MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
131. AKU ADALAH RAJAWALI



"Ars sudah pergi ke Jerman, akhirnya dia memutuskan hal yang benar. Setidaknya dia berada di sana menemani Anna, wanita yang dicintainya." Ucap Prothos pada Mona yang duduk di hadapannya setelah sarapan.


"Aku tidak mengira kalau Ars mempunyai gadis yang dicintainya." Jawab Mona. "Setidaknya dari kalian ada yang berjuang untuk cintanya."


Prothos sempat tersenyum skeptis mendengar sindiran Mona. "Lion yang memintanya pergi." Ujar Prothos. "Ato juga berjuang untuk cintanya walau pada akhirnya sia-sia."


"Tidak ada yang sia-sia." Jawab Mona. "Kau selalu berpikiran buruk pada apapun."


"Ya, kau benar. Aku tidak suka berpikiran baik pada apapun karena itu akan lebih menyakitkan jika yang terjadi sebaliknya." Jawab Prothos dingin.


"Aku kasihan padamu." Ucap Mona membuat Prothos mendengus mendengarnya.


"Temani aku ke rumah sakit nanti. Surat kematian Ato akan dikeluarkan, setelah itu temani aku ke persidangan, sehabis itu aku akan menemanimu keliling café untuk mengambil pemasukan café." Ujar Prothos.


"Biar aku saja yang keliling café, kau ke rumah sakit dan persidangan saja." Jawab Mona. "Biar tidak memakan banyak waktu."


"Aku membutuhkanmu untuk menyetir, rasanya akan sulit jika aku menyetir sendiri saat kembaranku dinyatakan meninggal. Apa lagi kembaranku satunya tidak ada di sini."


Mona terdiam karena melihat raut wajah yang sedih pada wajah Prothos. "Baiklah." Jjawabnya.


"Mona, apa kau lihat di mana Mimi?" Tanya Melody menuruni tangga. "Dia tidak ada di kamarku."


"Setelah memberinya susu tadi pagi aku tidak melihatnya lagi. Apa sudah mencarinya di taman belakang?" Jawab Mona beranjak berdiri. "Aku akan coba cari di sana."


"Melo, kau akan bersama Niko ke rumah sakit nanti kan?" Tanya Prothos.


Melody mengangguk menjawabnya, gadis itu kembali mengeluarkan air matanya karena merasa bersedih.


"Jangan menangis lagi." Peluk Prothos menenangkan adiknya.


...***...


Lion tersentak kaget hingga bangun dari tidur ketika sesuatu melompat ke perutnya. Dia dikejutkan oleh makhluk berbulu berwarna putih yang sudah tidur di atas perutnya dengan melihat padanya.


"Milk?" Tatap Lion heran ketika melihat kucing Melody ada di sana. "Dari mana kau masuk?"


Lion beranjak turun sambil menggendong Mimi yang tampak akrab dengannya. Dia menghampiri pintu beranda yang terbuka sedikit karena tidak terkunci.


"Bagaimana bisa kau menggeser pintunya?" Tanya Lion heran. "Pulanglah, dia pasti mencarimu."


Lion membuka pintu beranda kamarnya dan berjongkok untuk meletakan Mimi di sana. Ketika dia menengok ke arah jendela kamar Melody, gadis itu berdiri melihatnya dari dalam kamarnya.


Lion bangkit berdiri menggendong Mimi lagi dengan membuang napas.


Setelah itu, Lion berjalan meninggalkan rumahnya sambil membawa kucing Melody menuju rumahnya untuk mengembalikannya langsung pada pemiliknya. Melody sudah menunggunya di teras rumah.


Tanpa kata Lion menyodorkan Mimi pada Melody yang langsung mengambilnya. Lion langsung berbalik untuk kembali pulang ke rumahnya.


"Lion." Panggil Melody. "Kau akan pindah saat kenaikan kelas?"


Pertanyaan Melody membuat Lion berbalik ke arahnya. Namun tak ada kata yang diucapkannya, dia hanya mengangguk menjawabnya, setelah itu berbalik lagi dan berjalan meninggalkan rumah Melody. Melody hanya melihat pemuda itu berjalan pergi memunggunginya.


"Dia benar-benar merubah sikapnya padaku." Gumam Melody merasa sedih.


Lion kembali masuk ke kamarnya dan menghempaskan dirinya ke tempat tidur. Dia ingin kembali tidur dengan menutup matanya namun sangat sulit masuk ke alam mimpinya setelah melihat Melody tadi. Dia segera beranjak duduk dengan membuang napas lagi.


"Dia bahkan tidak mencoba menghentikan aku." Gumam Lion.


...***...


"Kau baik-baik saja?" Tanya Niko menoleh ke arah Melody yang duduk di sebelah kirinya di dalam mobil di kursi belakang.


Melody dan Niko dalam perjalanan ke rumah sakit untuk melihat Athos. Melody masih terus mengeluarkan air mata merasa sangat bersedih pada kakak tertuanya yang akan dinyatakan meninggal hari ini.


Niko hanya bisa memegang tangan Melody dengan tangan kirinya untuk memberikan dukungan pada gadis itu.


Sesampainya mereka di rumah sakit, semua anggota keluarga sudah berkumpul kecuali Aramis yang sudah dalam perjalanan menuju Jerman untuk menemui Anna.


"Kami juga akan melepas alat ventilatornya." Ujar dokter.


Melody terus menangis di rangkulan sang ayah ketika dokter melepas alat ventilatornya bersama beberapa perawat.


"Waktu kematiannya 14:15 WIB." Ucap dokter setelah melepas mesin ventilator dari Athos dan melihat jam tangannya.


...***...


Robert Praja Janitra, ayah Tasya yang merupakan seorang presiden direktur di perusahaan yang ia bangun sendiri duduk di dalam ruang kerjanya di dalam rumah.


Asisten kepercayaannya, Benny masuk ke ruangan kerjanya membawa sebuah kotak besar. Presdir melihat kehadirannya dengan tatapan bingung pada apa yang dibawanya.


"Apa yang kau bawa, Ben?" Tatap Presdir.


"Seseorang mengirimkannya untuk anda." Jawab Benny meletakkan kotak besar tersebut di hadapan tuannya. "Oh iya Presdir, pemuda itu sudah dinyatakan meninggal. Dokter sudah mengeluarkan surat kematiannya."


"Tidak seharusnya anda tertawa Presdir." Ujar Benny.


"Maafkan aku." Ucap Presdir dengan sebuah senyum tersungging di bibirnya. "Apa isi kotak ini?"


Tiba-tiba Tasya masuk bersama ibunya, Tasya terlihat sangat marah pada ayahnya. Kesedihannya kehilangan Athos membuatnya semakin membenci ayahnya.


"Dengar papa, aku tidak akan mendengarkan apapun semua perkataanmu lagi. Aku tidak akan mau menikah dengan penjahat seperti Dion!! Aku akan pergi, dan aku tidak akan menganggapmu sebagai orang tuaku!!" Seru Tasya dengan wajah penuh air mata.


Setelah berkata demikian Tasya keluar ruangan dengan sangat marah. Sedangkan ayahnya masih terlihat santai dan tidak memedulikan perkataan putrinya.


"Kau memang keterlaluan. Kau tidak mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan putrimu sendiri." Ujar ibu Tasya. "Kau masih berencana menikahkan mereka? Kau lebih mementingkan perusahaanmu dari pada putrimu sendiri." Ujar ibu Tasya langsung ke luar ruangan.


Ayah Tasya tampak tak memedulikan perkataan mereka berdua. Dia lebih memilih membuka kotak yang ada di hadapannya. Kotak besar tersebut berisi sebotol wine beserta dua gelas kristal untuk wadah meminumnya.


"Wine?" Tanya Benny dengan bingung. "Siapa yang mengirimnya Presdir? Apa orang tua Dion?"


"Bisa jadi." Ucap Presdir sambil mengambil sebuah surat yang ada di dalamnya. "Pasti mereka senang karena pemuda itu sudah meninggal."


Presdir membuka surat tersebut untuk mengetahui siapa pengirim wine itu. Dia tesentak ketika membaca satu kalimat yang tertulis di surat tersebut.


Saat yang bersamaan Benny menerima telepon dan seseorang yang membuatnya terkejut ketika mendengar suaranya.


Aku adalah Rajawali dan kaulah anginnya.


...***...


Persidangan berlangsung dengan Lion datang menjadi saksi dalam persidangan. Hanya Prothos yang ditemani Mona datang untuk menyaksikan persidangan tersebut setelah meninggalkan rumah sakit.


"Ya, aku yang membawa pisau tersebut ke ruang ganti. Aku membawakan terdakwa buah-buahan untuknya makan sebelum acara pernikahannya." Jawab Lion setelah pengacara Dion mengajukan pertanyaan.


"Apa korban yang memintamu membawa pisau tersebut?" Tanya pengacara tersebut.


"Tidak. Aku membawanya karena ingin memakan apel yang aku bawa. Apa itu terdengar aneh?" Lion balik bertanya.


Seorang Jaksa mendekati hakim yang memimpin persidangan dan membisikan sesuatu pada sang hakim.


"Baru saja kami mendapat kabar kalau korban sudah dinyatakan meninggal. Karena itu Jaksa meminta pengadilan diundur karena tuntutan akan diubah. Tuntutan semula penganiayaan berat berubah menjadi tuntutan penganiayaan berat hingga korban kehilangan nyawanya." Ujar hakim. "Pengadilan akan ditunda hingga tuntutan dari Jaksa lengkap."


Tiba-tiba pintu pengadilan terbuka. Muncul seorang pemuda yang berada di kursi roda berjalan masuk ke dalam ruang persidangan.


"Tidak perlu menunda persidangan yang mulia." Seru pemuda yang berada di atas kursi roda.


...–NATZSIMO–...


Yuk baca kisah kakek buyut keluarga Sanzio alias keluarganya Melody dan Musketeers di "Penebus Dosa Sang Mafia".


Sifat turunan keluarga Sanzio yang melekat bawaan dari nenek buyutnya keluarga Mafia Italia, Vivian Zeta La Nostra dan sifat bucinnya Musketeers turun dari kakek buyutnya Vernon Sanzio.


...----------------...


Baca cerita author yang lain juga ya.


Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.


❤Lion dengan rumus pertemanannya akan muncul di semua karya author yang berlatar non Fantasy❤


Follow IG author untuk visual character yang belum ada di jilid pertama @natzsimo.author


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....


...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....


...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....


...Baca juga karya author lainnya....


...Terimakasih......