan kesal melihat tingkah Lion. "Sekarang dia menjadi seperti psikopat." Gumam Ivan.


"Maafkan aku." Ucap Lion menahan tawanya.


"Bagaimana kalau Ars yang menang?" Tanya David tidak sabaran.


Dengan sekejap Lion merubah ekspresinya menjadi tatapan serius pada semuanya.


"Kalau dia yang menang... aku ingin kalian semua..." Lion menghentikan kalimatnya sejenak. "Berhenti untuk menantangnya."


"Apa maksudmu? Kenapa kami harus berhenti?"


"Saat dia menang dariku aku ingin kalian semua tak lagi menganggapnya musuh kalian, dan kalian harus membantunya dalam masalah apapun. Jika saat aku kalah dan kalian masih menganggapnya musuh maka aku akan menghantui kalian semua." Tawa Lion.


"Jangan bercanda Lion, kalau begitu seharusnya tak perlu pertarungan hidup dan mati."


"Tidak, aku harus melakukannya karena aku ingin membalaskan dendam seseorang padanya, bukan begitu Niko?"


Semua mata kembali tertuju pada Niko dengan bisikan-bisikan terdengar. Niko menatap Lion sesaat dan setelah itu melangkah maju ke arah Lion yang berada sendiri di tengah-tengah mereka semua. Itu semua membuat keadaan sedikit ribut karena mereka semua tahu mengenai dendam Niko pada Aramis karena sudah membakar tangan kirinya.


"Ya, aku yang memintanya melakukan itu walau sebenarnya dia berniat melakukannya dengan suka rela sebelumnya." Ucap Niko dengan tatapan tajam.


Semua menjadi ribut karena mereka tidak ingin Lion melakukannya. Pertarungan hidup dan mati yang dibilang, sudah sangat terlihat siapa yang akan menang buat mereka. Lion pasti akan kalah, dan sama saja dia bunuh diri. Mereka tahu siapa yang akan paling diuntungkan dalam pertarungan tersebut, mau siapapun yang menang.


"Dia memanfaatkannya." Gumam David yang berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Perkataannya di dengar oleh Ivan yang sejak awal berada di dekatnya.


"Kami tidak setuju, kami tidak ingin kehilangan teman sepertimu, Lion." Ujar salah seorang yang bangkit berdiri.


"Itu benar, kali ini kami tidak ingin mendengarkan permintaanmu, Lion." Tambah yang lainnya.


"Siapapun yang menolak aku tidak ingin berteman lagi dengannya." Seru Lion membuat keadaan kembali hening.


"Tapi Lion pertarungan hidup dan mati juga melanggar hukum, siapapun yang menang akan dikriminalisasikan. Siapa yang akan bertanggungjawab nanti?"


"Kalian tenang saja, aku yang akan mengatasi hal itu, mau siapapun yang kehilangan nyawanya." Ujar Niko dengan seringaian ciri khasnya.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


Tolong untuk para pembaca jangan ada yang membenci Niko, bagaimanapun Niko adalah karakter favorit author. 🤭🤭🤭


Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.


Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.


Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.


Baca juga karya author lainnya.


Terimakasih...