
Melody melepas plester yang menempel di lehernya di depan cermin dalam kamarnya. Bekas gigitan Niko masih terlihat jelas. Hal itu membuatnya kesal sekaligus bingung. Dia sangat ingin segera menghilangkan bekasnya.
Setelah membaca-baca cara menghilangkannya, Melody berjalan ke dapur untuk mengambil es batu agar digunakan untuk mengompresnya. Gadis itu duduk di meja makan sambil mengompres tanda itu dengan es batu.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuk Prothos dari luar. Melody segera membuang es batu dan melepas jepit rambut yang dipakainya sehingga rambutnya menutupi leher untuk menyembunyikan bekas gigitan itu.
"Kau sedang apa sendirian di sini, Melo?" Tanya Prothos berjalan masuk dan duduk di kursi di hadapan Melody. "Dimana Ars?"
"Aku baru saja minum, kak. Kak Ars di kamarnya sedang belajar." Jawab Melody. "Kak Oto sudah makan? Tadi saat pulang kak Ars membeli pizza untuk makan malam kami. Kalau belum biar aku ambilkan."
"Tidak usah, kakak sudah makan. Ini sudah jam delapan lewat. Nanti kakak bisa gemuk kalau makan lagi." Jawab Prothos. "Melo, besok Mona akan datang, dia akan membantu membersihkan rumah dan memasak juga, selain itu dia juga membantu urusan café. Dia akan tinggal di sini. Bagaimana menurutmu?"
"Kenapa dia kak?" Tanya Melody.
"Apa kau punya seseorang yang bisa melakukan semua yang kakak bilang tadi? Kalau ada biar orang itu saja."
Melody menggeleng.
"Kau tenang saja Melo, Mona tidak tertarik pada kakakmu yang tampan ini karena itu juga yang membuat kakak merasa tidak masalah kalau dia yang membantu kita. Dia lebih suka dengan uang dari pada pria tampan." Prothos tersenyum.
"Niko bilang Mona juga tidak menyukai uang." Jawab Melody. "Niko juga bilang padaku kalau Mona bukan wanita yang menyukai pria tampan dan kaya. Kalau Mona memang menyukainya sejak dulu Mona pasti akan menggoda Niko, itu katanya."
Prothos tertawa mendengar perkataan Melody yang mengulangi ucapan Niko. Walau ada sedikit rasa kesalnya pada Niko yang sombong itu.
"Aku tidak masalah kalau dia akan membantu dan tinggal disini. Tapi aku tidak ingin kau mendekatinya ataupun dia mendekatimu, kak."
"Kau tenang saja, dia bukan tipeku dan sepertinya aku juga bukan tipenya." Jawab Prothos. "Dia gadis aneh dengan pemikiran yang berat. Kalian pasti akan bisa berteman. Kau bisa bertanya apapun padanya, dia punya segudang pengalaman. Dia juga sangat rajin, kau bisa meminta bantuan apapun padanya. Selama ini kau tinggal bersama para pria kan Melo bahkan Anna juga tidak termasuk hitungan wanita. Jadi pasti kau akan senang saat ada wanita lain yang tinggal bersamamu disini."
"Aku akan mencoba dekat dengannya." Jawab Melody. "Aku mau ke kamarku ya kak. Kak Oto sebaiknya belajar juga seperti kak Ars, besok kakak ujian."
Melody beranjak dari tempat duduknya hendak naik tangga, namun tiba-tiba Prothos memegang lengannya membuat langkahnya terhenti. Tanpa di duga Melody, Prothos yang beranjak dari duduknya langsung menyingkap rambut gadis itu dan melihat bekas gigitan Niko yang sejenak dilupakan Melody.
"Tadi ada serangga yang menggigit kak, tapi tidak sakit kok hanya bekasnya saja yang sulit hilang." Ujar Melody tanpa menunggu pertanyaan Prothos.
Semua keluarga Melody tahu jika gadis itu berbohong matanya akan memerah, dan pemuda itu tahu kalau saat ini adiknya berbohong. Dengan segera Prothos berjalan menuju pintu. Dia sangat tahu apa itu yang ada di leher adiknya dan itu membuatnya marah.
"Kak Oto mau kemana?" Tanya Melody.
"Tiba-tiba ada urusan mendadak." Jawab Prothos sebelum menutup pintu dan keluar.
"Padahal besok kakak ujian, kenapa kakak tidak belajar?" Gumam Melody sambil menaiki tangga.
"Akan aku peringatkan serangga sialan itu!!" Seru Prothos masuk ke dalam mobil.
...***...
Niko baru saja sampai di rumahnya, dan hendak menaiki tangga untuk menuju kamarnya ketika Prothos datang menemuinya.
"Kau tidak menepati janjimu, berengsek!!" Seru Prothos yang baru saja masuk.
Niko berbalik dan tersenyum melihat kehadiran salah satu dari calon kakak iparnya lalu berjalan mendekat dan berdiri di jarak dua meter dari Prothos. Niko tersenyum karena tahu alasan Prothos datang menemuinya.
"Kenapa kau menyentuh adikku?" Prothos menarik kasar Niko. "Kau tidak menepati janjimu, berengsek!!"
Niko tertawa pada Prothos, hal itu membuat Prothos melepaskan cengkramannya.
"Jangan menyentuh Melo!! Walau kau akan bertunangan dengannya, jangan menyentuhnya!!"
"Ayolah Oto, adikmu sudah besar. Aku juga tidak akan menyentuhnya jika dia menolak. Tapi tampaknya dia tidak menolak." Ujar Niko sedikit berbohong.
"Aku tahu kau berbohong, Niko!!"
"Lalu apa yang akan kau lakukan padaku?" Tatap Niko. "Kalian semua sudah tidak bisa berbuat apapun padaku, bahkan anjing penjaga adik kalian sudah jinak padaku."
Prothos menjadi terdiam, dia menahan emosinya saat ini. Dia berpikir kalau dia mengancam Niko ataupun berbuat sesuatu padanya, itu akan memperburuk keadaan. Niko pasti akan berbuat semaunya lebih lagi pada adiknya. Prothos takut itu terjadi.
Prothos mengambil sesuatu dari dompetnya dan menyodorkannya pada Niko. Kartu akses penthouse milik Niko.
"Ambillah, aku tidak membutuhkannya lagi." seru Prothos.
"Ada apa? Kau sudah puas bersenang-senang?" tanya Niko heran. "Baiklah, sepertinya kau sudah mendapat mainan baru." Niko mengambil benda itu. "Tapi percayalah, Mona tidak akan pernah tertarik padamu. Apa kau ingin bertaruh denganku?"
"Apa maksudnya?"
"Aku akan memberikan satu milyar padamu jika kau berhasil membuatnya bertekuk lutut ataupun bercinta denganmu." ujar Niko.
"Aku rasa itu bukan hal yang sulit, sayangnya aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Dia bukan wanita yang pantas dijadikan bahan taruhan."
"Ya, kau benar, karena itu jangan pernah mempermainkannya. Dia wanita yang aku hormati karena integritasnya." Jawab Niko. "Bukan hanya Lion, Mona juga ada dalam naunganku."
...***...
Prothos masuk ke ruangan dimana Lion dirawat. Sudah tak ada pengunjung lainnya karena jam berkunjung sudah selesai. Waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Prothos hanya menatap Lion yang sudah tertidur.
Lion membuka matanya saat merasa seseorang menatapnya dalam tidur.
"Niko menyentuh Melo dan kau diam saja? Apa kau benar-benar serius mendukungnya?" Tanya Prothos dan tak ada jawaban dari Lion. Lion hanya beranjak duduk. "Kau tidak usah berakting di depanku, aku tahu kau baik-baik saja."
Tak ada ucapan yang keluar dari mulut Lion. Dia hanya menatap Prothos dengan dingin.
"Berbuatlah sesuatu kalau tidak kau akan kehilangan Melo seutuhnya!!" Seru Prothos kesal. "Kalian akan berlibur kan? Aku yakin dia merencanakan sesuatu pada Melo. Kau harus menjaga adikku, Lion!!" Prothos mencengkram Lion dengan penuh amarah.
Prothos melepaskan cengkramannya karena merasa sia-sia mengatakan semua itu pada Lion. Pemuda itu masih saja bungkam dengan tatapan dingin padanya. Prothos mengerti karena Niko pun bilang kalau Lion juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa dengan berkata anjing penjaga adik kalian sudah jinak padaku.
Dengan sangat kesal Prothos mengusap-usap wajahnya. Dia sangat merasa kacau saat ini.
"Sepertinya aku pun juga harus membiarkan Niko menyentuh Melo, bagaimanapun mereka berdua akan menikah segera. Percuma saja aku datang kesini dan mengatakan apapun pada si bodoh ini. Kau benar-benar sudah jinak pada Niko."
Prothos melangkah pergi meninggalkan Lion yang tak berkata apapun pada dirinya.
Lion melihat kepergian Prothos dengan merubah ekspresi wajahnya. Yang semula menatap Prothos dingin, menjadi sendu dengan tangannya yang menyentuh bibirnya.
"Aku bukan anjing penjaga... aku petugas 911."
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......