MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
039. GADIS ITU ADALAH KAU



Anna memperhatikan kepalanya yang sedang disisir di depan cermin. Lalu melihat sisir yang terdapat rontokan rambutnya.


"Ini semakin banyak." Ucapnya.


Anna langsung bergegas mencari sesuatu di dalam laci meja belajarnya namun tidak menemukannya, lalu dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah topi hitam dengan tulisan huruf A di posisi paling atas. Dia kembali ke depan cermin sambil memakai topinya tersebut.


"Sebaiknya aku memakai ini terus."


"Anna!!" Panggil Aramis yang masuk ke dalam rumahnya.


"Mau apa si bodoh itu datang pagi-pagi begini?" Gumam Anna sambil berjalan keluar kamarnya. "Ada apa?"


"Kau mau kemana hari ini? Temani aku menyerahkan lukisannya."


"Aku mau ke sekolah, ada rapat setelah makan siang, dan klub basket wanita yang aku bentuk juga akan mengadakan sparing bersama sekolah lain. Oh iya, dimana Oto? Aku lupa bilang padanya, apa dia bisa menemaniku? Klub basketnya belum mempunyai pelatih, aku ingin dia sementara membimbing tim itu, mereka juga pasti akan lebih bersemangat kalau Oto membimbingnya." Anna berjalan menuruni tangga mendekati Aramis.


"Dia belum pulang, sepertinya dia menemui pacarnya." Jawab Aramis. "Kau selalu sibuk."


"Kenapa kau mengeluh tentang kesibukanku?" Tatap Anna kesal.


"Ya sudah aku pergi sendiri saja." Ucap Aramis. "Aku masih belum menemukan judul yang tepat untuk lukisannya. Bantu aku mencarinya."


"Ya nanti akan aku coba pikirkan." Jawab Anna.


"Tunggu sebentar, sepertinya aku tidak asing dengan topi itu." Seru Aramis. Aramis sedikit menjauh memperhatikan Anna dengan topi yang dikenakannya. "Astaga, apa itu kau? Aku pernah melihatmu di apotek seberang komplek rumah. Kau gadis yang aku pikir seorang pria, dan sedang flu, kau juga membeli obat untuk mimisan..." Aramis teringat sesuatu. "Ikutlah ke rumahku, ada yang ingin aku berikan."


Anna mengikuti Aramis ke rumahnya. Athos bersama Melody dan Tasya berada di meja makan sedang sarapan.


"Kau sudah sarapan, Anna?" Tanya Tasya.


"Sudah." Jawab Anna masih berdiri karena menunggu Aramis yang sedang berada di kamarnya.


"Kak Anna, kau terlihat sangat keren memakai topi itu. Sepertinya aku juga akan memotong rambutku sependek rambutmu." Ucap Melody dan mendapat tatapan larangan dari Athos.


"Kau tidak perlu memotong rambutmu, kau sudah keren dengan tatapan dinginmu, Melo." Jawab Anna.


"Aku setuju." Timpal Tasya tersenyum. "Tak ada yang bisa mengalahkan pancaran es yang keluar dari tatapanmu, Melody."


"Payung ini milikmu, kan?" Aramis turun dan memberikan payung berwarna merah pada Anna.


"Ini memang payung yang aku tinggalkan di apotek dulu." Jawab Anna terkejut. "Dari mana kau mendapatkannya?"


"Aku ada di sampingmu saat kau membeli obat di apotek itu." Ujar Aramis tidak percaya kalau saat itu gadis yang dikiranya seorang pria adalah Anna. "Aku mengejarmu untuk memberikan payungmu tapi kau sudah pergi dengan motormu, padahal waktu itu hujan sangat deras, kau juga tidak memakai jas hujan. Tidak aku sangka gadis bodoh itu adalah kau."


"Ah, iya aku ingat. Waktu itu aku datang ke rumahku itu sebentar untuk mengambil surat-surat ibuku yang ditinggal, dan juga menemui seseorang yang berniat membeli motorku."


Ketiga orang di meja makan hanya memperhatikan mereka berdua yang sedang berbicara mengingat sebuah kejadian yang sudah lama berlalu.


"Jika tahu itu kau, aku pasti akan langsung mengejarmu." Ujar Aramis terlihat kesal karena tidak menyadarinya gadis yang dia cari-cari sebelumnya sudah pernah ada di hadapannya. "Kenapa kau menaiki motor dengan tidak memakai jas hujan? Kau pun sedang flu waktu itu, bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu?"


"Itu sudah lama berlalu, untuk apa di bahas?" Gumam Anna berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi samping Tasya.


"Kau sangat ceroboh sekali. Kau itu wanita bukan pria, jangan seceroboh itu!!"


"Terus kalau seorang pria boleh seceroboh itu?" Pekik Anna kesal.


"Kalian ini kenapa selalu bertengkar saat berbicara?" Keluh Tasya sambil menutup telinganya karena posisinya dekat kedua orang yang sedang berseteru tersebut.


Athos hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kembarannya yang kesal pada wanita yang dicintainya.


"Ada apa denganmu, Oto?" Tanya Tasya yang langsung disuruh diam oleh Athos dengan memegang tangannya.


Prothos langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya tanpa memedulikan pandangan semua orang ataupun pertanyaan Tasya.


"Apa yang terjadi?" Tatap Aramis yang masih berdiri di belakang Anna, pada Athos.


"Biarkan dia sendiri dulu." Jawab Athos.


...***...


Lion yang masih tertidur di tempat tidurnya dibangunkan oleh suara handphone yang berada tidak jauh dari kepalanya. Saat ini baru jam delapan pagi dan dia baru saja tidur tiga jam yang lalu setelah semalaman bermain game.


"Siapa kau? Nomermu tidak ada di daftar handphone-ku. Kalau kau temanku pasti aku menyimpan nomermu. Aku masih anak sekolah jadi jangan tawarkan kartu kredit atau semacamnya, hapus saja nomerku segera." Racau Lion masih belum membuka matanya karena rasa mengantuknya masih menyerangnya.


"Lion, kau sudah putus dengan Melody? Kau menghapus nomerku?" Suara Sandra terdengar di ujung telepon.


Lion langsung membuka matanya terkejut. Dia juga merasa kesal karena mendapatkan telepon dari gadis yang selalu mengejar-ngejarnya itu.


"Kemarin aku bertemu dengan Melody bersama pria yang seperti vampir itu, dan mereka bergandengan tangan. Kalau begitu kau dan adiknya Musketeers sudah putus kan?"


"Lalu apa maumu lagi?"


"Ayo kita bertemu. Kau tidak punya pacar kan?" Tanya Sandra.


"Aku punya." Jawab Lion.


"Benarkah kalau begitu kenalkan pacarmu padaku segera."


"Tidak masalah, aku akan menghubungimu nanti."


Setelah itu Lion menutup teleponnya. Dia mulai berpikir bagaimana caranya menghindari gadis seperti Sandra. Dia mulai membuka daftar nama di handphonenya untuk mencari seseorang yang mungkin saja bisa dimintai bantuan olehnya.


Namun sayangnya dari ribuan nomer yang tersimpan di handphone-nya, satu-satunya nama seorang gadis yang tersimpan di handphone-nya hanya Melody saja, tersimpan dengan nama Es Melon. Lion memiliki kebiasaan menghapus nomer-nomer seorang gadis yang sudah tidak memiliki urusan dengannya ataupun tidak menyimpan nomer mereka karena tidak membutuhkannya.


"Apa aku minta bantuan Anna?" Pikir Lion. "Tampilannya yang seperti pria kurang meyakinkan. Arrrggghhh!! Padahal baru saja aku tidur nyenyak!!" Lion menjadi sangat kesal.


...***...


Seperti biasanya Athos sedang sibuk dengan kerjaannya setiap akhir pekan. Dia duduk bersama Tasya di meja makan, sedangkan Melody sedang memainkan piano yang berada tidak jauh dari meja makan. Dia memainkan sebuah melodi dari lagu yang diciptakannya sendiri.


Handphone Athos bergetar karena ada notifikasi pesan. Athos langsung membukanya.


Apa yang kau minta sudah ada, Ato. Temui aku satu jam lagi di tempat kemarin.


"Siapa?" Tanya Tasya yang duduk di sebelah kiri Athos.


Athos hanya tersenyum setelah itu mencium Tasya. Tasya sangat terkejut, walaupun Melody memunggungi mereka tetapi dia tidak mengira kalau Athos akan menciumnya saat ada adiknya di dekat mereka.


"Kenapa kau menciumku? Bagaimana kalau Melody menoleh?" Bisik Tasya menatap Athos heran.


"Aku akan mengantarmu pulang karena aku ada urusan sebentar. Nanti malam aku akan menjemputmu untuk makan malam." Ucap Athos memegang pipi Tasya.


Melody menoleh pada mereka namun secepatnya dia mengalihkan pandangannya lagi dan mencoba fokus pada tuts piano.


...–NATZSIMO–...