MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
047. TAKDIR YANG BERKEHENDAK



Ato, aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak bisa berpisah darimu.


Angkat teleponku Ato!!


Kau tidak bisa seperti ini padaku. Aku pikir kau serius padaku, tapi ternyata kau sama saja dengan semuanya.


Aku tidak kuat lagi, Ato. Aku ingin menemuimu. Jangan menghindari aku.


Maafkan aku kalau aku menyakiti hatimu, tapi jangan tinggalkan aku, aku mohon.


Aku harus bagaimana sekarang? Aku sangat merindukanmu. Ini sangat menyakitkan untukku. Biarkan aku menemuimu, aku mohon, Ato.


Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu.


Athos duduk di meja makan setelah Aramis pergi. Dia membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Tasya. Puluhan pesan dia terima hari ini, namun tak satupun dia membalasnya. Telepon Tasya juga tak diangkatnya, dan bahkan saat ini nomer itu sudah diblokir olehnya.


Semua yang terjadi barusan antara Aramis dan Melody menambah bebannya. Ditambah Prothos yang pergi entah kemana membuatnya tidak tahu harus melakukan apa saat ini.


"Ato..." Anna turun dari tangga setelah keluar dari kamar Melody. "Oto pergi kemana?" Tanya Anna sambil duduk di hadapan Athos.


"Entahlah. Dia semakin menyedihkan setelah apa yang dilakukan kekasihnya padanya." Jawab Athos. "Anna, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Kau bertanya padaku? Bukankah seharusnya aku yang bertanya apa yang akan kau lakukan? Masalah Melo, dan Oto..." Ucap Anna. "Juga masalahmu dengan Tasya. Apa yang akan kau lakukan pada pernikahan Tasya? Aku tahu kau merencanakan sesuatu."


"Kau benar, tapi entah kenapa saat ini aku menjadi ragu. Aku yakin semua persiapannya sudah sempurna, tapi ada satu hal yang membuatku ragu." Ujar Athos. "Apa aku bisa melewatinya atau tidak."


"Maksudmu apa Ato? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Anna merasa curiga kalau apa yang akan dilakukan Athos adalah hal yang berbahaya. "Jangan bilang kalau kau—"


"Kau benar. Kau memang sangat cerdas Anna." Jawab Athos tersenyum memperlihatkan keyakinannya pada apa yang akan dia lakukan. "Ars sangat beruntung bersama denganmu."


"Ato, jangan lakukan itu!! Kau tidak harus melakukannya!! Apa yang akan kau lakukan sangat berbahaya pada dirimu sendiri!! Bagaimana kalau apa yang kau ragukan akan terjadi?"


"Biarkan takdir yang berkehendak, aku hanya ingin melakukan semaksimal mungkin." Jawab Athos. "Semuanya boleh dilakukan demi cinta, dan itu sepadan."


"Kau benar-benar gila, kau..." Anna menghentikan ucapannya saat melihat Athos malah tertawa mendengar perkataannya. "Sial, kau membuatku menjadi melihatmu seperti orang gila sungguhan."


"Aku menganggapnya itu sebuah pujian." Ucap Athos. "Anna, akhir-akhir ini kau selalu memakai topi, ada apa?"


"Akhirnya ada yang menyadarinya juga." Seru Anna tersenyum. "Aku keren kan pakai topi ini?"


"Kau dan Lion memang memiliki banyak kesamaan." Ujar Athos menyunggingkan senyum herannya. "Katakan padaku, apa ada hubungannya kenapa kau mengundurkan diri menjadi ketua OSIS?"


Anna terdiam, dia bingung kenapa Athos mengetahuinya padahal hal itu belum diketahui oleh siapapun. Baru hari ini dia membicarakannya pada kepala sekolah, dan itu juga belum diputuskan apakah pengunduran dirinya diterima atau tidak.


"Ya kau benar, Ato." jawab Anna. "Aku ingin menjadi diriku yang tanpa aturan. Memakai celana di sekolah, bahkan memakai topi ini di sekolah, karena itu aku memilih mengundurkan diri karena apa yang aku lakukan tidak bisa menjadi teladan murid lainnya. Mantan ketua OSIS memang menyeramkan, bahkan kepala sekolah sampai bercerita padamu."


"Tidak, dia tidak mengatakan alasanmu mengundurkan diri, kau memintanya merahasiakannya dari siapapun kan?" Tatap Athos curiga. "Kau tidak sedang sakit kan? Kau semakin terlihat tidak sesegar dulu."


"Apa yang kau katakan? Aku sehat. Tapi kau benar aku jadi tidak sesegar dulu karena menjadi ketua OSIS membuatku terus pusing memikirkan masalah banyak orang, termasuk saudara-saudaramu dan si aneh Lion!!"


"Anna, kau menyembunyikan sesuatu kan? Entah kenapa firasatku mengatakan hal itu."


"Tidak, Ato. Aku tidak pernah menyembunyikan apapun. Aku hanya tidak ingin menunjukkannya pada siapapun."


Athos tertawa heran. Tapi dia tahu kalau saat ini Anna sedang menyembunyikan sesuatu dari siapapun.


Anna tertawa kecil mendengarnya.


"Si bodoh itu selalu berkata dan melakukan apapun tanpa memikirkannya terlebih dahulu."


"Apa jawabanmu?" Tanya Athos menatap serius Anna.


"Apa aku harus menjawabnya? Dia tidak serius saat mengatakannya."


"Kau pun tahu kalau dia serius, Anna." Ucap Athos. "Ada apa? Kenapa kau terus menghindar dari pertanyaan itu? Apa kau tidak ingin menikah dengannya?"


Anna terdiam memikirkan jawabannya. Selama ini dirinya selalu menghindari setiap Aramis membicarakan dengannya, dia sama sekali tidak pernah menjawabnya. Itu semua bukan karena dia tidak ingin tetapi dia tidak bisa.


"Sudahlah, aku rasa masalah itu tidak perlu dibahas sekarang." Jawab Anna bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Anna, aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan tapi kau harus memberitahu Ars, apapun itu!!"


...***...


"Ada apa, Niko?" Melody menjawab telepon dari Niko. Gadis itu duduk di meja belajarnya sambil mengelus kucing kesayangannya.


"Kau baik-baik saja kan? Aramis tidak menyakitimu kan? Aku lihat dia berlari mengejarmu masuk ke dalam rumah dengan sangat marah. Kau baik-baik saja 'kan?" Tanya Niko dengan penuh kekhawatiran.


"Dia itu kakakku, dia tidak akan menyakitiku, Niko. Dia sangat sayang padaku." Jawab Melody.


"Ya kau benar, aku sangat mengkhawatirkanmu karena kau masuk ke rumah dengan wajah bersedih tadi. Syukurlah kau baik-baik saja." Ujar Niko. "Kalau begitu baiklah, sampai jumpa besok di sekolah."


"Niko." Panggil Melody agar Niko tak langsung menutup teleponnya. "Aku minta maaf karena kakakku yang satu itu selalu berbuat kasar padamu."


"Tidak masalah. Aku sudah tahu kakakmu itu sejak dahulu. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu setiap kali bertemu dengannya."


"Niko, aku akan meminta ayahku untuk pulang secepatnya agar kita segera bertunangan." Ucap Melody. "Kita bisa bertunangan setelah ujian kenaikan kelas."


...***...


Jam dua malam Athos memasuki sebuah klub malam setelah Lion memberitahunya tentang keberadaan Prothos yang mendapatkan informasi dari salah satu teman Lion. Info yang di dapat saat ini Prothos sedang mabuk parah hingga hampir tak sadarkan diri.


Athos mencari ke sekeliling di tempat yang penuh dengan asap rokok dan gemerlap lampu yang membuat pandangannya tidak terlalu fokus, ditambah beberapa wanita yang menghampirinya untuk mengajaknya ikut menikmati musik yang terdengar memekakan telinga.


Matanya tertuju ke sebuah sofa di mana beberapa wanita sedang menggerayangi kembarannya yang sudah hampir tak sadarkan diri itu. Prothos hanya bisa tersenyum sambil meracau tidak jelas ketika seorang wanita duduk di pangkuannya dan menciuminya dan dua wanita lainnya duduk di kedua sisinya tak mau kalah menciuminya juga. Karena pengaruh minuman keras yang membuatnya mabuk parah, Prothos terlihat sangat menikmatinya.


Tanpa basa basi pada para wanita yang sedang mencumbui kembarannya, Athos langsung menarik tangan Prothos hingga mereka semua terkejut. Athos memapah kembarannya itu untuk keluar dari tempat itu. Prothos terus saja meracau tak jelas karena suaranya kalah dengan dentuman musik.


"Ato kembaranku yang sangat pintar tapi bernasib malang. Wanita yang dicintaimu akan menikah dengan orang lain." Racau Prothos diiringi tawa ketika Athos mendorongnya masuk ke dalam mobil ke kursi belakang hingga terbaring. "Kasihan sekali kau, ckckckck... Untung saja aku memiliki Widia. Oh, bu guru aku sangat merindukanmu."


Athos yang berada di kursi setir menoleh pada kembarannya yang terus meracau di kursi belakang sebelum dia menjalankan mobilnya. Dia merasakan kesedihan juga pada kembarannya yang sedang patah hati tersebut. Dengan segera Athos membuka handphone-nya untuk menghubungi seseorang yang dibutuhkannya saat ini.


"Ada apa? Tumben sekali kau meneleponku? Biasanya kalau aku telepon kau sangat ingin cepat-cepat menutupnya. Bukankah saat ini di sana jam dua malam?" Terdengar suara Leo di ujung telepon.


"Cepatlah pulang, kami semua membutuhkanmu." Jawab Athos dengan suara parau. "Aku tidak bisa mengatasi semua ini sendirian, ayah."


...–NATZSIMO–...