
Sepulang sekolah Prothos masuk ke tempat yang sudah lama dia tidak datangi. Setelah mendengar perkataan Mona, dia jadi malas pergi ke café dan lebih memilih ke tempat di mana dia dulu sering menceritakan rencana masa depannya pada seseorang.
Pemuda tampan itu berdiri di depan pintu sebuah kamar apartemen. Ya, itu adalah kamar apartemen dimana dulu kekasihnya tinggal. Apartemen di mana dulu Prothos cukup sering berada di dalam bersama Widia, gadis yang dicintainya.
Prothos hanya berdiri di depan pintu dan tidak berniat untuk mengetuk pintu apa lagi masuk ke dalam, karena dia tahu gadis yang masih ada di dalam hatinya tersebut sudah tidak ada di dalam sana. Dia hanya ingin berdiri di sana untuk mengenang semua hal bahagia yang pernah terjadi di dalam hidupnya bersama Widia.
"Maaf, kau mencari siapa?"
Prothos dikejutkan oleh suara seorang wanita yang berdiri di belakangnya. Dia menoleh namun langsung berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Dia aneh sekali, tapi sangat tampan." gumam wanita pemilik kamar apartemen yang dulu ditempati Widia.
Prothos melangkah pergi dengan wajah tertunduk. Dia sangat merasa bersedih karena saat ini Prothos sangat merindukan gurunya tersebut, namun pemuda itu hanya bisa meratapi nasibnya.
...***...
Lion berjalan bersama Karen sedangkan Melody berjalan bersama Niko di belakang mereka. Saat Ini mereka sedang berkeliling pasar tradisional di pulau tersebut untuk membeli oleh-oleh.
Akan tetapi Lion sama sekali tidak fokus karena masih memikirkan semua yang terjadi. Dia terlambat, tapi pemuda itu berpikir, jelas saja dia terlambat karena tadi dia malah melangkah pergi dan tidak menghentikannya langsung.
"Lion, kau melamun terus." Ucap Karen memegang lengan kanan Lion saat berjalan. "Apa yang mengganggumu? Apa aku harus menanyakan padanya?"
Lion tersenyum pada Karen menutupi perasaannya. "Tidak, Key. Sekarang aku merasa buruk padamu. Aku memanfaatkanmu sebagai pionku."
"Tidak masalah, aku yang menawarkan diri padamu."
"Sebagai gantinya, kau harus meminta bantuanku setiap kali kau membutuhkan bantuan. Kau gadis paling baik yang pernah aku temui di muka bumi dan di alam semesta ini." Ujar Lion dengan tersenyum lebar ciri khasnya.
"Tapi kau menolakku." Gumam Karen memicingkan matanya pada Lion setelah itu merangkul lengan Lion.
Melody yang berada di belakang Lion dan Karen memperhatikan mereka berdua yang tampak akrab dengan Karen yang merangkul lengan Lion dan saling tersenyum.
"Ambil saja semua yang kau ingin beli. Kita jangan membuang waktu hanya untuk berkeliling." Ujar Niko.
Niko menoleh ke arah kiri pada Melody yang melamun. Pemuda itu langsung menggandeng tangan kanan Melody dengan tangan kirinya, membuat Melody menatapnya.
"Mereka terlihat semakin dekat setiap hari." Ucap Niko. "Kita tertinggal jauh dari mereka. Ya, karena sifat mereka berdua yang mudah bergaul dengan siapapun jadi menjalin hubungan untuk mereka terbilang cepat mengalami banyak kemajuan."
Melody tidak menjawab dan hanya menundukan kepala melihat jalanan.
"Sebaiknya kita menyusul mereka sebelum tertinggal sangat jauh." Bisik Niko.
Melody melihat pada Niko karena Niko berbisik ke telinganya, dan pemuda itu tersenyum saat Melody menoleh padanya.
...***...
Aramis berdiri di pinggir jalan layang memperhatikan ke bawah dimana banyak mobil berlalu lalang. Dia sedang memikirkan tema apa yang akan dia buat untuk lukisan yang ingin diikutkannya di lomba melukis.
Merasa tidak dapat apapun, pemuda itu berjalan kembali hingga sampai di pinggir danau buatan yang sering menjadi tempatnya berkelahi. Namun saat ini bukan perkelahian dengan para penantangnya yang diingatnya, melainkan pertarungannya yang pernah dia lakukan bersama Anna.
Pemuda itu menjadi sangat merindukan gadis yang sangat dicintainya yang sudah beberapa hari tidak menghubunginya. Terakhir kali Anna hanya mengiriminya sebuah pesan di hari pertama dirinya ujian. Setelah itu tak ada lagi pesan ataupun telepon dari Anna. Dia pun juga menuruti perkataan gadis itu untuk tidak menghubunginya.
Karena merasa bersedih Aramis memilih pergi dari danau tersebut dan menuju ke suatu tempat lainnya. Gedung tua, tempat dulu dia sering menghabiskan waktu untuk melukis.
Dia berdiri menatap keluar gedung di lantai tujuh yang tidak memiliki tembok pembatas itu, melihat langsung pemandangan sore hari. Entah kenapa berada di gedung tua itupun membuatnya semakin merasa bersedih, dia kembali teringat ketika dirinya bersama Anna di tempat itu.
"Kenapa dimana pun aku berada, aku teringat padamu, Anna?"
Aramis memilih meninggalkan gedung tua itu dan berjalan ke tempat tujuannya yang terakhir di penghujung hari. Matahari sudah mulai turun ketika dia berdiri di jembatan yang dulu menjadi latar belakang lukisannya.
Di jembatan ketika Anna berdiri di pembatas jembatan memunggunginya. Di titik dimana Anna mengatakan dia bahagia jika mati bersama dengan dirinya di sini. Di tempat dimana dirinya menemukan Anna yang sedang merasa hancur dengan semua perkataannya.
Aramis tak mampu membendung lagi kesedihannya. Air matanya mulai meronta keluar karena rasa rindunya pada gadis yang sangat dicintainya itu.
"Anna, setiap aku melangkah, aku merindukanmu."
...***...
Kedua pasang anak muda yang berpakaian formal memasuki ballroom di sebuah hotel mewah. Semua mata langsung menuju pada mereka, kehadiran Lion dan Niko di sana membuat banyak tamu lainnya tersenyum pada mereka.
Tanpa berkata apapun, Lion menghampiri teman-temannya itu sedangkan Niko sebelumnya meminta ijin pada Melody dulu untuk meninggalkannya dan mengikuti Lion menemui para teman mereka.
"Hah, mereka malah pergi meninggalkan kita, Mel." Gumam Karen merangkul lengan Melody. "Kita cicipi makanannya saja yuk. Sepertinya acaranya masih lama di mulai, aku sudah lapar."
Melody hanya mengikuti Karen saja kemanapun gadis itu pergi, dan ikut mencicipi makanan yang diberikan padanya. Dia merasa Karen memang sangat mirip dengan Lion.
Melody mengangguk.
"Oh iya, aku lupa bertanya padamu, apa tadi saat di kamar Niko, dia macam-macam padamu? Apa dia menggigitmu lagi?"
Melody menggeleng sambil memegang scraft yang menutupi lehernya.
"Apa dia menciummu?"
Melody sedikit terkejut dengan pertanyaan Karen, tetapi dia segera menggelengkan kepalanya.
"Benar dia tidak menciummu?" Tanya Karen lagi.
"Iya, dia tidak melakukannya." Jawab Melody.
Tidak berapa lama Lion dan Niko berjalan kembali pada kedua gadis itu. Mereka berdua tampak sangat senang setelah bercengkrama dengan teman-teman mereka.
"Maaf ya Key, tanpa sadar aku meninggalkanmu." Ucap Lion.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukannya lagi." Ancam Karen dengan menekuk wajah manisnya. "Lion, roti ini sangat enak, buka mulutmu."
Lion membuka mulutnya dan Karen langsung memasukan roti ke mulut Lion, sama seperti yang dilakukannya tadi pada Melody.
"Bagaimana?" Tanya Karen dan Lion tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Yang ini juga enak."
"Kenapa acaranya belum dimulai?" Tanya Niko tampak tidak sabar. "Aku sudah merasa lapar. Apa kau sudah lapar, sayang?"
"Aku sudah makan beberapa roti, sebaiknya kau mengganjalnya dulu dengan memakannya juga. Mau aku ambilkan?" Tanya Melody.
"Tidak perlu, aku masih kuat menahannya." Senyum Niko.
"Er..." seorang gadis cantik berjalan menuju tempat keempat orang itu berada.
Niko menoleh pada gadis yang memanggilnya dan tanpa siapapun duga gadis itu langsung memeluk Niko. Niko tampak terkejut, dia melihat ke arah Melody yang berdiri di sampingnya. Dia lupa mengatakan apa yang ingin dikatakannya tadi kepada calon tunangannya itu.
"Kenapa kau memblokir nomerku? Kau juga terus menghindariku." Ujar gadis yang masih memeluk Niko.
Niko mendorongnya dengan perlahan agar melepaskan dirinya. Beberapa pasang mata yang mengetahui tentang mereka memperhatikan mereka berdua.
"Aku sangat merindukanmu, Er." Ucap gadis itu lagi setelahnya mengecup bibir Niko.
...–NATZSIMO–...
Baca cerita author yang lain ya.
Di karya "Obsesi Cinta CEO Gay" ada beberapa karakter dari novel ini di sana, dan begitu sebaliknya. Genre-nya romance komedi.
Follow IG author untuk visual character lengkapnya @natzsimo.author
Disclaimer :
Nama, dan cerita hanyalah karya fiksi, mohon untuk tidak ditiru dan dijadikan patokan/acuan dalam kehidupan nyata.
Jika terdapat kesamaan nama, dan karakter, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena untuk karakter yang terdapat di cerita ini, author ambil dari orang-orang di sekitar.
Dan jika terjadi kesamaan dalam satu atau beberapa kejadian dalam cerita di kehidupan pembaca, semua tanpa disengaja.
Semoga menghibur.
......❤❤🤗🤗❤❤......
...Yuk, di like setiap membaca dan kasih komen....
...Beri rate juga ya untuk kemajuan karya ini....
...Masuk ke grup chat author biar berbagi ilmu dan belajar hal baru tiap hari....
...Baca juga karya author lainnya....
...Terimakasih......