
Mona membuka matanya saat mendengar suara televisi. Dia melihat Prothos sedang duduk di sofa dengan pandangan mengarah ke televisi, namun gadis itu bisa melihat jika tatapan Prothos saat ini kosong. Mona tahu kalau pemuda itu sedang kembali memikirkan mantan kekasihnya yang kemarin mereka lihat.
Sejenak Mona diam saja dan berusaha untuk tidak menggerakan badannya agar tidak mengganggu Prothos yang sedang tertegun tersebut. Melihatnya muncul rasa kasihan gadis itu pada Prothos, membuatnya mengerti seberapa besar rasa cinta pemuda itu pada mantan kekasihnya tersebut.
"Sebaiknya cepat bangun agar kita bisa segera sampai rumah." Ucap Prothos yang tersadar kalau Mona menatapnya. "Apa kau tidak sadar kalau kau tidur seperti seorang bayi yang berguling kesana kemari?" Prothos menoleh pada Mona.
Dengan cepat Mona mengalihkan tatapannya pada Prothos, dan memperhatikan posisinya di atas tempat tidur. Bahkan saat ini tubuhnya dalam posisi diagonal di atas tempat tidur dan kepalanya berada di bantal yang seharusnya Prothos pakai. Yang membuatnya malu adalah kaos yang dipakainya tergulung ke atas hingga memperlihatkan sebagian perutnya.
Karena malu Mona langsung bergegas masuk ke kamar mandi dengan merutuki kebiasaannya tidur yang sangat buruk tersebut. Dia menjadi sangat malu pada Prothos saat ini.
Ketika Prothos dan Mona sarapan, Mona masih merasakan rasa malu pada Prothos. Gadis itu tidak berani mengangkat kepalanya melihat Prothos yang duduk dihadapannya, hanya sesekali melirik pada pemuda yang sedang fokus memakan makanannya.
"Kau tahu, aku tidak habis pikir padamu. Kau takut aku menyentuhmu tapi pada kenyataannya kaulah yang menyentuhku." Ujar Prothos yang menyadari kalau Mona masih merasa malu padanya. "Kau memelukku saat tidur. Kau benar-benar kacau saat tidur."
"Apa?" Mona sontak kaget mendengarnya. Itulah yang sejak tadi dipikirkan olehnya. Takutnya saat tidur dirinya tanpa sadar melakukannya karena kebiasaannya yang harus tidur memeluk guling atau sesuatu seperti boneka. Ternyata semua itu benar terjadi.
"Aku tidak akan mau berbagi tempat tidur denganmu lagi." Gumam Prothos setelahnya memakan makanannya.
"Memangnya siapa yang mau seperti itu lagi?" Mona tersulut emosi namun menahannya segera. "Maafkan aku, kau harus melupakannya dan anggap saja tidak pernah terjadi."
"Aku akan terus mengingatnya." Jawab Prothos. "Aku akan memberitahu pada setiap pria yang ingin mendekatimu, mereka harus tahu kebiasaan tidurmu yang sangat buruk itu. Arrgghh, kau seperti Ars, tidak tidak, aku lebih baik tidur dengannya walau dia menendangku hingga terjatuh dari tempat tidur, dari pada dikira guling hingga dipeluk seperti yang kau lakukan."
Mona hanya bisa menahan rasa kesalnya pada Prothos yang mengejeknya. Walaupun begitu, gadis itu lebih kesal pada dirinya sendiri karena semua yang terjadi disebabkan oleh kebiasaan buruknya sewaktu tidur.
...***...
Melody baru saja selesai berpakaian sehabis mandi. Handphone-nya bergetar dan sebuah pesan dari Niko muncul. Dengan cepat gadis itu membukanya.
Dobroye utro, dorogaya. Kau sudah bangun? Satu jam lagi aku akan menjemputmu.
Melody melihat saat ini baru saja pukul tujuh pagi. Sepertinya Niko sedang sangat bersemangat hingga ingin pergi sepagi ini. Namun pemuda itu tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Melody akan menanyakannya nanti saja setelah bertemu dengannya.
Selesai bersiap-siap, Melody keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk sarapan pagi.
"Selamat pagi, Melody." Sapa Liam yang berada di meja makan bersama kedua kakak kembarnya, Athos dan Aramis. "Kau ingin pergi ya?"
Melody tidak menjawab dan hanya duduk di kursi sejajar Liam dengan satu kursi kosong berada di antara mereka sedangkan kedua kakaknya duduk berjajar di kursi di hadapannya.
"Ya ampun, apa kau tidak bisa bicara Melody? Sejak semalam aku belum mendengar kau bicara. Apa kau mendengarku?" Tatap Liam pada Melody yang hanya menoleh padanya.
Melody sama sekali tidak ingin menjawab perkataan Liam. Bagi gadis itu Liam adalah orang aneh yang tidak ingin dirinya tanggapi.
"Sepertinya aku mengerti kenapa si idiot itu seperti sekarang ini." Gumam Liam.
"Kau ingin kemana, Melo?" Tanya Athos.
"Ternyata kau bisa bicara? Syukurlah, aku pikir karena kejadian dulu saat di idiot itu menjatuhkanmu dari sepeda dan membuat luka di dagumu, kau jadi tidak bisa bicara sekarang." Seru Liam. "Kau ingin pergi kemana dengan Niko? Apa aku boleh ikut? Aku bosan dan ingin berjalan-jalan di negara ini."
"Ato, kau sudah siap?" Leo keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan. "Melo, ayah akan pergi memancing. Kau ingin pergi juga?"
Melody hanya mengangguk menjawabnya.
"Memancing?" Tanya Liam.
"Kau ingin ikut?" Leo menoleh pada Liam.
"Itu sangat membosankan. Tidak, aku lebih suka kegiatan yang bergerak dan tidak hanya duduk saja." Jawab Liam. "Ya sudahlah, aku akan ajak si idiot itu saja untuk pergi jalan-jalan denganku." Liam bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan keluar.
"Tunggu sebentar." Seru Aramis sambil bangkit duduk dan menghampiri Liam.
...***...
Niko dan Melody dalam perjalanan mereka ke suatu tempat. Pemuda itu terlihat sangat antusias hari ini dengan wajah yang menunjukan senyum bahagianya.
"Kita akan kemana, Niko?" Melody menoleh pada Niko yang menyetir.
"Nanti saja kau akan tahu." Jawab Niko memulas sebuah senyuman pada Melody. "Kau tenang saja, aku tidak akan mengajakmu ke tempat yang aneh-aneh."
"Niko, hari ini kau tampak berbeda." Ujar Melody memperhatikan Niko yang tidak memakai mantel panjang seperti biasanya.
"Sesekali aku ingin berpenampilan biasa dan tidak mencolok, apalagi kita akan berada di tempat umum nanti." Senyum Niko yang hanya memakai baju hitam berlengan panjang walau masih memakai sarung tangan di tangan kirinya.
...***...
Lion yang baru saja mandi dan masih memakai handuk masuk ke dalam kamarnya. Sejenak dia menatap Liam yang duduk santai di dekat handphone miliknya.
Liam duduk di kursi di mana tempatnya bermain game PC. Kakinya menjulur ke atas meja dan badannya bersandar ke kursi yang memang dikhususkan untuknya bermain game.
Dengan santai Lion mengambil handphone-nya tersebut dan mengecek apakah Liam membukanya atau tidak. Namun sepertinya kakak sepupunya itu tidak menyentuh handphone-nya atau dia tidak berhasil membuka kuncinya karena pola yang dia buat sangat rumit. Tidak akan ada yang bisa menduga pola kunci tersebut. Itu yang dipikirkan Lion.
"Ada apa?" Tanya Liam karena Lion sibuk melihat handphone-nya dan tidak langsung memakai pakaiannya. "Hari ini kau tidak kemanapun kan? Temani aku berjalan-jalan."
"Aku ingin bermain game seharian sebelum besok belajar untuk ujian." Jawab Lion yang masih memeriksa apa ada aplikasi yang terbuka di handphone-nya namun ternyata memang tidak ada.
"Aku akan memaksamu menemaniku, kau tidak bisa menolaknya!!" Seru Liam sambil menarik handuk yang dipakai Lion hingga terlepas, sontak Lion menutupi bagian bawahnya dengan bantal yang langsung diambilnya dari tempat tidur di dekatnya. "Ternyata kau memang sudah besar."
"Sialan kau, dasar makhluk gay!!" Geram Lion tampak marah.
...–NATZSIMO–...