MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
052. AKU BUKANLAH RATU



Niko duduk di sofa besar dengan bersandar ke sudut sofa, tangan kirinya berada di pegangan sisi sofa menopang kepalanya. Dia memperhatikan Melody yang sedang bermain piano di rumahnya dengan sangat serius.


Piano berjenis grand piano berwarna hitam itu dimainkan dengan sangat apik oleh Melody. Membuat benda yang berada di rumah megah Niko menjadi hidup setelah hampir tak pernah tersentuh.


Dengan kagum Niko memberikan tepuk tangan pada Melody. Dia semakin mencintai gadis itu dengan segala hal yang menakjubkan dibuatnya.


"Piano itu hampir tak tersentuh, Nausha hanya sesekali memainkannya ketika datang dan karena aku baru pindah ke rumah ini lagi, piano itu terbengkalai." Ujar Niko.


Melody memutar duduknya dan menatap Niko yang masih bersandar di sofa.


"Kau bisa bermain piano juga?" Tanya Melody.


"Tidak. Tidak ada alat musik yang aku kuasai." Jawab Niko tersenyum. "Kau harus lebih sering datang kesini agar piano itu tidak jadi barang rongsok."


"Apa ingin aku ajari biar kau saja yang membuat piano sebagus ini tidak jadi barang rongsok?"


Niko tertawa menanggapinya dan menggeleng untuk menjawabnya.


"Sekarang piano itu milikmu." Ujar Niko.


"Sejujurnya aku lebih suka bermain gitar dibanding piano. Kau memang seperti kak Ars, dia juga tidak bisa bermain piano. Kau harus mempelajarinya bahkan kedua kakakku dan Lion bisa bermain piano. Tapi dari mereka kak Oto yang paling mahir. Dia sangat jago bermain musik klasik, musik kesukaannya."


Melody merubah raut wajahnya menjadi sedih. Dia mengingat kakaknya itu yang sudah beberapa hari ini tidak dilihatnya karena selalu mengurung diri di kamar ataupun pergi entah kemana.


"Ada apa?" Tanya Niko.


Melody menggeleng dan menahan rasa sedihnya, lalu menatap Niko. Sekelebat ada pertanyaan yang mengusik dirinya saat ini.


"Niko, setelah kau membawaku ke Rusia dan menikah, apa yang bisa aku kerjakan?"


Niko menegakan duduknya dan menatap Melody serius. Sebelumnya dia tidak memikirkan hal tersebut karena baginya hal yang lebih penting adalah menikah dengan Melody dan membawanya ke Rusia.


"Apapun yang kau mau, kau bisa mengerjakannya. Kita akan melanjutkan sekolah disana, setelah itu kau tidak perlu melakukan apapun. Aku akan kuliah dan meneruskan bisnis besar orang tuaku, kau hanya perlu mendampingiku dan sesekali bermain piano atau gitar untukku."


Melody mencoba untuk tidak menunjukan raut wajah sedihnya pada Niko. Dia sudah memutuskan untuk mengikuti semua rencana Niko dalam hidupnya. Walaupun sebenarnya dirinya sangat bersedih akan hal itu.


"Apa kau tidak ingin? Atau kau masih ingin mengerjakan sesuatu untuk dirimu?" Tatap lekat Niko. "Atau kau keberatan dengan semua perkataanku? Kau juga ingin bekerja?"


"Untuk apa aku bekerja kalau sudah mempunyai suami yang sangat kaya sepertimu." Jawab Melody.


"Ya, aku sangat kaya, aku akan menjadikanmu ratu."


"Tidak, Niko." Ucap Melody. "Ratu melakukan semuanya sendirian, dia yang berkuasa. Aku hanya akan mendampingimu sebagai pasanganmu, kau yang berkuasa atas aku. Itu yang terjadi setelah kita menikah."


Niko tersenyum senang. Dia mengerti maksud Melody. Gadis itu akan menuruti semua perkataannya dan apapun keputusannya setelah menikah dengannya.


...***...


Lion memakan es krim di atas motornya di bengkel temannya Hansen. Dia berbaring telungkup di atas motornya dengan menggigit es krim lolipop di mulutnya.


"Aku sangat merindukanmu Meganku yang cantik." Ucap Lion memeluk motornya setelah menghabiskan es krim stiknya. "Maaf ya aku belum bisa membawamu kembali bersamaku."


Hansen yang sedang sibuk dengan sebuah motor hanya bisa tertawa heran melihat tingkah Lion sambil menggelengkan kepala.


"Hans, aku masih harus menitipkan pacarku ini padamu. Kau harus menjaganya dengan baik."


"Tidak ada orang yang menitipkan pacarnya. Dasar aneh." Jawab Hansen.


Lion diam karena ucapan Hansen benar. Dia hanya kembali memeluk motornya dengan mengelus-elus wajahnya ke bagian tanki.


"Kau sudah gila, Lion!!" Seru Anna sambil berjalan masuk membuka helmnya.


"A—Anna?" Lion terkejut dan langsung duduk di atas motornya. "Kenapa kau disini?"


"Terimakasih, Hans." Anna mengembalikan kunci motornya pada Hansen.


"Kau kenal dengan Hans?" Tanya Lion bingung. "Astaga, kau memang wanita paling keren yang aku kenal, Anna."


"Dan kau pria paling pembohong yang aku kenal, bodoh!!" Sahut Anna mendekati Lion.


"Kenapa kau meninggalkan motormu disini? Dan berlagak seperti kehilangannya? Agar bisa mengeluh pada hal yang bukan sebenarnya kan?"


"Kau ini bicara apa?" Lion masih menyangkal. "Sana pergi temui Ars, dia uring-uringan setelah kau mematikan teleponnya sehabis tidak pulang semalaman. Dia akan membunuhmu!!"


...***...


Anna menemui Aramis yang sudah menunggunya di restoran yang terakhir kali mereka datangi bersama. Dengan wajah tidak bersahabat Aramis menatap Anna yang berjalan ke arahnya. Anna tahu kalau saat ini Aramis pasti sedang merasa kesal padanya, tapi dia mencoba bersikap biasa saja.


"Dari mana kau?" Tanya Aramis galak. "Kenapa kau menutup teleponnya tadi?"


Anna tidak menjawabnya dan mulai memanggang daging ke sebuah panggangan yang sudah sangat panas karena Aramis tidak menyentuhnya.


"Makanlah dulu, aku sudah sangat lapar. Kepalaku sampai sakit karena belum makan siang tadi." Ujar Anna.


Aramis melunak setelah mendengar keluhan Anna dan merubah posisi duduknya. Dia menatap Anna dengan kekhawatiran saat ini.


"Kau baik-baik saja? Kenapa matamu sembab?" Aramis menatap mata Anna yang lagi sibuk memasukan sayuran ke panci untuk merebusnya. "Makanlah dulu, jangan sampai kau sakit." Aramis membalik daging di atas panggangan setelah itu memperhatikan dagingnya apakah sudah matang sebelum ditaruhnya ke piring Anna. "Kalau sudah lapar seharusnya jangan memintaku menunggumu disini."


"Aku pikir kau akan memasaknya sambil menunggu aku datang." Jawab Anna.


"Baiklah, maafkan aku. Sudah makan saja." Aramis menciduk sayuran yang entah apakah sudah matang atau belum lalu memberikannya ke Anna.


"Aku ke rumah lamaku kemarin." Ucap Anna sambil memakan makanannya.


"Seharusnya kau memintaku mengantarmu."


"Lalu kau ikut bermalam bersamaku disana, begitu?" Tatap Anna kesal.


"Aku tidak bilang begitu. Aku bisa pulang setelah mengantarmu lalu datang lagi hari ini untuk menjemputmu. Lagi pula apa salah kalau aku ikut bermalam? Aku tidak akan macam-macam padamu. Kau lebih kuat dariku."


"Aku juga menemui ayahku di penjara tadi."


Perkataan Anna membuat Aramis menatapnya dan melihat raut wajah yang muram Anna. Dia tahu kalau Anna sedang bersedih saat ini.


"Sebaiknya kau jangan menemui dia!!"


"Iya, kau benar. Seharusnya tadi aku tidak menemuinya." Ujar Anna dengan pelupuk mata yang tergenang air mata.


"Sudah, makan dulu saja!! Jangan bicara lagi!!" Seru Aramis menambahkan daging ke mangkuk Anna. "Kau semakin kurus."


Mereka berdua akhirnya tak bicara apapun hingga menghabiskan makanannya.


"Kau ingin tambah? Biar aku ambilkan lagi daging atau sayurannya." Ujar Aramis.


"Aku sudah kenyang." Jawab Anna.


"Anna, lain kali kalau kau ingin ke rumah itu atau menemui ayahmu kau harus mengajakku!!" Seru Aramis. "Aku tahu kau jadi bersedih, aku tidak ingin melihatmu bersedih. Sudah aku bilang kalau kau merindukan ibumu kau harus bilang padaku." Aramis memegang tangan kiri Anna yang ada di atas meja dengan tangan kanannya.


Tiba-tiba Anna memukul tangan Aramis itu dengan sumpit yang dipegangnya, membuat Aramis kesakitan.


"Kenapa kau memukul tanganku?!" Seru Aramis kesal membuat beberapa pengunjung melihat padanya.


"Jangan berlagak sok keren padaku!!"


"Kau ini." Gumam Aramis mendesis kesal. "Anna, apa kita perlu bertunangan dulu?"


Anna terkejut mendengar pertanyaan Aramis. Dia tidak mengira kalau Aramis akan membahasnya lagi sekarang. Pembahasan yang paling ingin dia hindari.


"Melo juga akan bertunangan sebelum akan menikah. Apa sebaiknya kita juga melakukannya?"


"Sebaiknya kau fokus ke ujian kelulusanmu!!Jangan memikirkan hal lainnya!! Aku sudah tidak pernah melihatmu belajar sekarang. Kau harus mulai belajar karena ujiannya sebentar lagi!!"


"Kau ini selalu membahas hal itu, padahal yang aku katakan lebih penting." Gumam Aramis setelah itu meneguk minumannya.


...–NATZSIMO–...