
Melody berjalan memasuki rumah sakit dengan langkah cepat. Dia tidak memedulikan Aramis yang mengikutinya dari belakang. Saat ini Melody hanya ingin melihat kondisi Lion. Dia hampir tidak bisa berpikir setelah mendengar perkataan Prothos.
Tanpa ragu dan pertimbangan Melody membuka pintu ruangan di mana Lion berada. Beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu menatapnya karena Melody membuka pintu dengan kasar.
Melody tidak memedulikan mereka dan berjalan ke pojok ruangan dimana ranjang Lion berada. Dia segera membuka tirai yang menutupi tempat Lion.
Tawa Lion bersama teman-temannya terhenti karena kedatangannya. Mereka semua yang jumlahnya sekitar tujuh orang termasuk Lion dan Ivan menatap Melody yang berdiri dengan tatapan penuh ke khawatiran.
Melody bernapas lega setelah melihat kondisi Lion tidak seburuk yang diucapkan Prothos. Hanya kakinya yang terbalut perban dengan di bungkus gips dan ada goresan-goresan kecil pada wajahnya.
Teman-teman Lion yang lain kecuali Ivan langsung pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Melon, dengan siapa kau ke sini?" Tanya Lion menatap Melody yang membeku. "Aku minta maaf karena tidak bisa menemuimu."
"Aku kira saat ini kau dalam keadaan koma, ternyata baik-baik saja." Seru Aramis muncul. "Kalau begitu ayo kita pulang, Melo."
"Sialan kau Ars!!" Ujar Lion kesal. "Tidak lihat kakiku patah? Sekarang aku tidak bisa melakukan apa yang aku suka. Mimpiku sudah hancur, rasanya aku ingin mati saja!!" Gumam Lion menatap Aramis dengan kesal.
"Kau berlebihan sekali!!" Aramis berjalan mendekati Lion dan duduk di sisi ranjangnya. "Setidaknya wajahmu tidak hancur, kalau itu terjadi tidak akan ada wanita yang mau denganmu!!" Aramis memukul pelan perut Lion.
Lion meringis kesakitan karena ulahnya itu.
"Sebaiknya kau pulang, kau hanya menambah penderitaanku saja!!" Ucap Lion. "Ivan, cepat seretlah dia keluar dari sini!!"
"Ya kalau bisa lakukan saja, Ivan." Tatap Aramis pada Ivan dengan garang.
Ivan hanya menghela napas dan bangkit berdiri dari kursi tidak ingin menggubris perkataan Aramis.
"Mau kemana kau?" Tanya Lion.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganku." Jawab Ivan.
"Siapa? Apa sangat penting sampai kau ingin meninggalkan aku?" Tanya Lion tampak kesal.
"Tentu saja jauh lebih penting darimu. Kau tahu Light Falsehood? Dia hacker yang membantu sepupumu mengacak-acak website-ku." Jawab Ivan dengan serius.
"Terus apanya yang lebih penting?"
"Kau tidak akan mengiranya. Dia lebih muda dari kita satu tahun dan lagi dia seorang wanita." Jawab Ivan dengan sebuah senyum. "Baiklah, aku akan pergi dulu menemuinya. Dia akan sangat berguna untuk kita dengan kemampuannya."
Setelah berkata demikian Ivan berjalan pergi ke luar dari ruangan tersebut.
"Wanita? Itu hebat sekali." Ucap Aramis.
"Aku yakin kau juga pasti mengenalnya. kalian semua sekongkol kan?" Kesal Lion.
Aramis langsung terkekeh mendengar rasa kesal Lion padanya.
"Melo, kemarilah... kau tidak ingin menambah penderitaan si bodoh ini?!" Seru Aramis pada Melody yang masih berdiri agak jauh dari ranjang Lion.
Melody berjalan mendekat dan duduk di kursi yang tadi diduduki Ivan. Tak ada yang dia katakan dan hanya terus memperhatikan Lion ketika berbicara dengan Aramis mengenai hal yang tidak gadis itu mengerti. Hatinya saat ini sangat lega karena Lion baik-baik saja.
"Sudah jam delapan malam, waktu berkunjung sudah habis. Ayo kita pulang, Melo." Seru Aramis.
Perkataannya mengejutkan Melody karena sejak tadi dia belum berkata apapun.
"Setidaknya temani aku di sini!!" Kata Lion. "Aku tidak suka sendirian di rumah sakit. Sangat membosankan." Lanjut Lion. "Melon, temani aku disini!!"
"Diam kau!!" Seru Aramis sambil memukul kepala Lion. "Ayo kita pulang, Melo!!"
"Kalian jahat sekali!!" Gumam Lion.
Aramis meninggalkan ruangan itu. Tinggallah Melody bersama Lion, berdua. Lion menatap gadis yang hanya menundukan kepalanya karena tidak tahu harus berkata apa untuk mengawali pembicaraan.
"Katanya ada yang ingin kau sampaikan? Kenapa diam saja?" Tanya Lion.
Melody mengangkat wajahnya dan menatap Lion.
"Itu... tadi... tadi saat di rumah seorang produser musik datang, dia mengundangku untuk mengikuti audisi." Ucapnya.
"Bagus. Kapan audisinya?"
"Hari sabtu ini." Jawab Melody. "Lion, terimakasih. Terimakasih karena itu semua berkatmu... kau kan yang mengirim demo record pada mereka?"
"Temanku memberitahu mengenai audisi itu dan aku rasa kau cocok dengan yang mereka cari, jadi aku mengirimkannya." Senyum Lion. "Tapi sayang sekali padahal aku ingin melihat audisinya, tapi sekarang keadaanku malah seperti ini. Kau harus lulus audisi, dengar ya!!"
"Maaf, kalau aku tidak memintamu menemui—"
"Sudahlah, tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Seru Lion tersenyum lebar. "Nanti juga sembuh. Ya walaupun sebenarnya aku kesal karena malam ini harus menginap disini hanya sendirian. Aku tidak ingin merepotkan nenek, tapi aku juga tidak ingin sendirian."
"Kakimu... ini tidak adil, padahal berkatmu aku hampir meraih mimpiku, tapi kau jadi tidak bisa meraih mimpimu karena aku."
"Tidak! Tidak seperti itu! Dance dan bermain skateboard itu hanya hobi, bukan mimpiku." Ucap Lion mencoba membuat Melody tidak merasa bersalah. "Yang aku kesal karena kau, aku harus menginap sendirian di rumah sakit ini." Gumam Lion. "Sudah sana pulang! Ars akan mengomel kalau menunggu lama!!"
...***...
Melody berdiri di depan jendela kamar setelah sampai di rumah. Dia memperhatikan kamar Lion yang tirainya tidak tertutup untuk beberapa saat. Dia masih merasa bersalah karena dirinya, Lion jadi tidak bisa meraih mimpi. Seharusnya tadi dia tidak meminta bertemu dan mengatakan lewat telepon saja agar Lion tidak mengalami kecelakaan.
"Mimi, sekarang dia jadi tidak bisa berjalan karena kecelakaan itu." Ucap Melody menoleh pada Mimi yang berbaring di atas tempat tidurnya.
Setelah itu Melody mengambil gitar dan mulai memetiknya, mencoba tidak memikirkannya lagi dan berlatih untuk audisi.
...***...
Pagi-pagi sekali Melody ke rumah Lion untuk memberikan susu pada Susu. Setelah ini dia juga berniat untuk pergi ke rumah sakit untuk membawakan pakaian dan makanan untuk Lion setelah mengambilnya di rumah Lion.
"Lion sedang sakit, Susu. Kau pasti merindukannya kan?" Melody menggendong Susu dan menyayangi lembut anjing kecil itu. "Tapi dia pasti akan segera sembuh. Kau tahu sendiri kan, dia tidak suka berada lama di tempat tidur."
Setelah itu Melody menuju dapur di mana nenek Lion berada saat ini. Nenek Arumi sedang membuat donat untuk dibawa Melody ke rumah sakit.
"Biar aku bantu nek." Ujar Melody.
"Untung saja ada Melody, pinggang nenek sakit jadi tidak bisa ke rumah sakit. Tidak apa-apa kan kalau Melody pergi sendiri?" Tanya nenek Arumi sambil membentuk adonan menjadi bulat.
"Tidak apa-apa nek, aku memang ingin ke rumah sakit. Sebaiknya nenek istirahat saja di rumah." Senyum Melody sambil membuat lubang di adonan bulat dengan cetakan. "Kemarin Lion bilang dia tidak ingin merepotkan nenek, jadi dia pasti tidak ingin nenek ke rumah sakit dengan pinggang yang sakit. Ini juga bukan pertama kalinya dia dirawat di rumah sakit kan nek?"
"Sejak dulu Lion memang begitu, dia tidak ingin nenek repot." Ujar nenek Arumi tersenyum. "Anak nenek sudah nenek beritahu tentang keadaan anaknya, mungkin tidak lama lagi dia datang."
"Maksud nenek, ibunya Lion?" Tanya Melody. "Sudah lama sekali tante Stella tidak pulang. Sekitar tiga tahun kalau tidak salah ya?"
"Ya begitulah." Kata nenek Arumi. "Kau tahu kan kalau ayah Lion bekerja di Amerika? Dulu ketika baru menikah mereka tinggal disini tapi ayahnya kembali ke Amerika setelah Lion lahir bersama Stella, sedangkan Lion dititipkan pada nenek karena Stella tidak ingin Lion besar di sana."
"Aku sudah tahu, nek." Ucap Melody sambil berpikir sesuatu.
...–NATZSIMO–...
Noted :
Light Falsehood adalah salah satu karakter penting di novel author berjudul Obsesi Cinta CEO Gay. Jangan lupa mampir untuk membaca ya.