
Pagi-pagi sekali Prothos berlari di sekitar daerah rumahnya. Setelah dua minggu dia tidak melakukannya dan hari ini dia mulai lagi dengan kegiatannya itu. Telepon dari Widia membuatnya sangat senang, sehingga dia berpikir harus lebih semangat hari ini saat akan pergi dengan kekasihnya nanti.
"Oto." Panggil Lion berlari mengikuti Prothos. "Sepertinya aku juga harus mulai lari pagi setiap hari sepertimu agar badanku juga sama bagusnya denganmu."
Prothos hanya tertawa ketika Lion memukul perutnya.
"Kau baru pulang?" Tanya Prothos menoleh pada Lion yang ikutan berlari di sampingnya. "Motormu masih belum ditemukan?"
Lion hanya tersenyum menjawabnya. Dia menyembunyikan tentang kebenaran pada semuanya, sebenarnya motornya Megan sudah ditemukan.
"Kenapa tidak beli baru? Ibumu pasti akan langsung membelikannya untukmu."
"Aku tidak bisa melupakan Meganku."
"Jangan pura-pura padaku, beberapa bulan yang lalu saat aku pinjam darimu kau baru saja mengganti motormu itu. Kau menyuruhku mengambil ke bengkel seolah-olah motormu rusak, padahal kau baru saja memodifikasinya biar terlihat seperti motor lamamu. Kau memang manusia aneh." Ujar Prothos. "Berhentilah membual padaku."
Lion hanya bisa tertawa mendengar perkataan Prothos yang sangat tepat itu.
"Bagaimana? Apa kau akan benar-benar diam saja?"
"Pada apa?"
Prothos berhenti berlari untuk bicara pada Lion.
"Semua orang di sekolah sudah tahu mengenai Niko yang akan menikahi Melody, dan mereka mengaitkan namamu juga."
"Semua orang bebas berspekulasi, biarkan mereka menyuarakan pendapatnya. Aku hanya punya dua tangan yang bisa aku gunakan menutup telingaku, tidak bisa menutup mulut mereka semua."
Prothos tertawa mendengarnya. Lagi-lagi Lion masih bersikap bodoh karena bukan masalah itu yang ingin ditanyakan Prothos padanya.
"Kenapa kau tidak pernah bersikap jujur? Hanya orang bodoh yang selalu bertindak untuk kebahagiaan orang lain dan mengabaikan kebahagiaan dirinya sendiri."
"Kau salah Oto, bukan orang lain dia sudah aku anggap saudaraku." Sanggah Lion tampak kesal. "Siapapun akan melakukan segalanya untuk saudaranya, bukan begitu? Bahkan adikmu melakukannya juga kan?"
"Itu hal yang berbeda—"
"Aku rasa sama saja." Potong Lion. "Sudahlah, lagi pula Niko itu sangat mencintainya, kau tidak perlu khawatir, dia akan menjaganya. Ato sudah mendukungnya, sebaiknya kau pun juga mendukungnya. Adikmu akan sedih jika kalian terus bersikap buruk pada Niko."
"Aku akan mendukungnya kalau kau menjawab pertanyaanku dengan jawaban ya atau tidak. Selama ini setiap kali ditanya kau tidak pernah menjawabnya dengan jelas." Seru Prothos.
Lion membuang napas kesalnya pada perkataan Prothos. Dia sudah bisa mengira apa yang akan ditanyakan padanya. Dia pun sudah memikirkan jawabannya, jawaban yang selalu dia lontarkan setiap kali dia sendirian untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ya atau tidak, apa kau mencintai Melo?"
"Tidak." Jawab Lion sangat cepat dan menatap Prothos dengan tatapan dingin.
...***...
"Lion sangat membuatku kesal." Ujar Prothos duduk di meja makan setelah kembali dari lari paginya.
Athos sedang membuatkan sarapan di dapur sedangkan Aramis sedang memakan pisang di samping kiri Prothos.
"Padahal siapapun tahu kalau dia mencintai Melo, tapi dia menjawab dengan sangat cepat saat aku bertanya padanya."
"Hentikan usahamu! Si bodoh itu sudah memikirkan semua jawaban-jawaban yang akan keluar dari mulutnya bahkan sebelum ada yang bertanya padanya." Seru Aramis.
"Aku rasa kau benar, Ars." Ujar Athos membawa beberapa roti panggang yang sudah tersedia di piring. "Dia tampak seperti tidak pernah memikirkan apapun tapi sebenarnya dia sudah memikirkan segalanya." Athos duduk di hadapan Prothos.
"Ato, apa benar kau sudah mendukung Niko?" Pertanyaan Prothos membuat Aramis berhenti makan dan menatap Athos.
"Yang terpikirkan olehku sekarang hanya tidak ingin Melo bersedih, karena itu aku akan mencoba bersikap baik pada Niko dan mendukungnya." Jawab Athos melirik pada Aramis yang tampak tidak senang.
"Ars, mulailah bersikap baik juga pada Niko. Aku juga akan mendukungnya mulai saat ini." Ucap Prothos menoleh pada Aramis. "Dalam hal ini tetap kau yang salah hingga Melo setuju menikah dengannya."
"Aku rasa Niko pria yang baik, bahkan dia yang menyelamatkan Anna kan waktu itu?" Tambah Athos.
Tiba-tiba Melody menuruni tangga sehingga perbincangan mengenai dirinya yang sedang dibahas oleh ketiga kakaknya berakhir. Melody langsung duduk di samping kanan Athos dan meminum susu yang sudah dibuatkan untuknya oleh Athos.
"Hari ini kau mau kemana Melo?" Tanya Athos menoleh dan Melody hanya menggeleng sambil memakan roti panggang. "Kami bertiga akan pergi, Anna akan menemanimu di rumah."
"Tapi Anna akan menemuiku saat sore hari." Ucap Aramis.
"Aku akan di rumah sendirian. Itu tidak masalah." Jawab Melody.
"Jangan bilang Niko kalau kau sendirian di rumah!! Kalau dia datang dan macam-macam panggilah Lion. Dia baru pulang, pasti hari ini dia tidak kemanapun." Seru Prothos tapi langsung tersadar kalau dia salah bicara. "Astaga aku lupa, kau akan menikah dengan Niko untuk apa memanggil Lion. Argghh... yang pasti jangan biarkan Niko datang!! Mengerti kan Melo?"
Melody mengangguk sambil mengunyah rotinya.
"Sebaiknya saat sore kau datang saja ke café, Melo. Aku akan meminta Niko menjemputmu, datanglah bersamanya." Seru Athos.
"Niko hanya boleh menunggu di luar saat menjemputmu. Mengerti?" Tanya Prothos lagi.
"Kalian bertiga memang akan kemana?" Tanya Melody. "Bahkan sekarang kalian lebih sibuk hingga membiarkan aku sendirian."
Keadaan langsung hening setelah Melody mengeluhkan kesibukan mereka. Ketiga Musketeers tidak bisa menjawab apapun untuk menanggapi adik kesayangan mereka itu.
"Kenapa kalian langsung diam? Tenang saja, aku tidak masalah. Kalian bisa pergi." Senyum Melody. "Tapi beritahu aku kalian mau kemana hari ini?"
"Kakak akan menemani Tasya melakukan perawatan dan setelah itu keliling café untuk memantau semuanya." Jawab Athos.
"Perawatan apa?"
"Entahlah. Kau ingin ikut?"
Melody menggeleng lalu setelahnya menatap Prothos meminta jawabannya.
"Kakak ada kencan." Jawab Prothos. "Kau ingin apa? Saat pulang nanti akan kakak belikan untukmu."
"Dengan bu Widia?" Tanya Melody terang-terangan membuat Prothos dan Athos saling tatap. "Aku sudah tahu kalau pacar kak Oto adalah wali kelasku."
"Apa?" Aramis tampak terkejut mendengarnya. "Itu benar, Oto?"
Prothos tersenyum menjawab Aramis. Aramis hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya pada kembarannya yang berani memacari salah satu guru di sekolahnya. Sedangkan Prothos heran pada adiknya, dia masih tidak mengerti dari mana Melody tahu akan hal itu.
"Kau masih menyelesaikan lukisanmu, kak Ars?"
"Iya, hari ini targetku untuk menyelesaikannya." Jawab Aramis. "Aku akan memperlihatkan padamu nanti."
Melody tersenyum menjawabnya.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Nanti sore aku akan tetap di rumah setelah kak Anna pergi untuk menemui kak Ars. Aku tidak akan kemanapun hari ini. Aku ingin beristirahat saja di rumah." Ucap Melody.
"Apa tidak masalah kau di rumah sendirian?" Tanya Athos.
"Tidak masalah, kak. Aku akan lebih berhati-hati lagi dan melihat dulu siapa yang datang sebelum membuka pintu." Jawab Melody. "Kalian semua tidak perlu mengkhawatirkan aku terus menerus."
...–NATZSIMO–...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...