MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
105. GADIS BAYARAN



Mona membuka matanya dan melihat saat ini dirinya berada di dalam sebuah kamar yang asing. Sesampainya di rumah Prothos semalam, waktu sudah lewat tengah malam, karena itu Prothos menyuruhnya menginap dan tidur di kamar pemuda itu. Padahal dia hendak pulang ke rumahnya untuk menemui adiknya, namun karena Prothos bilang tak ada taksi disekitar rumahnya saat tengah malam, jadi gadis itu mengiyakan perkataan Prothos yang menyuruhnya menginap.


Mona beranjak turun dari tempat tidur, dan hendak keluar untuk ke kamar mandi. Saat keluar bersamaan dengan Prothos yang baru saja habis mandi setelah lari pagi dan hendak masuk ke kamar Athos.


"Kau sudah bangun? Kau memang gadis rajin." Ucap Prothos. "Tolong buatkan susu dan sarapan ya, tenang saja aku juga akan membayarmu." Setelah berkata begitu Prothos masuk ke kamar Athos.


Mona berjalan turun tangga dan melihat Prothos sudah duduk di meja makan. Pemuda itu tersenyum padanya, sebagai ciri khasnya yang selalu menebar senyum.


"Susunya ada di lemari atas dan tolong panggang saja rotinya. Pakaikan selai kacang yang ada di lemari atas juga. Buatkan beberapa untuk Melo juga, susunya tolong buatkan tiga gelas, atau kalau kau mau buat juga untukmu." Ujar Prothos dengan tatapan yang terfokus ke layar handphone milik Athos.


"Setelah ini aku akan pergi." Ucap Mona.


"Ya, kau boleh pergi. Aku akan mentransfer bayarannya ke rekening milikmu saat sudah selesai nanti." Jawab Prothos.


Pintu masuk terbuka dan muncul Aramis yang baru pulang dari rumah Anna.


"Aku pikir kau belum pulang." Seru Aramis. "Eh, siapa dia?" Aramis bingung saat melihat Mona ada di dapurnya.


"Aku memintanya untuk membuat sarapan untuk kita." Jawab Prothos.


"Bukannya kau Mona? Kakak si brengsek Mario?" Tatap Aramis yang mengenali Mona. "Kau tahu itu tidak, Oto?"


"Ya, karena itu dia disini untuk menebus kesalahan adiknya." Jawab Prothos masih melihat layar handphone. "Mona, ambilkan buah-buahan di dalam kulkas."


Mona mengikuti instruksi Prothos dan meletakan keranjang buah ke meja makan. Aramis langsung memakan pisang yang ada di dalam keranjang.


"Apa yang kau lakukan padanya? Lion akan membunuhmu, Oto." Bisik Aramis.


"Aku pikir saat melihatmu itu artinya Lion sudah mati." Ujar Prothos dengan tawa.


"Apa? Lion mati?" Mona terkejut. Dengan segera Mona membawa tiga gelas susu dan diletakannya ke meja makan. "Ada apa dengan Lion?"


"Bocah itu masih hidup." Jawab Aramis.


"Sudah aku duga kalian semua hanya bersenang-senang saja." Ujar Prothos. "Dimana dia?"


"Rumah sakit. Mereka membawanya setelah aku harus membuatnya pingsan agar menghentikan kekonyolan bocah itu." Jawab Aramis lagi. "Bagaimana kau bisa mengenalnya, Oto?" Bisik Aramis pada kembaran yang duduk disebelah kanannya.


Prothos tidak menjawab dan hanya tertawa. Fokusnya masih pada handphone Athos. Saat yang bersamaan Mona membawa sepiring roti yang selesai dia panggang, lalu duduk di kursi hadapan Prothos.


"Kau tinggal dimana sekarang?" Tanya Aramis pada Mona.


"Aku pindah ke rumah yang ukurannya lebih kecil, tapi karena sekarang aku bekerja di luar kota, aku tinggal di asrama karyawan tempatku bekerja." Jawab Mona sambil meneguk air putih.


"Martin tinggal dengan siapa?" Tanya Aramis membuat Prothos menoleh padanya.


Prothos cukup terkejut saat tahu Aramis mengetahui banyak hal mengenai Mona, bahkan kembarannya itu tahu tentang adik gadis tersebut.


"Sendiri." Jawab Mona. "Aku harus meninggalkan dia karena aku tidak bisa mengajaknya tinggal bersamaku di asrama, tapi ada sepupuku yang memantaunya."


"Kasihan sekali dia." Ucap Aramis setelah itu meminum habis susunya.


Melody menuruni tangga menuju meja makan. Saat sampai gadis itu sempat terdiam melihat Mona berada di meja makan bersama kedua kakaknya.


"Melo, duduklah, sarapan sudah siap." Seru Prothos menoleh pada adik perempuannya yang berdiri dibelakangnya. "Dia Mona, yang membuat sarapannya." Lanjut Prothos kembali mengarahkan pandangan ke handphone Athos.


"Kami sudah kenal." Jawab Mona membuat Prothos sedikit heran karena Melody juga mengenalnya. "Kau tidak menyangka kan melihat aku disini?"


Melody mengangguk tipis sambil duduk di samping Mona di hadapan Aramis. Gadis itu tidak mengerti kenapa ada Mona di rumahnya namun dia tidak tahu harus bertanya bagaimana pada kedua kakaknya.


"Aku di sini karena dapat bayaran dari kakakmu, dia memintaku menyetir mobilnya saat pulang semalam tapi karena sudah malam aku menginap di kamarnya." Terang Mona.


Melody sempat memperlihatkan ekspresi yang bingung saat Mona bilang menginap di kamar kakaknya.


"Maksudku aku tidur di kamarnya, dia..."


"Kakak tidur di kamar Ato, Melo." Sambar Prothos masih sibuk. "Kakak hanya meminta bantuannya mengantar dan sekarang membuat sarapan."


Melody mengangguk setelah itu memakan roti yang sudah tersedia.


"Aku harus memeriksa café lagi hari ini. Tak ada Ato semua jadi kacau, semua bahan habis dan tak ada laporan keuangan." Ujar Prothos pada Aramis. "Bahkan pendapatan beberapa hari ini belum ada penyetoran. Sepertinya ayah tidak mengontrolnya kemarin. Untung saja Ato selalu mencatat apapun di handphone-nya."


"Jadi karena itu dari tadi kau sibuk melihat ke handphone Ato." Ucap Aramis.


"Melo, kau sudah melihat Lion?" Tanya Aramis.


Melody teringat kembali mengenai ciumannya pada Lion, membuat wajah gadis itu menjadi memerah. Prothos melirik pada adiknya itu dan melihat ekspresinya yang aneh.


"Kenapa Melo? Wajahmu memerah." Ucap Prothos. "Kau baik-baik saja?"


Melody hanya mengangguk menjawab Prothos.


"Jadi kau sudah melihat Lion belum?" Tanya Aramis mengulangi pertanyaannya. "Aku akan ke sana, kau ingin ikut?"


"Semalam aku sudah melihatnya tapi dia masih belum sadar." Jawab Melody akhirnya membuka suaranya. "Nanti aku akan bersama Niko kesana lagi setelah ke makam ibu."


"Ke makam ibu? Kau akan bersama Niko kesana?" Tanya Prothos.


Melody mengangguk.


"Oto, bangunkan aku saat kau akan pergi. Aku ingin tidur dulu. Ayah juga memintaku ke rumah sakit nanti." Seru Aramis menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


"Jam berapa kau akan pergi Melo?" Tanya Prothos.


"Tidak tahu, aku akan menunggu Niko datang saja. Biasanya dia tidak tidur semalaman dan baru tidur jam segini, seperti kak Ars." Jawab Melody.


"Semua pria memang seperti itu." Tambah Mona. "Baiklah, tugasku sudah selesai. Aku akan pergi sekarang." Mona beranjak berdiri dari duduknya.


"Kau ingin pulang? Aku akan mengantarmu, tapi temani aku ke café kami yang dekat rumahmu dulu." Ujar Prothos.


"Tidak, aku tidak punya banyak waktu. Nanti sore aku sudah harus kembali ke asrama. Aku harus menemui adikku dulu."


"Baiklah, kita temui adikmu dulu, setelah itu ke café, sepertinya aku membutuhkan bantuanmu lagi." Jawab Prothos beranjak berdiri. "Melo, tolong bangunkan Ars sekitar jam sepuluh atau saat kau akan pergi. Jangan lebih dari jam dua belas."


Melody mengangguk. Prothos langsung berjalan mengambil kunci mobil dan keluar rumah. Melody menoleh pada Mona yang masih duduk di sampingnya.


"Padahal aku belum menjawab apapun." Gumam Mona dengan wajah kesal melihat Prothos. "Melody, aku pamit pulang ya. Tolong sampaikan salamku pada Lion."


Mona keluar rumah dan berjalan ke garasi dimana Prothos sudah berada di dalam mobil.


"Mona, ambilkan laptopku di kamarku. Aku harus membawanya." Seru Prothos saat melihat Mona muncul.


Dengan kesal Mona berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah. Melody yang masih berada di meja makan menatapnya bingung.


"Dia memintaku mengambil laptopnya." Ujar Mona pada Melody dan langsung menaiki tangga.


Mona masuk ke dalam kamar Prothos untuk mengambil laptop Prothos yang ada di atas meja. Sebelumnya gadis itu mencari tas untuk membawa laptop tersebut di dalam laci meja. Dia melihat sebuah topi hitam di dalam laci dan membaca tulisan yang tertulis di topi tersebut.


"Ini pasti topi dari gadis yang mencampakkannya... Widia." Ujar Mona.


Mona mengingat saat Prothos memanggilnya ketika menarik pemuda itu dari bath-up, dengan nama tersebut.


...–NATZSIMO–...


Disclaimer :


Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.


Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.


Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.


Semoga menghibur.


......❤❤🤗🤗❤❤......


Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen.


Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini.


Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari.


Baca juga karya author lainnya.


Terimakasih...