MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
133. KETIGA SAUDARA KEMBAR



Jam tujuh malam, Prothos dan Mona sampai di salah satu café The Three Musketeers. Prothos tidak menggubris semua panggilan wanita-wanita pengunjung di café dan langsung masuk ke dalam ruang ganti bersama Mona dan Chino.


"Mona, buatkan aku makanan, ini sudah jadwal makan malamku." Seru Prothos pada Mona yang langsung meninggalkan ruang ganti.


"Oto, benarkah Ato sudah sadar?" Tanya Chino.


"Ya, dia sudah sadar." Jawab Prothos sambil duduk di sofa yang ada di ruang ganti. "Di mana Sandy, Chino?"


"Dia dan Wisnu sedang mengurusi bisnis lain yang Ato buat sejak kemarin lusa." Jawab Chino. "Dia memintaku bertanggungjawab mengurusi café yang ini."


"Kau tahu bisnis apa?" Tanya Prothos.


"Mereka merahasiakannya." Ucap Chino. "Kapan Ato akan kembali mengurusi café?"


"Entahlah, keadaannya masih belum pulih sepenuhnya. Aku juga ingin dia cepat pulih dan mengurusi café, aku sudah pusing mengelolanya." Keluh Prothos. "Aku jadi sudah lama tidak bersenang-senang."


Sehabis makan malam Prothos keluar dari ruang ganti dan menemui para pengunjung yang langsung melihat sosoknya dengan penuh semangat. Para wanita itu bahkan menghampiri Prothos yang merupakan idola mereka yang sudah lama tidak mereka temui.


"Oto, kenapa kau jarang ke café lagi? Kalian semua sangat jarang datang ke café."


"Bagaimana kabar Ato? Dia sudah sadar kan? Aku sangat ingin menjenguknya."


"Di mana Ars? Dia yang paling lama tidak pernah muncul lagi."


"Café ini jadi tidak asyik sejak kalian bertiga jarang datang."


Prothos hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka semua. Tidak mungkin dia menjawab satu per satu pertanyaan mereka semua. Mona yang sedang sibuk dengan urusannya di belakang meja kasir hanya melirik sebentar ke arah Prothos yang mulai berjalan ke arah piano yang biasanya dimainkan oleh Melody dengan langsung duduk di sana.


"Baiklah, untuk menghibur kalian semua, aku akan memainkan beberapa lagu untuk mengobati kerinduan kalian semua pada kami bertiga."


Keriuhan para wanita itu langsung terdengar dengan tepukan tangan kegembiraan. Prothos mulai menekan tuts piano dengan memainkan beberapa lagu yang sedang popular saat ini.


"Aku tidak mengira kalau dia bisa bermain piano juga." Ucap Mona.


"Kau benar, aku juga tidak tahu kalau dia bisa bermain piano." Jawab Chino yang sedang bersama Mona menghitung uang di meja kasir. "Kalau seperti ini, dia akan semakin banyak memiliki fans. Seharusnya dia menjadi selebritis."


Satu jam kemudian, Prothos dan Mona meninggalkan café setelah menyelesaikan semua urusannya.


"Kau akan pulang ke rumahmu, kan?" Tanya Prothos yang duduk di kursi belakang pada Mona yang menyetir. "Antarkan aku ke Grand Hevitt, kau bisa membawa mobilnya pulang. Tapi besok jam lima pagi tolong jemput aku lagi."


"Hotel?" Tanya Mona melihat Prothos melalui spion. "Hah, kau memang sudah kecanduan."


Prothos hanya tertawa mendengar perkataan Mona. Hubungan di antara mereka berdua memang semakin dekat setelah Mona bekerja di rumah Musketeers, namun hanya sebatas teman.


"Ato sudah sadar, aku juga harus melepaskan energi negatif di diriku." Ucap Prothos dengan senyum.


"Dengan bercinta? Ya ampun, suatu saat kau akan terkena penyakit kelamin." Ujar Mona tidak habis pikir.


"Sebelum itu terjadi aku ingin menikmatinya." Jawab Prothos dengan tawa. "Aku juga tidak bisa menolak saat ada wanita yang menawarkan dirinya padaku."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menjadi selebritis saja? Itu akan membuatmu mendapatkan banyak keuntungan, salah satunya mendekati para aktris cantik." Ujar Mona. "Kau juga tidak berniat melanjutkan pendidikanmu kan?"


"Untuk apa? Tanpa menjadi selebritis saja aku sudah bisa bercinta dengan mereka. Wanita yang akan aku temui ini salah satu penyanyi yang sudah lama terkenal." Jawab Prothos menyunggingkan bibirnya dengan angkuh.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah lulus nanti?"


"Entahlah. Aku juga belum tahu." Jawab Prothos melihat ke luar jendela. "Hentikan mobilnya!!"


Mona langsung menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah minimarket.


"Turunlah, belikan pengaman untukku."


"Aku?" Mona tidak percaya.


"Kau bekerja untukku kan? Ya jelas kau!!" Seru Prothos.


"Tidak ada kesepakatan kalau aku juga harus membelikanmu benda menjijikan itu!!" Protes Mona.


Namun pada akhirnya Mona tetap keluar mobil untuk membeli sesuatu yang diminta Prothos. Dengan sangat kesal gadis itu berjalan menuju pintu minimarket.


"BELIKAN DUA KOTAK YA!!" Teriak Prothos dari dalam mobil dengan jendela pintu mobil yang terbuka.


Mona semakin kesal mendengarnya. Gadis itu berjalan langsung menuju kasir dan mengambil dua kotak benda yang ada di rak meja kasir dengan wajah tertunduk menahan malu saat kasir pria menatapnya.


...***...


Tasya duduk di sisi ranjang rumah sakit di mana Athos berada di atasnya. Gadis itu terlihat sangat bahagia saat ini. Dia tidak mungkin meninggalkan kekasihnya itu malam ini, dan memilih menemani pemuda yang sangat dicintainya.


Athos mengangguk.


Tasya langsung menyentuh dada kiri Athos di mana dada itu merupakan bekas penusukan.


"Aku akan membacakan mantra agar ini cepat sembuh." Ucap Tasya.


Tasya memejamkan matanya dengan tangan kanan yang berada di dada kiri Athos. Athos tidak henti-hentinya menghilangkan senyuman dari wajahnya melihat tingkah kekasihnya itu.


"Apa sudah lebih baik?" Tanya Tasya setelah membuka matanya.


"Aku rasa seperti itu." Jawab Athos. "Mantra apa yang kau ucapkan?"


"Sebuah mantra cinta yang aku dapatkan dari cupid agar kau tidak merasakan rasa sakit pisau yang menusukmu lagi, melainkan merasakan panah cinta yang aku tancapkan ke jantungmu." Jawab Tasya dengan senyum yang ditahannya.


Athos tersenyum mendengar jawaban Tasya.


"Baiklah, saat melihat luka tusuknya, aku hanya akan mengingat panah cinta yang kau tancapkan padaku." Jawab Athos. "Lukanya tidak akan hilang seumur hidupku begitu juga dengan ada yang di dalam jantungku. Cintaku padamu."


...***...


Aramis yang sudah sampai di Berlin, Jerman, berada di rumah sakit di mana Anna sudah selesai menjalani operasinya. Saat ini gadis itu belum siuman karena pengaruh obat bius total dan masih berada di ruang ICU setelah operasi berjalan dengan lancar.


Pemuda itu pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruangan dan hanya bisa melihat Anna melalui jendela dari luar ruangan. Namun Aramis sudah cukup merasa lega karena Anna baik-baik saja dan operasinya berjalan dengan baik. Rasa rindunya juga sudah sedikit terobati dengan melihat wajah Anna walau belum bisa berada di dekatnya. Setelah Anna sadar, dia akan segera berada di sisinya lagi, itu yang dipikirkan Aramis.


"Excuse me, are you Aramis?" Tiba-tiba seorang perawat mendekati Aramis.


Aramis hanya mengangguk menjawabnya karena kemampuan bahasa Inggris-nya juga tidak terlalu bagus.


"Before the operation Miss Anna gave me this letter. She asked me to give it to you." Ujar perawat tersebut dengan menyodorkan sepucuk surat.


"Danke." Ucap Aramis berterimakasih.


Aramis menerimanya dan langsung duduk di kursi tunggu yang tidak jauh ada di sana setelah si perawat tadi meninggalkannya. Dia membuka suratnya untuk mengetahui apa yang ditulis Anna untuknya.


Kau memang meremehkan kemampuanku, Ars. Untuk apa kau datang ke sini? Kau tidak mempercayaiku? Pulanglah, aku yang akan kembali setelah semuanya baik-baik saja. Aku akan datang menemuimu setelah aku kembali mengingatmu.


Kau bilang kau akan mendengarkan semua perkataanku? Menangkan lomba melukis itu dan dapatkan beasiswanya. Aku tidak akan menemuimu lagi jika kau tidak mendapatkan beasiswa itu meski aku sudah mengingatmu. Aku akan lebih memilih para dokter di sini dari pada kembali pada suami payah sepertimu.


Kau tenang saja, aku akan mengingat semua perkataanku kembali. Aku akan mengingatmu dan segera kembali, kau hanya harus menungguku. Beri aku waktu sampai kau lulus kuliah, jika aku tidak kembali maka kau yang harus melupakan aku.


Aramis berjalan mendekati jendela ruangan Anna dirawat.


"Bagaimana bisa aku melupakanmu, gadis bodoh?!"


...–NATZSIMO–...


Baca cerita author yang lain juga ya.


Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.


❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤


Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......