
"Lion..." Panggil Kevin pada Lion yang masih bernyanyi dengan sepenuh hati yang berdiri di pinggir sofa. "Lion!!" Kali ini Kevin memanggil menggunakan mikrofon hingga Lion berhenti bernyanyi dan menoleh padanya.
"Ya ampun, aku sangat menghayati lagunya. Ini lagu kesukaanku makanya aku sangat mendalaminya." Ujar Lion berbicara dengan Kevin menggunakan mikrofon yang dipegangnya juga. Dia menatap pada Kevin yang duduk di ujung sofa. "Ada apa? Kenapa kau menggangguku?"
"Apa yang terjadi? Kau sedang patah hati?" Tanya Kevin masih berbicara menggunakan mikrofon.
"Pasti karena aku terlalu menghayati lagunya, kau jadi berpikir seperti itu kan?" Akhirnya mereka berdua menggunakan mikrofon untuk saling mengobrol.
"Apa karena seminggu lagi Melody akan bertunangan?" Tatap Kevin pada Lion yang masih berdiri.
"Tidak." Jawab Lion. "Aku tidak boleh patah hati karena itu juga hal yang aku mau."
Kevin terdiam karena mendengar jawaban Lion dengan suara yang bergetar. Pemuda itu tahu kalau saat ini Lion benar-benar menahan rasa sedihnya. Dengan segera Kevin bangkit berdiri dan mengambil remote untuk mengganti lagunya. Memilih sebuah lagu beat bertempo cepat.
"Kita harus bernyanyi sangat keras hingga semua orang di luar bisa mendengar suara kita." Seru Kevin langsung merangkul Lion. "Aku akan berteriak hingga besok aku tidak bisa bernyanyi lagi. Kompetisi itu membuat diriku menjadi ingin membuang semua mimpiku!!"
Pada akhirnya Lion beserta Kevin bernyanyi dengan penuh semangat, berteriak dan bahkan melompat-lompat untuk menghilangkan rasa sedih mereka berdua.
...***...
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Pertemuan antara kedua keluarga Melody beserta Niko dengan makan malam bersama sudah berakhir. Semua terlihat senang dengan perbincangan mereka membahas semuanya.
Keluarga Melody undur diri setelah pukul sembilan malam, dan setelah pembahasan mengenai acara pertunangan yang akan di adakan sabtu depan di hotel tersebut berakhir.
"Melody." Panggil Niko di ambang pintu ketika Melody beserta keluarganya sudah berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Melody melihat pada ayahnya untuk meminta ijin berbicara dengan Niko, karena sepertinya ada hal yang ingin pemuda itu katakan padanya.
"Jangan terlalu lama karena besok kalian ujian." Seru Leo mengijinkan. "Kalian bertiga temani adik kalian. Kami akan pulang duluan." Leo berbicara pada ketiga Musketeers.
Melody dan Niko duduk di salah satu meja yang masih ada di dalam restoran. Sedangkan ketiga kakak Melody berada di meja yang lumayan jauh dari mereka.
"Ada apa, Niko?" Tanya Melody yang duduk berhadapan dengan Niko.
"Besok kita akan ujian, dan seperti katamu waktu itu... Kau ingin agar kita tidak bertemu selama ujian jadi aku ingin mengobrol sebentar denganmu." Jawab Niko dengan sebuah senyum. "Aku senang keluarga kita sudah bertemu. Tampaknya semua akan berjalan dengan lancar hingga hari pertunangan."
"Aku juga merasa kalau itu hal yang bagus." Jawab Melody mencoba membalas senyum Niko walau dengan kaku.
"Terimakasih, Melody." Ucap Niko.
"Kenapa kau berterimakasih?" Melody merasa bingung pada ucapan Niko yang berterimakasih padanya.
"Karena kau sudah memberikan kebahagiaan padaku." Ujar Niko. "Hanya sisa seminggu kita akan pergi ke Rusia dan tinggal bersama sebelum menikah bulan depan. Aku semakin tidak sabar saat ini."
Melody merasa bingung menjawab perkataan Niko, bahkan saat ini gadis itu menjadi tidak berani menatap mata pemuda itu dengan terus menatap pada kedua tangannya yang terkepal di pangkuan, di tambah matanya terus saja tidak bisa fokus dan berputar-putar.
"Karena saat ujian kelas kita terpisah, aku berharap masih bisa melihatmu walau dari kejauhan. Aku mungkin juga akan lebih sering menghubungimu. Apa tidak masalah?" Tanya Niko.
"Ya, baiklah. Kau bisa menghubungiku kapan pun. Sebaiknya kau fokus belajar untuk ujian dulu Niko." Ucap Melody yang kembali menatap Niko.
"Baiklah." Niko tersenyum lagi dengan penuh kehangatan. "Ini sudah malam. Kau pasti juga lelah. Pulanglah."
"Baik, aku akan pulang." Jawab Melody sambil bangkit berdiri.
"Sayang..." Ujar Niko pada Melody yang membuat gadis itu tampak malu.
"Biarkan saja, Ars." Seru Prothos.
"Sialan!!" Geram Aramis menahan amarahnya.
Athos hanya mengalihkan pandangannya tidak ingin melihat adik kesayangannya dipeluk oleh seorang pria. Dia menahan dirinya dengan menghela napas.
"Aku mencintaimu, Melody." Bisik Niko saat memeluk Melody.
...***...
Kedua pemuda yang sedang berteriak-teriak saat bernyanyi, menumpahkan kesedihan dan rasa kesal mereka berdua pada masalah yang mereka hadapi masing-masing. Merangkul dengan melompat-lompat dan saling sahut menyahut ketika menyanyikan lagu dengan tempo cepat serta musik yang berirama keras.
Hingga akhirnya Lion maupun Kevin kehabisan napas dan tenaga. Mereka berdua berbaring di ujung sofa masing-masing dengan kepala mereka yang bertemu di tengah sofa.
"Suaraku akan hilang besok." Ujar Kevin masih memakai mikrofon.
"Siapa yang peduli dengan suara? Siapa yang peduli dengan mereka berdua? Siapa yang peduli dengan hidup ini?" Lion berbicara di mikrofon masih dalam posisi berbaring.
Kevin mendengus dengan tawa mendengar Lion meracau.
"Lion, bukan kah besok kau ujian?" Tanya Kevin bangun dari posisi berbaringnya, melihat pada Lion yang berada di belakangnya. "Kenapa kau tidak belajar?"
"Siapa yang peduli dengan ujian besok?!" Sekali lagi Lion berteriak menggunakan mikrofon tetapi pemuda itu langsung beranjak duduk dan melihat Kevin. "Aku akan pergi bersenang-senang setelah ujian. Kau sudah lulus sekolah kan?"
"Ya, pengumuman hasil ujian kelulusan juga sebentar lagi." Jawab Kevin dengan menggunakan mikrofon juga. "Tadinya aku berencana kuliah di Sibelius Academy Finlandia di jurusan vokal setelah memenangkan kompetisi itu. Tapi karena aku kalah aku sudah tidak berniat untuk kuliah di tahun ini. Aku akan kuliah tahun depan saja setelah memenangkan kompetisi itu tahun depan."
"Benarkah? Kalau begitu ikutlah bersamaku." Seru Lion tampak antusias.
"Kemana? Kau tidak melanjutkan sekolahmu?" Tanya Kevin tampak bingung.
"Aku akan keliling dunia. Jika kau mau kau bisa ikut bersamaku, akan lebih menyenangkan jika kita pergi berdua. Bahkan kita bisa mencoba mendaki gunung Everest." Ucap Lion dengan raut wajah tampak senang.
"Sepertinya menarik. Baiklah, Lion... Ayo kita pergi keliling dunia." Jawab Kevin juga tampak antusias.
...***...
"Bagaimana pertemuannya?" Tanya Mona ketika Melody masuk ke dalam rumah, dan ketiga Musketeers yang pulang bersama gadis itu berada dibelakangnya.
Melody tak menjawab apapun. Gadis itu memasang wajah muram dan langsung berjalan cepat menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Mona menatap pada ketiga Musketeers yang juga tampak bingung pada sikap adiknya itu. Gadis itu merasa kalau saat ini Melody memendam perasaannya sehingga dia segera bergegas menyusul Melody ke kamarnya.
Mona membuka kamar Melody dan melihat gadis itu sedang menangis dengan menundukan wajahnya di atas tangan yang terlipat di meja belajar.
"Ada apa Melody?" Tanya Mona memegang pundaknya.
Melody mengangkat kepalanya dan melihat pada Mona dengan wajah yang penuh air mata.
"Ini semua sudah berakhir Mona. Aku sudah tidak bisa melakukan apapun lagi untuk menghentikan apa yang akan terjadi setelah ini. Sekarang aku hanya bisa menjalani semuanya." Jawab Melody menahan isakannya. "Semua sudah berjalan sejauh ini sehingga aku tidak akan mundur lagi."
Ketiga Musketeers yang mencuri dengar berada di luar pintu kamar adiknya itu.
...–NATZSIMO–...