MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)

MELODY MUSKETEERS (M911 & TTM)
181. GADIS AROGAN



Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari mantan ketua OSIS dan lulusan terbaik sekolah itu, yaitu Athos. Dirinya yang juga menjadi lulusan terbaik dengan peringkat pertama di negara ini menjadi kebanggaan sekolahnya.


"Aku harap tahun selanjutnya salah satu murid sekolah kita juga lulus dengan peringkat pertama, dan bukan aku yang memulai serta mengakhirinya." Ujar Athos menutup sambutannya.


Tepuk tangan riuh murid lainnya terdengar dengan penuh kebanggaan pada Athos. Ketika Athos hendak turun dari podium.


"Tunggu sebentar, Kak." Seru MC acara menahan Athos. "Dari pihak hotel ingin memberikan hadiah untuk lulusan terbaik sekolah kita dan negara ini."


Athos menahan langkahnya dan tetap berdiri di atas podium. MC mempersilahkan dua orang, seorang wanita dan seorangnya lagi adalah pria bertubuh besar.


Melihatnya, Melody yang berada di bawah panggung mengenal mereka berdua sedangkan Lion yang berdiri di sampingnya mendesis menghela napasnya melihat kedua orang tersebut.


"Selamat ya karena kau berhasil menjadi peringkat pertama negara ini." Si wanita memberikan sebuah kotak hadiah pada Athos dan bersalaman dengannya. "Selamat juga karena lagi-lagi kau mengalahkan aku."


Tanpa Athos duga, wanita itu menarik tangan Athos yang bersalaman dengannya hingga bibir wanita itu mencium bibir Athos.


Sontak semua yang hadir menjadi heboh karena wanita dari pihak hotel mencium Athos di depan para murid lainnya.


Prothos dan Aramis yang sejak awal berdiri di pojokan langsung berjalan cepat ke arah depan podium melihat yang terjadi dan langsung naik ke podium karena kondisi Athos masih belumlah sembuh benar.


Saat yang bersamaan Athos yang sangat terkejut mendorong wanita tersebut agar melepaskan ciumannya.


"Maafkan aku, karena terlalu senang aku sampai menciummu." Senyum Emma si wanita tersebut.


Emma dan Emmet Harrison adalah anak dari pemilik Fourth Harrison Hotel. Mereka berdua adalah kembar di mana Emma lebih tua dari Emmet. Emma yang merupakan mantan tunangan Niko juga merupakan peringkat kedua lulusan terbaik di negara ini. Gadis itu pula yang menemui Lion di beranda tadi.


"Ato, sebaiknya kita turun." Seru Prothos memegang pundak kembarannya itu.


Athos tidak ingin memperpanjang masalah tersebut dan segera mengikuti perkataan Prothos dengan turun dari podium bersama dengan kedua kembarannya.


MC langsung mengambil alih acara untuk melanjutkan semuanya.


Ketiga Musketeers lebih memilih untuk meninggalkan lokasi acara namun siapa sangka ketika mereka berada di luar Emma yang ditemani saudara kembarnya mengikuti ketiga pemuda itu.


"Sepertinya kau sama sekali tidak mengingatku." Seru Emma pada Athos.


Athos memilih menghentikan langkahnya dan berbalik melihat pada gadis itu.


"Maaf sekali aku tidak tertarik dengan gadis nakal." Ucap Athos dengan dingin.


Mendengarnya Emmet merasa tidak senang saudari kembarnya diejek seperti itu oleh seorang pria. Pemuda yang merupakan atlet gulat tersebut berjalan maju ke arah Athos, namun secepatnya Aramis mengambil posisi di depan Athos.


"Wow, si terkuat di kota ini." Emmet menyunggingkan sebuah senyuman mengejek pada Aramis.


"Ars, sudah ayolah." Seru Prothos mencoba melerai karena sepertinya akan terjadi perkelahian antara Aramis dan Emmet saat ini.


Athos berbalik dan kembali berjalan menuju tempat mobilnya terparkir, kedua kembarannya mengikutinya segera. Namun lagi-lagi Emma berlari mengejarnya dan langsung berdiri di hadapan Pemuda itu.


"Kenapa? Bukannya kau sudah berpisah dengan pacarmu itu?" Tanya Emma. "Kau pasti tidak mengingatku, kan? Kita pernah tanpa sengaja bertabrakan ketika di supermarket. Sepertinya ini sebuah takdir kalau kita bertemu lagi sekarang."


Athos berdecak tidak percaya mendengar perkataan seorang gadis padanya.


"Setahun yang lalu kau dengan sengaja menabrakku ketika aku sedang terburu-buru mengejar seorang gadis yang sekarang adalah pacarku. Dan sebelumnya selama tiga hari kau membuntutiku terus. Tidak mungkin aku tidak mengingatnya." Ucap Athos dengan tatapan dingin. "Ya, beberapa kali juga aku tahu kalau kau yang dipasangkan denganku dalam beberapa Olimpiade namun kau selalu menolak ikut. Lalu apa masalahnya sekarang?"


Emma tertawa mendengarnya. Dia tidak mengira kalau Athos mengenalinya.


"Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan." Ucap Athos setelah itu jalan melewati Emma dan masuk ke mobil segera.


Emma tampak kesal melihat Athos yang sama sekali tidak menggubrisnya. Namun gadis itu terlihat tidak ingin menyerah karena seperti halnya Athos, gadis itu juga selalu berusaha dengan keras untuk mendapatkan segala hal yang diinginkannya.


"Sudahlah Emma, kau bisa mencari pria lainnya." Seru Emmet.


"Tidak akan! Aku akan membuatnya bertekuk lutut padaku nanti." Jawab Emma dengan penuh percaya diri sambil berjalan kembali menuju hotel.


Lion dan Melody sejak awal melihat semua itu dari kejauhan. Ketika Emma melihat mereka, Lion berjalan mendekati gadis itu dan Melody mengikutinya.


"Emma, berhentilah untuk mendekatinya." Seru Lion pada Emma. "Dia tidak akan berpaling dari gadis yang dicintainya. Dia sudah melakukan semuanya hingga sejauh itu hanya untuk bisa bersama dengan gadis itu. Kau tidak akan bisa mendekatinya."


Emma mendengus mendengar perkataan Lion dengan tawa kecil. Namun gadis itu langsung menatap pada Melody.


"Bagaimana menurutmu, apa aku bisa menyingkirkan wanita itu dari hati kakakmu? Siapa yang lebih baik di antara kami?" Tanya Emma pada Melody.


"Yang jadi masalah bukan siapa yang terbaik, tapi siapa yang lebih dulu mengisi hatinya. Kak Ato tidak pernah menyukai wanita manapun hingga akhirnya kak Tasya datang." Jawab Melody. "Kakakku sangat mencintainya dan aku rasa siapapun tidak akan bisa mengisi hati seseorang ketika hati itu sudah terisi dengan orang lain."


Emma berjalan lebih mendekati Melody dengan sebuah senyum.


"Apa kau sedang mengatakan tentang dirimu?" Tanya Emma dengan senyum kecut. "Tapi dengarlah, saat ini tidak ada wanita itu di sisi kakakmu, itu akan mudah untukku mengambil alih perannya. Ya, aku tidak pernah tidak mendapatkan apa yang aku inginkan." Emma memulas sebuah senyum penuh percaya diri setelah itu berjalan pergi dengan Emmet mengikutinya.


...***...


Ketiga Musketeers berada di dalam perjalanan pulang saat ini. Tentu saja mereka bertiga sangat terkejut dengan apa yang terjadi di pesta kelulusan sekolah mereka tadi.


Terlebih Athos yang selalu menjadi teladan sekolah tersebut harus menerima perlakukan seperti itu di depan para murid yang menganggap sosoknya panutan. Seorang wanita menciumnya di hadapan seluruh murid di sekolahnya. Itu langsung menjadi berita utama.


"Dia gadis yang sangat arogan. Sepertinya Niko yang membuatnya menjadi seperti itu." Ujar Prothos yang duduk di kursi depan di samping Aramis yang sedang menyetir. "Tapi dia sangat cantik. Bukan begitu Ato?" Prothos menoleh pada Athos yang duduk dibelakangnya.


Athos hanya tertawa kecil menanggapinya tanpa menjawab.


"Kecantikannya setara dengan Tasya. Dia lawan yang sepadan untuk Tasya, selain itu, dia sangat pintar. Dia ada di peringkat kedua di bawahmu kan?"


"Apanya yang sepadan?" Sahut Aramis yang terlihat tidak setuju. "Walaupun dia memang sangat cantik seperti Tasya, tapi aku rasa gadis sepertinya sangat tidak cocok denganmu Ato."


"Apa maksudmu?" Tanya Prothos.


"Kau pikirkan saja, bagaimana jika kau pacaran dengan dirimu sendiri?" Ujar Aramis. "Kalau Ato berpacaran dengannya aku rasa akan selalu terjadi perang dunia."


"Ya, dalam hal ini kau benar, Ars. Karena itu kau yang bodoh sangat cocok dengan Anna yang pintar itu." Seru Prothos.


"Jangan mengataiku bodoh lagi di saat peringkat kita tidak berbeda jauh!!" Kesal Aramis.


Mereka bertiga menjadi tertawa bersama.


"Lalu kira-kira apa dia akan menyerah ya?" Tanya Prothos.


"Tidak mungkin. Seperti halnya Ato, dia pasti akan mencari cara untuk mendekatimu, Ato." Jawab Aramis melirik ke spion pada Athos.


"Itu tidak masalah, apapun yang akan dilakukannya tidak akan membawa perubahan pada diriku. Karena dalam hidupku sekarang hanyalah Tasya tujuanku." Ucap Athos dengan penuh keyakinan.


...–NATZSIMO–...