MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
151. PERASAAN YANG TERDALAM



Athos kedatangan tamu dari sekolahnya yaitu ketua OSIS yang menjabat menggantikan Anna, Donny. Kedatangannya untuk mendiskusikan mengenai acara perpisahan yang hendak di selenggarakan sekitar satu bulan lagi. Sosok Athos yang selalu bekerja secara maksimal membuat Donny si ketua OSIS membutuhkan pendapatnya sebagai mantan ketua OSIS.


"Mungkin ini terakhir kalinya kami membutuhkan pendapatmu. Dana yang diberikan sekolah tidak terlalu banyak tetapi kami ingin mengadakan acara perpisahan untuk angkatan terbaik sekolah kita." Ujar Donny yang datang hanya seorang diri. "Aku sudah mencoba menanyakan mengenai harga di J.T Marlow Hotel dan mereka memberikan harga yang sangat tinggi. Apa sebaiknya kita meminta Niko untuk memberikan harga murah untuk mengadakan acara tersebut di hotelnya? Jika iya, kami membutuhkanmu untuk berbicara dengannya."


"Tidak perlu, aku akan membantu mencari tempat lainnya." Jawab Athos yang merasa tidak ingin berhutang budi pada Niko. "Apa harus di hotel bintang lima? Bagaimana jika mencari tempat lainnya?"


"Ya tidak masalah jika sesuai dengan dana yang tersedia." Jawab Donny.


"Baiklah, aku rasa aku bisa membantu bernegosiasi dengan hotel bintang lima lainnya." Ujar Athos.


Sepeninggalan Donny, Athos berpikir untuk menghubungi beberapa hotel berbintang yang dia rasa bisa mendapatkan harga murah.


"Mona, bisa minta tolong ambilkan handphone-ku di kamar?" Athos yang duduk di sofa ruang tamu menoleh ke Mona yang duduk di meja makan sedang sibuk dengan laptop dihadapannya.


Mona langsung bergegas menaiki tangga dan mengambil handphone milik Athos di kamar pemuda itu. Tepat ketika Prothos hendak masuk ke kamarnya lagi setelah kembali dari kamar mandi.


"Makan siang dulu, aku membuat cumi asam manis." Ujar Mona pada Prothos.


Prothos tidak menjawabnya dan hanya masuk ke dalam kamarnya lagi, tidak menghiraukan perkataan Mona padanya.


"Dia masih saja seperti itu." Ucap Mona pada Athos ketika memberikan handphone padanya. "Kenapa kau menerima permintaan mereka untuk membantu mereka? Keadaanmu masih belum baik, seharusnya kau menolaknya. Mereka bisa mencari tempat yang sesuai dengan dana yang diberikan dari sekolah kan?" Tanya Mona duduk di salah satu sofa di ruang tamu.


"Ini terakhir kali aku bisa membantu mereka dalam urusan sekolah." Jawab Athos setelah itu sibuk dengan handphone-nya.


"Melo belum pulang, padahal ini sudah jam lima sore." Mona bangkit berdiri dan berjalan kembali duduk di kursi meja makan.


"Ada apa, Mona?" Tanya Melody yang menerima telepon dari Mona.


"Kau dimana? Kenapa belum pulang?" Ujar Mona. "Kau pergi dengan Niko?"


"Ya, aku di rumah Niko, sebentar lagi aku akan pulang." Jawab Melody. "Apa kak Oto sudah kembali seperti semula?"


"Belum. Cepatlah pulang, dan jangan terlalu sering ke rumah Niko." Ujar Mona setelah itu menutup teleponnya.


Mendengarnya Athos tertawa kecil. Dia tidak tahu sejak kapan Mona menjadi dekat dengan Melody, bahkan sampai memerintah adiknya yang keras kepala itu.


...***...


"Niko, aku ingin pulang sekarang." Ucap Melody pada Niko yang berjalan keluar dari kolam renang.


"Pulang? Kenapa secepat ini?" Tanya Niko sambil melepas kacamata yang digunakannya. "Kau bisa di sini lebih lama."


"Maafkan aku, aku akan pulang sekarang." Ucap Melody yang merasa menjadi mengkhawatirkan Prothos saat ini.


"Baiklah, tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian dulu dan mengantarmu pulang."


Melody menganggukkan kepalanya, menyetujuinya.


Niko mengantar Melody untuk pulang ke rumahnya. Di dalam perjalanan Niko menerima telepon dari Lion. Melody mencoba menyimak namun Niko berbicara campur dengan bahasa Rusia sehingga gadis itu sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Kau sudah tahu kalau Lion berencana keluar dari sekolah?" Tanya Niko setelah menutup telepon dari Lion. "Aku memintanya datang saat kita menikah, tapi dia beralasan kalau dia akan sibuk di sekolah barunya padahal aku dengar dari Ivan dia berencana untuk menunda sekolahnya selama satu tahun."


"Menunda sekolah? Apa maksudnya?" Melody terkejut mendengar apa yang diucapkan Niko.


"Dia berencana bersenang-senang selama satu tahun nanti." Jawab Niko. "Dia ingin menemui teman-temannya di beberapa negara. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia menolak datang ke Rusia saat kita menikah." Niko menatap Melody untuk melihat reaksi gadis itu.


Melody hanya diam saja sambil menatap ke depan jalan. Walau saat ini dia menjadi memikirkan Lion yang ingin pergi.


"Lion semakin berubah akhir-akhir ini. Bagaimana menurutmu Melody?"


"Dia berubah setelah bertarung dengan kakakmu, tapi dia menjadi pendiam setelah kita pergi berlibur. Apa kau tahu apa yang terjadi padanya?"


"Karen pasti merubahnya." Jawab Melody tak ingin berpikir.


"Bukankah aneh? Apa mereka benar-benar berpacaran? Kalau iya lalu kenapa Lion berencana pergi?" Tanya Niko lagi.


Melody juga merasakan hal yang aneh mengenai masalah itu. Tapi Niko yang mengatakan semua itu padanya lebih terdengar aneh. Dia tidak tahu apa maksud tujuan Niko membicarakan mengenai Lion dengannya.


"Ini semakin aneh saat dia menolak datang ke pernikahan kita nanti. Bahkan dia juga akan pergi saat pagi hari di hari pertunangan kita. Itu artinya dia tidak akan hadir." Lanjut Niko. "Apa kau tahu alasannya itu, Melody?"


Melody menoleh pada Niko dan menatap pemuda yang terlihat serius menyetir karena pandangannya lurus ke depan saat ini.


"Apa harus aku tanyakan padanya, Niko? Kenapa kau tidak menanyakan semua itu padanya langsung?" Ujar Melody dengan dingin. "Kenapa juga kau harus mengatakan semua itu padaku?"


"Dan sikapmu sekarang juga aneh." Ucap Niko tanpa merubah pandangannya. "Kenapa kau menjadi kesal hanya karena aku membicarakan Lion denganmu?" Niko menoleh dengan dingin pada Melody.


"Karena apa yang kau katakan tidak ada sangkutpautnya denganku."


Niko langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan dengan sangat cepat.


"Dulu kau menghentikan dia saat akan pergi lalu kenapa sekarang kau bilang semua tidak ada sangkutpautnya denganmu?" Tatap Niko dengan wajah marah. "Kenapa hubungan kalian menjadi berubah? Katakan padaku, apa kau menyukai Lion?"


Melody mematung mendengar pertanyaan Niko yang terlihat marah padanya. Tatapan pemuda itu menajam dengan siratan mata kekesalan pada dirinya.


"Apa semua itu penting? Aku sudah setuju mengikuti semua keinginanmu. Kenapa sekarang kau menanyakan hal yang tidak penting itu padaku? Apa kau ingin kita tidak jadi—"


"Ya kau benar." Jawab Niko membuang mukanya dari tatapan dingin Melody dengan menghela napas. "Itu semua seharusnya tidak penting karena yang terpenting kau akan menikah denganku."


Niko kembali menjalankan mobilnya dengan emosi yang berusaha dia redam. Walaupun dia berkata seperti itu dengan menganggap yang terpenting adalah menikah dengan Melody namun kenyataannya perasaan Melody pada Lion mengganggu perasaannya. Bagaimanapun dia ingin kalau gadis yang akan dinikahinya mencintainya bukan mencintai orang lain.


Sedangkan Melody, gadis itu jadi sedikit khawatir pada Niko karena sepertinya Niko mencurigai dirinya yang menyukai Lion. Dia tidak ingin Niko sampai tahu akan hal tersebut, bahkan dia juga tidak ingin Lion tahu akan hal itu karena itu akan membuatnya menjadi semakin sulit bersikap seperti apa pada mereka berdua.


Perasaan gadis itu menjadi sedih saat ini. Lion yang akan pergi dan dirinya yang akan bertunangan, itu semua semakin mendekati hari perpisahan mereka berdua. Membuat air mata gadis itu menetes tanpa sadar.


Niko mengetahui Melody yang menangis walau gadis itu terus menoleh ke jendela pintu mobil. Pemuda itu hanya diam saja dengan berpura-pura tidak mengetahui hal tersebut, walau sebenarnya dirinya yang melihat Melody menangis membuatnya menjadi yakin kalau gadis itu memang sangat bersedih dengan semua rencana mereka dan itu juga menunjukan seberapa besar cinta gadis itu pada Lion.


"Aku ingin semakin cepat kita menikah. Kita bisa memajukan tanggalnya." Ujar Niko dengan tatapan dingin ke depan. "Kita akan menikah tepat di hari ulang tahunmu."


Melody menoleh ke Niko dengan tatapan terkejut.


...–NATZSIMO–...


J.T Marlon Hotel adalah hotel milik dari Jayantaka Enterprise di mana pemeran utama dalam novel Obsesi Cinta CEO Gay adalah pemilik dari hotel tersebut.


Yuk dibaca, novel tersebut adalah lima tahun setelah jilid kedua dari novel ini. Di sana akan menyinggung mengenai apa yang terjadi setelah jilid kedua ini, dan bisa jadi sedikit spoiler untuk jilid ketiga nanti (author masih bingung juga apa akan melanjutkan sampai jilid ketiga atau tidak).


Makanya kalau ingin tahu sedikit tentang jilid ketiga baca aja karya author yang itu. Jangan terjebak sama judul dan genre ya (karena genre yang buat dari pihak apk, author nggak bisa ubah lagi setelah kontrak).


Baca juga I AM A BUTTERFLY karena di karya itu tiga tahun setelah jilid kedua ini tamat ya.


Rumus pertemanan Lion akan ada di semua karya author dimanapun yang bergenre non fantasy.