MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
046. RINTIHAN MELODY



Perlakuan Aramis pada Niko membuat Niko semakin ingin secepatnya bertunangan dengan Melody. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena sikap Aramis yang selalu buruk padanya. Jika saja tadi tak ada Melody disana, dia pasti sudah mengingatkan Aramis mengenai perjanjian yang mereka lakukan dulu.


Niko menghentikan mobil di depan rumah Melody setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit. Waktu baru menunjukan pukul setengah enam sore, dan hari belum begitu gelap.


"Melody, aku minta maaf juga karena merangkulmu seperti tadi." Ucap Niko tanpa menoleh pada Melody. "Kadang tanpa sadar aku melakukannya dengan spontan. Kau harus menolakku dengan jelas kalau kau tidak nyaman."


"Baiklah." Jawab Melody.


Tidak berapa lama di belakang mobil Niko, Aramis menghentikan mobilnya dan langsung berlari keluar. Aramis merasa kalau Melody terlalu lama di dalam padahal dari ujung jalan dia sudah melihat kalau mereka sudah beberapa menit yang lalu sampai.


Aramis langsung mencoba membuka pintu mobil dimana Melody duduk walau masih terkunci, dicobanya berkali-kali dengan kasar sambil memukul-mukul kaca jendela mobil, membuat Melody terkejut.


"Kau langsung pergi saja, Niko." Seru Melody hendak turun.


Niko membuka kunci mobilnya dan Aramis langsung menarik Melody turun. Anna hanya bisa melihat dari belakang Aramis. Tanpa di duga Niko keluar mobil juga, dan itu membuat Aramis langsung menghampirinya.


"Menjauhlah dari adikku, sialan!!" Geram Aramis mencengkram Niko.


"Lepaskan dia, Ars!!" Seru Anna menarik Aramis. Namun Aramis tidak mendengarnya.


"Aku akan membunuhmu kalau kau menyentuh Melo lagi!!" Tatap Aramis pada Niko yang ada dicengkramannya.


"Maaf, aku tidak janji." Senyum Niko mengejek.


"Sialan kau!!"


"ARS!!" Panggil Athos yang baru saja datang dan segera keluar dari mobil ketika Aramis hendak memukul Niko. "Lepaskan, dia!!"


Aramis mendengarkan dan melepaskan Niko segera.


"Niko, pergilah." Ucap Athos dan Niko langsung masuk ke dalam mobilnya.


Melody berlari masuk ke dalam rumahnya, Aramis mengejarnya dengan segera dan Anna mengikutinya dari belakang. Ketika Melody masuk kamar, dan hendak menutup pintu, Aramis mendorong pintunya dengan kasar agar dia bisa masuk ke dalam kamar adiknya itu.


"Kau menjauhlah darinya!! Aku tidak akan membiarkanmu bertunangan apalagi menikah dengan si tengik itu. Kau harus menjauhinya!! Mengerti Melo?!!"


"KENAPA AKU HARUS MENDENGARKANMU, KAK?" Teriak Melody kesal.


"KARENA DIA SEKARANG KAU BERANI BERTERIAK PADAKU?! APA YANG DILAKUKANNYA PADAMU SAMPAI KAU MELAWAN AKU SEPERTI INI? JANGAN TEMUI DIA LAGI!! DIA BUKAN PRIA BAIK-BAIK, KAU LIHAT KAN APA YANG DILAKUKANNYA PADAMU TADI? KAU MASIH SAJA TIDAK PERNAH BELAJAR SETELAH DENGAN FELIX!!"


"JANGAN SAMAKAN NIKO SEPERTI FELIX!! NIKO BUKAN PRIA JAHAT, BAHKAN DIA SANGAT MALANG KARENA ULAHMU!! JANGAN MENYAMAKAN DIA DENGAN PRIA SEPERTI FELIX!!"


"KAU TIDAK TAHU APA-APA, MELO!!"


"KAU YANG TIDAK TAHU APA-APA!! HIDUPMU BERJALAN DENGAN BAIK, KAU MASIH BISA MELUKIS DAN BERSAMA ORANG YANG KAU CINTAI, TAPI BAGAIMANA DENGANNYA? ORANG YANG SUDAH KAU HANCURKAN HIDUPNYA ITU? JADI BIARKAN AKU BERSAMANYA! AKU SUDAH RELA MEMBUANG MIMPIKU DAN BAHKAN AKU JUGA RELA MENYAKITI HATIKU KARENA TERSIKSA TIDAK BISA BERSAMA ORANG YANG AKU CINTAI. ITU SEMUA AKU LAKUKAN AGAR KAU MASIH BISA MELUKIS DAN SETIDAKNYA NIKO BERSAMA AKU YANG DICINTAINYA, SUPAYA HIDUPNYA TIDAK TERLALU MENDERITA KARENA ULAHMU!!"


Melody tak dapat membendung amarahnya lagi pada kakaknya itu. Dia juga menangis sesungukan setelah berteriak mengatakan semua yang dirasanya.


Anna yang ada di ambang pintu hanya bisa diam dengan menghapus air matanya mendengar perkataan Melody. Sedangkan Athos yang berada di luar tak bereaksi apa-apa mendengar pertengkaran hebat antara kembarannya dan adik perempuannya.


Aramis menatap keluar jendela kamar Melody dan melihat Lion berdiri di beranda kamarnya, mendengar semuanya. Dengan tak berkata apapun lagi Aramis meninggalkan kamar Melody.


Anna langsung memeluk Melody, mencoba menenangkannya. Anna merasakan kesedihan pada Melody setelah mendengar semua yang dikatakannya. Dia berpikir gadis itu berkorban untuk kakaknya demi Niko dengan membuang mimpinya dan menyakiti hatinya karena tidak bisa bersama orang yang dicintainya.


...***...


Aramis membuka pintu kamar Lion. Lion duduk di sofa dekat pintu menuju beranda kamarnya, dia tahu kalau Aramis akan menemuinya saat ini. Lion menyaksikan semuanya dari beranda kamarnya tadi.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Aramis berdiri di depan pintu.


Jarak dari Aramis berdiri dengan sofa yang di duduki Lion sejauh hampir sepuluh meter. Kamar Lion memiliki ukuran kurang lebih 5 x 10 meter. Bentuknya memanjang dan terdapat banyak barang yang disukai pemuda itu, karena setiap di rumah Lion selalu menghabiskan waktunya di kamar.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Aramis lagi.


Lion membatu, dia tidak menjawab dan hanya menundukan kepalanya menatap lantai. Dia tidak berniat berkata apapun karena saat ini dia sendiri merasa sedih setelah mendengar perkataan Melody.


"Apa aku harus membiarkan Melo bersama Niko?" Aramis terus menatap Lion yang tak bergeming, dia berharap kalau sahabatnya itu mengatakan sesuatu padanya. "Lion, aku harus apa? Aku semakin tidak tega pada Melo setelah mendengar kata-katanya tadi. Dia melakukannya agar aku bisa tetap melukis, dia sampai membuang mimpinya karena aku."


Lion masih bungkam. Setelah mendengar rintihan Melody tadi dia menahan emosinya saat ini. Dia mencoba meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja setelah apa yang terjadi sekarang. Walau apa yang didengarnya juga ada sangkutpaut dirinya, Lion masih menyangkal dalam benaknya kalau itu bukan urusan dirinya. Tetapi pikiran dengan hatinya tidak bisa beriringan sejalan. Walau di pikirannya dia mengatakan apa yang dilakukannya sudah benar tetapi hatinya tetap merasakan rasa sakit yang teramat sangat.


"Katakan sesuatu, Lion. Aku akan mendengarkan semua perkataanmu sekarang." Ucap Aramis. "Apa kau masih tega pada Melo setelah mendengar semua tadi? Setiap malam dia menangisimu. Kalau begini sepertinya aku harus memberikan tanganku saja pada Niko."


"Ars." Lion mengangkat kepalanya menatap Aramis. "Tak ada jalan keluar. Aku tidak bisa berbuat apapun pada Niko. Dulu aku bersumpah padanya akan menuruti semua permintaannya, sumpah itu aku buat agar dia mau membuat perjanjian denganmu setelah kau membakar tangannya."


"Tidak, Lion, kenapa kau bersumpah padanya? Seharusnya kau tidak melakukannya! Kejadian itu tidak ada sangkutpautnya denganmu."


"Kau sahabatku sejak dulu, masalahmu juga masalahku. Karena itu aku bersumpah agar dia mau membuat perjanjian tertulis itu."


"Ternyata ini semua memang salahku." Aramis menertawakan dirinya sendiri dengan kemuakan. "Kalau begitu aku akan menyerahkan tanganku saja."


"Tidak Ars, di perjanjian itu tertulis kalau Niko akan meminta sesuatu sedangkan jika dia tidak meminta apapun baru dia akan membakar tanganmu. Kau tidak bisa berbuat apapun saat dia meminta sesuatu padamu, sama sepertiku yang terikat sumpah sehingga aku harus menuruti permintaannya. Hal itu yang membuatku tidak bisa menolak saat dia minta bantuanku mendekati Melo. Posisi kita sama, kita tidak bisa berbuat apapun. Semua keputusan ada pada Melo."


"Jadi aku harus mendukungnya?"


"Sepertinya hanya itu jalan yang terbuka." Jawab Lion bangkit berdiri.


"Bagaimana denganmu? Dan bagaimana dengan penderitaan Melo?"


"Semua ada dalam genggaman Niko." Ucap Lion mengintip ke luar pintu beranda dengan membuka sedikit tirai.


Dia melihat Melody berdiri di depan jendela kamarnya menatap kamarnya dengan air mata yang membasahi wajahnya. Melihatnya, Lion pun merasa sangat bersedih.


...–NATZSIMO–...