MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
168. RENCANA KEEMPAT PEMUDA



Lion berada di di pabrik tua biasanya, semakin lama puluhan pria berseragam datang mengisi tiap sudut pabrik tersebut.


Sebenarnya saat ini pemuda itu tidak ingin menemui mereka semua karena merasa dirinya tidak harus menganggap serius pesan yang diberikan oleh orang yang menyebut dirinya WizardLine. Namun semua teman-temannya yang tergabung dalam rumus pertemanan yang dirinya buat merasa hal itu sangatlah serius.


"Dengarkan semuanya, saat ini aku hanya ingin fokus pada ujianku, kalian semuapun juga harus fokus ujian. Tidak perlu memikirkan apa yang terjadi dengan website itu."


"Masalahnya bukan itu Lion, orang yang bernama WizardLine itu meremehkanmu." Seru salah seorang di antara banyaknya temannya.


"Kau tahu? Aku sudah terlalu sering mendapatkan pesan seperti itu. Bahkan aku juga sering mendapatkan pesan ancaman. Aku tidak pernah menggubrisnya." Ujar Lion yang berdiri di tengah-tengah para pemuda itu. "Kalian juga liat kan semua pesan itu tidak pernah terbukti padaku. Itu juga karena kalian semua berada bersamaku."


"Lalu apa kau tidak akan melakukan apapun?"


"Apa aku harus melakukan sesuatu? Tidak ada yang bisa aku lakukan sebelum ada yang terjadi. Lagi pula ini adalah urusanku, kalian tidak perlu ikut campur saat aku tidak meminta bantuan siapapun. Aku bisa mengatasi ini sendirian." Jawab Lion.


"Jangan begitu, Lion. Kau tidak perlu memintanya, kami akan tetap membantumu."


"Kalau seperti itu, itu sama saja kau meremehkan diriku." Jawab Lion mendengus. "Tidak perlu karena sampai seminggu lagi aku akan pergi, kalian tidak perlu mengkhawatirkan diriku."


...***...


Langkah perlahan Lion memasuki rumah Melody. Ketiga Musketeers dan kakak sepupunya yang duduk di kursi meja makan langsung menatap kehadirannya.


Mona yang baru saja mencuci tangan karena habis mencuci piring menoleh pada pemuda itu setelah ia merasa aneh ketika tidak lagi mendengar keempat orang mengobrol di meja makan.


Gadis itu merasa aneh karena keempat orang di meja makan hanya diam menatap Lion tanpa berkata apapun.


"Kau sudah makan malam, Lion? Kami baru saja selesai makan malam." Seru Mona yang masih berada di meja dapur.


"Mona tolong ambilkan Susu." Ujar Lion.


"Kau ingin minum susu? Astaga, kau masih saja—"


"Maksudku anak anjing itu." Potong Lion menjelaskan. "Aku akan membawanya pulang."


"Oh aku lupa kalau anak anjing itu namanya Susu. Kenapa bukan kopi, bulunya hitam... Kau aneh sekali." Jawab Mona kembali dengan kesibukannya di meja dapur. "Melo sedang memberinya Susu susu dikamarnya. Ya ampun, jadi terdengar aneh."


"Bisa minta tolong ambilkan Susu untukku?" Tanya Lion.


Keempat orang di meja makan hanya diam melihat pada pemuda itu saja, dan tidak bereaksi apapun. Untuk Lion saat ini mereka semua adalah musuhnya.


"Kau ambil sendiri saja, aku sedang sibuk, Lion." Mona tidak menoleh dan terus melakukan tugasnya.


Sejenak Lion menatap ketiga Musketeers dan Liam yang sekarang tidak menatap padanya. Pemuda itu tahu sikap mereka semua menjadi aneh karena ada sesuatu.


Di dalam kamar Melody sedang memberikan peliharaan Lion susu. Dia duduk di kursi meja makan dan menggunakan sebuah pipet untuk memasukkan susu langsung ke mulut anak anjing itu. Sedangkan kucingnya Mimi yang ada di atas meja belajarnya tampak tidak peduli dengan terus menutup matanya dan sedang tidur.


Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketuk.


Melody merasa aneh karena tidak ada jawaban dari orang yang membuka pintunya yang dirinya kira adalah Mona. Gadis itu menoleh ke arah pintu dan cukup terkejut melihat Lion berdiri di ambang pintu dan hanya diam saja.


"Aku ingin membawanya pulang." Ucap Lion tanpa melangkah masuk.


"Tunggu sebentar, Susu masih lapar." Jawab Melody masih memberikan susu pada anak anjing itu.


"Tidak apa-apa, aku akan memberinya di rumah." Ujar Lion.


"Baiklah, Susu. Sekarang kau harus kembali pada Lion." Ucap Melody pada Susu dan mengecup anak anjing itu dan langsung beranjak dari duduknya menuju pintu. "Dari mana kau mendapatkan anak anjing ini?" Tanya Melody yang berdiri berhadapan dengan Lion dan masih belum memberikan Susu padanya.


"Temanku yang memberikannya. Induknya mati saat melahirkan anak-anaknya." Jawab Lion.


"Kasihan sekali kau, Susu." Melody mengangkat Susu dan berkata begitu menatap anjing kecil itu. "Baiklah, kau harus menjaganya dengan baik. Dia masih terlalu kecil, dan sebaiknya kau tidak mengajaknya ke sekolah."


Melody memberikan anak anjing itu pada Lion.


"Ya, baiklah." Ucap Lion setelah itu berbalik pergi.


Melody menutup pintu kamarnya setelah Lion pergi dari kamarnya. Ia membuang napas dan kembali duduk di kursi tadi. Melihat Lion datang ke kamarnya membuat dirinya sangat berdebar-debar meski begitu dia terus memperlihatkan sikap biasanya pada pemuda itu.


Ditambah melihat perubahan sikap Lion yang sangat signifikan membuatnya semakin bingung harus bersikap padanya seperti apa. Tidak mungkin ia bisa berkata seperti biasanya dengan ketus ataupun dingin padanya lagi sekarang. Bahkan tadi Lion hanya diam saja setelah membuka pintu kamarnya, jika biasanya pemuda itu akan mengoceh hal tidak jelas pada gadis itu.


"Kami sudah tidak seperti dulu lagi." Guman Melody menatap topi singa yang ada di meja. Topi itu topi yang diberikan Lion padanya sewaktu di kebun binatang sabtu kemarin. "Kau membuatku merindukan dirimu yang lama, Lion."


Lion menuruni tangga dan semua mata langsung menatap padanya. Keempat pemuda yang ada di meja makan dan Mona yang masih berdiri di dapur.


"Aku tahu apa yang kalian coba lakukan." Ucap Lion kepada keempat orang yang langsung tidak menatap padanya. "Jangan melakukan apapun sekarang, semua sudah sangat terlambat. Aku juga tidak membutuhkan bantuan siapapun."


"Kau bicara apa, Lion?" Tanya Mona menoleh dan menatap aneh pada pemuda yang berdiri tidak menghadap pada mereka semua.


"Seseorang mengobrak-abrik website itu, dia menyebut dirinya WizardLine yang tidak lain adalah William, bukan begitu Liam? Itu ulahmu, ah tidak... maksudku itu ulah kalian berempat. Aku tidak akan melakukan apapun mau kalian merencanakan sesuatu hal yang buruk sekalipun." Ujar Lion tidak menatap pada siapapun. Dia hanya memandang lurus ke depan. "Jadi jangan merencanakan apapun lagi karena semuanya sudah sangatlah terlambat."


Lion melangkah keluar dari rumah itu dan menuju ke rumahnya.


"Kalian merencanakan apa? Apa maksud dari yang dikatakannya itu?" Tanya Mona pada keempat pemuda di meja makan.


Bukannya menjawab ketiga Musketeers dan Liam malah tertawa. Mona hanya bisa menggeleng heran pada mereka sambil berjalan pergi dari sana.


Sepulangnya dari rumah Melody, Lion yang berada di kamarnya dalam keadaan gelap, membaringkan tubuhnya dan meletakan Susu di depan wajahnya. Pemuda itu menatap sahabat barunya itu dengan muram.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Aku sudah tidak akan melakukan apapun lagi. Ya, aku tidak akan melakukannya walau apapun yang mereka rencanakan. Kau dengar kan, Susu?" Ucap Lion sambil mengelus Susu.


...–NATZSIMO–...