MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
054. BERUSAHALAH MENYUKAINYA



Bel istirahat berbunyi.


Niko menghampiri Lion di kursinya. Semua mata teman-teman sekelasnya memperhatikan mereka. Semua penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada Melody, dan juga penasaran apakah Niko akan marah pada Lion setelah Lion menggendong Melody tadi.


Semua tahu kalau Lion memang sangat dekat dengan Melody sebelum kehadiran Niko, tapi kabar kalau Niko akan bertunangan dengan Melody membuat mereka penasaran dengan hubungan pertemanan Lion dan Niko saat ini.


"Lion, aku—"


"Kau tenang saja Niko, Melon baik-baik saja sekarang." Potong Lion sambil merangkul Niko. "Sebaiknya kita tidak bicara disini." Bisik Lion.


...***...


"Ato sudah menceritakan padaku mengenai traumanya." Ucap Niko ketika dia dan Lion berada di atap gedung sekolah.


Lion langsung memukul wajah Niko untuk menumpahkan kekesalan yang sudah dia tahan sejak tadi.


"Maafkan aku Niko, aku tidak bisa menahan kekesalanku lagi." Ujar Lion membuang napas dalam-dalam. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan padanya hingga traumanya kembali muncul. Sekarang karena ulahmu sendiri bisa saja dia menjadi takut melihatmu."


"Pikirkan sesuatu, aku tidak ingin rencana kami kacau." Kata Niko sambil mengusap pipi kirinya yang sakit karena pukulan Lion.


Lion terlihat kesal karena permintaan Niko padanya.


"Kau tahu Niko, aku jadi terlihat semakin menyedihkan di antara kalian." Ucap Lion kesal. "Sekarang mereka akan menyeret-nyeretku lagi dalam hubungan kalian. Kau tahu? Sebelumnya Melon bilang padaku kalau dia akan bahagia bersamamu dan aku dimintanya untuk tidak ikut campur. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Aku juga tidak ingin siapapun tahu mengenai traumanya itu, aku akan meminta ayahku untuk mencari bajingan itu dan membunuhnya. Kau pikirkan saja agar tidak ada kekacauan lagi pada rencanaku." Niko mengeluarkan handphone-nya hendak menghubungi ayahnya di Rusia. "Bajingan itu di Amerika 'kan? Negara favorit kami (Russian)." Sarkastis Niko.


"Kau malah akan membuatnya semakin kacau!!" Seru Lion merebut handphone Niko. "Kau yang mengacaukan segalanya, bodoh!! Sekarang apa yang harus aku lakukan?


"Kau hanya perlu melakukan semua keinginanku!!" Ucap Niko dingin mengingatkan Lion mengenai sumpahnya.


...***...


Lion berjalan masuk ke ruang UKS bersama Niko. Anna dan Rinka masih ada di sana langsung menatap kehadiran mereka. Melody duduk di atas ranjang dan melihat Niko dengan tatapan ketakutan.


"Biarkan kami bertiga bicara." Ucap Lion pada Anna dan Rinka yang langsung keluar.


Lion berjalan mendekati Melody dengan perlahan, sedangkan Niko masih berdiri agak jauh dari ranjang dengan harapan Melody tidak akan takut padanya.


"Kau sudah baik-baik saja kan?" Lion agak mencondongkan tubuhnya menatap Melody yang menunduk.


Melody langsung memegang lengan Lion yang berdiri di sisi kanan ranjang dengan tangan kanannya dan menengadah melihat Lion.


"Aku ingin pulang." Ucap Melody. "Aku ingin kau mengantarku pulang."


"Dengarkan aku dulu." Ujar Lion melepaskan tangan Melody yang memegang lengannya, namun Melody malah menggenggam telapak tangan Lion membuat Lion menoleh pada Niko bingung. "Niko ingin bicara, dia minta maaf kalau membuatmu takut. Aku akan keluar biar kalian bicara."


Melody menggenggam erat tangan Lion dan menggeleng padanya. Dia tidak mau ditinggal dengan Niko saat ini.


"Antar aku pulang, aku butuh waktu untuk menghilangkan rasa takutku padanya." Ujar Melody. "Tolong mengertilah."


Lion menoleh pada Niko meminta persetujuannya. Dan Niko langsung melempar kunci mobilnya pada Lion lalu langsung berjalan keluar. Dia sangat merasa menyesal dan bersalah saat ini.


...***...


Lion menjadi sangat bingung dengan situasi yang terjadi. Di satu sisi dia mencemaskan Melody dan di sisi lain dia tidak bisa mengabaikan keinginan Niko. Semua membuatnya bingung.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Lion masih memperhatikan jalan.


Melody tak menjawab, dia hanya memandang ke luar jendela mobil di sampingnya. Dia pun bingung.


"Kalau kau takut menemuinya, setidaknya telepon dia. Dia sangat cemas dan merasa bersalah. Kemarin kau bilang padaku kalau kau dan Niko akan mencari kebahagiaan kalian bersama kan? Kalau kau meninggalkannya seperti sekarang ini, dia akan sangat hancur. Kau sudah tahu bagaimana penderitaan dalam hidupnya. Jadi jangan membuat semakin parah dengan memberinya harapan palsu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ada kalanya seseorang melakukan kesalahan karena itu kata maaf tercipta agar ada kesempatan untuknya memperbaiki kesalahan itu."


"Kau tenang saja, aku tidak ada keinginan untuk menghentikan semuanya. Aku hanya membutuhkan waktu untuk menghilangkan rasa takutku ini." Jawab Melody masih melihat ke luar jendela pintu mobil. "Terimakasih kau sudah menenangkan aku tadi. Sekali lagi aku merepotkanmu."


Lion menoleh menatap Melody ketika lampu merah. Ada keinginan di dalam dirinya untuk mengatakan agar gadis itu menghentikan semuanya saat ini juga namun rasanya sudah tidak mungkin.


"Melon."


"Niko adalah pria yang baik. Kau tidak perlu takut padanya. Dia akan mendengarkan semua perkataanmu agar kau bahagia. Berusahalah menyukainya agar kau pun bahagia juga."


Melody tertegun mendengar ucapan Lion. Itu menyakitkan, pemuda yang disukainya memintanya untuk menyukai orang lain. Melody ingin berteriak rasanya mengatakan bagaimana perasaannya saat ini pada Lion.


"Kalau begitu sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama pada Karen." Jawab Melody.


...***...


Prothos berbaring di atas tempat tidur kamar hotel bersama gadis yang digodanya. Gadis itu memeluk Prothos di balik selimut tebal yang membalut mereka tanpa busana. Wajah gadis itu terlihat sangat senang saat ini.


"Apa kau mau pulang sekarang atau kita menginap saja disini? Ini masih siang, dan aku masih punya banyak stok pengaman untuk kita." Ucap Prothos.


"Aku ingin terus bersama denganmu." Ujar gadis itu langsung naik ke tubuh Prothos yang berbaring. "Aku sangat beruntung hari ini."


"Kau gadis luar biasa, ini pertama kalinya untukmu tapi kau langsung menikmatinya." Tawa Prothos menatap gadis yang ada di atas tubuhnya.


"Jelas saja, dengan wajah dan tubuh sempurna di hadapanku, bagaimana mungkin aku tidak menikmatinya." Jawab gadis itu langsung mencium Prothos.


Prothos langsung membalik posisinya dan membuat gadis itu telungkup lalu merengkuh tubuhnya dari atas.


"Aku akan membuatmu tidak akan melupakanku, Widia." Bisik Prothos.


...***...


Aramis masuk ke sebuah toko pakaian wanita di sebuah mall. Seorang pramuniaga langsung menghampiri dirinya ketika terlihat sangat kebingungan mencari pakaian yang diinginkannya.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya pramuniaga.


"Aku sedang mencari pakaian untuk seorang gadis." Jawab Aramis.


"Apa tahu ukurannya?"


"Tidak. Dia sangat tinggi untuk ukuran wanita, kira-kira tingginya setelingaku tapi tubuhnya kurus. Dia seperti seorang model."


"Apa dia pacarmu?"


"Bukan, dia calon istriku." Ucap Aramis. "Carikan juga sepatu yang cocok untuk pakaiannya. Tolong pilihkan yang paling bagus untuknya karena dia tidak pernah memakai pakaian wanita."


...***...


Niko duduk di pinggir kolam renang tempat favoritnya sepulang sekolah. Melamun seperti biasanya. Dia menghidupkan sebatang rokok dan menghisapnya. Itu menunjukan kalau dirinya saat ini lebih bersedih dari biasanya.


Dia sangat takut kalau Melody membatalkan rencananya. Semua itu karena pikiran bodohnya tadi. Seharusnya dia juga tidak meminta maaf pada perkataannya, toh gadis itu tidak mengerti apa yang diucapkannya.


"YA dolzhen byl nayti tebya davnym-davno (Seharusnya aku menemukanmu dari dulu)." Gumam Niko, tatapannya kosong dan sebatang rokok terselip di bibirnya. "...sebelum Lion."


Tiba-tiba handphone-nya yang berada di sebelahnya berbunyi, dia sedikit senang ketika melihat nama Melody yang meneleponnya. Secepatnya Niko menjawabnya.


"Melody, maafkan aku, aku mengaku salah." Ujar Niko dengan cepat.


"Niko, aku yang minta maaf. Aku membuatmu menjadi tampak menakutkan di mata orang-orang. Saat ini aku sedang mencoba untuk tidak takut lagi padamu." Ucap Melody.


"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau tidak takut lagi padaku? Kau sudah baik-baik saja kan?"


"Ya aku rasa begitu. Datanglah besok ke rumahku, aku ingin lebih sering bersama denganmu agar aku tidak merasa takut lagi padamu. Tapi kau harus menahannya kalau kakakku berperilaku buruk padamu."


"Itu sangat tidak masalah untukku." Senyum Niko senang.


"Satu lagi, tolong berhentilah mengatakan apapun dalam bahasa Rusia. Aku tahu itu bahasa yang lebih sering kau gunakan dan tanpa sadar kau juga sering menggunakannya, tapi bisakah kau tidak mengatakan apapun padaku dengan bahasa itu?"


"Baiklah, aku aku berusaha." Jawab Niko merasa lega.


......–NATZSIMO–......