
"Kau membuat pakaianku basah, Niko." Hanya kalimat itu yang terpikirkan oleh Melody agar Niko melepaskan dirinya dari pelukan.
"Tetap saja kau masih memikirkan pakaianmu." Niko tertawa kesal menatap Melody.
"Anginnya sangat kencang, kita berdua akan sakit kalau terlalu lama di--" Ujar Melody berbalik hendak pergi.
Melody menghentikan ucapannya lagi dan mematung karena Niko menggapai tubuhnya dari belakang dan sesuatu terasa di leher kirinya. Niko benar-benar melakukannya lagi, dia menggigit leher kiri Melody dan kali ini rasanya lebih sakit dari kemarin.
"Ya, Key." Ucap Lion menjawab telepon Karen. Lion masih memperhatikan dari kejauhan Melody yang bersama Niko.
"Kau dimana?" Tanya Karen di ujung telepon. "Kau sedang apa?"
"Aku sedang bermimpi. Aku harap seperti itu." Jawab Lion.
"Kau ingin aku ke sana?" Tanya Karen lagi.
"Tidak usah. Aku akan kembali."
Lion beranjak dari tempatnya dan berjalan pergi setelah menerima telepon dari Karen.
"Hentikan, Niko!!" Seru Melody sedikit meronta karena gadis itu merasa kesakitan. Namun Niko tidak menghiraukannya dan terus menggigitnya. "Sakit..." Singis Melody.
Akhirnya Niko melepaskan Melody. Gadis itu berbalik dan mundur beberapa langkah menghindari Niko dengan rasa sakit di lehernya.
"Kali ini bekasnya akan lebih lama menghilang." Ujar Niko dengan tatapan dingin. "Biarkan aku melakukannya agar aku tidak marah padamu."
"Aku harap ini yang terakhir." Jawab Melody dengan air mata yang mengalir karena rasa sakit dan ketakutannya pada Niko. "Ini terasa sakit, kau tidak boleh menggigitku lagi. Aku mohon padamu."
"Tidak, sudah aku bilang jangan melarangku untuk hal ini." Ujar Niko sambil berbalik dan berjalan pergi. "Setidaknya biarkan aku melakukannya kalau tidak ingin aku menciummu."
Melody berdiri di pinggir pantai sambil menangis. Selain karena rasa sakit dan ketakutannya pada Niko. Gadis itu melihat Lion yang diam saja saat Niko menggigitnya, ditambah Lion malah pergi meninggalkan dirinya yang tidak bisa berbuat apapun pada Niko.
"Ini semakin menyakitkan." Lirih Melody.
...***...
"Key, aku sangat mengantuk." Ucap Lion.
Karen melihat Lion dan tahu saat ini pemuda itu sedang bersedih.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti." Jawab Karen dengan tersenyum.
Lion berbalik dan langsung berjalan pergi lagi.
"Aku memang cocok menjadi pendongeng." Gumam Karen membuang napas melihat Lion yang pergi.
...***...
Melody masuk ke kamar di mana Karen berada. Gadis itu masih merasa sedih tetapi dia menahan air matanya agar tidak keluar.
"Ada apa, Mel?" Tanya Karen menghampiri Melody.
Karen tahu kalau Melody habis menangis. Melody tidak berkata apapun dan duduk di sisi tempat tidur sambil mengusap-usap lehernya yang sedikit nyeri. Karen melihat warna yang lebih gelap dari sebelumnya di leher Melody.
"Niko melakukannya lagi padamu?" Tanya Karen membuat Melody kembali mengeluarkan air mata.
"Aku ingin pulang." ucap Melody.
"Tenanglah, Mel." Ucap Karen mengusap punggung Melody. "Seharusnya tadi aku menemanimu. Maafkan aku. Pantas saja dia seperti itu, dia pasti kesal pada dirinya yang tidak berbuat apa-apa."
"Karen, apa yang kau katakan?" Tanya Melody menatap Karen karena tidak mengerti perkataannya.
"Mel, kita jangan pulang dulu ya. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi." Ucap Karen tersenyum.
...***...
Lion sedang memanjat tebing dengan sebuah pengaman dan senter yang ada di helm yang dipakainya. Earphone bluetooth juga terpasang telinganya karena saat ini pemuda itu memanjat tebing sambil menelepon temannya, Ivan.
"Bagaimana sidangnya?" Tanya Lion sambil mencoba memanjat.
"Ars mengikuti kata-katamu dengan membuat semuanya semakin dramatis." Jawab Ivan di telepon. "Kau tampak tenang sekali, Lion. Apa semua berjalan dengan baik pada Ato?"
"Bagaimana ya, firasatku bagus mengenai hal itu." Jawab Lion sambil melangkahkan kakinya menaiki batu.
Ivan tertawa mendengar perkataan Lion. "Saat kau bilang firasat, aku tahu sesuatu sudah terjadi."
"Tidak tidak. Kau tidak tahu apapun." Tawa Lion menengadah untuk mencari pijakan. "Besok Ethan mengundang kami ke ulang tahun tunangannya, apa kira-kira dia sudah tahu dengan situasi sepupumu?"
"Jangan bilang begitu. Aku lebih suka sepupumu dibandingkan kau, Ivan." Jawab Lion. "Dia itu ciuman pertamaku." Gurau Lion diiringi tawa.
"Aku doakan kau agar segera menjadi gay sungguhan." Seru Ivan.
Lion hanya tertawa sambil tangannya meraih celah untuk naik dan memindah kaki kanannya ke bagian atas namun saat kaki kirinya mengambil posisi di atas, dia terpeleset dan jatuh, untungnya pemuda itu memakai tali pengaman sehingga dia tidak terjatuh ke bawah dari jarak dua puluh meter.
"Sialan, padahal aku sudah hampir sampai." Kesal Lion diiringi erangan marahnya.
Ivan mendengarnya tertawa keras di ujung telepon.
"Aku berharap kalau kau tidak pakai tali pengaman, Lion. Biar tak ada lagi manusia aneh yang menyusahkan aku di dunia ini." Ejek Ivan.
"Semua ini justru karena tali pengaman yang aku pakai. Kalau aku tidak memakainya aku sangat yakin sudah sejak tadi aku sampai di atas." Ujar Lion masih tergantung di tali pengaman. "Siapapun akan merasa santai dan tidak melakukan apapun dengan serius saat dia tahu kalau dia akan baik-baik saja ketika gagal. Ini sangat menjengkelkan. Aku akan ulangi dan tidak akan aku pakai tali pengaman sialan ini."
Ivan semakin tertawa mendengar rasa kesal Lion.
"Kabari aku jika kau jatuh ya. Aku sudah siap mengabarkan berita duka itu pada semuanya." Ujar Ivan dengan gelak tawa.
"Berengsek kau!!" Seru Lion kesal sambil melepas earphone-nya dari telinganya.
Lion turun dari ketinggian dengan kesal dia melepas tali pengaman yang terpasang di tubuhnya.
"Sialan, karena ciuman itu dia menjadi sangat marah dan melakukan hal itu berkali-kali padanya!!" Racau Lion sambil melepas body harness yang dikenakannya dengan kesal. "Ini sangat menjengkelkan, siapa yang tidak marah jika gadisnya mencium pria lain? Hanya orang bodoh yang tidak berbuat apapun saat gadis yang disukainya disentuh pria lain!! Psikopat bodoh!!"
"Kau kenapa, Lion?"
Lion terkejut saat seseorang menghampirinya. Dia segera menoleh ke belakang setelah melepas semua atribut keselamatan yang dikenakannya.
"Ethan?" Ujar Lion langsung memberikan salam pelukan pada temannya itu. "Kenapa kau disini? Bukannya kau sangat sibuk setelah memajukan acara ulang tahun tunanganmu besok?"
"Ada yang bilang kau di sekitar sini, jadi aku datang menemuimu." Jawab Ethan, pria itu berusia 25 tahun dan merupakan pewaris dari keluarga terkaya di pulau tersebut. "Kau terlihat kesal? Ada apa?"
"Terimakasih ya, Bram." Seru Lion pada orang yang menyewakan panjat tebing itu pada Lion. "Aku kesal karena tidak berhasil memanjat sampai atas, semua itu karena aku memakai atribut pengaman." Jawab Lion yang berjalan bersama Ethan di sampingnya.
"Aku dengar Niko akan bertunangan dengan adik sahabatmu, Lion. Apa itu benar?" Tanya Ethan. "Kalau kau membutuhkan bantuanku bilang saja, keluargaku masih punya utang budi padamu setelah kau menyelamatkan adikku."
"Sudahku bilang itu bukan utang. Aku hanya mencarikan adikmu pendonor saja, dan kebetulan salah seorang temanku sumsum tulangnya cocok dengan adikmu." Jawab Lion. "Tidak ada utang di antara teman."
"Banyak yang tidak mengira kau masih 15 tahun, dengan banyak hal yang bisa kau lakukan." Ujar Ethan.
"Heh, aku sudah 16 tahun." Seru Lion kesal.
"Kau sudah punya pacar? Kalau belum aku akan bilang pada orang tuaku untuk menjodohkanmu dengan adik bungsuku yang sudah kau selamatkan."
"Aiiishh, adikmu yang itu baru berusia 13 tahun kan? Dia masih sangat kecil." Gumam Lion. "Ethan, adikmu yang bernama Emma apa besok akan ada di acara itu?"
"Emma? Aku tidak tahu, dia sibuk karena ujian kelulusan. Dia pun merasa kesal saat aku memajukan acaranya. Apa kau memilih adikku yang itu?"
"Kau bisa membantuku?" Tanya Lion.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......