
"Kebun binatang?" Lion menatap heran pada Liam ketika mereka berdua turun dari taksi yang mereka naiki. "Kenapa kau mau ke sini? Dasar aneh."
"Aku ingin membangunkan singa yang tertidur." Seru Liam sambil merangkul Lion. "Aku akan perlihatkan bagaimana kemampuanku sebagai seorang pawang dari raja hutan."
"Berhentilah membual!!" Ketus Lion menyingkirkan lengan Liam dari pundaknya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Lion pada kakak sepupunya itu. Dia hanya berjalan mengikuti pemuda berambut pirang tersebut sambil ikut memperhatikan kandang-kandang binatang di sepanjang jalan.
Liam yang berjalan di depannya terlihat celingak-celinguk memperhatikan sekitar, seperti sedang mencari sesuatu. Lion tampak merasa ada yang aneh.
"Kau mencari siapa?" Tanya Lion.
Liam menghentikan langkahnya dan melihat ke suatu tempat. Lalu berjalan agak cepat menuju tempat yang menjual berbagai macam topi. Lion hanya berjalan santai mengikutinya.
"Topi ini sangat cocok untukmu, El." Seru Liam memakaikan Lion topi berbentuk singa. "Di sini sangat panas, kita harus pakai topi. Kira-kira mana yang cocok untukku ya?" Liam menatap deretan topi yang terpajang.
Lion tidak mau menanggapinya dan membiarkan topi yang dipakaikan Liam tetap berada di kepalanya. Cuaca saat ini memang sedang panas, jadi memang seharusnya mereka memakai topi.
"Cocok tidak, El?" Tatap Liam sangat dekat ke wajah Lion dengan topi berbentuk buaya.
Lion terkekeh melihat Liam dengan topinya.
"Kau memang seorang buaya." Ejek Lion.
"F*ck off!!" Kesal Liam sambil menoleh ke arah lain dan melihat sesuatu.
Saat yang bersamaan Lion mendapatkan pesan dari temannya. Fokusnya langsung tertuju pada handphone namun pemuda itu melangkah mengikuti Liam yang langsung berjalan kembali.
"Kalian juga ada di sini?" Seru Liam pada seorang pemuda dan seorang gadis yang berdiri di depan kandang singa. "Ini sangat kebetulan sekali." Tambah Liam.
Lion mengangkat kepalanya untuk melihat kepada siapa Liam berbicara. Dia tersentak kaget saat melihat Melody bersama Niko berada di sana. Kedua orang tersebut juga melihat pada dirinya.
Keberadaan mereka di tempat ini membuat Lion tersadar kalau semua ini adalah rencana Liam. Dengan sengaja kakak sepupunya itu ingin ke kebun binatang dengan tujuan yang sekarang sudah bisa dirinya tebak.
Lion juga tersadar kalau Liam tadi memang membuka handphone-nya dan mengecek aplikasi map untuk mengetahui keberadaan Melody. Dalam hati Lion hanya bisa menahan rasa kesalnya karena dirinya tidak memikirkan hal tersebut sebelumnya, dan hanya menganggap hal wajar pada Liam yang aneh itu ketika ingin ke kebun binatang.
Lion bisa merasakan tatapan yang tidak enak dari Niko saat ini. Sedangkan Melody menatapnya dengan tatapan heran karena semuanya terjadi secara kebetulan sekali untuknya.
"El, itu singa!!" Seru Liam menunjuk ke arah singa yang sedang tertidur. "Astaga ternyata benar mereka hanya tertidur ketika semua orang memperhatikannya. Apa aku harus ke sana untuk membangunkannya?"
Liam menghentikan ocehannya dan melihat ketiga orang tersebut yang hanya diam saja. Keadaan menjadi dingin saat ini.
"What's going on, guys? Something f* wrong with to you all?" Liam merangkul Niko. "Apa kalian berdua sedang berkencan?" Liam mencondongkan badannya yang masih merangkul Niko untuk melihat pada Melody.
"Liam, aku haus, aku akan mencari penjual minuman dulu." Ujar Lion membalikan tubuhnya dan berjalan.
"Niko, aku juga akan mencari minuman, aku akan membelikan untukmu juga." Seru Melody.
Niko tidak bisa berkata apapun karena Melody sudah langsung berjalan menghampiri Lion yang menjauh dari tempatnya.
Liam melirik pada Niko, dan dia tahu kalau pemuda itu saat ini merasa sangat cemburu karena Melody pergi menghampiri Lion.
"Nikooooooo... kenapa wajahmu seperti itu?" Seru Liam masih merangkul leher Niko. "Ck! Melihat mereka apa membuatmu cemburu? Ya, pasti sangat cemburu. Begitu juga yang dirasakan adik kecilku."
Liam langsung melepaskan tangannya dari leher Niko namun tidak memudarkan senyumnya sedikitpun.
"Dari manapun dilihat, mereka berdua saling mencintai, aku benar kan?" Tanya Liam pada Niko. "Sayang sekali kau harus masuk di antara mereka."
Niko enggan menanggapi perkataan Liam. Apapun yang dikatakan pemuda itu mengenai Lion dan Melody, untuk Niko hal itu tidaklah penting. Dia tidak ingin berpikiran tidak-tidak apalagi sampai harus menghentikan semua rencananya yang ingin menikah dengan Melody. Tekatnya sudah bulat, walau harus kehilangan Lion sekalipun.
"Sebenarnya apa tujuanmu?" Niko menoleh pada Liam yang memperhatikan kandang singa.
"Membangunkan singa yang tertidur." Jawab Liam. "WOOIII... BANGUNLAH!!" Teriak Liam pada singa-singa yang sedang tidur di kandangnya.
Lion terkejut ketika Melody menghampirinya, namun pemuda itu tidak mengatakan apapun dan hanya diam saja. Walau dirinya terus melirik ke arah gadis tersebut.
"Ada apa?" Tanya Melody yang tahu Lion melirik melihat padanya. "Katakan saja yang ingin kau katakan."
"Tidak ada." Jawab Lion semakin cepat melangkahkan kakinya hingga Melody tertinggal di belakangnya.
Mereka berdua sampai di depan penjual minuman, Lion segera mengambil satu botol air mineral dingin dan langsung meminumnya. Begitupun dengan Melody, gadis itu mencoba membuka tutup botol air mineral yang diambilnya namun entah kenapa sangat sulit untuknya.
Tanpa diminta Lion mengambil air mineral tersebut, membukakannya dan memberikannya kembali pada Melody. Tanpa ucapan terimakasih gadis itu menerimanya.
"Hari ini benar-benar sangat panas." Ucap Melody sebelum meminum minumannya.
Lion yang awalnya sedang memperhatikan ke orang-orang yang sedang lalu lalang, kembali menoleh pada Melody yang berdiri di sampingnya. Dia baru menyadari kalau gadis itu tidak memakai topi sehingga wajahnya sedikit memerah terkena sinar matahari. Pemuda itu jadi teringat kalau saat ini dirinya memakai topi berbentuk singa di kepalanya.
"Sudah hampir jam dua siang." Melody melihat ke jam tangannya.
Tiba-tiba Lion memakaikan topi singa yang semula dipakainya ke kepala Melody. Gadis itu terkejut hingga menatap Lion yang berdiri dekat dengannya. Dia tidak mengira kalau Lion akan memberikan topinya padanya.
"Seharusnya kau bilang pada Niko untuk membeli topi." Ujar Lion. "Wajahmu sudah terbakar seperti itu."
"Topi ini sangat memalukan untukku." Keluh Melody yang merasa sedikit malu karena topi yang dipakaikan Lion bentuknya lebih cocok untuk anak kecil. "Dan lagi topi ini juga tidak benar-benar menutupi wajahku dari sinar matahari."
"Dari pada tidak memakai topi, setidaknya kepalamu tidak memanas karena terkena matahari langsung." Jawab Lion yang menengadah merasakan sinar matahari yang sangat terik. "Seharusnya aku bermain game di rumah hari ini."
"Apa?" Tatap Melody yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Lion.
"Seminggu lagi ya? Akhirnya setelah enam belas tahun kita akan berpisah." Ujar Lion.
Melody tidak menanggapi perkataan Lion dan hanya menatap pemuda itu. Walaupun awalnya bagi gadis itu kebersamaannya dengan Lion selama ini bukanlah hal penting tapi saat mendengar perkataan Lion mengenai mereka yang akan berpisah membuat Melody merasa kalau setiap waktu yang mereka habiskan bersama adalah momen yang penting. Itu membuat dirinya merasakan kesedihannya sekarang.
"Ayo kita kembali. Mereka juga pasti haus." Seru Lion sambil membawa dua botol minuman yang satunya akan diberikannya pada Liam.
Melody segera mengikuti Lion juga dengan dua botol minuman, yang satunya akan diberikannya untuk Niko.
"Akhirnya mereka datang juga." Ujar Liam yang melihat kehadiran Lion dan Melody yang masih berada di jarak lumayan jauh.
Niko menoleh ke arah mereka berdua. Fokusnya langsung mengarah pada topi yang dipakai Melody. Sekali lagi dia merasa kalau Lion lebih mengerti mengenai Melody ketimbang dirinya dengan memberikan topi yang semula dipakainya pada gadis itu.
...–NATZSIMO–...