
Niko memahami maksud perkataan Melody. Gadis itu mengatakan untuk tidak mendekatinya, apalagi menggigitnya lagi karena terakhir kali Niko menegaskan padanya untuk tidak melarangnya pada satu hal itu.
"Gigitanku kemarin bukan gigitan untuk mengubahmu menjadi vampir." Ucap Niko dengan tatapan tajam. "Sebaiknya kita kembali ke mansion sekarang. Aku jadi haus."
"Kau tidak bisa melakukan itu Niko, kau sudah berjanji banyak hal padaku. Kau harus menepati semua ucapanmu." Jawab Melody dengan sedikit takut. "Jangan masuk ke kamarku lagi, di rumah ataupun di sini. Kau membuatku takut. Kalau kau melanggarnya aku akan membatalkan pertunangan kita."
Niko menahan amarahnya. Sejak dia melihat Melody mencium Lion, dirinya tidak bisa menahan rasa cemburunya dan ingin berbuat sesukanya pada gadis yang dicintainya itu. Namun dia selalu menahannya untuk menepati semua janjinya pada Melody.
"Kau sangat tidak adil Melody." Ujar Niko. "Kita akan bertunangan dan menikah, tapi bahkan aku belum pernah menciummu. Sedangkan kau membuatku cemburu karena—"
"MEL, AYO SINI, DI SINI ADA BANYAK KERANG DAN PENYU. KAU HARUS MELIHATNYA, SINI!!" Teriak Karen menghentikan perkataan Niko karena Melody menoleh pada Karen yang berteriak memanggilnya.
"Aku akan ke sana." Ujar Melody bangkit berdiri.
Niko bangkit berdiri juga dan menatap Melody yang berjalan menjauhinya dengan rasa kecewa, rasa marahnya sudah berubah menjadi rasa kekecewaan pada gadis itu. Dia merasa sedih bukan hanya karena larangan gadis itu padanya, bahkan Melody sama sekali tidak peduli dengan apa yang ingin dikatakan pemuda itu pada dirinya.
Dengan perasaan kekecewaan Niko berjalan pergi meninggalkan pantai.
Pukul tujuh malam Melody dan Karen kembali ke mansion. Lion pergi seorang diri untuk melakukan sesuatu yang dia suka dan tidak ikut pulang bersama kedua gadis itu. Ketika mereka berdua sampai, mereka tidak melihat Niko berada di sana. Dan menurut pekerja di mansion-nya, Niko belum kembali setelah pergi dengan mereka.
"Kemana Niko, Mel?" Tanya Karen pada Melody yang baru keluar dari kamar mandi sehabis mandi. "Apa yang kalian bicarakan tadi hingga dia pergi entah kemana? Kau sudah menghubunginya?"
"Aku hanya melarangnya masuk ke kamar ini." Jawab Melody tanpa merasa bersalah. "Apa aku harus menghubunginya?"
"Ya ampun, aku tidak mengerti dengan kalian. Kau tidak mengkhawatirkannya?" Tanya Karen yang duduk di atas tempat tidur. "Padahal kalian akan segera bertunangan." Gumam Karen.
"Nanti dia juga akan kembali." Jawab Melody berdiri di depan cermin.
"Ternyata belum hilang juga ya bekasnya?" Karen menghampiri Melody dan melihat bekas gigitan Niko yang ada di leher gadis itu karena Melody melepas plesternya.
"Aku membaca kalau bekas ini akan hilang sekitar dua minggu." Jawab Melody. "Plaster yang aku bawa jatuh di wastafel dan basah semua. Aku akan pergi ke mini market membelinya."
"Kau bisa meminta pekerja disini untuk membelinya."
"Aku tidak enak memintanya pada mereka. Mini marketnya tidak terlalu jauh." Jawab Melody. "Apa kau mau menemaniku?"
"Aku baru akan mau mandi."
"Ya sudah aku pergi sendiri saja. Ada yang ingin kau beli?"
"Makanan ringan." Senyum Karen.
Melody masuk ke dalam mini market dan langsung mengambil plester yang hendak dia beli. Dia juga menuju ke bagian makanan ringan untuk membeli pesanan Karen. Gadis itu terkejut melihat Lion berdiri sedang mengambil stik cokelat di depan rak yang akan dia tuju.
Lion juga melihat kehadiran Melody namun segera mengalihkan pandangannya dan mengambil stik cokelat lalu berjalan hendak meninggalkan gadis itu tanpa sapaan.
"Lion, kau tahu dimana Niko??" Tanya Melody merasa aneh karena Lion bersikap dingin padanya. "Dia tidak ada di mansion."
"Aku tidak tahu. Aku tidak ingin ikut campur masalah kalian, itu juga yang kau inginkan bukan?" Jawab Lion setelah itu melanjutkan langkahnya menuju kasir.
Melody segera mengambil makanan ringan dan menyusul Lion ke kasir.
Lion berjalan keluar mini market sambil memakan stik cokelat yang baru saja dibelinya. Melody yang baru selesai membayar belanjaannya langsung bergegas keluar menyusul Lion yang tidak memedulikan dirinya.
"Lion, tunggu!!" Seru Melody namun tidak dihiraukan Lion.
Dengan agak berlari Melody mengejar Lion dan langsung menarik lengan kanan pemuda itu agar berhenti berjalan. Lion berhenti dan berbalik dengan tatapan dingin. Namun tatapannya mengarah pada tanda merah di leher Melody yang dia tahu adalah perbuatan Niko.
"Kenapa sekarang kau bersikap seperti ini lagi padaku?" Tanya Melody heran.
"Aku hanya bersikap seperti biasanya pada calon tunangan temanku." Jawab Lion. "Aku tidak ingin membuat Key salah paham juga."
"Baiklah." Jawab Melody menahan sedihnya. "Niko apa kau tahu dimana dia? Kau pasti tahu kan?"
"Dia sedang menyelam." Jawab Lion.
...***...
Mona membuka pintu kamar Prothos dengan segelas susu yang dibawanya, setelah Prothos memintanya membuatkannya sehabis makan malam tadi. Prothos duduk di depan laptopnya sambil mengangkat barbel di tangan kirinya dan matanya tertuju ke layar laptop sedang menonton sebuah film. Prothos juga tidak memakai bajunya saat ini, karena tubuhnya berkeringat setelah push up dan sit up.
"Kau tidak belajar padahal besok kau masih ujian." Seru Mona meletakan segelas susu di meja dekat Prothos.
"Belajar hanya untuk mereka yang mempunyai mimpi." Jawab Prothos meletakan barbel dari genggamannya lalu meminum susu yang dibawakan Mona. "Menurutmu siapa yang lebih tampan, dia atau aku?"
Prothos menunjukan gambar seorang aktor bernama Juan Rahardja yang sedang naik daun karena sudah membintangi beberapa judul film yang box office.
"Aku juga selalu tersenyum pada semua orang." Ucap Prothos tidak mau kalah.
"Kau berbeda, dia tersenyum hangat kalau kau tersenyum menebar pesona. Siapapun tahu itu!!" Seru Mona.
"Lalu siapa yang lebih tampan?"
"Sudah aku katakan ketampanan itu relatif. Kalau keseluruhan aku akan bilang Juan jauh melebihimu."
"Dia seorang aktor, dia tahu bagaimana menciptakan citra dirinya di depan kamera dan di depan orang. Aku yakin dia tidak sebaik yang kau bilang." Ujar Prothos. "Aku juga jauh lebih tampan darinya."
"Kalau begitu kenapa kau tidak menjadi artis saja? Kau terlalu percaya diri karena wajahmu. Menjadi artis itu tidak mudah karena harus mempunyai aura seorang bintang."
Prothos mengambil tumpukan kartu nama yang ada di laci mejanya.
"Apa aku harus mengikuti saranmu? Kalau aku mau aku bisa langsung menggeser posisi idolamu itu di dunia artis." Seru Prothos memberikan tumpukan kartu nama yang selalu dia dapatkan dari orang-orang yang menawarkan Prothos untuk menjadi artis.
"Kau mendapatkan tawaran begitu banyak kenapa tidak kau ambil?" Tanya Mona melihat-lihat kartu nama tersebut. "Bahkan ada PH terkenal dan sangat bagus yang menawarimu."
"Aku sama sekali tidak berniat menjadi seorang artis. Akan sangat merepotkan kemanapun aku berada. Sekarang saja sudah merepotkan untukku." Jawab Prothos. "Ayahku juga tidak ingin aku terlalu sibuk dan melupakan pendidikan."
"Kalau begitu akan aku buang ini semua, kau tidak membutuhkannya kan?"
...***...
Melody berdiri di pinggir pantai menunggu Niko yang sedang menyelam setelah Lion memberitahu dimana posisinya. Sudah setengah jam dia berdiri di sana dan Niko belum juga muncul ke permukaan laut.
Namun tidak berapa lama setelah itu, Niko muncul dan melihat sosok Melody menunggunya. Pemuda itu masih merasa kecewa sehingga dirinya merasa tidak senang dengan kehadiran Melody disana.
"Niko, aku mencarimu kemana-mana." Seru Melody menghampiri Niko yang sedang melepas perlengkapan diving-nya.
"Seharusnya kau tunggu di mansion saja, kau bisa sakit karena angin laut malam hari." Ujar Niko berjalan. "Ayo pulang."
"Kau marah padaku?" Tanya Melody memegang lengan Niko agar melihat padanya. "Kau marah karena aku melarangmu?"
"Tidak mungkin aku marah hanya karena hal seperti itu."
"Lalu kenapa?"
Niko diam saja, dia tidak ingin mengatakan kalau dia merasa sangat cemburu karena gadis itu mencium pria lain.
"Dengarlah, Niko, aku hanya tidak ingin ka—"
Niko menarik Melody ke pelukannya segera.
Di kejauhan Lion duduk memakan stik cokelatnya melihat mereka berdua, tak bereaksi apapun.
...–NATZSIMO–...
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......