MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
180. PESTA KELULUSAN



The Three Musketeers masuk ke dalam tempat acara perpisahan sekolahnya. Semua murid lainnya langsung menatap mereka bahkan tidak sedikit dari para murid perempuan menghampiri mereka bertiga, terutama pada Prothos.


Prothos yang sudah memulai kariernya sebagai selebritas mulai terkenal dengan menjadi model di beberapa iklan dan brand pakaian. Namun karena image yang dibangunnya, Prothos menolak untuk diajak foto bersama ditambah dia merasa kalau sedikitpun dirinya tidak berubah sebagai murid di sekolah mereka.


"Kenapa mereka semua terlalu berlebihan pada kita?" Gumam Prothos saat dirinya berhasil lolos dari jeratan para penggemarnya dan menghampiri kedua kembarannya yang memojok di sudut ballroom agar tidak ada yang berani mendekati mereka lagi.


"Sejak dulu memang seperti itu." Sahut Aramis sambil mengunyah apel yang baru diambilnya.


"Di mana Melo? Kenapa dia dan si konyol Lion belum datang?" Tanya Athos yang terus melihat ke arah pintu masuk. "Sejak Niko pergi entah kenapa aku jadi tidak bisa mempercayai dia lagi seperti dulu."


"Kau tenang saja, aku orang pertama yang akan mematahkan lehernya jika dia berani macam-macam pada Melo!!" Ujar Aramis jadi ikutan melihat ke arah pintu masuk.


"Kalian berdua ini, kenapa masih saja seperti itu?! Dasar para perjaka!!" Seru Prothos mengejek dengan tawa kecil.


"Katakan sekali lagi maka akan aku telanjangi kau, Oto!!" Ancam Aramis.


"Tidak perlu, kalau boleh di podium nanti akan aku buka pakaianku sendiri." Jawab Prothos tetap dengan tatapan mengejeknya.


"Kalian berdua diamlah!! Itu mereka." Ucap Athos yang melihat Melody dan Lion masuk.


Kabar mengenai Niko yang akhirnya tidak jadi bertunangan dengan Melody membuat mereka berdua jadi bahan tatapan semua murid di ruangan ballroom tersebut.


Banyak dari mereka yang sejak awal memang sudah yakin kalau sebenarnya Lion dan Melody saling menyukai, ditambah desas-desus yang diciptakan Karen untuk mereka berdua menambah semuanya semakin memanas.


"Kenapa mereka semua menatap padaku?" Tanya Lion menghentikan langkahnya.


Melody tidak memedulikan tatapan semua orang padanya dan melangkah meninggalkan Lion karena Rinka menyapa kehadirannya dari kejauhan.


Lion menghampiri ketiga Musketeers yang terus menatap padanya di sudut ruangan sambil membawa segelas lemon tea.


"Kenapa kalian juga menatapku seperti mereka semua?" Tanya Lion dengan sikap santainya.


Prothos mendengus mendengar perkataan Lion sedangkan Athos mengalihkan pandangannya ke podium tidak ingin menggubris ucapan itu sambil meminum jus guava.


"Diamlah, jangan pura-pura tidak tahu!!" Seru Aramis yang mengunyah makanan ringan yang dibawanya di atas piring. "Kau akan perfom apa?Dance?"


"Itu sudah pasti kan." Lion menunjukan senyum bodohnya yang merupakan ciri khasnya.


"Melo pasti tidak akan menyukainya." Ujar Prothos.


"Aku nge-dance untuk diriku sendiri bukan untuknya." Jawab Lion sambil menggerakan kakinya berjalan moonwalk meninggalkan Musketeers.


"Dia hanya akan membuat Melo menganggapnya bodoh." Ucap Athos.


"Ya, itu yang diinginkan bocah itu." Jawab Aramis.


"Dia tetap tidak berubah." Ujar Prothos.


Acara pun di mulai. Berbagai performance ditampilkan. Hingga Melody naik ke panggung sebagai pengisi acara juga.


Gadis itu bermain gitar yang dibawanya dengan menyanyikan dua lagu ciptaannya dan satu lagu yang sedang populer.


Sepanjang waktu dirinya di atas podium, Lion tampak merekam penampilannya tersebut dengan handphone. Melody berusaha tidak memedulikannya walau tatapannya terus saja melirik pada Lion yang hanya fokus ke layar handphone-nya.


"Kau semakin keren, Melon." Seru Lion saat Melody turun dari podium.


"Sedang apa kau? Kau merekamku?" Tanya Melody dengan tatapan dingin pada Lion karena beberapa murid masih saja melihat pada mereka.


"Kau pasti akan berterimakasih padaku nanti." Jawab Lion.


"Baiklah, untuk performance selanjutnya dari seseorang yang selalu membuat masalah di sekolah." Seru seorang murid sekolah yang menjadi master ceremony berbicara di atas podium. "Kesatria berkuda putih kita yang gay, the one and only... Lion."


"Sialan, mereka masih menganggapku gay!!" Gumam Lion namun segera bertepuk tangan di atas kepalanya saat mendengar sorak sorai dari para murid yang ada di ballroom tersebut.


Dengan segera dirinya menaiki podium dengan senyum keceriaan seperti biasanya. Ketika dirinya berada di atas podium seluruh murid pria tampak senang melihatnya, tidak sedikit juga murid wanita yang ikut bersorak-sorai tidak sabar melihat penampilan Lion yang sudah sering pemuda itu perlihatkan ketika berjalan di koridor sekolah.


"Pasti kalian sudah tidak sabar kan? Ck!" Ujar Lion berbicara dengan microphone. "Kebetulan aku sudah banyak berlatih."


"Cepatlah, Lion! Jangan banyak bicara!!" Teriak seorang murid pria.


"Aku bertaruh Melo akan langsung pergi dari sana saat bocah itu mulai" Ujar Prothos.


"Setidaknya aku harap Melo kuat melihatnya satu menit saja." Tambah Athos. "Bagaimana denganmu, Ars?"


"Baiklah, aku akan mulai sekarang. Tapi jangan lupa, L for??" Lion berseru pada semua yang di bawah panggung.


"LION!!" Terdengar jawaban serentak dari semua murid.


Melody merasa ingin pergi dari sana karena enggan melihat Lion yang menari di atas podium. Gadis itu sangat tidak suka ketika melihat Lion melakukannya, apalagi ini dilihat oleh begitu banyak orang.


Namun belum sempat dirinya melangkah pergi, tiba-tiba seseorang panitia memberikan Lion sesuatu. Sebuah alat musik tiup bernama saxophone.


Lion memulai penampilannya segera dengan alat musik tersebut dan membuat semua yang menonton tidak mengira kalau pemuda itu bisa memainkan saxophone, begitupun dengan Melody.


Ya walaupun Melody tahu banyak hal yang dipelajari oleh Lion, namun dia cukup terkejut Lion memainkan alat musik itu dengan baik.


"Dia memang keren." Ucap Karen yang tiba-tiba sudah berada di samping Melody.


Melody menoleh sesaat pada kehadiran gadis tersebut namun setelahnya melihat Lion kembali yang masih meniup saxophone. Tidak ada yang diucapkan Melody untuk menjawab perkataan Karen.


"Pantas saja sejak kemarin dia bersama Ivan, dia pasti meminta Ivan mengajarinya meniup saxophone." Ujar Aramis pada kedua kembarannya.


"Bagaimana aku keren kan?" Tanya Lion dengan mata yang mengarah pada Melody setelah selesai dan membuat riuh suara murid lainnya yang tampak senang.


Banyak dari mereka meminta agar Lion melakukannya lagi.


"Tenang tenang... Aku akan melakukan penampilan yang lainnya." Seru Lion setelah itu berjalan mundur mengambil sebuah topi coboy dan memakainya.


Melihat Lion yang akan menari membuat beberapa murid sampai ikut naik ke podium dan riuh suara yang lainnya tampak senang saat musik dihidupkan.


Dengan kepercayaan dirinya Lion mulai menari di atas podium. Melody memilih untuk berbalik dan berjalan meninggalkan depan podium karena dirinya merasa Lion selalu tampak bodoh saat menari hip hop. Apalagi ini dilihat oleh banyak orang. Benar-benar memalukan.


Lion yang sedang asyik menikmati gerakannya bersama teman-temannya memperhatikan Melody yang pergi mengarah ke balkon. Tersungging tawa kecil karena dirinya berhasil membuat Melody melihatnya tampak bodoh.


"Bukan Lion namanya kalau tidak mengakhirinya dengan tingkah konyol." Ucap Athos dengan tawa kecil.


Lion turun dari podium setelah lelah dan waktu penampilannya berakhir walau para murid memintanya terus berada di atas podium. Pemuda itu meminum segelas air putih dan mengambil sesuatu yang ada di sebuah piring di hidangan pesta lalu melahapnya.


"Kami tidak akan mengampunimu kalau macam-macam!!" Seru Aramis saat Lion berjalan menuju balkon.


Lion hanya tertawa kecil mendengarnya sambil berjalan menuju balkon di mana Melody berada saat ini. Pemuda itu keluar untuk menghampiri Melody yang sudah menoleh melihat kehadirannya.


"Kenapa kau tidak melihat penampilanku, Melon? Argh! Kau ini." Ujar Lion memasang wajah kesal. "Tapi aku keren kan saat main saxophone?"


Melody tidak menjawab walau dirinya sebenarnya memang menganggap Lion keren tadi ketika bermain saxophone. Tapi dia tidak ingin mengatakannya dan hanya menatap Lion saja.


Perlahan Lion berjalan mendekati Melody yang memunggungi pagar balkon lantai lima tersebut, pemuda itu terus mendekat hingga mereka hanya berdiri tidak lebih dari satu meter.


"Di sini dingin sekali, sebaiknya kita masuk ke dalam." Ucap Lion dengan mengusap-usap kedua tangannya yang kedinginan.


"Kita di sini saja dulu." Jawab Melody.


"Kenapa?" Tanya Lion memasang wajah bingung. "Aku akan masuk karena takut sakit jika berada lama di sini."


Saat Lion berbalik, Melody menarik Lion hingga pemuda itu berbalik dengan cepat dan memojokkan Melody ke pagar balkon. Melody tampak terkejut karena wajah Lion tepat di depan wajahnya.


Pemuda itu semakin mendekatkan wajahnya sehingga si gadis menutup mata menantikan sesuatu.


Heekk.


Lion bersendawa dan seketika bau bawang putih yang sebelum masuk ke balkon dia makan langsung tercium oleh Melody.


Melody membuka matanya dengan kesal karena dirinya dikerjai lagi oleh pemuda itu.


"Hah!!" Kesal Melody sambil mendorong Lion dan langsung berlari masuk.


Sedangkan Lion menjadi tertawa terbahak-bahak karena dia berhasil mengerjai Melody lagi. Dengan sengaja pemuda itu memakan bawang putih utuh dan bersendawa karena tahu Melody pasti ingin menciumnya lagi.


"Ternyata dugaanku benar. Sekali lagi Niko bernasib malang hanya karena seorang wanita."


Lion menoleh ke pintu balkon dan melihat seorang gadis berdiri menatapnya.


...–NATZSIMO–...