MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
187. KALIAN BERTIGA TIDAK PERLU KHAWATIR



Satu hari sebelum keberangkatan Lion...


Melody merasa takut jika memikirkan hari esok, hari dimana keberangkatan Lion. Dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Lion namun dia ingin kaki Lion dapat sembuh total sehingga Lion bisa melakukan apa yang disukainya. Hanya saja dia merasa sedih karena hingga sampai saat ini mereka belum bertemu dan mengatakan apa yang ingin dirinya katakan pada Lion. Gadis itu tidak tahu harus bagaimana.


Sejak sarapan Melody hanya berdiam diri di kamar dengan tirai jendela yang selalu dia tutup sejak kemarin sedangkan saat ini sudah hampir memasuki jam makan siang. Rasa bingung ataupun sedih menghinggapi dirinya. Melody ingin menemui Lion namun gadis itu masih tidak tahu apa yang ingin dia katakan padanya.


Dirinya tidak mungkin meminta Lion untuk tidak pergi karena Melody ingin kakinya yang patah segera sembuh, tapi dia juga tidak bisa meminta Lion untuk segera kembali. Hingga saat ini mereka berdua hanya bersahabat seperti sebelumnya.


Sedangkan besok Lion sudah berangkat pergi. Lion yang tidak menghubunginya juga membuat gadis itu menjadi semakin bingung. Pada dasarnya Melody berharap Lion menghubunginya sebelum keberangkatannya, setidaknya untuk mengatakan salam perpisahan atau apapun juga boleh. Itu yang diinginkan gadis tersebut.


...***...


Di meja makan ketiga Musketeers seperti biasanya berbincang sambil menunggu Mona menyiapkan makan siang untuk mereka karena saat ini adalah jam makan siang.


"Kapan ayah akan pulang?" Tanya Athos pada Aramis yang mengantar ayah mereka ke bandara tadi pagi.


"Sekitar minggu depan katanya." Jawab Aramis. "Besok siang setelah mengantar Lion aku akan pergi untuk mengikuti makan malam perlombaan dan selama tiga hari akan mengikuti acara lomba melukis itu. Kau akan menemani Melo besok kan, Ato?"


"Ya tentu saja." Jawab Athos. "Bagaimana denganmu besok, Oto? Apa pemotretannya akan sampai malam?"


"Aku harap tidak." Jawab Prothos langsung meminum susu kotak satu liter.


"Jangan minum susu sebanyak itu. Kau akan gemuk!" Seru Mona sembari membawa makanan yang sudah siap dia masak. "Apa Melo belum bertemu dengan Lion?" Mona agak berbisik bertanya pada ketiga Musketeers.


"Kalau sudah Melo tidak akan mengurung diri terus dan jadi semakin pendiam. Bahkan dia tidak berkata apapun sejak kabar Lion mau pergi ke Amerika." Ujar Prothos.


"Apa yang di pikirkan Lion? Seharusnya dia menemui Melo. Atau aku akan menyuruh Melo menemuinya saja." Kesal Mona sambil duduk di salah satu kursi di meja makan.


"Tidak! Aku tidak ingin Melo yang menemuinya!!" Athos terlihat tidak setuju dengan menatap tajam, terlihat wajah marahnya saat ini.


Saat yang bersamaan Melody turun dari tangga hendak makan siang bersama dengan yang lainnya. Gadis itu tidak berkata apapun dan hanya langsung duduk di salah satu kursi.


"Melo, kami semua akan pergi melihat café nanti. Kau bisa di rumah sendiri?" Tanya Athos.


Kedua kembarannya dan Mona langsung menatap pada Athos karena yang sebenarnya mereka semua tidak akan kemanapun, namun tidak ada yang berkata untuk memprotesnya.


"Paman dan kakek ada kan?" Tanya Melody.


Saat yang bersamaan, Ronald menuruni tangga setelah menutup teleponnya dengan wajah yang terlihat tidak baik.


"Ars, terjadi sesuatu pada Anna." Ucap Ronald seketika Aramis bangkit berdiri dengan wajah penuh dengan kecemasan. "Aku akan ke Jerman sekarang juga. Besok lombamu kan? Tetaplah di sini. Dia pasti akan baik-baik saja."


Melody yang duduk di samping Aramis memegang lengan kakaknya itu agar tidak terlalu memikirkan kondisi gadis yang sangat dicintainya. Sedangkan yang lainnya tampak terkejut dengan kabar yang diberitakan Ronald.


...***...


Athos bergegas ke rumah Lion. Saat dia membuka pintu kamar Lion, Lion sedang duduk di sofa yang dekat dengan beranda kamarnya. Tatapannya pada jendela kamar Melody yang tirainya tidak pernah terbuka lagi. Athos tahu kalau saat ini pun Lion merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan Melody. Tapi dia berpikir kalau mereka berdua tidak melakukan sesuatu atau mengatakan bagaimana perasaan mereka yang sesungguhnya maka semuanya akan tetap sama, membeku seperti es.


"Kenapa kau diam saja!!" Seru Athos masuk ke dalam kamar Lion dan menutup pintunya. Lion menoleh padanya. "Apa yang kau lakukan disini?!" Tatap Athos.


Lion terkejut melihat raut wajah Athos yang tidak seperti biasanya. Dia tahu kalau Athos sedang marah.


Athos berjalan mendekati Lion lalu mencengkram Lion dengan kasar.


"Aku minta kau bertanggungjawab karena membuat Melo seperti sekarang ini!!" Geram Athos sangat marah menarik Lion yang hanya diam saja walau kakinya terasa sakit. "KENAPA KAU DIAM SAJA?" Teriak Athos melepaskan Lion sehingga Lion terjatuh ke sofa kembali.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Lion dengan suara yang terdengar seperti bisikan. Dia tertunduk karena bingung harus bagaimana. "Ato, katakan padaku aku harus bagaimana? Aku juga tidak ingin berpisah dengannya tapi keadaan memaksa semua itu terjadi."


Amarah Athos mereda setelah mendengar ucapan Lion. Dia pun mengerti mengenai perasaan bingung Lion.


"Temui dia dan katakan semua yang ingin kau katakan! Tapi aku mohon padamu, jangan berjanji apapun padanya jika pada akhirnya kau tidak akan menepati janji itu!!" Ucap Athos memandang Lion yang tampak bingung. "Jika nanti Melo menjadi murung seperti sekarang ini, aku akan menunggumu di neraka!! Kau mengerti!!"


Lion bangkit berdiri dengan bantuan tongkat setelah Athos meninggalkan kamarnya. Dia berjalan keluar ke beranda kamarnya. Menatap jendela kamar Melody.


"Seharusnya aku tidak terlalu mengebut kemarin hingga kakiku seperti ini. Karena terlalu bersemangat ingin menemuimu, aku sampai lebih mengebut dari biasanya, Melon." Gumam Lion.


Lion menghela napas dengan dalam. Besok dirinya sudah akan pergi, jadi ini kesempatan terakhirnya untuk menemui gadis yang dicintainya itu.


"Kalian bertiga mengancamku seperti itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Lion. "Tapi karena kalian aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan. Kalian sudah memberikan dan mempercayakan harta berharga kalian padaku, jadi kalian bertiga tidak perlu khawatir. Aku akan menjaganya seperti yang selama ini aku lakukan, dengan begitu aku akan bisa menghancurkan kalian bertiga saat waktunya nanti." Kata Lion sambil berjalan masuk kembali ke ruang kamar.


...***...


Satu jam yang lalu ketiga kakaknya dan Mona pergi ke café meninggalkan Melody sendirian. Walaupun ada kakeknya tetapi kakeknya itu lebih sering berada di kamar untuk istirahat. Sebenarnya gadis itu sedikit merasa aneh ketika mereka semua memutuskan pergi bersama tanpa mengajak dirinya. Namun dia berpikir harus ada yang di rumah bersama kakek.


"Mimi, ini sudah hampir malam, besok Lion pergi. Tapi kami belum berbicara apapun lagi. Aku harus bagaimana? Apa aku menemuinya saja sekarang?" Melody duduk di kursi meja belajar sambil mengelus Mimi yang berada di pangkuannya. "Ya, aku akan menemuinya sekarang."


Melody bangkit dari duduknya dan langsung bergegas keluar kamar. Dengan langkah cepat dia menuruni tangga. Akan tetapi ketika berada di ambang tangga, pintu rumahnya terbuka.


Hatinya langsung kelu dan punggungnya terasa memanas saat melihat seseorang yang ingin dirinya temui lebih dulu datang menemuinya.


Mereka berdua bertatapan karena sama-sama terkejut.


...–NATZSIMO–...