
Prothos dan Mona berhenti di sebuah rumah makan yang masih ada di daerah tempat Widia tinggal untuk makan malam. Karena mereka ada di kawasan laut sehingga tempat makan tersebut hanya memiliki menu makanan laut.
Mona yang alergi pada makanan laut tidak bisa makan di tempat makan tersebut. Prothos mengetahui hal tersebut walau Mona masih saja tidak mengatakan apapun mengenai alerginya itu padanya. Gadis itu membeli roti di toko kelontong dan memakannya sebagai makan malamnya.
Prothos yang masih merasakan rasa sedih di hatinya awalnya tidak berniat menyinggung masalah tersebut namun pada akhirnya pemuda itu tidak bisa menahannya lagi.
"Kenapa kau tidak ikut makan ini?" Tanya Prothos melirik Mona yang duduk dihadapannya. Saat ini dirinya sedang menyendok lauk ke piringnya.
"Aku sedang ingin makan roti." Jawab Mona setelah itu menggigit roti yang dipegangnya.
Prothos semakin merasa aneh pada Mona karena sekali lagi gadis itu tidak mengatakan padanya mengenai alerginya kepada dirinya.
Tiba-tiba handphone-nya bergetar, Athos menelepon. Dengan segera Prothos menjawab.
"Apa urusan kalian sudah selesai?" Tanya Athos. "Apa kalian sudah di jalan pulang?"
"Kami sedang makan malam, sehabis ini akan melanjutkan perjalanan pulang." Jawab Prothos. "Ada apa? Tumben sekali kau menelepon."
"Liam sudah datang." Ucap Athos.
"Benarkah?"
"Sebaiknya kalian menginap di hotel dan jangan berkendara saat malam. Delapan jam perjalanan kan? Itu sangat melelahkan, jangan biarkan Mona menyetir malam hari. Gadis itu sangat aneh, dia lebih suka lelah menyetir dari pada harus naik pesawat."
"Apa maksudmu?"
"Dia bilang dia takut naik pesawat. Apa dia tidak bilang padamu?" Ucap Athos. "Ya sudahlah, yang terpenting hati-hatilah di jalan, jangan memaksakan diri menyetir terlalu lama."
Prothos menatap Mona yang juga menatapnya setelah mengakhiri teleponnya dengan Athos. Lagi-lagi Mona tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada dirinya. Gadis itu tidak bilang kalau sebenarnya dirinya takut naik pesawat.
"Siapa? Apa salah satu keluargamu?" Tanya Mona.
"Ato. Dia menyuruh kita menginap di hotel dan tidak menyetir malam hari." Jawab Prothos meletakan handphone-nya ke meja.
"Tidak masalah, habis ini kita langsung jalan pulang saja." Seru Mona. "Aku harus sampai rumah sebelum waktu sarapan karena aku harus membuat sarapan."
"Baiklah."
...***...
Lampu kamar tidak dihidupkan Lion seperti kemarin-kemarin. Saat ini dirinya sedang menulis sesuatu di sebuah buku miliknya dengan cahaya lampu yang berasal dari lampu di meja belajar. Pemuda itu sudah tidak pernah menghidupkan lampu kamar, karena dia tahu kalau Melody sering berdiri di depan jendela kamarnya memperhatikan kamarnya.
"Masakan mister Sanzio masih seenak dulu." Seru Liam yang datang dengan langsung membuka pintu kamar Lion.
Lion segera menutup buku miliknya setelah kehadiran kakak sepupunya itu. Dia menoleh pada Liam dengan tatapan datarl.
"Gelap sekali. Kenapa kau tidak menghidupkan lampunya?" Tanya Liam yang langsung menekan saklar dan menghidupkan lampu kamar Lion
Adik sepupunya itu semakin kesal. Lion merasa sangat terganggu dengan kehadiran Liam di rumahnya walau tidak diperlihatkan olehnya.
"Matikan lampunya, Liam." Ucap datar Lion.
Bukannya melakukan apa yang diminta Lion, Liam malah berjalan mendekatinya dan memeluk Lion dari belakang punggungnya.
"Besok kau tidak sekolah kan? Ayo kita ke klub malam, El." Ajak Liam yang memeluk leher Lion yang duduk di kursi dari belakang. "Temani aku bersenang-senang di sini."
"Jangan bohong padaku." Ujar Liam. "Bahkan kau bisa masuk tempat apapun dengan mudah di negara ini, kan?" Liam melepas Lion dan menatap dekat wajah adiknya itu.
Lion bangkit berdiri dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Sedangkan Liam duduk di kursi yang tadi di duduki Lion dengan menaruh kakinya ke atas meja belajar menyilang.
"Pergilah, Liam. Jangan ganggu aku sekarang. Kau bisa pergi ke klub malam sendiri atau kau bisa mengajak Ars ke sana." Seru Lion walaupun dirinya tahu kalau Aramis juga tidak menyukai tempat seperti itu dan lebih suka ke tempat yang sepi seperti dirinya. "Atau aku akan memberikan nomer handphone salah satu temanku, kau bisa menghubunginya. Yang penting jangan ganggu aku sekarang."
"Kau adalah cahaya dan aku adalah bayangan ketika kau tidur. Mencintaimu seperti menari tanpa musik karena kau tidak pernah mencintaiku seperti yang aku mau." Liam membaca buku yang tadi Lion tulis.
Kekesalan Lion semakin menjadi. Namun dia hanya menoleh pada Liam yang membaca tulisan tangannya tanpa berusaha menghentikan ataupun merampas buku miliknya.
"Arrgh, ternyata kau memang sedang puber, El." Ujar Liam membuka-buka buku pribadi Lion. "Tapi itu sangat bagus, teruslah menuliskan semua yang kau rasakan agar perasaanmu menjadi lebih baik."
"Apa yang kau katakan? Aku membuatnya hanya untuk tugas sekolah." Jawab Lion dengan santainya.
"Ckckckck... kau masih tidak bisa mengerti juga, El. Seberusaha apapun kau mencoba berbohong padaku, itu mustahil. Aku satu-satunya manusia di dunia ini yang tidak bisa kau tipu dengan keahlian menipumu." Liam meletakan bukunya dan mencondongkan badannya menatap mata Lion yang berbaring. "Kau merasa kesal padaku, kan? Bola matamu bergetar saat ini, itu menunjukan kau menahan rasa kesal dengan rahang yang menegang. Tunggu dulu, kau tidak habis mengeluarkan air mata kan? Sudut matamu memerah" Liam melebarkan senyumnya di depan wajah Lion yang sangat dekat dari wajahnya. "Ternyata kau memang masih kecil, El, pantas saja gadis itu tidak pernah menganggapmu selama ini."
"Katakan sekali lagi dan aku akan melemparmu keluar dari negara ini!!" Seru Lion dingin.
...***...
Hujan turun dengan sangat deras ketika Mona menyetir dalam perjalanan pulang. Guyuran air hujan menambah pandangannya terbatas di malam hari.
"Sepertinya kita memang harus menginap di hotel. Sangat berbahaya jika menyetir dalam hujan seperti ini." Seru Prothos. "Seratus meter di depan ada hotel. Kita menginap di sana saja." Tatapan Prothos mengarah pada layar handphone-nya yang menunjukan lokasi hotel terdekat.
Mau tidak mau Mona menurutinya karena dirinyapun kesulitan melihat saat ini hingga hanya bisa melajukan mobilnya dengan lambat, untung saja mereka belum masuk ke jalan tol.
"Mohon maaf, hanya tersisa satu kamar dan itu hanya kamar bertipe standar dengan jenis double bed." Ujar Resepsionis di hotel berbintang lima tersebut.
"Sebaiknya kita cari hotel lain. Tidak mungkin kita berada di satu kamar kan? Cari saja hotel berbintang tiga atau penginapan biasa." Ujar Mona yang berdiri di belakang Prothos dengan berbicara agak berbisik.
Namun Prothos tidak mendengarkannya dan mengambil dompetnya dari saku celana lalu mengeluarkan kartu Identitas beserta kartu kredit miliknya.
"Tidak masalah." Jawab Prothos pada resepsionis.
Mona terkejut dengan keputusan Prothos yang tetap mengambil kamar tersebut untuk tempat mereka menginap.
"Kenapa kau tidak mendengarkan perkataanku?" Tanya Mona dengan kesal saat mereka berdua berjalan menuju lift. "Seharusnya kita mencari hotel lainnya. Kita juga bisa menginap di hotel biasa saja atau penginapan pinggir jalan kan, asalkan tidak sekamar?!"
Prothos menoleh pada Mona dengan tatapan kesal mendengar ocehan gadis itu.
"Hanya hotel ini hotel berbintang lima di daerah sini. Aku juga tidak akan mau menginap di hotel biasa karena kebersihan hotel tersebut tidak terjamin. Apa kau mengerti sekarang?" Tanya Prothos.
"Tapi hanya ada satu tempat tidur di kamar itu—"
"Ah, kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam padamu. Kau satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak akan pernah aku sentuh. Kau bisa memegang ucapanku itu."
...–NATZSIMO–...
Yuk di follow