
Melody menutup teleponnya setelah berbicara dengan ayahnya. Ia masih berdiri menunggu Aramis yang biasa menjemputnya. Gadis itu berdiri di depan gerbang sekolah.
Melody mengingat kembali perkataan Karen tadi. Semua yang dikatakannya itu menurutnya sudahlah sangat terlambat karena sisa satu hari lagi hingga dirinya dan Niko bertunangan. Semua sudah dipersiapkan, bahkan keluarga mereka juga sudah bertemu. Jadi sangatlah tidak mungkin dirinya membatalkan pertunangan itu hanya karena apa kata orang mengenai perasaan Lion padanya.
Bahkan jika Lion sekalipun yang memintanya, gadis itu tetap akan bertunangan dengan Niko karena dirinya tidak ingin Niko bersedih. Hal itu membuat Melody menjadi bersedih saat ini. Dia melakukan semua itu karena memikirkan Niko tapi kenapa Karen tadi berkata seolah-olah dirinya tidak pernah memikirkan orang lain?
Apa yang dia lakukan juga karena menuruti permintaan Lion diawal yang ingin agar dirinya membiarkan Niko mendekatinya. Tapi kenapa sekarang semua orang menyalahkan dirinya yang selalu bersikap dingin pada apapun?
"Sebenarnya apa salahku?" Tanya Melody pada dirinya seraya menghapus titik air mata di sudut kedua matanya.
Gadis itu menghela napas untuk menghilangkan rasa sedihnya. Dia tidak ingin memikirkannya lagi dan hanya akan menjalani semua yang sudah dia putuskan tanpa harus memikirkan perasaan yang sebenarnya dirinya rasakan. Dia akan menekan rasa itu hingga gadis itu bisa menerima Niko sepenuhnya.
"Kenapa kak Ars lama sekali? Biasanya dia datang saat aku belum keluar?" Gumam Melody sambil membuka handphone.
Gadis itu mencoba menghubungi Aramis untuk menanyakan posisinya karena dirinya sudah hampir setengah jam berdiri menunggunya di depan sekolah sedangkan sekolah semakin tampak sepi.
Teleponnya tidak diangkat, akan tetapi gadis itu mencoba untuk sekali lagi meneleponnya, namun tiba-tiba seseorang merampas handphone miliknya.
Melody menoleh ke orang tersebut yang langsung memasukan handphone gadis itu ke saku celananya. Melody terkejut siapa yang melakukannya, karena dirinya sangat mengenal orang itu. Orang yang menggoreskan pisau ke pundaknya, Bara.
Merasa dirinya terancam, Melody berusaha mundur beberapa langkah untuk masuk kembali ke sekolah akan tetapi Bara lebih dulu menarik lengan gadis itu.
"Lepaskan aku!! Mau apa kau?!" Seru Melody berusaha menarik lengannya dari Bara.
Sebuah mobil berhenti di depan mereka, dengan segera Bara memasukan Melody ke mobil dengan sedikit mendorongnya.
Di kursi belakang sudah ada seseorang yang langsung membuat Melody merasa keringat dingin saat melihatnya.
Pemuda yang sangat dikenal olehnya karena sudah memberikan rasa traumatik pada gadis itu setelah mencoba memperkosanya beberapa bulan lalu.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Melody." Sebuah senyum yang untuk Melody mengerikan diberikan Felix padanya.
...***...
Pesan yang diterima Lion membuat pemuda itu menjadi bingung saat ini. Dia mencoba menghubungi ketiga Musketeers namun seperti yang sudah dirinya kira, mereka bertiga tidak akan menjawabnya.
"Sialan, berengsek!!" Lion menggeram sangat kesal sedangkan Hansen hanya menatap pemuda itu karena tidak tahu apa yang terjadi.
Lion mencoba menghubungi Melody, cukup lama teleponnya tidak dijawab hingga akhirnya telepon itu diterima.
"Melon, kau di mana?" Tanya Lion dengan sangat panik.
"Aku sedang bersama dengannya, kau tidak perlu khawatir, Lion." Jawab seseorang di ujung telepon.
Mendengar suaranya saja Lion tahu siapa yang berbicara dengannya. Serasa darah naik ke kepala pemuda itu, raut wajah Lion langsung berubah marah.
"SIALAN!! APA RENCANAMU BERENGSEK?! KALI INI AKU AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHMU, FELIX!!" Geram Lion tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Ya, sepertinya aku akan bermain-main dengan boneka yang ada di dalam pembungkus kaca. Kali ini aku akan melakukannya." Terdengar tawa Felix mengejek Lion setelah itu teleponnya mati.
Lion menjadi semakin bingung saat ini. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa. Dia sudah berjanji pada Niko untuk tidak melakukan apapun lagi tapi yang terjadi diluar dugaannya.
"Niko, apa kau tahu yang direncanakan Liam? Jawab aku berengsek!!" Seru Lion tidak sabar ketika dirinya menelepon Niko dalam kebingungannya. "Aku tahu kalau kau juga tahu WizardLine adalah Liam, bahkan kemarin aku juga tahu dia berada di dalam lemari. Katakan padaku apa kau tahu apa rencananya?"
"Ada apa Lion? Kenapa kau panik?" Tanya Niko yang merasa aneh dengan Lion.
"KATAKAN SAJA PADAKU APA KAU TAHU SEMUA ITU?!" Teriak Lion semakin kesal.
"Aku tahu dia ingin melakukan sesuatu tapi aku tidak tahu apa rencananya." Jawab Niko.
"Sialan! Kau juga berengsek, Niko!! Aku tidak akan mengampuni kalian semua kalau terjadi sesuatu dengannya!!" Geram Lion. "Kau bilang akan menjaganya tapi kau malah bersikap seperti tidak peduli pada apa yang terjadi."
"Apa maksudmu?"
"Felix... bajingan itu menculik calon tunanganmu, sialan!! Seharusnya kau menjaganya, tapi bahkan kau terlihat tenang saat tahu Liam merencanakan sesuatu. Kalian semua berengsek!!"
"Lion, aku akan mencarinya. Melody akan baik-baik saja. Kau tidak perlu melakukan apapun. Aku yang akan menolongnya." Ucap Niko setelah itu menutup teleponnya.
Lion benar-benar bingung saat ini. Dia sangat mencemaskan Melody karena pastinya gadis itu sangat ketakutan ketika melihat Felix. Namun Niko baru saja memperingatkannya untuk tidak melakukan apapun.
Dengan sangat kesal Lion duduk dengan terus memikirkan keadaan Melody dengan penuh kecemasan. Pemuda itu terus menahan dirinya untuk tidak pergi mencari keberadaan gadis itu.
"Ada apa, Lion? Apa yang terjadi?" Tanya Hansen sangat penasaran.
"Mereka semua mempermainkan aku." Kesal Lion dengan wajah yang menegang karena menahan amarahnya saat ini. "Aku pasti akan membunuh mereka semua kalau gadis itu terluka."
Lion melihat handphone-nya lagi dan membuka aplikasi maps untuk mencari tahu keberadaan Felix membawa Melody. Tempat terakhir yang tertera di maps itu menunjukan kalau mereka berada di kawasan ruko dan perkantoran.
"Hans, di mana kunci motorku?" Tanya Lion menoleh pada Hansen yang sedari tadi menatapnya.
Hansen langsung memberikan kunci motor milik Lion. Secepatnya Lion menaiki motornya tersebut, dan melaju sangat cepat untuk mencari keberadaan Melody saat ini.
Pemuda itu tidak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak melakukan apapun. Rasa khawatirnya pada Melody tidak memedulikan kesepakatannya dengan Niko untuk tidak ikut campur atau pun melakukan sesuatu untuk gadis itu. Yang ada dipikirannya saat ini hanya ingin memastikan Melody baik-baik saja.
"Niko, aku baru saja mengirimkan lokasi terakhir di mana handphone-nya berada." Ujar Lion menelepon Niko. "Cepatlah kesana, aku tidak akan mengampunimu juga kalau terjadi hal buruk padanya." Suara Lion terdengar bergetar karena rasa cemasnya pada Melody.
Saat melajukan motornya dengan sangat cepat, Lion memikirkan betapa bodoh dirinya karena mengabaikan Felix yang dilihatnya kemarin. Selama ini Felix berada di Amerika di mana Liam juga berada di sana. Seharusnya dia bisa menduganya kalau Liam pasti menggunakan Felix dalam hal ini. Dia sudah tahu betapa gilanya sepupunya itu sehingga dia tidak akan memikirkan bagaimana kondisi Melody nanti dengan rencana yang dibuatnya.
Namun hal yang lebih membuat Lion marah mengenai ketiga Musketeers yang membiarkan Liam melalukan rencana itu dengan melibatkan Felix. Seharusnya mereka tahu kalau Melody sangat takut pada pria itu dan akan membuat traumanya semakin parah.
"Mona, berikan handphone-mu pada mereka." Di tengah perjalanan Lion menghubungi Mona untuk mengatakan sesuatu pada ketiga Musketeers yang tentunya tidak akan mereka jawab kalau dirinya menelepon ke handphone mereka.
Mona menuruti perkataan Lion dengan meletakan handphone-nya menggunakan pengeras suara ke meja makan di mana ketiga Musketeers sedang duduk di sana.
"KALIAN SEMUA SANGAT BODOH!! AKU PASTI TIDAK AKAN MENGAMPUNI KALIAN BERTIGA SETELAH INI!!" Kesal Lion setelah itu membuang earphone bluetooth yang dipakai di telinga kirinya karena sangat kesal. Pemuda itu bahkan menggeram penuh emosisambil menjalankan motornya sangat cepat.
Ketiga Musketeers yang mendengar ancaman Lion di telepon malah tertawa karena mereka tahu saat ini Lion sedang berusaha mencari Melody.
"Game over." Seru Liam yang berada bersama The Three Musketeers, duduk di sofa ruang tamu dengan tawa.
...–NATZSIMO–...