MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
156. PAWANG SINGA LIAR



Melody berjalan menuju pintu ketika bel rumah berbunyi. Saat ini mereka semua sedang berada di meja makan hendak makan malam. Namun gadis itu masih menunggu kehadiran Niko yang akan ikut makan malam bersama dengan mereka.


"Hello Melody." Senyum ceria Liam terpancar ketika Melody membukakan pintu untuknya. "Do you still remember me?"


"Liam, ternyata kau memang sudah datang." Seru Aramis yang berjalan menuju pintu. "What's up, bro?"


Aramis menepuk tangan Liam yang terangkat dan mereka berpelukan dengan senang. Melody hanya diam saja memperhatikan kakak sepupu Lion yang datang ke rumahnya itu dan tampak akrab dengan kakaknya.


"Masuklah, Liam." Seru Athos yang sudah duduk di salah satu meja makan.


"Yoo my jenius brother... How are things going?" Liam menepuk tangan Athos juga seperti yang dilakukannya pada Aramis. "That's f* too bad for you."


Athos hanya tertawa kecil mendengar perkataan Liam. Dia hanya mempersilahkan Liam duduk di hadapannya dengan gestur tangannya.


"Where's my lady prince?" Tanya Liam yang dimaksudnya adalah Prothos.


"Dia sedang ada urusan." Jawab Athos.


"Sayang sekali ya." Senyum Liam. "Hello mister Sanzio, can I help you?" Liam bertanya pada Leo yang masih sibuk di dapur.


Leo berjalan membawa piring besar berisi nasi putih dan diletakkannya di meja makan. Dia melihat pada Liam yang menurutnya tidak berubah walau tiga tahun tidak bertemu.


"Apa semua di keluarga kalian seperti kau dan si bocah itu?" Tanya Leo sambil duduk di kursi tunggal. Yang di maksud olehnya adalah sifat dan sikap Lion dan Liam yang hampir serupa.


Liam tertawa mendengar pertanyaan Leo.


"Tidak, Lion sudah berubah sekarang. Dia menjadi pria yang cool and... f* idiot!!"


Semua yang mendengar tertawa dan menggelengkan kepala karena jawaban kasar yang diucapkan Liam untuk saudaranya sendiri.


Melody masih berdiri di depan pintu, gadis itu sedikit bingung dengan kehadiran pemuda yang jauh lebih nyentrik dari Lion itu. Sedangkan kedua kakak dan ayahnya sudah berada di meja makan bersama Liam.


"Kau menungguku sayang?" Tiba-tiba Niko muncul di depan pintu.


Melody sedikit terkejut dengan kemunculan Niko karena fokusnya tadi sedang ada pada Liam yang tampak akrab dengan keluarganya. Gadis itu mulai teringat kalau dulu tiga tahun lalu Liam pernah datang juga ke rumahnya.


"Nikoooo..." Seru Liam menghampiri Niko dan langsung memeluknya bahkan Liam sedikit melompat-lompat saat berpelukan dengan Niko dengan sebuah tawa.


Melody memperhatikan tingkah Liam yang menurutnya tingkahnya itu lebih kekanak-kanakan melebihi tingkah Lion sebelumnya. Padahal jika dilihat usianya lebih tua dari ketiga kakak kembarnya.


Melody duduk di meja makan bersama dengan kedua kakaknya, ayah dan Niko serta Liam. Gadis itu duduk di antara kedua kakaknya. sedangkan Niko di hadapannya, dan Liam duduk di sebelah kanan Niko di hadapan Athos.


"Aku sangat terkejut melihat kalian semua, bahkan tinggi kalian berdua dan kau juga Niko melebihi aku sekarang. Bahkan si idiot itu juga sedikit lebih tinggi dariku." Ujar Liam dengan ekspresi wajah yang berlebihan di mata Melody. "Hah, si idiot itu kenapa tidak mau saat aku mengajaknya ke sini? Padahal dulu dia selalu makan di sini." Gumam Liam berbicara tentang Lion. "Ngomong-ngomong, kenapa kau di sini Niko?" Liam menolah pada Niko. "Bukannya kau dengan Ars bermusuhan?"


Niko menatap Melody sesaat. Dia merasa ada yang aneh dengan kehadiran Liam saat ini. Yang dia tahu Liam adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Lion.


"William, kenapa tiba-tiba kau datang ke sini?" Tanya Niko menoleh pada Liam. "Apa kuliahmu sedang libur?"


"Pergi? Lion mau pergi kemana?" Tanya Leo yang menyimak perbincangan para anak muda itu. Semua orang jadi menatap padanya. "Baiklah, aku tidak akan ikut campur masalah kalian."


"Mister, kau memang panutanku." Seru Liam menepuk pundak Leo dengan sedikit mendorongnya keras.


"Kalian berdua memang tidak ada sopan santunnya padaku." Gumam Leo menahan rasa kesalnya kalau mengingat Lion yang juga menganggap dirinya seperti temannya.


"Niko kau juga tahu kan kalau satu-satunya manusia di dunia ini yang bisa mengendalikan singa liar itu hanya aku. Ya, aku diminta datang untuk mengendalikannya karena hanya aku pawangnya." Ujar Liam sambil mengunyah makanannya.


Athos dan Aramis hanya diam saja memperhatikan wajah Niko yang tampak tidak suka dengan keberadaan Liam. Selain orang tua Lion, ketiga Musketeers juga menghubunginya untuk datang, itulah hal yang sebenarnya.


"Orang tuanya tahu kalau bocah idiot itu mau bersenang-senang entah kemana, karena itu mereka memintaku menjaganya sekarang." Jawab Liam tersenyum lebar.


"Benarkah seperti itu?" Tanya Niko.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau bisa berada di sini? Bukannya kalian bermusuhan?" Ujar Liam.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, Will. Aku yakin kau pun tahu apa yang terjadi di sini." Niko menatap dingin pada Liam. "Aku juga yakin kalau ada yang menghubungimu untuk makan malam di sini." Mata Niko menatap pada Athos dan Aramis.


"Kau memang benar, Niko." Liam merangkul Niko dengan tertawa. "Aku tahu kau dan Melody yang cantik ini akan bertunangan kan? Arrgghh, padahal aku berharap Lion yang akan menikah denganmu, Melody." Secara terang-terangan Liam berkata seperti itu sambil menatap Melody yang hanya diam saja melihat padanya.


"Liam, jangan berkata seperti itu." Seru Athos mencoba menghentikan perkataan Liam walau tatapannya masih mengarah pada Niko.


"Tidak masalah kan? Yang terpenting pada akhirnya Melody akan menikah denganmu Niko." Jawab Liam menatap wajah Niko dengan sangat dekat.


"Sebaiknya aku pindah tempat makan." Leo bangkit berdiri membawa piringnya yang masih penuh dan masuk ke dalam kamarnya.


"Kau mau kemana mister?" Tanya Liam yang tidak digubris Leo. "Kau memang panutanku, mister." Teriak Liam dengan tawa.


Niko menghela napasnya untuk menahan rasa kesalnya. Dia memang tahu jika sifat Liam seperti itu karena itu dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Liam sekarang. Dengan kata-katanya Liam bisa membuat siapapun yang mendengar kesal namun tidak bisa berbuat apapun untuk marah karena dia mengatakannya dengan wajah yang tersenyum dan tertawa. Siapapun yang marah saat menanggapi perkataannya akan terkesan buruk di mata yang melihat.


"Kau masih sangat muda kenapa menghela napas seperti itu?" Kata Liam sambil menyendok lauk ke piringnya. "Melody, kenapa kau mau dengannya? Dia memang tampan, tapi aku juga tampan. Benarkan? Kalau begitu bagaimana kalau menikah denganku? Ayahku juga berkewarganegaraan Amerika dan aku berdarah campuran sepertinya."


Aramis tertawa dengan mendengus mendengar perkataan Liam. Sedangkan Melody hanya diam saja memperhatikan Niko yang juga menatapnya.


"Apa karena dia kaya?" Tanya Liam lagi. "Aku juga sangat kaya. Aku tidak kalah kaya darinya. Bagaimana? Apa sekarang kau ingin menikah denganku?"


"Apa semua orang Amerika sepertimu?" Kesal Niko.


Liam tertawa mendengar kekesalan Niko. Pemuda itu langsung merangkul Niko dengan tertawa.


"Aku hanya bercanda, kau tidak perlu kesal begitu, Niko." Ucap Liam. "Apa semua orang Rusia sensitif sepertimu?" Gumam Liam diakhiri dengan senyum lebar.


...–NATZSIMO–...